
🌹 Rumah Keara
Di dalam kamar tidur dengan cahaya lampu yang sudah dipadamkan. Hanya ada cahaya yang berasal dari sinar rembulan dan penerangan di luar rumah yang menerobos melalui celah-celah jendela kamar. Keara bergelung di bawah selimut dengan mata nyalang dan dengan pikiran menerawang entah kemana.
Keara tidak memungkiri hari-harinya yang semakin ceria setelah kedekatannya dengan Harris. Dia mulai terbiasa dengan perhatian dan sikap manis lelaki itu. Menerima kemudahan dan keistimewaan dari lelaki yang mapan secara materi itu.
Pun hatinya juga selalu berbunga-bunga tiap kali mendengar pengakuan cinta dari Harris. Pelukannya selalu bisa menghangatkan hati Keara. Bagaimana lelaki itu menyentuhnya, mengusap puncak kepalanya, menggenggam jemarinya, membelai pipinya, bahkan mencium bibirnya, tidak satupun yang membuat Keara tidak berdebar-debar. Semuanya teramat indah untuk diabaikan.
Keara tidak meragukan ucapan Harris. Ia melihat kejujuran di netra lelaki itu. Ia hanya meragukan perasaannya sendiri. Saat ia semakin dekat dengan Harris, rasa sayang dan suka itu tumbuh begitu cepat. Berada di dekat Harris membuatnya merasa nyaman, aman dan dilindungi dengan tulus.
"Maaf sayang.. Kalau aku mengambil keputusan tanpa berbicara denganmu dulu." Keara mengingat ucapan Harris sebelum dia pulang tadi.
"Aku mendengar kamu akan dilamar oleh orang lain membuat hatiku panas. Aku berpikir dan bertindak impulsif dengan langsung melamar kamu. Tapi percayalah aku bukan sedang gegabah karena cemburu. Aku yakin seyakin-yakinnya K, aku ingin kamu jadi istriku.."
"hemm.. Makasih mas.. Makasih sudah memperlakukan aku sebaik ini. Aku menerima lamaran mas Harris. Aku hanya minta waktu untuk kita saling mengenal. Jadi jangan terburu-buru mengajak nikah ya mas.." jawab Keara sore tadi.
"Iya, sayang.. Aku ngerti. Aku sudah sangat bahagia karena kamu menerimaku. Selain itu, ga penting lagi. Aku bisa menunggumu dengan sabar. Kapan pun kamu siap menikah denganku."
"Aku mencintai kamu, K.. Aku gak mau kehilangan kamu. Kamu lihat sendiri aku sudah tidak memiliki siapapun.. Aku selalu kehilangan orang-orang terdekatku. Dan hanya kamu yang ingin aku pertahankan."
Tapi tetap saja. Ada rasa bersalah yang menjalari benaknya. Keara merasa saat ini sedang berselingkuh dengan sahabat kekasihnya sendiri. Sosok Rizky masih begitu melekat di hatinya. Pun saat ia melihat Harris, bayangan Rizky terus saja berada di tengah-tengah mereka.
'Bagaimana bisa mas Harris sangat yakin ingin menikah denganku? Kami saja baru-baru ini dekat. Bahkan belum terhitung berbulan-bulan.'
'Bagaimana kalau ternyata mas Harris melakukan itu hanya karena amanah mas Rizky yang memintanya dekat denganku? Tapi dekat kan bukan berartti harus menikah? Bagaimana kalau ternyata mas Harris tidak mencintaiku? Sikapnya selama ini hanya karena aku calon istri sahabatnya..'
'Eh tapi.. Mas Rizky kan gak minta dia harus menikahiku. Ngapain juga mas Harris pake ngelamar aku? Huuuuuhh.. Bingung bangeeett sama pikiran sendiri..!!'
Keara menenggelamkan wajahnya di bantal. Sudah lewat tengah malam dan dia belum bisa tidur. Terlalu bingung dengan perasaannya sendiri.
'Mas Rizky.... Kasih tau dong aku harus gimana??!!'
Keara memilih bangkit dari ranjangnya. Mengambil air wudhu, lantas menunaikan sholat malam demi ketentraman hatinya. Ber-istikharah untuk memantapkan pilihannya. Bermunajah dengan Robbnya. Meminta petunjuk atas kegundahan hatinya. Hingga ia terlena dan tanpa sadar terlelap di atas sajadahnya.
...----------------...
🌹 Kantor Harris
Sepulang dari rumah Keara, Harris kembali lagi ke kantor untuk membereskan pekerjaannya yang tertunda. Ia begitu bahagia hingga senyumnya tak pernah lepas dari wajahnya. Pekerjaan ia selesaikan dengan cepat. Ia begitu tidak sabar ingin cepat pulang ke rumah dan mengabari Keara. Berbincang di telepon atau video call dengan gadis kesayangannya itu.
Baru dua jam ia berpisah dari Keara, tapi kerinduan sudah terasa mencekiknya. Ia bersandar di kursinya. Menengadah menatap langit-langit kantornya. Seakan sedang tersenyum dengan atap di atas kepalanya.
Pukul sembilan malam, Aswin masuk setelah dua kali mengetuk pintu ruang kerjanya. Beberapa karyawan memang masih banyak yang bekerja lembur hari ini. Karena event promo yang sedang berlangsung di e commerce miliknya, membuat hampir seluruh bagian staf disibukkan dengan laporan dan teknis acara.
"Pak, ini laporan untuk event kemarin sampai hari ini. Overall feedbacknya cukup bagus. Bahkan ada kenaikan seratus dua puluh persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya." tutur Aswin seraya menyerahkan file berisi laporan.
"Bagus. Alhamdulillah.." Harris mengangguk- angguk puas. "Saya juga sudah lihat laporan mentahnya."
"Kalian bisa pulang. Selesaikan sisanya besok."
"Baik Pak.."
Baru dua langkah Aswin berbalik, Harris kembali menghentikan langkahnya.
"Saya mau ngetes wawasan kamu."
"Oo.. I-iya pak.."
"Apa yang harus dibawa kalau mau melamar seseorang?"
"Ehmm.. Surat lamaran sama Curriculum Vitae pak.." jawab Aswin dengan kening berkerut. Ia heran dengan pertanyaan bosnya. 'Kenapa mendadak ingin ngetes segala? Udah malem pula.. Waktunya pulang nih..' gerutu Aswin dalam hati.
"Goblok!! Saya nanya kamu melamar orang. Melamar cewek!! Bukan mau jadi HRD segala bawa curriculum vitae.."
"Ohh heheee.. Maaf, Pak.. Koneksi buruk, jaringan sudah low batt." Aswin nyengir sambil menggaruk rambutnya.
"Yang utama sih bawa cincin pertunangannya pak.. Terus untuk barang-barang seserahan bisa ada bisa tidak."
"Apa aja seserahannya?" tanya Harris. Dia sampai memajukan posisi duduknya demi mendapat jawaban atas rasa penasarannya.
"Biasanya sih satu set perlengkapan perempuannya pak.."
"Iya, apa saja itu??" tanyanya tidak sabar.
"Satu setel baju, tas, sepatu, kosmetik, Ehmmm apa lagi ya..?"
Harris mengangguk-angguk. "Oke. Kamu boleh pergi." ujar Harris dengan memberi isyarat tangan agar Aswin keluar.
"Pak.Harris mau melamar mbak Keara ya? Semangat Pak.. Semoga sukses."
Harris menahan tawanya. Ia sangat bahagia sampai tidak bisa mendamprat Aswin yang sengaja menggodanya sebelum keluar ruangan. Ia merasa telah mendapatkan kembali semangat hidupnya. Mendapat alasan untuk memperjuangkan sesuatu dan melindunginya.
Harris mengambil ponselnya, dan mengirim pesan chat pada Keara.
"Sayang, apa kamu sudah tidur?"
Lima belas menit tidak ada balasan dari gadis itu. Harris melirik jam digital di meja kerjanya. Sudah pukul 21.23. Harris menyimpulkan kalau Keara memang sudah tertidur. Ia pun kembali mengirimkan pesan chat.
"Besok pagi aku ada pekerjaan dan harus pergi ke Jakarta selama dua hari. Hari minggu aku sudah kembali, nanti aku jemput yaa.. Kita beli cincin tunangan, sekalian dengan barang seserahan lainnya.."
"Selamat tidur, K.. Semoga mimpi indah. Aku pulang dulu yaa.. Assalamualaikum." pungkas Harris.
Belum tau aja mas Harris nih.. Kalau K gak bisa tidur kena sindrom panik dilamar dadakan. Tapi mau balas chat, malu dan deg-dega**n.
...----------------...
...----------------...
🌹 Happy reading
🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉
🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih
...----------------...