
"Pertama, apa mas Harris diam-diam tetap meminta video Hanna dan mas Bara tadi?”
"Astaghfirullah.. Ya gak mungkin laah, sayang.. Aku...."
"Bisa saja kaan.. Karena tadi aku gak ngijinin mas lihat videonya jadi minta dikirimkan file video itu aja..?"
Harris menggeleng kuat. "Sama sekali enggak, sayangku..."
Tubuh lelaki itu terus merangsek maju. Tapi Keara menahannya lagi dan lagi.
"Sayang.. Kenapa kamu marah.." gumam Harris lemah. Dia tidak merasa melakukan kesalahan. Bahkan Keara hanya asal bicara karena dia sama sekali tidak pernah meminta melihat adegan bercinta Bara. Buat apa? Tidak menarik.
"Sekarang mana HP mas Harris?"
"Di sana." Harris menunjuk meja kecil di samping sofa.
"Bawa kesini." perintah Keara. Gayanya sudah mirip dengan tukang palak anak sekolahan yang dulu sering ditemuinya.
Harris menuruti perintah istrinya. Ia menahan tawanya melihat tingkah sok Keara. Ingin tau apa yang akan dilakukan wanita itu dengan ponselnya.
Harris mengangsurkan ponsel itu pada istrinya. Tapi tepat saat Keara hendak mengambilnya dari tangan Harris, Harris menarik lagi tangannya, "Wait..! Kamu mau apa dengan ponselku?"
"Sini.. Aku mau lihat." rajuk Keara.
"Sayang, ini barang pribadiku..." Harris menolak memberikan ponselnya. Tentu saja dia hanya berniat menggoda Keara. Dan sepertinya itu berhasil.
Bibir Keara bergetar menahan tangis. Dia tidak menyangka Harris akan menolak permintaannya. Selama mengenal Harris, lelaki itu sangat memanjakannya. Dia menuruti apapun kemauan Keara. Bahkan keinginan yang tidak terlontar dari bibirnya pun, Harris selalu memberikan semuanya.
Tapi kenapa ponsel itu tak boleh disentuh istrinya sendiri? Bahkan diklaim sebagai barang pribadi? Apa Keara tak cukup pribadi untuk bisa melihat ponsel suaminya?
"Apa aku gak boleh melihat barang pribadimu?" gumam Keara lirih.
"Ehmm.. Sayang.. Hey.. Jangan menangis.." kini Harris yang jadi kelabakan begitu melihat setitik air mata Keara luruh ke pipi.
Keara menelan salivanya meski sedikit berat. "Ya sudah, kalau gak boleh.. Aku juga tidak akan mau melihat dan menyentuh barang pribadimu yang itu." Keara menunjuk pangkal paha suaminya. Kemudian beranjak dari tempatnya berdiri menuju ke ranjangnya.
Harris yang tadinya hanya ingin menggoda istrinya, sekarang dibuat kelabakan. Dia semakin yakin kalau wanita memang layak menjadi penguasa mengingat betapa tegasnya sang istri membalikkan keadaan.
"Sayang, jangan begitu.. Aku hanya bercanda tadi... Kau boleh melihat semuanya, sayangku.. Se-mu-a-nya!"
"Kalau sudah menyangkut urusan ranjang saja mas langsung ketakutan..." Keara menekuk wajahnya. Kesal dengan suami yang sedang terkekeh jahil itu.
"Karena bercinta denganmu adalah tujuan terbesar hidupku sayang.. Hahahaa.."
Keara mendecih sebal. Terbayang hidupnya beberapa tahun ke depan. Meladeni has rat suaminya yang tidak akan surut sampai usia mereka menua.
"Itu surga dunia sayang.. Aktifitas paling menyenangkan yang sudah menjadi canduku.."
"Memang mas Harris saja yang mesum.."
"Itu kan karena aku sedang menebar bibit kehidupan di rahimmu, sayang.. Bukan mesum." Harris mengerling menggoda istrinya.
“Boleh aja.. Tapi ada syaratnya." Tegas Keara.
"Apa itu? Aku siap apapun syaratnya sayang.." ujar Harris menyeringai lebar. Dia memang senang menggoda istrinya. Meskipun kini keadaan berbalik karena Keara membuat ancaman yang menyangkut hidup dan matinya. Heh, padahal cuma urusan olahraga ranjang.
"Jangan pernah melihat video mas Bara. Aku gak rela mas Harris melihat tubuh telan jang wanita lain.."
"Hahhaaa..ahaha...hahahaa..." Harris tertawa terbahak-bahak. Dia tidak menyangka sikap ketus istrinya sejak tadi ternyata disebabkan karena cemburu. Takut dirinya melihat video di ponsel Bara.
"Of course NO, sweetheart.. Aku juga sama sekali tidak tertarik melihat video orang lain. Kita kan bisa bikin video sendiri.." Harris mengerling pada istrinya.
"Mana buktinya??"
"Aku mau lihat ponsel mas Harris."
"Boleh, sayang.. Aku tadi hanya menggodamu saja." Harris mendaratkan kecupan di pipi Keara sebelum menyerahkan ponselnya.
"Bagaimana cara buka screenlocknya?" Tanya Keara karena screenlock ponsel suaminya adalah pendeteksi sidik jari.
"Nanti aku setting biar sidik jari kamu yaa, biar bisa dipakai untuk membuka ponselku.. Sementara pakai password dulu. Passwordnya 'akugalen'.."
Keara menoleh pada suaminya. Tersentuh dengan password yang dipakai oleh lelaki itu. Lalu memgetikkan password untuk membuka kunci layar smartphone canggih di tangannya.
Tampak di sana foto dirinya menjadi wallpaper utama. Dengan kebaya dan siger yang menjadi outfit akad nikah mereka. Lagi lagi Keara dibuat tersipu malu melihat kebucinan suaminya.
“Kedua, aku mau tau semua password dan semua perangkat mas Harris..”
“Oke” Harris menjawab dengan senyum lebar terulas.
Ia beralih ke aplikasi electronic mail. Keara membuka email Harris yang seluruhnya berisi tentang urusan pekerjaan yang tidak diketahui Keara.
Kemudian beralih ke aplikasi whatsapp. Keara asik berselancar di sana. Sesekali ia menanyakan kalau ada kontak bernama wanita di aplikasi itu. Harris menjawab apa adanya. Karena memang tidak ada yang ingin ia tutup-tutupi.
Keara sangat sibuk tanpa menyadari suaminya tersenyum bahagia. Aneh yaa.. Padahal lagi dikepoin sedemikian detail, tapi Harris merasa hatinya berbunga-bunga.
“Masa mas Harris gak punya sosial media apa-apa sih?”
“Gak punya sayang.. Gak ada waktu juga untuk bersosial media..”
Keara mengangguk lega. Dalam batinnya, tidak bersosial media itu artinya mempersempit peluang Harris melirik wanita lain yang lebih cantik dan lebih se*xy darinya.
Tak lama kemudian sebuah notifikasi muncul di layar pop up smartphone Harris.
*Satu log video tanggal 25 xxx berhasil disimpan.*
“Video apa ini maksudnya Mas? Aku buka yaa..?”
“Eehh.. Jangan sayang.. Ehmmm itu anu.. Ehmm...”
Keara merengut kesal. Dia semakin curiga karena Harris bicara terbata-bata.
“Pokoknya aku mau lihat!”
*Klik
...----------------...
...----------------...
🌹 Happy reading
🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉
🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih