Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
Sudah Sah (2)


Sepasang pengantin berdiri dengan anggun di pelaminan dengan dekorasi cantik nan modern. Bunga-bunga ditata sedemikian rupa hingga tampak indah dipandang mata. Dekorasi di venue outdoor itu berpadu sempurna dengan pemandangan kota dari ketinggian. Berhias pepohonan tinggi yang rimbun dan beratap langit senja yang indah.


Pun kecantikan dan wajah rupawan sepasang sejoli yang mengukir senyum menyambut tamu yang ingin menyelamatinya menambah keindahan dekorasi.



Keara dan Harris sesekali saling membalas pandang dan melempar senyum bahagia. Hari indah yang diimpikan akhirnya terjadi. Harris mengusap punggung Keara ketika ada kesempatan mereka duduk dan beristirahat sejenak dari deretan tamu undangan yang naik ke atas pelaminan.


"Kamu sudah lelah, sayang?" tanya Harris penuh perhatian.


Keara menggeleng dengan senyum yang tak lekang. "Aku bahagia banget mas.. Ini indah sekali.."


"Kamu yang indah sayang.. Kamu sangat cantik.." tutur Harris lembut, membuat tubuhnya meremang seketika.


Keara tampak cantik dengan make up yang tidak mencolok. Rambut panjangnya ditata dengan sangat anggun dihiasi mahkota kecil nan elegan di atas kepala. Ia memakai gaun putih dengan potongan bahu terbuka. Membuat Harris berkali-kali harus menelan salivanya untuk meredam gejolak dari dalam tubuhnya setiap kali menatap wanita tercintanya itu.



Keduanya saling berpandang. Pancaran cinta dari sorotnya seperti tidak pernah redup. Sinarnya terang namun meneduhkan. Tautan jemari keduanya yang enggan terurai membuat semua tamu yang melihat pasangan ini turut tersenyum dan merasakan dalamnya cinta mereka.


Aswin naik ke atas pelaminan dan membisikkan sesuatu ke telinga Harris. Membuat Keara memicing karena penasaran. Tapi ia tahan untuk tidak melontar tanya.


"Lalu sekarang dimana Tiara?" tanya Harris yang tertangkap oleh indera pendengaran Keara.


"Di luar.." jawab Aswin.


"Ya sudah.. Kalian pulang duluan saja. Kasian Tiara.."


Selanjutnya, keduanya saling bersalaman dan Aswin juga mengucapkan selamat pada Keara.


"Ingat! Dua minggu ini jangan ganggu aku dengan urusan pekerjaan.." cetus Harris.


"Hehee siap boss.." Aswin dengan gaya kocak memberikan sikap hormat pada Harris.


Keara tertawa melihat tingkah Aswin. Juga jokes-jokes garing yang selalu tidak lupa diselipkan di setiap kalimatnya, yang membuat Harris melotot kesal padanya. Tapi Keara justru terhibur dan melupakan rasa penasarannya tadi.


Mas Aswin memang lebih fleksibel. Dia bisa profesional dan sigap ketika bekerja. Tapi di luar pekerjaan, dia bisa seru dan kocak. Dibandingkan dengan Bara yang lebih kaku dan tanpa ekspresi, sebelas dua belas lah hampir mirip dengan mas Harris. Beruntung mas Harris lebih ganteng, jadi kalau dia lagi mode 'gunung es yang beku' masih sedap dipandang mata.


Keara tertawa dalam hati. Ia ingat kalau sahabatnya, si Ocha kesengsem berat pada si Bara bere itu. Bagi Ocha, Bara lebih manly dan keren dibanding Mas Harris yang cool dan perfect. Seperti bukan orang beneran, katanya.


'Hahaa.. ada-ada aja.. Masa suamiku dibilang manusia jadi-jadian..' batin Keara.


"Masih bagus mas Harris disebut kayak kanebo kering, K.. Kena air dikit langsung lumer itu kanebonya.. Lah mas Bara, kayak kotak wadah kanebo. Tau gak sih.. wadah kanebo yang warnanya kuning itu..? Itu tuh mau direndam air tujuh hari tujuh malam juga gak ada luluh-luluhnya itu wadah.." ucap Ocha saat di Bali waktu itu. Sahabatnya itu langsung kesengsem dengan anak buah suaminya pada pandangan pertama.


"Istriku ini kenapa yaa.. Kok senyum-senyum sendiri?" bisik Harris dekat sekali dengan telinga Keara.


K menggeleng seraya tersenyum meyakinkan.


Dan sekejap kemudian, Ocha naik ke atas pelaminan bersama dengan Muthia dan mas Ardi, suaminya. Juga anak perempuan kecil dalam gendongannya.


"K.... Haappyyyy Weeddiiiingg...!" pekik kedua sahabat Keara itu seraya merentangkan tangan.


Keara pun membalas membuka lengannya, dan ketiga wanita itu pun saling berpelukan.


Harris tersenyum senang. Melihat istrinya ceria dan bisa tertawa lepas bersama sahabat-sahabatnya.


Sedang seorang lelaki yang datang bersama mereka sedang menggendong bayi delapan bulan itu menggelengkan kepala melihat kelakuan istrinya yang masih serupa dengan cewek-cewek SMA. Dia mendekat dan bersalaman dengan Harris.


"Harap maklum.. Cewek-cewek kalau sudah ketemu suka berisik kayak pasar.." seloroh Ardi, suami Muthia yang usianya dua tahun lebih tua dari Harris.


Harris menggangguk dengan senyum lebar. Ia memakluminya, justru sangat senang melihat Kearanya tertawa riang seperti ini.


Setelah beberapa saat ngerumpi di atas pelaminan, barulah Keara mengenalkan suaminya pada Muthia.


"Mas Harris, ini Muthia teman SMA aku.. Sama kayak Ocha." Harris bersalaman dengan Muthia.


"Ihh.. Gak nyangka mas Harris ternyata lebih ganteng kalau dilihat langsung.. Daripada di TV.. " Muthia terkekeh centil. Seolah lupa keberadaan suami dan anaknya.


"Ini mas Ardi, suaminya Muthia.." lanjut Keara mengenalkan pada mas Harris.


"Sudah kenalan kita... Nunggu dikenalin kamu mah kelamaan.." seloroh mas Ardi.


"Semenjak ada si krucil itu jadi gak pernah lagi, K.." Muthia yang menyahut lebih cepat. Bibirnya sudah cemberut saja tiap kali ingat itu.


"Padahal aku udah ngasih ide buat nitipin anak ke neneknya..."


"Sabaarr... Bentar lagi dia umur setahun bisa kita bawa kemana-mana.." sahut mas Ardi, terdengar sangat bijak menghadapi istrinya yang merajuk.


"Kamu juga K.. Mas Harris kan pasti sering kerja dan meeting ke luar kota bahkan ke luar negeri.. Tempel teroos kayak Muthia tuh.." timpal Ocha.


Keara terkekeh canggung. Wajahnya memerah sambil sesekali melirik Harris. Tapi yang dilirik terlihat santai saja melihat Keara dan teman-temannya bersenda gurau.


"Iya, K.. Mendingan nitipin anak ke neneknya, daripada nitipin suami ke pelakor.. Iih amit-amit.." Muthia bergidik geli.


"Pelakor jaman sekarang macem-macem casingnya. Ada yang keliatan gatel, ada juga yang alim sok kayak bidadari, padahal mah aslinya gatel juga.."


"Kalau perlu dua puluh empat jam kamu harus pantau lakikmu, sadap ponselnya, dan harus punya aplikasi pelacak biar tau dia ada dimana.. Hahahaha.."


"Kamu tuh, kok malah ngajarin Keara yang aneh-aneh.. ntar dia jadi cemburuan gak jelas sama suaminya.." Mas Ardi menjawil bahu istrinya agar menyudahi ocehan ngelanturnya.


"Eh, itu namanya antisipasi mas.. Lebih baik mencegah, daripada kecolongan suami.. Bener gak, K..?" timpal Muthia lagi. Yang sepertinya masih kekeuh mempertahankan pendapatnya.


"Mas Harris pasti mobilitasnya tinggi.. Ya kali kamu ngintilin terus, K... Yang ada sih kamu malah ngeribetin mas Harris.." Ocha ikut berkomentar.


"Eh, jangan salah Cha.. Justru yang mobilitasnya tinggi itu yang wajib dijaga ekstra. Sambil jagain suami dari pelakor, bisa sekalian nyiapin segala kebutuhan suami dan merawat suami lahir dan bathin dimanapun dan kapanpun.." Muthia kembali mendebat.


"Jangan didengerin lah, K.. Antisipasi boleh, tapi terlalu over juga jangan, gak baik.." sela Ardi.


"Hehee.. Tenang aja, aku gak akan ngikutin aliran posessif Muthia kok.. Istri tukang ngekorin suami.. Hehehee.." Keara terkekeh mendengar pasangan suami istri yang lebih senior dari pada dirinya sedang berdebat tentang cara menjaga suami yang baik dan benar.


Harris tersenyum kecil. Tapi dia lebih memilih diam dan tidak berkomentar apa-apa. Tapi sepeninggal ketiga teman-teman istrinya itu, Harris memberanikan diri berbisik pada istrinya.


"Perasaan kemarin ada yang bilang mau jadi asistenku kalau sudah menikah.. Katanya sih biar bisa ikut aku kemanapun aku pergi.." Harris menggamit pinggang istrinya. Ingin mengulik lebih dalam tentang isi hati gadisnya ini.


Rona merah sontak menjalari wajah cantiknya. "Ehmm.. kan maksudnya aku biar ga nganggur aja di rumah.. Sendirian gak ada kerjaan.." jawabnya dengan nada bergumam pelan.


"Ooh.. Bukan karena mau jagain suami biar ga macem-macem di luar sana?"


"Enggaklaah.." sahut Keara cepat.


'Ya kali aku bilang kalau mau jaga suami dari pelakor. Malu banget laah.. Tapi istri mana yang gak overthinking kalau jauh dari suami?' Batin Keara. Tanpa ia sadar, sanggahan karena gengsinya itu membuat Harris tersenyum masam.


...----------------...


Menjelang maghrib, tamu undangan sudah mulai berangsur pulang. Petugas catering dan tim dari WO pun mulai bebenah untuk membersihkan venue dari bekas para tamu undangan.


Keara yang merasa sikap Harris berubah jadi sedikit dingin semenjak perdebatan kecil perkara jaga menjaga suami itu, mulai menyesali ucapannya. Ia ingin memperbaiki tapi entah harus berbuat apa.


"Mas, kita bisa naik ke kamar sekarang kan?" Keara memberanikan diri melontar tanya usai makan malam bersama ibu, mas Arman, dan Bu Farida sekeluarga.


Ia merasa Mas Harris bersikap normal dan tetap ramah ketika berbicara dengan keluarganya. Tapi lelaki itu hanya berbicara seperlunya saja dengan Keara. Tidak menunjukkan perhatian seperti yang biasa ia lakukan.


"Kamu duluan saja, K... Tadi kata Angel mau bantu kamu berganti baju, membersihkan make up, dan lain-lain.." jawab Harris datar.


"Aku mau sholat di musholla hotel dulu saja.."


Keara mengangguk tanpa jawab. Wajahnya sudah redup. Membenarkan firasatnya sendiri kalau Mas Harris sedang mendiamkan dirinya.


Keara bergegas naik ke kamarnya ditemani mbak Angel dan ibuk. Dari sudut matanya, ia melihat Harris berjalan menjauhi venue resepsi bersama dengan mas Arman.


...----------------...


...----------------...


🌹 Happy reading


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih