Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
Seratus Hari Kepergiannya


🌹 Rumah Rizky


Satu minggu berlalu. Hari ini Keara khusus mengambil libur kerja. Pasalnya hari ini bertepatan dengan acara pengajian 100 hari meninggalnya Mas Rizky. Dia ingin membantu Bu Farida menyiapkan semua acara pengajian dan membawa sedikit makanan.


Mas Rizky nya tersayang. Seratus hari sudah dia berpulang. Keara menatap sendu foto Rizky yang ada di ponselnya. Wajah tampan lelakinya yang amat sangat ia rindukan. Keara sudah mengikhlaskan kepergiannya. Merindukan Rizky pun ia salurkan melalui doa-doa seusai sholatnya.


Setelah ashar dia bergegas datang ke rumah Rizky. Namun tidak ada tanda-tanda kehebohan masak-memasak di sana. Bu Farida dan Ica, adik bungsu mas Rizky, malah sedang asik rebahan sambil menonton tv. Keara dibuat bingung dan melongo.


"Hehee.. jangan kaget mbak K.. Ntar lagi baru mau mulai beres-beres ruang tamu. Biar cukup menampung jamaah pengajian yang datang.." ujar Ica. Seperti bisa membaca kebingungan Keara.


"Emang makanan dan lain-lainnya sudah siap Ca?" tanya Keara.


"Sudah beres semua mbak.. Santuuuy.." jawab Ica santai.


Bu Farida datang sambil membawakan segelas es teh manis untuk Keara. "Diminum K.. Makasih yaa sudah datang."


"Sama sama Ibuk.. K datang jam segini niatnya mau bantu-bantu.. eh kata Ica udah beres semua. Harusnya K datang dari pagi ya bu.. Hehee.." Keara tertawa kecil demi memupus kecanggungannya.


"Bukan begitu K.. Emang ibu ga masak apa-apa kok."


Keara semakin mengernyit.


"Mas Harris yang take over semua urusan dana dan konsumsi mbak.." sahut Ica. "Biasanya jam empat.an ada petugas catering yang kirim makanannya."


"Ooh gitu...." Keara mengangguk pelan. Kenapa baru terpikir kalau ia bisa bertemu Harris di sini. Entah kenapa ada rasa senang dan lega yang ia sendiri tak tau alasannya.


"Iya K.. Harris kemarin lusa telepon dari China. Bilang kalau dia sudah pesankan catering lengkap dari mulai suguhan, makanan untuk dimakan jamaah pengajian di sini, sampai berkat yang untuk dibawa pulang. Jadinya ibu santai-santai begini deh.." terang ibu Farida sambil tersenyum kecil.


Mas Harris di China?


"Ica mau mandi dulu ya mbak.." pamit Ica. Keara memberi tanda Oke dengan jarinya. Ica berlalu masuk ke dalam rumah.


"Angga sama Mas Adi belum datang Bu?"


"Belum. Mereka pulang kerja jam lima nanti.."


"Mas Harris di China? T-tapi nanti bisa datang kesini kan Bu?" tanya Keara, tentu dengan berharap Mas Harris memang akan datang kemari.


"Katanya gak bisa. Nanti malam pesawatnya baru mendarat .. Jadi gak keburu datang ke sini." jawab Bu Farida.


Wajah Keara mendadak murung, namun ia berusaha menutupinya agar tidak sampai diketahui Bu Farida. Terbersit sedikit kecewa mendengar jawaban Bu Farida. Hampir tiga minggu lamanya terakhir kali Keara bertemu Harris di rumah sakit. Tanpa salam perpisahan, dan kalimat terakhir Harris di rumah sakit saat itu, membuat Keara merasa masih ada sesuatu yang mengganjal yang ingin ia tuntaskan dengan bertemu Harris.


Tapi apa daya, nomor HP Harris ia tak punya, rumah Harris pun ia tak tau. Datang ke kantor Harris yang merupakan kantor e-commerce terkenal itu, Keara tak punya nyali. Membuat Keara hanya diam memendam perasaannya.


"Kamu.. Gimana sama Harris K?" tanya Bu Farida. Keara hanya menjawab dengan mengangkat bahu seraya tersenyum. Tak tahu harus menjawab apa. Karena ia pun tak tau harus bagaimana menjelaskan perihal hubungannya dengan Harris. Abu-abu.


Keara menghormati wasiat Rizky untuk dekat dengan Harris. Meskipun ia mencoba menghibur diri dengan definisi dekat tak harus berpacaran. Tapi keadaan seolah semakin memperlebar jarak di antara mereka. Kalau dulu ia tak bertemu dengan Harris, ia akan merasa biasa saja. Tak ada masalah. Tapi sekarang, berbeda. Entahlah..


'Mas Rizky pasti tidak ingin aku dan mas Harris kesepian. Karena itu Mas Rizky ingin kami berteman dekat. Toh, kalaupun kami lebih dari teman, misalnya ini... kalau... seandainyaa.. Aku dan mas Harris berpacaran atau sampai menikahpun, Mas Rizky sudah pasti tidak akan keberatan.'. batin Keara.


'Eh.. wait wait !! Ngapain juga sih aku membayangkan pacaran sama mas Harris?? Gak tau diri banget aku? Sainganku artis cantik yang lagi hits se Indonesia. Se Indonesia K.. Se Indonesiaaa!! Bukan cuman se kecamatan doang.. Jadi jangan ngimpi kejauhan. Ngimpi aja jangan, apalagi berharap.'.


"Ibu cuma ingin kamu tau pesan terakhir Rizky K.. Itu saja. Ibu bukannya ingin menjodohkan kamu dengan Harris. Siapapun jodoh pilihan Keara, Ibu akan selalu merestui dan turut bahagia. Ibu yakin Rizky pun demikian.."


"Ayo Bu.. Keara bantu beres-beres ruang tamu dan nyiapin makanannya."


Bu Farida mengangguk. "Iyaa.. Ayo K.."


•


•


•


Seusai acara pengajian, Keara bersiap pulang setelah membantu Bu Farida merapikan sisa makanan dan membantu mencuci piring dan gelas bekas makan tamu pengajian. Ibu Farida membawakan tiga box nasi pada Keara.


"Banyak banget Bu..? Satu saja cukup." ujar Keara.


"Ini buat kamu, Ibuk, dan mas Arman.. Lagipula ini sisa nasinya masih banyak banget. Harris nih pesennya kebanyakan..." sahut Bu Farida. Beliau masih sibuk membagi-bagi box nasi dan mendata tetangga dan kerabatnya yang akan dikirimi nasi box.


Keara bersalaman dan berpamitan dengan seluruh anggota keluarga mas Rizky. Pada Ayah dan ibu mas Rizky, pada mas Adi dan mbak Dara istrinya, pada Angga dan Ica adik-adik mas Rizky. Kemudian bersiap memasukkan box-box nasi ke jok motornya. Untung muat. Amaan...


Keara melambaikan tangan pada Ica. Dia sudah menunggangi motor matic kesayangannya. Bersiap menarik gasnya, setelah sesi berpamitan panjang dengan selingan curhat sana sini bersama Ica.


Tapi tepat sebelum Keara melajukan motornya, Bu Farida berjalan tergopoh-gopoh dari dalam rumah sambil memanggil-manggil Keara. Membuat Keara menghentikan tangannya yang hendak menarik gas. Dan menunggu Bu Farida mengutarakan maksudnya.


"K.. Ibu mau minta tolong. Titip nasi box ini yaa. Antarkan ke rumah Harris.." ucap Bu Farida. Tanpa permisi beliau langsung menyodorkan bungkusan plastik berisi nasi box pada Keara.


"Ke rumah mas Harris??" Keara terbelalak.


"Iyaa.. Bik Santi bilang Harris baruuu aja sampe rumah."


"Tapi Bu.. Keara gak tau rumah mas Harris.."


"Gampang Mbak.. Nanti aku share loc. Tinggal masuk gate perumahan griya mediteran, trus cari blok dan nomor rumahnya." sahut Ica.


"Di perumahan elit itu rumahnya?" tanya Keara lagi.


"Iya K.. searah kan sama rumah kamu?" ujar Bu Farida. Beliau memang memiliki tujuan terselubung. Yaa itung itung.. mewujudkan pesan terakhir almarhum putranya.


Keara tak bisa menolak. Dia melajukan motornya dengan perasaan ragu dan gugup. Sepanjang perjalanan ia terus menata hati dan sikap. Mempersiapkan diri saat bertemu dengan Harris nanti.


Duh duuh.. Dag dig dig bangett jantung Keara.. 'Anyone help me !!'


...----------------...


...----------------...


🌹 Happy reading


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih