Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
Bapak Kembali


Keara dan Ocha menghabiskan hari liburannya di Bali. Tidak ada lagi hati yang galau dan gundah gulana. Keara terus tersenyum dan tertawa sepanjang hari. Ditambah lagi Harris yang sekarang menemaninya selama mereka berdua bersenang-senang.


Ocha, yang tau diri, sedikit demi sedikit menjauh dari dua sejoli yang sedang dimabuk cinta itu. Memberi ruang lebih luas pada mereka untuk saling mengenal dan mendekat.


Bara yang sudah menjadi tugasnya untuk mengawasi dan menjaga Harris, terus berada di sekitar Harris. Meski tidak terlalu dekat. Dia bersikap seperti bayangan yang selalu ada tapi tidak pernah dilirik tuannya.


Tapi kini ia mulai terganggu dengan si gadis berisik yang kerap mendekatinya. Ocha. Jelas kalau Bara risih. Dia adalah preman jalanan yang setiap harinya bergaul dengan laki-laki sangar dan orang begajulan. Tidak terbiasa berbicara, apalagi bercanda tawa dengan setting latar pantai Bali yang indah dengan seorang perempuan. Alhasil, setelan kaku dan masam tetap dalam mode on, meski Ocha terus saja memancing membuka obrolan.


Berbanding terbalik dengan Harris dan Keara yang terus menunjukkan cinta yang sedang bermekaran di hari keduanya. Mereka bermain-main di pantai. Berlarian, saling melempar air kemudian saling memeluk erat. Tawa selalu terlukis dari bibir keduanya. Harris pun tak pernah melepas rangkulan tangannya seakan tak mau berjauhan sedikitpun.


Mereka berjalan dengan canda tawa yang terus mengiringi. Kemudian sesekali berhenti jika merasa harus mengisi perutnya yang kosong. Lalu berbelanja. Lantas bermain-main lagi. Begitu seterusnya hingga waktu liburanpun habis. Mereka harus segera kembali ke Surabaya. Menyudahi liburan penuh rasa yang tidak akan terlupakan.


Harris merasa hatinya sangat bahagia. Tidak pernah dia merasa sebahagia ini. Gadis mungil di sampingnya ini begitu mengubah hidupnya yang kelam menjadi terang benderang dan penuh warna. Tidak ada yang ia inginkan lagi selain memiliki gadis ini dan mencintainya seumur hidupnya.



Tawa riang Keara seolah menjadi obat atas segala penat Harris. Memenuhi hatinya dengan debaran yang sangat tak terkendali.


"Sayang, gimana kalau kita ubah urutannya."


"Hm?" tanya Keara tak mengerti. Mereka saat ini sedang dalam perjalanan kembali ke hotel untuk mengemasi pakaian mereka.


"Mumpung kita lagi ada di Bali, gimana kalau kita honeymoon dulu, baru sebulan lagi kita ijab kabul.."


Keara langsung melotot dan menghujani dada lelaki itu dengan cubitan maut bertubi-tubi.


"Dasar otak mesum."


"Aaarrghh.. Keganasanmu sudah kembali lagi, sayang.. Aku senang.." Harris meracau sambil meringis kesakitan.


...----------------...


"Ciyee.. Yang udah baikan.. Nempeeeell terus kayak lintah. Wkwkwkk.." seloroh Ocha dengan nada mengejek.


Saat ini mereka sedang berada di kamar hotel. Mengemasi barang-barang mereka dan bersiap pergi ke bandara. Untuk pulang kembali ke Surabaya.


"Hih.. jijiy banget kok perbandingannya kayak lintah siih.." Keara bergidik sambil tertawa.


"Aku ikut bahagia deh, K.. Mas Harris itu cowok limited edition. Jangan disia-siain lagi.. Cewek yang udah pasang kuda-kuda mau nikung dia udah banyak.."


"Tapi aku yakin mas Harris setia selamanya padaku.." Keara menyombong sambil menepuk dadanya dengan gaya lebay.


"Yeeyy.. Sombrooong.. Tapi aku aminin deh.." mereka berdua tergelak bersama. Nyadar gak sih, K.. Mas Harris itu seperti perpaduan antara Mas Rizky dan Nico.."


"Iihh.. Kenapa ada Niconya??" protes Keara. Baginya, mas Harris sangat berbeda dengan Nico yang sok ganteng dan playboy.


"Karena mas Harris itu ganteng dan kharismatik. Dia idola cewek-cewek se-nusantara. Yaaa beberapa tingkat lebih tinggi dari Nico sih, kalau Nico dulu kan idola satu sekolah doang.."


"Tapi mas Harris gak playboy dan suka tebar pesona kayak Nico."


Keara tersenyum dan tersipu mendengarnya. Ada benarnya juga ucapan Ocha.


Tak lama bel pintu kamar berbunyi. Keara berjalan menuju pintu untuk membukakannya. Harrislah yang menyembul dari balik pintu.


"Sayang, kamu sudah siap?" tanyanya.


"Sudah, mas.. Kita bisa pergi sekarang."


...----------------...


Hari sudah beranjak petang ketika Haris dan Keara sampai di Surabaya. Harris yang mengantar Keara sampai ke rumahnya, memarkir mobilnya di pelataran rumah Keara.


Rumah itu seperti kedatangan tamu. Keara sedikit ragu untuk melangkah masuk ke dalam. Terlihat dari jendela, ada seorang lelaki duduk di depan ibu dan mas Arman. Posisinya membelakangi jendela sehingga Keara tidak bisa melihat wajahnya.


"Ayo masuk, sayang.. Aku antar sampai ke dalam.." tutur Harris lembut. Keara mengangguk.


Mereka mengucap salam ketika sudah berada di ambang pintu. Membuat tiga orang yang sedang duduk di ruang tamu sontak menoleh.


Kini Keara bisa melihat tamu itu. Seorang lelaki tua bertubuh kurus tinggi. Rambut hitamnya sudah berhias uban di beberapa baris. Keara tidak mengenali tamu itu. Tapi melihat mata sembab ibu, dan lengan mas Arman yang merangkul ibu, Keara bisa menebak siapa pria tua itu.


Tubuh jangkung yang meski sudah renta tapi masih terlihat gagah itu berdiri dan berjalan mendekati Keara. Keara tanpa sadar memundurkan tubuhnya. Semakin pria tua itu mendekat, semakin Keara berjalan mundur. Sampai tangan Harris terulur menangkap raga cantik itu dan berusaha menguatkan.


"Jangan takut sayang, ada aku.." bisiknya ke telinga Keara. Keara menoleh pada Harris, dan mendapati netranya sudah dipenuhi peluh. Tangisnya siap pecah. Tapi tatapan penuh kasih sayang dari lelakinya itu seolah membuatnya tenang dan merasa aman.


"Si cantik ini pasti Keara, kan..?" ujar pria tua itu. Tangannya sudah terulur hendak menyentuh lengan Keara. Tapi K menghindar dengan cepat, semakin merapat ke raga kekar yang merangkulnya.


"Kamu sudah dewasa dan cantik, mirip seperti ibumu waktu masih muda.." pria tua itu terkekeh kecil. Tapi hanya dia sendiri. Semua orang diam dan menampakkan ekspresi datar dengan kecamuk perasaannya masing-masing.


Keara mencengkram baju bagian belakang Harris. Remasan itu dirasakan Harris, dan langsung memberikan dekapan yang lebih erat di bahu gadisnya. Lelaki itu turut menatap tajam. Seolah bersiap menghantam jika lelaki tua itu sampai menyentuh Keara.


Ibu terlihat berdiri menghampiri Keara. Mas Arman pun berdiri dengan ekspresi datar yang mengerikan.


Ibu mengusap pundak anak gadisnya yang terlihat gusar. Beliau dengan mata sembab, tapi berusaha ingin menenangkan putrinya. Ia tahu betul, putrinya ini pasti sudah memiliki firasat, siapa lelaki tua yang ada di hadapannya sekarang.


"K, dia bapak kamu, Nak.." tutur ibu, suara lembutnya yang bercampur dengan tangis pilu.


"B-bapak?"


...----------------...


...----------------...


🌹 Happy reading


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih