
"Sayang, aku potong-potongin daging steak kamu yaa.." ucap Keara. Tangannya sibuk memegang garpu dan pisau memotong-motong daging tebal yang masih mengepulkan asap di depannya.
"Hm.." Harris menjawab datar. Dia masih kesal pada istrinya. Meskipun begitu rengekan Keara mengatakan kalau dirinya lapar dan ingin makan steak setengah matang membuatnya rela terdampar di restoran steak meski dengan raut wajah masam.
"Suamiku ternyata bisa ngambek juga.. Hihii gemesh..." oceh Keara sambil kedua netra cantiknya tak lepas dari piring steak milik suaminya. Sehingga ekspresi senyum tertahan Harris mendengar ocehannya, lolos dari pandangan.
"Sayangnya aku lagi laper dan pengen makan steak.. Makanya aku tetap ngajak keluar. Coba kalau engga, pengen kutarik ke kamar aja sebenernya tadi. Enakan cuddling dan guling guling manja di kasur sebenarnyaaa... Apalagi kalau suamiku lagi mode badmood gitu, bibirnya cemberut, jadi makin enak nyiuminnya.. Hehhee" Keara terus mengoceh dan terkekeh sendiri.
"Nih, sudah aku potong-potong.. Selamat makan suamiku...." Keara menyimpan piring steak di depan Harris. Kemudian menarik piring steaknya sendiri dan kembali memegang pisau dan garpu untuk memotong steaknya sendiri.
Harris mengusap wajahnya kasar. Ia sungguh tidak tahan melihat keimutan istrinya. Kalau saja tidak ada norma dan adat ketimuran yang masih ia junjung, ia pasti sudah menciumi dan melu mat bibir istrinya di restoran padat pengunjung ini.
Dengan senyum tertahan, Harris memakan steak yang ada di depannya.
Selanjutnya, Harris makan tanpa bicara apapun. Raut wajahnya tetap dingin seperti sejak ia keluar rumah bersama istrinya tadi. Berbeda dengan Keara yang makan sambil terus nyerocos. Menceritakan hal-hal absurd meski tidak mendapat tanggapan yang berarti dari suaminya. Seolah ia sudah melupakan kekesalannya dengan tamu pria tante Martha dan kembali menjadi Keara yang ceria.
"Sayang, aku gak suka kamu seperti tadi.." ujar Harris setelah makanannya dan milik Keara habis.
Keara menarik nafas dalam sebelum berbicara. "Maafkan aku, sayang.. Tapi ayo kita kasih kesempatan pada tante Martha satu kali lagi saja.."
"Aku tidak mau." singkat dan padat sergah Harris.
"Sayaaang, please..."
"Enggak. Tetep enggak K.... Nanti setelah Martha pulang aku akan mengusirnya secara langsung.."
Keara menggenggam tangan besar Harris yang ada di atas meja. "Sayang, jangan yaa.. Berikan peringatan saja agar tante Martha lebih berhati-hati kalau membawa tamu ke rumah.. Tidak perlu sampai mengusirnya.."
"K, tadi kamu sangat kesal. Apa yang membuatmu berubah pikiran sekarang?"
"Iya, tadi aku kebawa emosi aja.. Makanya aku negur tante Martha terlalu keras sampai dia marah dan membalas menghinaku. Dia pasti juga sangat kesal denganku, mas.. Aku juga salah.."
Harris mendelik. "Kamu gak salah, sayang.. Itu rumahmu dan dia tidak seharusnya mengataimu di rumahmu sendiri!"
"Iyaa.. Iyaa.. aku tau.. Tapi apapun yang terjadi, Stella gak salah sayang.. Aku gak mau dia mendapat imbas untuk kesalahan mommynya.. Kalau kamu mengusirnya itu sama saja membuat hidup anak kecil itu terkatung-katung di jalanan..."
"Hmm.." Keara menatap sayu pada suaminya. Ia mendadak merasa sangat lelah dan mengantuk. "Anak itu gak salah dan gak tau apa-apa, mas.. Biarkan dia tinggal di rumah kita. Aku merasa jadi punya teman waktu gak ada mas Harris."
Harris melengos. Wajahnya tetap dingin dan kaku meski dalam hati sangat gemas dengan istrinya. "Kalau dilihat dari tinggi badan memang kalian terlihat seperti teman sebaya."
Keara tergelak. Meskipun suaminya masih terlihat garang, tapi dari kelakarnya K tau Harris sudah bisa menerima keinginannya. "Kalau sudah bisa body*shaming-in aku berarti suamiku sudah normal lagiii.. Hahahhaa.."
Harris hanya pasrah saja mengikuti keinginan istrinya. Termasuk keinginan istrinya untuk memesan makanan untuk Stella dan semua orang yang bekerja di rumahnya. Kemudian keduanya membeli smartphone baru untuk Keara. Meskipun Keara bersikeras mau memperbaiki saja ponselnya. Dan pungkasnya kedua rencana itu pun dilakukan. Service handphone lama dan membeli handphone baru. Win win solutions.
Dalam perjalanan pulang, Keara merangkul lengan kiri Harris yang sedang menyetir. Ia pun terlelap di dalam mobil. Tidak terganggu meski Harris terus menggerakkan tangannya demi memutar-mutar kemudi.
Waktu sudah menunjukkan pukul 8.50 malam ketika Harris masuk ke carport rumahnya. Dia gemas dengan istrinya yang masih nyenyak tidur di lengannya. Dia tidak tahan untuk tidak mencumbui istrinya itu. Beberapa jam tadi dia sudah menahan diri untuk tidak mencium wanita yang menggemaskan ini.
Tapi baru saja bibirnya menempel, Keara sudah tersentak bangun dari tidurnya. Wanita itu menoleh kanan kiri, bingung dengan situasi yang masih belum ia pahami.
"Mas Harris, kita udah di rumah?"
Harris mengangguk seraya tersenyum manis. Dia pun turun dari mobil dan segera membukakan pintu untuk istrinya.
Keduanya masuk ke rumah seraya merangkul tubuh pasangannya. Tak lupa ia memberikan makanan yan tadi dipesannya pada Bik Santi, agar beliau yang mengurusnya dan memberikannya pada semua orang.
Dari ekor mata Keara, ia melihat sosok wanita tua bergaya glamour itu datang menghampirinya dengan langkah cepat.
"Keara!"
...----------------...
🌹 Happy reading
🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉
🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih