Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
First Love Theory


"Kamu gak makan, K? Kenapa cuma pesan minum?" tanya Harris. Mereka berdua sekarang sudah berada di sebuah restoran oriental di pusat kota.


"Gak ah.. Aku sudah makan siang tadi. Ini juga masih terlalu sore buat makan malam.." sahut Keara.


"Aku nemenin mas Harris makan aja.."


Itulah teori tidak berdasar yang dilontarkan Keara. Namun sangat berbanding terbalik dengan realita saat makanan pesanan Harris sudah datang dan terhidang di meja. Karena nyatanya, Keara ikut memakan makanan Harris dengan dalih cuma ngincip.


"Hemm bakmie nya enak ya mas.."


"Ngincip ayam teriyakinya yaa.."


"Heemmm.. Yang ini juga enak..."


Harris berusaha menahan ledakan tawanya. Melihat Keara yang bahkan sudah membajak sendok bekas makannya dan menyuapkan makanan ke mulutnya lebih banyak daripada porsi incip-incip yang sewajarnya. Untung saja Harris memesan banyak menu makanan yang cukup dimakan oleh dua orang.


"Haduuh.. Aku jadi kekenyangan nih.." Keara mengusap perutnya yang masih rata meski sudah merampok jatah makan Harris.


'Aneh banget nih cewek, makannya banyak tapi masih kurus kering begitu..' batin Harris.


"Ehheemmm.." Harris berdehem. Demi menahan tawanya. "Masa segitu doang kekenyangan sih..? Kamu kan cuma incip doang tadi..." sindir Harris.


Keara nyengir menyadari sindiran Harris. "Hehee.. Maap ya mas, ngincipnya kebablasan."


"Hahahaa..." Harris tergelak. Dia sangat terhibur dengan tingkah lucu gadis cantik kesayangannya ini. Yang jauh dari kesan jaim dan menye-menye.


"Kalau kamu masih lapar bilang aja.. Kita pesan makanan lagi.."


"Gak mau.. Cukup. Cukup."


"Oke, kita pulang sekarang?"


"He'em.."


Sebelum pulang, Keara berani meminta Harris untuk memotretnya di depan restoran. Kemudian masuk ke dalam mobil dengan wajah berseri-seri.



"Gini kan bagus diupload di sosmed.. Handphone dari mas Harris emang jempolan. Top markotop. Foto-foto aku jadi bagus banget.. Bening gitu hasilnya.. Berasa kayak perawatan mahal tau gak. Heheee" celoteh Keara.


"Itu karena kamu memang cantik."


"Hemmm.. Jangan mulai ngegombal yaa.. Ntar aku cubit baru tau rasa. Hahahaa"


Harris ikut tergelak. Bersama Keara tidak pernah sepi. Gadis ini seolah tidak pernah kehabisan stok bahan pembicaraan. Obrolan dan tawa terus mengalir mengiringi perjalanan mereka.


Harris merekam setiap momen yang ia lalui bersama Keara. Menyimpan rapi dalam memori terbaik di otaknya. Ia ingin kenangan indah dan canda tawa yang ada di kepalanya. Mengubur kenangan pahit dan kelam yang sudah lebih dulu memenuhi jiwanya.


"Memangnya Ocha juga kenal sama pemilik kafe tempat kerja kamu itu?" tanya Harris.


"Kenal dong.." jawab Keara. "Jadi.. Aku sama Ocha itu punya temen sekolah namanya Muthia. Nah Muthia ini adiknya mbak Marsya.. Dan lucunya lagi mas.., Mbak Marsya ini istrinya Pak Daniel Wijaya. Dia itu dulu majikan ibuku, dan sekarang jadi bossnya mas Arman. Hehee.. mumet kaan..?"


Harris terkekeh kecil sambil mengangguk-angguk.


"Mbak Marsya sama mas Daniel itu definisi nyata dari ungkapan 'First love is never die'.. Mereka sudah dipisahkan sama orang ketiga tujuh tahun lamanya. Tapi waktu dan takdir yang mengirim Mbak Marsya kembali lagi ke pelukan mas Daniel.. So sweet banget kaan? Hehee.." celoteh Keara.


"Saat mereka berpisah, Mbak Marsya mewujudkan impiannya memiliki kafe sendiri, dan diberi First love cafe. Karena memang cinta pertamanya masih membekas di hati.."


"Sedangkan Mas Daniel bangun perusahaan sendiri terlepas dari nama besar ayahnya. Perusahaannya itu diberi nama MDFirst. 'Marsya Daniel First love'... Waaaaaa... Bucinnya bikin meleleh banget kaan..?" Keara tergelak dengan gaya lebaynya.


"Apa kamu menyukai kisah cinta seperti itu?"


"Hemm.. Cewek mana yang gak suka dicintai sedalam itu sama cowok yang juga dia cintai..?"


"Apa kamu juga berharap 'your first love are still alive and never die' ?"


"Hah?? No! Big No!!" pekik Keara. Bibirnya sudah mengerucut dan menggemaskan bagi Harris.


"Gak semua cinta pertama itu manis dan memberi kenangan bahagia.."


"Mas Harris mau balik ke kantor lagi setelah ini?" tanya Keara begitu mobil Harris sudah berhenti di pelataran rumahnya.


Harris mengangguk.


"Emang gak bisa dikerjain besok lagi? Sudah jam segini. Waktunya pulang dan istirahat.." tutur Keara. Membawa desiran hangat di hati Harris karena merasa diperhatikan. Membuat lelaki itu tersenyum dengan teduhnya.


"Aku cuma sebentar kok.. Laptopnya ketinggalan di kantor. Ada file yang harus diemailkan malam ini juga.. Setelah selesai aku langsung pulang."


Keara mengangguk dengan mengulas senyum manisnya. Merasa lelaki besar nya ini begitu menyedihkan. Ia haus perhatian dan kasih sayang. Dan setelah mendapatkan itu, sikap dinginnya perlahan menghangat.


"Tapi boleh aku mampir ke rumah kamu untuk numpang sholat maghrib?"


"Boleh dong.." Keara menyambut dengan sumringah. Jemarinya langsung mengganggam lengan Harris. "Ayo masuk.."


Begitu masuk ke dalam rumah, Harris disambut baik oleh ibu Keara. Mas Arman pun sudah ada di rumah, tidak seperti biasanya.


"Tumben mas Arman di rumah..? Biasanya jam segini betah di kantor.." sapa Keara.


"Pak Daniel lagi hectic nyambut his newborn baby.. Jadi kerjaan agak longgar."


"Si K tuh barusan nyambangin mereka.." tutur ibu. "Besok ibu juga mau jenguk laah.. Sekalian silaturahmi.."


"Iya, nih foto anaknya pak Daniel, Buk.. Ganteng banget loh... Bibit unggul nih.." timpal Keara cengengesan.


Harris duduk diam memperhatikan interaksi keluarga kecil ini. Tak lama ibu dan mas Arman masuk ke dalam rumah meninggalkan Harris dan Keara berdua. Mereka mengobrol hal-hal tidak penting demi menunggu waktu Maghrib yang tinggal beberapa menit lagi.


"Nak Harris.. Ini silakan diminum.." ibu menyimpan segelas teh hangat di meja depan Harris.


"Terima kasih, Bu.. Maaf sering merepotkan.."


"Eh, apanya yang repot. Gak repot sama sekali.." seloroh ibu. "Kalian sudah makan beneran nih..?"


"Sudah, Buk.." jawab K dan Harris bersamaan.


"Ya sudah kalau begitu.. Oh iya, nak Harris.. Ibu pinjam K sebentar yaa.. Mau ada yang diomongin."


"Oh iya, silakan Bu.."


Keara beranjak mengikuti ibu masuk ke dalam. Mereka duduk di kursi makan. Keara terdengar memprotes kenapa dia diajak bicara, saat masih ada mas Harris di depan.


"Eh, ini penting. Jadi ibu gak bisa nunda-nunda lagi.." tutur ibu dengan mimik serius. Membuat Keara turut memasang wajah serius mendengarkan kelanjutan berita yang akan disampaikan ibunya.


"Tadi sore, mamanya Rafa kesini. Kamu tau Rafa kan? Itu loh, anaknya pak Camat yang masa jabatannya baru habis bulan lalu.."


"Iya, kenapa Bu? Keara ga kenal-kenal amat tuh sama yang namanya Rafa itu..."


"Iya, tapi mamanya Rafa kesini, dan nanyain apa kamu sudah ada calon suami.. Ya ibu bilang belom kan yaa.. Emang belum punya kan kamu?"


"Heh? Ehmmm..." Keara bingung menanggapi ucapan ibunya.


Keara memang belum mengatakan apapun perihal hubungannya dengan mas Harris. Karena bagi Keara, perasaannya untuk Harris masih terlalu abu-abu. Dia tidak sepenuhnya yakin kalau dia menyukai Harris sebagai pasangan.


"Nah, jadi.. Dalam waktu dekat, keluarga Rafa akan kesini, melamar kamu secara resmi."


"Hah??"


...----------------...


...----------------...


🌹 Happy reading


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih


...----------------...