
Hening tercipta. Tidak ada suara bersahutan lagi memenuhi kamar presidential suite itu. Hanya tersisa deru nafas memburu yang masih coba dinetralisir pemiliknya.
Harris dan Keara.
Keduanya berpelukan begitu erat. Dengan tubuh polos tanpa sehelaipun penyekat. Keringat membanjiri raga keduanya. Detak jantung berdentam-dentam usai pergulatan panas yang menggelora di atas ranjang di tengah malam yang dingin.
Harris mengecup kening istrinya. Kecupan yang dalam dan lama.
"Terima kasih, sayang.. Terima kasih, istriku.."
Keara hanya membalas melalui netranya. Sorot mata sayu itu diiringi senyum tipis mengangguk kecil. Keara membelai pipi lelaki itu, lalu kembali menelusup ke ceruk leher sang suami. Menghirup aroma maskulin yang sangat menenangkan baginya.
Keara merasa matanya begitu berat. Tubuhnya sangat lelah. Posisi nyaman dalam pelukan Harrispun turut membuainya untuk terbang ke alam mimpi. Tapi belum sampai jiwanya terbang ke awang-awang, matanya kembali nyalang.
Ia merasa sebuah tangan mere*mas dan memainkan ujung pu*tingnya. Bibir suaminya saat ini juga sedang mengecup telinganya. Membuatnya bisa mendengar de sahan tersengal dari suara berat lelaki itu.
"Maaass.... mmhhrgg..." Keara mencoba mendorong tubuh kekar itu, tapi dayanya sudah habis terkuras. Tubuh itu tidak bergeser sedikitpun. Malah semakin dekat dan menggigit-gigit kecil leher dan bahu Keara.
"Sayaang.. Aku mau lagi..."
"Hah?" lemah Keara. Matanya membelalak. Suaminya itu dengan cepat sudah berada di posisi mengungkung di atas tubuhnya.
"Tapi mas aku......." Keara tidak melanjutkan kalimatnya. Sebenarnya ia sudah sangat mengantuk dan kelelahan. Tapi pesan ibu bahwa pantang menolak keinginan suami kembali terngiang.
Lagipula tubuhnya tidak benar-benar ingin menolak. Rasa lelah dan nyeri di satu titik itu melebur digantikan rasa nikmat yang menjalar seiring sentuhan lembut yang sudah dilancarkan suaminya. Ya, Keara sudah dibuat ketagihan dengan sentuhan suaminya. Lelaki itu selalu memperlakukan Keara dengan lembut dan melenakan.
"Sayang.. Diam saja di bawahku... Aku tau kamu pasti lelahh.... Aku janji akan melakukannya dengan perlahan dan tidak akan mencoba macam-macam gaya.." pinta Harris dengan sorot tajam penuh isyarat permohonan.
Keara menyilangkan tangan di belakang leher Harris. Ia mengangguk, mengiyakan permintaan suaminya untuk kembali mendaki ke puncak nirwana bersama. Menetap di sana lebih lama dan mereguk kenikmatan demi membasahi dahaganya.
Harris menyeringai, mendapatkan lagi lampu hijau dari istrinya membuat gai rah dalam tubuhnya semakin menggebu-gebu. Dengan cepat Harris mengeksekusi tawanan di bawah kungkungannya ini. Memberi rang*sangan demi memanaskan ranjangnya lagi sebelum menghujamkan alat tempurnya pada goa sempit sang istri.
Suara-suara merdu nan erotis mengalun bersahutan. Kembali memanaskan kamar luas dan mewah itu. Keara dibuat tak berdaya mengimbangi energi suaminya yang sepertinya tidak merasa lelah sedikitpun. Sedangkan dirinya sudah kehabisan nafas dan tubuhnya terasa menggigil meladeni has rat sang suami.
Harris terus memompa demi menanamkan benih-benih kehidupan di rahim istrinya. Ia kecanduan dengan rasa nikmat berada di nirwana penuh dengan aroma bahagia. Menatap Keara yang kelelahan dan bersimbah peluh, tapi masih terlihat menikmati ritme ayunan pinggulnya dengan suara desa han, membuat Harris menggila dan semakin hilang akal.
Hingga puncak kenikmatan digapai Harris membuat lelaki itu mengerang sampai menengadah menatap langit-langit. Harris, untuk kedua kalinya menyiramkan lahar hangat memenuhi rahim Keara.
Raga kekar itu seketika ambruk di sisi istrinya. Mengatur nafas yang masih tersengal. Kemudian mengecup pipi dan kening sang istri. Kembali mengucapkan terima kasih karena telah mengijinkannya kembali mereguk kepuasan tiada tanding.
Netra Keara berkaca-kaca. Ia selalu luluh dengan perlakuan lembut suaminya. Ia merasa sangat dihargai dan dicintai oleh lelaki itu. Sentuhan lelakinya itu selalu berhasil menerbangkannya ke awang-awang dan enggan kembali.
'Oh ibuuk, kalau ternyata seperti ini rasanya, K juga gak akan nolak tiap mas Harris minta..' Keara tersipu oleh pikiran mesumnya sendiri.
Dalam alam bawah sadarnya, ia juga menikmati permainan Harris. Tubuhnya merespon dengan sempurna. Tidak ada penolakan. Pun saat Harris mengusap dan menciumi perut ratanya sekarang ini, Keara merasa tubuhnya gemetaran menerima perlakuan itu.
"Tubuh sehat di dalam sini yaaa.. anak-anakku.." ujar Harris sambil tersenyum menatap perut polos istrinya.
Keara tersipu sembari membelai rambut suaminya. Matanya sudah terpejam meski senyumnya masih terulas di wajah pucatnya.
"Mas Harris mau kita segera punya anak?"
"Tentu sayang.. Sangat mau.." Harris beringsut menatap wajah istrinya. Ia berbaring miring ke arah sang istri dengan wajah berada tepat di atasnya wajah cantik yang sedang terpejam itu.
"Apa istriku ini masih belum ingin mengandung anakku?" tanyanya seraya mengelus-elus pipi Keara. Membuai wanita itu agar lekas melayang ke alam mimpi.
Keara spontan membuka matanya. "Mau laah.. Kenapa juga aku gak mau? Atau ingin menunda? kita bahkan tidak punya kuasa untuk menciptakan bayi.. Sepenuhnya itu kehendak Allah.. Sekalipun kita sangat menginginkannya.. Tapi kehendak Allah lah yang menentukan. Kita hanya bisa berusaha."
Harris mengecup singkat bibir istrinya. "Kalau begitu, apa itu artinya kamu mengijinkan ku be-ru-sa-ha setiap saat dan setiap waktu?"
Keara mendecih. Sepertinya Harris baru saja memanfaatkan ucapannya untuk meminta jatah sesering yang dia mau. "Anytime, mas.. A-ny-time.."
"Iiisshh..." Keara mendorong dada Harris, hingga lelaki itu terpaksa mengangkat kepalanya.
Harris menatap Keara tak mengerti. Kenapa istrinya itu menolak dipeluk olehnya?
"Suamiku yang katanya jenius ini ternyata agak bodoh juga.." Keara menjitak pelan kepala Harris. Tak lupa ia tambahi dengan mencubit dada telan jang suaminya itu.
"Kenapa masih ngomongin cinta...? Mas pikir kalau aku gak cinta sama mas Harris, mana mau aku dibolak balik dibanting kesana kemari kayak tadi..?" sungut Keara.
Netra Harris menyala-nyala. Kilatan bahagia tergambar jelas di sana. "Sayang, jelaskan maksudnya..."
"Masih kurang jelas?!"
"Hem.. Aku memang bodoh dan gila kalau bersama kamu, sayang.. Katakan lebih jelas maksudmu apa..."
"Masa harus diucapkan....." Keara bergerak hendak miring memunggungi Harris. Tapi Harris dengan cepat menahan tubuh istrinya.
"Harus, sayang.. Harus! Aku mau dengar, please.."
"Gak mau, ah.. Malu. Tindakan lebih penting, tau gak sih..?" seloroh Keara. Wajahnya sudah merah padam menahan malu.
"Ucapan juga penting, sayang..."
"Kalau mas Harris pinteran dikit sih, tadi gak perlu sok-sokan menahan diri..Apalagi sampai mandi tengah malam.. Kita bisa bercocok tanam dari sore sampe pagi." setelah mengucapkan itu Keara menutup wajahnya dengan bantal. Merasa dirinya kurang ajar sudah ngatain suaminya bodoh. Pun dia juga sangat malu berbicara mesum seperti tadi.
Harris tertawa terbahak-bahak. Menyadari kebodohannya. Bahwa sedari tadi istrinya juga sedang menunggu dirinya. "Hahahaa.. Bercocok tanam?? Aku suka istilah itu, sayang..."
Dari kejauhan samar-samar terdengar adzan shubuh berkumandang. Keara kembali memejamkan matanya. Ia sudah sangat lelah dan mengantuk. Tapi lelaki di sampingnya seperti tidak rela istrinya beristirahat dengan tenang. Harris mengguncang tubuh mungil di bawahnya.
"Jangan tidur dulu sayang... Bilang dulu kalau kamu mencintaiku... Kamu tidak pernah mengatakan perasaanmu sekalipun.." suara berat itu terdengar serak dan se*xy. Membuat Keara terpaksa membuka lagi matanya.
"Ehhmmm.. Mas Harris rese'.. Aku ngantuk..."
"Bilang dulu, sayaaaangg..."
Keara menangkup pipi Harris. Menatap tajam netra lelaki itu, meski matanya sudah sayu menahan kantuk luar biasa.
"I love you, mas.." Keara mengangkat kepala untuk mengecup bibir suaminya.
"Aku mencintaimu, suamiku...."
Harris tersenyum lebar. Mencium kening wanitanya yang sudah terpejam dengan nafas yang mulai teratur.
"Tidur dulu sayang.. Aku mau mandi dan sholat shubuh duluan. Nanti aku bangunkan, hm? Setelah shubuh kita bercocok tanam lagi sampai dhuhur, oke?"
Keara tak lagi menjawab. Dia sudah terlelap sempurna. Raga dan jiwanya baru saja berpacu menggapai kebahagiaan di puncak nirwana bersama seorang yang begitu dicintainya.
Kini yang ia butuhkan hanya beristirahat. Mengisi ulang daya dan energinya untuk meladeni has rat sang suami yang seolah tak bisa padam.
...----------------...
...----------------...
🌹 Happy reading
🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉
🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih