
🌹 Kantor Harris
"Mas Haarrriiiiss....!"
Sebuah suara menyapa Harris dengan nyaring dan ceria. Membuatnya merekahkan senyuman di wajahnya. Begitu di layar ponselnya muncul wajah cantik yang membuatnya merindu setengah mati. Dia menyandarkan ponselnya dengan barang yang ada di atas meja kerjanya. Mengatupkan kedua telapak tangannya yang didekatkan di dagunya.
"Hai K..."
Yups, suara dari seberang sambungan video call itu tak lain adalah Keara. Sudah dua hari ini komunikasi keduanya memang berjalan lancar dan intens. Meskipun hanya melalui pesan chat, dan voice call saja. Harris tidak punya cukup nyali untuk menelepon dengan fitur video call. Tapi hari ini Keara yang memulai video call lebih dulu.
Harris tentu saja senang bukan main. Akhirnya dia bisa melihat wajah gadis manis yang selalu memenuhi hati dan pikirannya. Meskipun baru bisa melihat dari layar ponsel saja.. Tapi itu sudah bisa dihitung sebagai kemajuan pesat kan?
"Mas Harris masih di kantor? Aku ganggu gak?"
"Enggak sama sekali.." Jawab Harris. Matanya yang pedih karena terlalu lama menatap layar laptop sejak pagi, mendadak terang benderang setelah bersitatap dengan Kearanya.
"Kamu sudah di rumah K? Gimana tadi kerjanya?"
"Iya, sudah di rumah dari sore tadi.."
Tampak dari backgroud di belakang Keara kalau dia sedang duduk di kamarnya. Gadis itu mengenakan baju rumahan berbahan kaos warna pink muda. Memperlihatkan lengan putih mulusnya yang bersih tak tergores noda sedikitpun.
"Kerjanya ya gitu-gitu aja mas.. Hehee.." imbuh Keara. "Oiya mas.. Aku seneng deh liat podcastnya mas Harris."
"emm.. Itu hasil pertimbanganku setelah dengerin kecerewetan kamu." goda Harris.
"Huuu.. Itu artinya, cerewetku emang berfaedah kaan..? Makanya layak dipertimbangkan.." cibir Keara.
"Iya, bener.. Gimana kalau aku rekrut kamu aja jadi penasehatku? Ide bagus gak tuh?"
"Bisa.. Bisa.. Aku pinter menasehati orang. Apalagi orang kaku dan sedingin gunung es kayak mas Harris. Ahahahahaa.." Keara tergelak. Berbanding terbalik dengan wajah Harris yang mengerut.
"Emangnya mas Harris ga nyesel nih..? Klarifikasi begitu.. Batal jadi pacar artis donk.."
"Ya enggak lah K.. Emang dari awal bukan pacar artis kok.." jawab Harris tenang. Sejak awal telepon sampai detik ini ia sama sekali tidak mengendurkan senyumannya.
"Tapi.. Si Hanna itu cantik banget loh. Cowok manapun pasti pengen tuh digosipin pacaran sama dia.. Buat modus aja.. Ntar abis digosipin, bikin kontrak pacaran settingan, terus merepet aja sampai bisa jadi pacar beneran deh.. Lumayan kan punya pacar artis cantik yang lagi famous-famousnya...".
"Aduh!" pekik Harris seraya menepuk keningnya cukup keras.
"K-kenapa, mas?" Keara terdengar panik dan melotot melihat layar ponselnya. Mencoba mencari tau apa yang membuat Harris berteriak.
"Kamu kok gak ngomong ke aku kalau ada modus yang kayak gitu sih K..? Siapa tau bisa diterapin kan.."
Keara tampak diam saja, tapi bibirnya sudah merengut lucu.
"Tapi aku udah terlanjur klarifikasi nih.. Gimana dong? Bisa di rewind gak yaah..?"
Bibir Keara yang merengut makin menjadi-jadi. "Nyesel nih ceritanya?? Udah klarifikasi bukan pacar artis?? Ya udah kalau nyesel, sekarang ngomong aja kalau tadi pas klarifikasi tuh lagi ngigau.. Jadi ga sadar kemarin ngomong apa." ketus Keara dengan berapi-api.
"Kemarin kamu ngusulin klarifikasi aja sih.. Coba kalau kamu kasih ide buat modus gitu, kan bisa jadi bahan pertimbangan baru lagi buat aku.." ujar Harris dengan ekspresi datar, cenderung tampak serius bagi Keara.
Dia memutuskan untuk menggoda Keara lagi. Menyenangkan baginya tiap kali mendengar Keara mengomel.
'Menggemaskan banget ni cewek kalau ngomel begitu.. Bisa cubit virtual gak siih..' batinnya gemas.
"Hahahh.." Keara tertawa dengan seringai sinis. "Iya, iya.. Maaf Tuan Harris, saya salah kasih masukan kemarin.."
"Bukan salah, K.. Tapi kurang. Harusnya kamu kalau ngomel kasih masukan tuh sekalian kasih dua opsi. Jadi bisa dipertimbangkan dengan matang, dan aku akan pilih opsi yang paling enak.."
"Ya udah sana. Tinggal panggil wartawan satu orang. Terus bilang aja, 'Saya emang pacaran sama Hanna. Cuman kemarin lagi berantem aja, makanya aku ngambek dan gak ngakuin dia pacarku.' Gitu..!!"
Dulu, setiap ia sedang bersama Rizky, dan sahabatnya itu sedang asik mengobrol di telepon dengan Keara, Harris hanya bisa mencuri dengar. Sambil menahan senyumnya agar tidak kentara sedang menguping.
Sekarang siapa sangka, gadis manis dan periang ini justru sedang bervideo call dengannya. Tidak hanya bisa mendengar celotehan Keara saja, Harris pun bisa menikmati dan memandang sepuasnya wajah cantik Keara yang menggemaskan saat sedang kesal.
"Iisshh malah ketawa." Keara masih cemberut dan tampak kesal. "Susah yaa ngomong sama mas Harris. Kalau lagi mode dingin ngeselin. Kalau mode cerewet dan jahil gini lebih ngeselin lagi"
"Hahahaaa.." Harris lagi-lagi hanya membalas kekesalan Keara dengan gelak tawa.
"Uh... Ya udah deh, aku tutup teleponnya. Biar Mas Harris bisa nelepon wartawan. Buat klarifikasi ulang.. Maless hihh!!"
"Eeehhh tunggu.. Tunggu!! K.. Jangan ngambek gitu dong.. Haha.."
"Mas Harris tuh ngeselin." seloroh Keara dengan bibir yang masih mengerucut.
"Iyaa maaf. Maaf.." Harris masih belum bisa mengontrol senyum bahagianya. "Kamu gemesin banget kalau lagi kesel.. Jadinya aku seneng ngerjain kamu.."
"Oohh.. ini tadi cuman ngerjain doang?!"
"Ya iyaalah.. Mana mungkin aku nyesel udah klarifikasi bukan pacar artis. Kamu nih.. Gampang banget digodain.." Ujar Harris dengan cengiran khasnya.
"Heh.. Awas aja yaa mas Harris.. pembalasan dariku bakalan lebih kejam daripada tidak membalas." sungut Keara.
Harris tergelak saja.
"Oke, oke.. Sekarang mode serius.." Harris berusaha keras menghentikan tawanya.
"K, kamu kerja di kantorku aja yaa.. Kurasa itu bukan ide buruk.. Gimana? Mau yaa..?"
'Biar aku bisa ketemu kamu tiap hari K.. ' tambah Harris dalam hati.
"Ogah ah.. Gak jadi bawahan aja dikerjain mulu. Apalagi jadi bawahan Mas Harris.. Gak deh, makasih.." sahut Keara dengan mencebik lucu.
"Haha.. Ya engga lah, K.. Kita kan udah masuk mode serius ini.."
"Aku tuh masih harus sesekali ke kampus buat bimbingan skripsi. Makanya aku kerja di kafe itu biar bisa masuk pagi atau sore.. Sesuai kebutuhan. Kalau kerja di kantor kan udah paten jam Kerja pagi sampe sore.."
"Itu kan kalau kamu kerja di kantor orang, K.. Ini di kantor aku sendiri. Kamu bebas mau dateng ke kantor jam berapa aja.."
"Eh... Itu sih gak niat kerja namanya... Memanfaatkan koneksi orang dalam. KKN tuh.." seru Keara.
"Ya engga.. Kamu gak tiap hari kan, dateng ke kampus.. Ya anggap saja ijin keluar kantor dulu. Aku pasti kasih ijin."
Keara diam. Dia memikirkan tawaran menarik Harris. Mungkin dia bisa meniti karir sebelum lulus kuliah. Apalagi perusahaan Mas Harris bergerak di bidang usaha yang ia sukai, dengan background pendidikannya yang juga mendukung. Lebih baik kan..?
"Udah gak usah kelamaan mikir.." potong Harris. "Kabarin aku kapanpun kamu siap pindah kerja. Oke?"
"Eehhm.. Oke.."
Dahlah.. Mending sekantor aja ya K sama si mamas.. Biar kalau kangen, deket nyamperinnya...
...----------------...
...----------------...
🌹 Happy reading
🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉
🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih