Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
Ingin Ada Di Sampingmu


"Assalamualaikum Bu, K sudah pulang..."


Keara masuk ke kamar setelah mengucapkan salam. Ia tidak menunggu ibunya menghampiri. Pun ia merasa belum cukup siap untuk salim dan mencium tangan ibunya. Ia yakin penampilannya sudah kacau balau sekarang.


Keara mengunci pintu kamarnya. Ingin cepat-cepat menyembunyikan dirinya. Ia sungguh belum sanggup jika harus bertatap muka dengan ibu. Ia belum siap menjawab rentetan pertanyaan dari ibu.


Pagi tadi dia pamit akan pergi ke Korea, tapi siangnya ia sudah pulang dengan wajah sembab dan tanpa koper di tangan. Persis seperti wisatawan abis kecopetan. Miris. Sudah pasti daftar pertanyaan yang akan terlontar dari ibu akan sangat panjang.


Di luar ekspektasi. Ibu yang melihat putrinya pulang dengan cepat. Melesat masuk ke kamar, tanpa lebih dulu mencium tangannya, tidak seperti kebiasaannya. Ibu pun sudah dengar hot gossip yang sedari pagi terus tayang berulang-ulang di tv. Calon suami putrinya yang diberitakan, sudah pasti jadi penyebab pulangnya Keara bahkan sebelum menginjakkan kaki di Korea.


Ibu memutuskan diam dan menunggu. Memberi ruang pada putrinya untuk bersedih dan berpikir jernih. Ia sendiri juga terkejut dengan apa yang diberitakan di televisi. Tapi percuma saja kan bertanya pada Keara sekarang, hanya menambah kepedihan putrinya.


Sedangkan di dalam kamar Keara menelungkup di atas ranjang. Menumpahkan sisa tangisnya yang seolah tidak kunjung habis. Benar rupanya sebutan cengeng yang disematkan Harris padanya. Keara memang cengeng.


Ia mengulang kembali ucapannya pada Harris di dalam kepalanya. Menimbang kembali apa ia salah dengan ucapannya itu. Apa ia keterlaluan? Tapi memang itu yang dia rasakan. Emosi menguasai. Kekecewaan luar biasa sungguh melukai hatinya.


Ketika tadi ia masuk ke ruang kerja Harris. Melihat lelaki itu menyandarkan kepala sungguh membuat Keara ingin menghambur memeluknya. Ingin menangis di dadanya. Tapi pemikiran bahwa lelaki ini tidak membutuhkan kehadirannya , membuat Keara menahan keinginannya. Ia pendam sendiri sesak di dadanya.


Kenyataan bahwa Harris mengirimnya jauh sampai keluar negeri itu pun membuat Keara merasa yakin. Harris pasti sudah punya rencana untuk menyelesaikan masalah berita palsu ini. Harris Risjad, dengan kekuasaan- uang-dan kecerdasannya, pasti bisa dengan mudah segera menuntaskan masalah ini.


Tanpa Keara. Jangan lupa.


Tanpa Keara!!


'Jadi tidak masalah kan aku sekarang menjauh darinya? Toh, keberadaanku sama sekali tidak dibutuhkan. Lagian aku bisa apa? Paling bisanya cuma nangis.. Malah bikin dia ribet...' gumam Keara dalam hati.


...----------------...


Keara terus mengikuti berita tentang Harris dari televisi dan sosial media. Dia resmi jadi sarjana pengangguran sekarang. Jadi tidak ada yang bisa dia lakukan selain makan dan rebahan. Mandi pun jarang. Buat apa mandi? Boros air. Toh tidak akan pergi kemana-mana...


Keesokan harinya berita yang bergulir kian bertambah sedap dengan tambahan bumbu dari beberapa orang yang tidak kompeten. Sepertinya si pemfitnah sengaja ingin benar-benar menjatuhkan Harris Risjad.


Cercaan yang dituliskan netizen di sosial media menjadi faktor yang semakin memanaskan situasi. Beberapa orang tega mengetikkan komentar untuk Harris dengan sangat kejam. Sebagian kecil dari mereka bahkan mengklaim tidak akan lagi berbelanja online di e-commerce milik Harris. Meskipun masih banyak orang yang berkomentar baik dan mendukung perubahan positif Harris.


Ada lagi orang yang mengaku sebagai mantan driver dari Harris. Dia mengaku sering mendapatkan perlakuan buruk dari Harris. Harris tidak hanya kejam, dia juga suka berkata kasar dan menghinanya.


'Tapi kenapa mas Harris punya banyak musuh yang sampai tega berbuat demikian yaa..? Siapa orang yang tega menyebarkan fitnah ini?' Keara bertanya-tanya dalam hati.


Sejak kemarin ia lari dari rumah Harris, Harris tidak pernah datang untuk mencarinya. Hanya panggilan telepon dan pesan chat dari Harris yang terus memberondong masuk ke notifikasi smartphonenya. Tapi semuanya itu ia abaikan. Keara merasa tidak ada lagi yang harus dibicarakan dengan lelaki itu.


Keara berpikir, ia lebih baik diam. Tidak menampakkan diri di depan Harris. Juga tidak perlu bicara dengan lelaki itu. Keara pikir itu juga termasuk dalam rencana Harris. Karena lelaki itu nyatanya justru akan mengirimnya jauh ke Korea. Jadi, ia benar kan dengan sikapnya menjauhi Harris..?


Di hari ketiga berita itu bergulir, Harris akhirnya muncul untuk pertama kalinya di konferensi pers yang ia gelar. Harris didampingi jajaran kuasa hukumnya. Nama-nama pengacara terbaik di negeri ini ada di sisi kanan dan kirinya. Harris yang mengenakan kemeja dengan jas tanpa dasi membuat tampilannya tidak terlalu kaku dan formal.


Keara menatap nanar lelaki yang (masih) memberikan debaran hangat di hatinya, dari layar televisi. Lelaki itu tampak kacau dan menyedihkan. Rambut halus di sekitar dagunya tumbuh lebih panjang dari yang terakhir kali Keara lihat. Menandakan lelaki ini belum sempat bercukur. Atau mungkin juga tidak mau bercukur.


Dari sorot mata Harris, Keara melihat sebongkah beban berat menggelayutinya. Matanya sayu dan wajahnya jauh dari kata berseri. Pertama kalinya Keara melihat wajah tampan lelakinya ini begitu tertekan. Membuat secercah perih terbit di lubuk hatinya.


"Siapa yang tidak terluka masa lalunya dibongkar di depan umum? Terlebih lagi berita yang ditayangkan sama sekali tidak benar. Mas Harris bukan psikopat. Dia bukan pembunuh. Dia juga bukan mantan napi.. Dia sudah sangat menderita karena kehilangan kedua orang tuaanya di usia yang masih sangat muda, ditambah lagi dia difitnah membunuh papanya.. Huhuhuuu.. Dia hanya anak kecil yang menjadi korban kekejaman orang-orang dewasa di sekitarnya.." tangis Keara pecah.


Ibu merangkulnya. Mendekap dan mengusap punggungnya dengan lembut. Tidak berusaha menghentikan tangis Keara. Malah memberi ruang untuk putrinya meluapkan semua sesak yang mengganjal di hatinya.


"Lalu kenapa kamu masih ada di rumah sekarang? Datang dan peluk mas Harris untuk mengurangi kesedihannya..."


"Mas Harris ga mau aku ada di sampingnyaa... huhuhuuuuuu.." sahut Keara dengan tangisan yang kian berderai.


"Andai saja aku punya tempat di samping mas Harris, K juga mau nemenin dia, buk.. Huhuhuuu.. Tapi K malah mau dikirim jauh sampe keluar negeri.. Huhuhuu.. Mas Harris mungkin takut aku malah bikin dia susah hhuuuaaaa...."


...----------------...


...----------------...


🌹 Happy reading


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih