Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
Sweet Surprise


Harris menghitung sampai tiga seraya mengetukkan jari di kemudi mobilnya. Ia menarik nafas dalam-dalam seolah sedang mempersiapkan mental untuk ujian berat yang sudah menantinya di dalam sana. Padahal tadi waktu akan menemui Alex, ia melangkah impulsif, tak gentar meski belum tau apa yang akan ia hadapi. Tapi situasi saat ini justru lebih membuat jantungnya berdebar.


Ia melirik kantung plastik besar berisi donat pesanan istrinya. Beruntung ia tidak lupa pesanan donat itu. Kalau lupa, sudah bisa dipastikan ia akan tidur di sofa malam ini.


"Oke, hadapi Harris. Jangan takut dan ragu-! Aku juga manusia, tempatnya lupa dan salah." kilah Harris membela diri. Ia mengepalkan tangan seakan sedang menyemangati dirinya sendiri.


Ia melirik jam tangan yang melingkari lengan kirinya. Sudah pukul 19.20. Padahal terakhir ia menelepon Keara dan berjanji segera pulang sejak pukul tiga sore tadi. Sudah terlambat berapa jam ini? Bahkan tadi Keara berkali-kali menelepon dirinya tapi Harris malah meninggalkan ponselnya di dalam mobil. Triple killed.


Harris melangkah masuk ke rumah meninggalkan mobilnya. Jantungnya sudah berdebar membayangkan wajah murka istrinya. Tadi pagi wajah cantik itu begitu pucat. Harris tidak tega meninggalkannya. Tapi sekarang ia malah tidak segera pulang karena tikus bernama Alex yang ingin segera ia urus.


Begitu kakinya melewati gerbang pintu masuk, Harris terhenyak melihat pemandangan di ruang tengah. Dimana Keara sedang duduk berselonjor kaki dengan santainya menonton televisi. Bukan itu yang aneh. Melainkan tiga orang asisten rumah tangga yang berada di sekitarnya.


Dua orang art memijat kaki Keara kiri dan kanan. Yang seorang lagi, tak lain adalah Bik Santi, duduk di samping Keara seraya menyuapi K dengan semangkuk salad buah segar. Kening Harris berkerut dibuatnya.


Selama ini Harris tau memang semua pekerja di rumahnya akrab dan bersikap sangat baik dengan Keara. Itu karena istrinya selalu ramah dan tidak pernah bersikap membeda-bedakan dirinya dengan pekerja. Tapi yang dia lihat hari ini sedikit berlebihan. Keara seperti bersikap bossy dengan menyuruh dua orang memijat kakinya. Hal yang paling tidak pernah Keara lakukan. Hah?


Harris harus berdehem agar manusia-manusia di depannya ini menyadari keberadaannya. Karena sejak masuk rumah sampai ia berada di ruang tengah saat ini, tidak ada yang menyambut kedatangannya.


Keara mengangkat kepalanya dengan malas menoleh ke balik tubuhnya, tempat Harris berdiri saat ini. Lantas ia memutar kepalanya lagi untuk menonton televisi.


Sedangkan ketiga pekerjanya langsung berdiri dan mengangguk dengan sopan kepada Harris. Mereka pun pamit pada Keara untuk pergi, dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Keara.


Keara mengambil alih mangkok salad buah dari tangan Bik Santi dan kembali melahapnya. Samar-samar Harris masih bisa mendengar ucapan Bik Santi pada Keara.


"Habiskan, non.. Makan yang banyak. Jangan stress, jangan emosi. Biar perutnya gak kram lagi.." gumam bik Santi pelan.


Harris dengan langkah lebar langsung mendekat ke sofa dan beringsut duduk di sisi istrinya. Ia mengecup pipi Keara. "Sayang, maaf aku telat. Tadi ada urusan mendadak yang gak mungkin ditunda.."


"Hem.." jawab Keara singkat. Dari wajahnya, ia sangat malas mendengar alasan klasik yang dilontarkan suaminya.


"Sayang, tadi perut kamu kram lagi?"


Keara mengangguk tanpa berhenti makan.


"Kita ke rumah sakit sekarang yuk.." ajak Harris.


"Males." Keara bangkit dari duduknya, mematikan tv, lalu berjalan menuju tangga hendak masuk ke kamarnya. Tapi sebelum menapaki anak tangga pertama, Keara menoleh lagi pada Harris. "Mas Harris sudah makan belom?"


Masih mendapat perhatian dari istrinya yang sedang ngambek membuat Harris cepat-cepat menjawab, "Belum."


"Bik Santi, siapin makan malam buat mas Harris..!!" seru Keara dengan nada tinggi. Dan langsung diiyakan oleh Bik Santi.


Harris menganga tak percaya. "Sayang, bi-.." kalimatnya terputus karena Keara yang kembali mengabaikannya dan langsung naik ke lantai atas.


Harris menatap wanita yang saat ini sedang memakai kemeja miliknya itu. Habis sudah koleksi kemeja dengan brand ternama dan harga selangit miliknya. Semuanya sudah pernah dipakai serampangan oleh Keara.


Harris berdiri dengan cepat untuk menyusul istrinya. Ia melangkah lebar kemudian masuk ke kamar mereka berdua dan tak lupa mengunci pintu.


"Sayang, jangan cuekin aku please." pintanya. Tapi Keara masih membisu dan menatap bungkusan plastik yang ditenteng suaminya dari tadi.


"Oh, iya.. ini donat pesanan kamu. Aku gak lupa kan..?" Harris mengangkat plastik di tangan kirinya sambil nyengir lebar. Berharap roti berbentuk lingkaran itu bisa meluluhkan hati istrinya.


Keara menyambar bungkusan itu, lalu duduk di sofa dengan memangku dus berukuran lebar berisi dua belas biji donat berbagai rasa. Netra Keara berbinar dibuatnya. "Waah.." serunya seraya mengambil satu donat lalu melahapnya.


Harris ikut duduk di sofa di samping istrinya. Meskipun bagian sofa masih banyak yang kosong, ia memanfaatkan keadaan dengan merapatkan tubuhnya pada sang istri. "Boleh aku ambil yang itu?" Harris menunjuk satu donat dengan topping capucino di atasnya.


"Gak boleh." ketus Keara. "Mas Harris mandi dulu sana. Bau."


Harris mencelos. Keara tidak pernah protes tentang bau badannya. Apa mungkin kali ini baunya sangat menyengat sampai K menyuruhnya mandi?


Selesai membersihkan diri, Harris keluar dari walk in closet dengan hanya mengenakan celana pendek rumahan saja. Dada bidangnya bebas terekspos dan masih tersisa bintik-bintik air sisa mandi yang belum mengering sempurna.


Keara yang hendak berbaring di ranjang, sontak terpaku menatap wujud tampan lelaki yang sedang berjalan ke arahnya. Gelenyar tak biasa mendadak menjalari pangkal pahanya. 'Heh! Inget, K.. Kamu kan lagi ngambek. Jangan sampe kelihatan mupeng liat suami sendiri.' hardik Keara pada dirinya sendiri.


"Sayang, sudah makan donatnya? Aku kan belum makan.." goda Harris yang sudah berdiri sangat dekat dengan Keara. Bahkan karena posisi Keara yang sedang duduk di tepi ranjang, membuat wajahnya tepat menghadap ke pusaka Harris yang masih berbalut celana pendek.


"Makan aja sendiri. Tuh masih ada." Keara menunjuk dengan dagunya kotak donat yang terbuka di atas meja.


Harris menelan salivanya. Dari tempatnya berdiri, ia bisa lihat donat di kotak itu sudah berkurang empat. 'What?? Keara makan empat donat sendirian dalam waktu beberapa menit pas aku tinggal mandi? Gak salah??'


Keara berbaring di ranjang. Mengabaikan Harris yang masih mematung di tempatnya. Daripada pandangannya terus ternoda melihat sesuatu yang menggembung di balik celana, tapi masih gengsi untuk menjamah. Lebih baik merem aja.


Melihat Keara sudah memejamkan mata, Harris berjalan ke sofa dan mencomot satu donat karena perutnya yang sangat lapar. Ia membuka ponselnya dan berselancar sebentar sembari mengisi perut. Tapi raga istrinya yang terus bolak-balik di atas ranjang membuatnya ikut naik ke tempat tidur super empuk itu.


"Sayang, kamu gak bisa tidur?"


"Udah tau pake nanya." ketus Keara. Matanya masih terpejam tapi bibir cemberutnya itu sudah berkata tajam pada suaminya.


Harris mengusap puncak kepala istrinya. "Kok masih jutek aja sih.. Aku kan sudah minta maaf."


Keara mengendikkan tangannya agar lengan suaminya menyingkir.


"Ya sudah, tidur yang nyenyak ya sayang.. Semoga besok pagi istriku yang cantik ini ceria lagi." tutur Harris lembut. Ia lalu memeluk guling karena istrinya yang sepertinya tidak bisa dipeluk malam ini.


Keara mendengus kesal. Ia semakin sebal dengan lelaki di sampingnya yang amat sangat tidak peka itu. Bukannya membujuk rayu dengan segala cara, lelaki itu malah tidur memeluk guling.


"Mas Harriiis.. peluk!"


Harris dengan tawa tertahan, menyingkirkan gulingnya dan mengulurkan lengan untuk memeluk si manja yang masih saja cemberut meskipun sudah minta dipeluk.


"Kalau gak dipeluk aja gak bisa tidur, pake acara ngambek segala." ledek Harris.


Keara mencubit lengan suaminya dengan kesal. "Yang pengen dipeluk tuh bukan aku."


"Terus siapa?"


Keara sedikit mengendurkan tubuhnya dari pelukan Harris untuk mengambil kotak hadiah yang ia letakkan di atas nakas. Lalu ia dorong benda berbentuk persegi itu ke dada suaminya. "Nih! Yang selalu minta aku buat deketan sama mas Harris terus."


"Apa ini?"


"Tauk! Buka aja sendiri! Kesel aku tuh.."


Harris terduduk demi bisa membuka kotak hadiah itu. Keara masih saja mencebikkan bibirnya kesal.


"Gagal deh kasih surprise yang sweet kayak orang-orang lain. Emang nasib aku punya suami ngeselin." gerutu Keara. Ia berbalik badan memunggungi suaminya.


"SAYANG!! KAMU HAMIL???"


...----------------...


🌹 Happy reading


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih