Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
A Night to Remember


Tepuk tangan menggema memekakkan telinga. Teriakan kecil dan tawa centil terus bersahutan dari para gadis, sampai ibu-ibu yang sudah menenteng cucu pun ikut mengelu-elukan si penyanyi dadakan itu.


Keara harus membalikkan badannya lagi agar tidak ada yang melihat air matanya yang sudah luruh ke pipi mulusnya. Dalam hati ia juga mengagumi dan terhanyut dengan alunan lagu si penyanyi dadakan. Ia sangat ingin berlari ke podium menghampiri lelaki itu.


Dihapusnya pipi yang telah basah itu. Keara menyelempangkan sling bagnya setelah menyeruput minuman demi meredam sesak di dadanya. Ia bangkit dan kembali memutar tubuhnya. Menghadap ke arah penyanyi lelaki yang sangat tampan, dan malam ini terlihat sangat berkharisma.


Lelaki itu tersenyum lagi ke arahnya. Kali ini senyum yang lebih lebar dibandingkan tadi ketika bernyanyi. Meletakkan mikrofon di standing mic yang berada tak jauh dari raganya. Kemudian berdiri dan berjalan sampai di ujung podium.



Kini dia berhadapan dengan sosok itu. Lelaki dengan senyum hangat yang beberapa hari ini sangat memenuhi pikiran dan hatinya. Penyanyi kharismatik itu adalah Harris Risjad.


Perasaan Keara bercampur aduk dibuatnya. Ia rindu, terharu, sedih dan sangat bahagia dalam satu waktu. Senyuman lelaki ini nyatanya sudah bisa memporak porandakan pertahanannya.


Keduanya dikuasai kerinduan yang tak dapat ditahan lagi. Berjalan saling menyongsong dan ingin meleburkan rasa rindu ke dalam satu pelukan hangat. Merasa ingin saling mendekap dan tak ingin berjauhan lagi.


Tapi baru beberapa langkah mereka berjalan. Keara sudah menghentikan langkahnya. Dilihatnya raga lelakinya hampir tertutup sempurna, tanpa cela, oleh penonton 'konser' tadi yang seratus persen adalah wanita. Mereka datang mengerubungi Harris dengan memanggil manggil namanya dengan nada manja yang menggelikan.


"Mas Harriiis.. "


"Kak Harriisss..."


"Haarrriiiiss.."


"Minta foto bareng dong kak.."


"Boleh salaman gak, Mas..?"


"Duh, ternyata mas Harris pinter nyanyi yaa.."


"Mas Harris suaranya enak banget.."


"Aku meleleh denger suara kakak.."


Harris mematung. Tubuhnya kaku. Ia yang tidak terbiasa dengan kerumunan itu mendadak bingung harus berbuat apa. Ia harus mengangkat tangannya tinggi agar tidak sampai menyentuh bagian depan tubuh wanita-wanita ini.


Ia pikir lebih baik kalau yang mengerubunginya adalah para baj ingan dan preman, maka dia tidak akan segan menghajarnya. Tapi ini wanita..? Whatt the f*ck???


Kerumunan itu membuat pandangannya terhadap sosok gadis pujaannya terhalang. Dari jarak yang cukup dekat, ia melihat gadisnya itu berjalan menjauh keluar dari restoran.


'Bara sia lan!! Kemana dia?? Lamban sekali menolongku..' gerutunya dalam hati.


...----------------...


"Hai.." sapa Ocha pada seorang lelaki, di sebuah koridor dekat restoran. Sesaat setelah dia kabur meninggalkan sahabatnya sendirian di dalam restoran. Demi rencana pertemuan romantis sahabatnya itu.


Lelaki yang disapa Ocha hanya mengangguk pelan. Tanpa memberi ekspresi apapun di wajahnya.


"Mas Bara kan?"


"Iya." jawabnya singkat.


"Aku Ocha, yang tadi sore ketemu di lobi.." ulang Ocha memastikan lelaki di depannya ini mengingat dirinya.


Bara hanya mengangguk tanpa ekspresi (lagi).


"Jadi mas Bara sama Mas Harris baru balik dari Korea?"


"Iya."


"Oohh.." Ocha hampir kehabisan akal mencari bahan obrolan. Lelaki ini terus menjawab singkat tanpa ekspresi.


"Baik, saya harus kembali ke dalam secepatnya. Permisi." pungkas Bara, karena mengira Ocha tidak lagi menambah pertanyaannya.


"Eh tunggu... Ehmm.. aku boleh tetap ngechat mas Bara kan, walaupun rencana ini sudah bberhasil?"


Ia sungkan juga untuk mengatakan tidak. Karena ide surprise dari bosnya ia terpaksa menghubungi gadis berisik dan aneh ini. Selebihnya, mana pernah ia saling berbalas chat secara intens dengan seorang gadis.


Setelah dirasa Ocha tidak lagi berkata apa-apa, hanya senyam senyum gak jelas dan menggelikan, Bara beranjak masuk kembali ke dalam restoran. Tadi ia meninggalkan bosnya yang sedang bernyanyi karena ingin ke toilet.


Betapa terkejutnya Bara melihat Harris dikerubungi wanita-wanita. Bosnya itu langsung melotot tajam ke arahnya. Membuat Bara dengan sigap menghalau kerumunan itu.


...----------------...


Keara berjalan keluar hotel. Mendekati pantai yang keindahan malamnya biasa ia nikmati dari atas balkon kamar hotelnya. Malam gelap dan pantai sepi anehnya tak membuatnya takut.


Suara debur ombak air laut yang menghantam bibir pantai bersahutan. Seolah sedang berkejaran sambil tertawa riang tanpa beban.


Angin laut di malam hari juga terasa sejuk. Menghempas udara panas yang terbawa oleh Keara dari dalam restoran.


Keara membiarkan kakinya tersentuh oleh air laut yang sesekali terhempas oleh ombak. Membasahi kaki sampai setengah betisnya. Merasakan dinginnya air laut menusuk ke tulangnya, tapi anehnya ia merasa tenang.


Menyebalkan rasanya melihat seseorang yang dirindukan tak bisa tergapai karena lebih banyak orang lain yang juga menyukainya.


"Pasti seneng tuh dikerubungi cewek-cewek.. serasa dunia milik sendiri.. Ganteng sendiri, keren sendiri.. Mana pada nempel-nempel pula.. ganjen banget lagi tuh ibu-ibu.. Udah gendong cucu juga, masih kecentilan.." oceh Keara pada laut di depannya.


Ia mengayun-ayunkan kakinya menendang air. Yang tentu saja adalah tindakan yang sia-sia. Tapi tetap ia lakukan demi meluapkan kekesalannya. Kesal karena rindunya belum juga terobati. Sudah keduluan fans fanatik si cewek-cewek centil yang menyebalkan.


Seseorang memegang lengannya, membuat Keara terperanjat. Ia menoleh dengan cepat dan mendapati orang itu lebih membuatnya terkejut.


"Ehmm Mas Ha-rris..?"


"Kenapa pergi, sayang? Susah sekali bertemu kamu, tapi sekalinya ketemu, kamu malah kabur..." tutur Harris dengan senyum lembut yang menggetarkan hati gadis itu.


"Sudah selesai sama fans-fansnya tadi?" Keara melontar tanya dengan sinis.


"Sudah. Bara dan anak buahnya yang mengurus orang-orang aneh itu.." jawab Harris tetap tenang. Tidak terganggu sikap sinis Keara.


Tangan yang semula mencengkram lengan atas Keara itu perlahan merambat turun menggenggam jemari gadisnya. Ia memainkan jemari-jemari lentik itu dengan gemas. Penuh kerinduan.


"Enak yaa.. Udah jadi artis sekarang. Pantesan makin sibuk aja.." Keara masih melanjutkan aksi sarkasnya. Berpura tidak ada rasa rindu yang menyesakkan dadanya.


"Gak enak.. Lagian siapa juga yang jadi artis.." Harris mengendikkan bahunya.


"Apa kamu bilang aku sibuk karena tidak mencarimu beberapa hari ini, hm?"


"Enggak." jawab Keara cepat, masih ingin menyembunyikan perasaannya.


"Kalau begitu.. katakan padaku, sayang.. Apa kamu menikmati hari-harimu selama tidak ada aku yang menggangumu?" tanya Harris dengan suara yang tenang. Tapi Keara bisa mendengar, suara itu menghantam hatinya dengan kuat. Sekuat deburan ombak yang membuat tubuhnya sedikit oleng ke samping.


"Kalau kamu diam, apa itu artinya 'iya'? Apa itu artinya kedatanganku kemari untuk menemuimu adalah tindakan yang salah dan mengganggumu?"


Keara mengatupkan bibirnya kuat-kuat. Mana mungkin Harris mengganggu..? Kedatangan lelaki ini justru sangat melegakan rasa sesak yang terus menghimpitnya.


Perlahan genggaman pada jemarinya mengendur. Kemudian terlepas dengan sempurna.


"Baiklah kalau begitu.." lirih Harris. Suara lelaki itu hampir tertelan bisingnya debur ombak.


Mas Harris berbalik dan hendak berjalan menjauh. Meninggalkan Keara yang masih diam mematung.


...----------------...


...----------------...


🌹 Happy reading


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih