Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
Pelukan Hangat


Arman membulatkan netranya. Dia sangat terkejut dengan ucapan Merry. Namun Arman hanya diam. Tanpa kata. Ia berusaha memahami situasi di sekelilingnya. Lantas ia mulai mengerti arti sikap menjauh Merry beberapa waktu lalu.


"Karena itu Bu Merry menjauhi saya? Sejak Bu Merry tau kalau Keara adalah adik saya, saat di kantor saya beberapa waktu lalu?"


Merry mengangguk lemah. Dia lantas berpindah duduk di kursi samping Arman.


"Kamu tau, mengambil hatimu saja sudah sangat sulit. Ternyata fakta baru datang. Adikku adalah orang yang telah menyakiti adik kamu. Aku merasa kamu baru saja menemukan satu lagi alasan untuk menolakku.."


Arman tak bisa berkata-kata. Tapi satu sisi hatinya merasa sakit mendengar penuturan Mery. Jauh dalam lubuk hatinya, ia juga sangat menyesalkan fakta bahwa jurang pemisah antara dia dan Merry kian bertambah lebar dan curam.


"Arman, katakan apa yang harus aku lakukan untuk meminta maaf padamu dan Keara, untuk menebus kesalahan Mayra, adikku?"


Arman menghela nafas panjang. "Saya tau itu semua sudah berlalu. Dan Bu Merry tidak perlu meminta maaf untuk kesalahan yang tidak bu Merry lakukan. Saya tidak sepicik itu."


"Tidakkah kamu akan menjadikannya masalah suatu hari nanti?"


"Tidak. Aku juga yakin Keara sudah lama melupakan masalah ini. Rasa sakitnya mungkin masih ada dan meninggalkan bekas yang dalam. Tapi aku mengenal adikku dengan baik. Dia tidak mungkin menuntut apa-apa kepada kalian.."


Perlahan bulir bening meluncur turun dari netra cantik dan indah milik Meryana Soetanto. "Arman, tidak bisakah kita mengesampingkan semua jurang pemisah kita? Tidak bisakah kita tetap bersama tak peduli siapapun atau apapun yang membedakan kita?"


Arman terdiam. Hatinya perih menatap air mata Mery. Beberapa minggu lalu, dia sempat merasa kehilangan wanita yang terus mengintilinya ini. Saat ada diabaikan, saat tak ada dicari. Begitulah kiasan yang sesuai dengan hatinya kala itu.


"Jangan menangis. Saya tidak pantas kamu tangisi. Apalah saya.. cuma orang biasa yang.."


"Cukup Man.. jangan terus menerus merendahkan diri kamu sendiri." Merry berdiri. Tatapan nanarnya ia sembunyikan dengan membelakangi Arman.


"Aku gak habis pikir. Kenapa juga aku jatuh cinta pada seseorang yang tidak mencintai dirinya sendiri seperti kamu."


"Entah kamu merendahkan dirimu karena memang merasa minder, atau memang ini hanya kau jadikan alasan untuk menolakku."


Arman mengusap wajahnya dengan frustasi. Dia terus merasa tidak pantas bersanding dengan Mery. Wanita ini terlalu 'tinggi' untuk digapai. Terlalu sempurna. Arman berusaha sekuat mungkin menyembunyikan perasaannya, tapi yang ada dia malah terlihat seperti pecundang.


Selama ini Arman selalu mengesampingkan urusan mencari pendamping hidup. Ia lebih memilih menemani ibu dan adiknya. Sampai ia merasa tenang telah melepaskan adiknya ke tangan pria yang tepat. Sebelum itu, rasanya sulit bagi Arman untuk memulai hubungan dengan seorang wanita.


Tapi Mery berbeda. Wanita ini tidak malu dan gengsi menunjukkan perasaannya pada Arman secara gamblang. Tidak ada yang ia tutup- tutupi. Ketulusannya membuat hati Arman terketuk. Membuatnya merasa dicintai dan diinginkan. Sekaligus membuatnya mengerti arti rindu dan takut kehilangan.


Arman berdiri dan mendekat pada Merry. Lidahnya kelu. Semua yang ingin ia katakan seolah tertahan di ujung tenggorokan.


"M-maaf.. Sa-saya.. tidak tau caranya menjadi tidak pecundang di depan kamu. Kamu terlalu sempurna di mataku.. Terlalu indah.."


Tanpa diduga, Merry segera berbalik badan dan tanpa aba-aba memeluk Arman yang berdiri begitu dekat dengannya.


Pelukan tiba-tiba yang menggetarkan hatinya. Perlahan tapi pasti, Arman mengangkat lengannya dan memberanikan diri membalas pelukan Merry. Jemarinya meraba punggung ramping itu dan semakin memperdalam dekapannya.


"See? Aku perempuan biasa yang juga bisa menerima pelukan hangatmu.."


"Aku juga bisa menghangatkanmu dengan cintaku yang tulus, Man.. Please jangan menghindar lagi.. Begini saja aku sudah sangat bahagia.." tutur Merry tanpa merenggangkan dekapannya.


...----------------...


🌹 FirstLove Cafe


Nico duduk bersandar di balik kemudi mobilnya yang diparkir di tepi jalan di seberang kafe FirstLove. Matanya nyalang memandang ke arah kafe. Menunggu seorang perempuan keluar dari sana.


Sore ini ia pulang tepat waktu. Pukul empat sore dia sudah melesat cepat dengan mobilnya. Seharian ini ia menahan gejolak emosinya selama di kantor. Harga dirinya terluka. Dimarahi sebegitu murkanya seakan dia anak kecil yang tak tau aturan. Seakan dia orang yang tak tau terima kasih. Menyedihkan.


Apakah memang demikian rasanya tinggal dan hidup dengan fasilitas mertua? Tidak punya harga diri. Tidak punya kekuatan untuk melawan. Tidak punya nilai di mata keluarga sang istri. Dianggap benalu yang harus memberi manfaat untuk keluarga yang ditumpanginya.


Tak lama berdiam diri di dalam mobil, netranya menangkap sosok cantik yang ia tunggu-tunggu. Keara. Mantan pacarnya yang masih mendiami sudut terindah di hatinya.


Nico bergegas keluar mobil. Menghampiri Keara. Sebelum gadis itu menumpangi motor dan melesat pergi.


"Tunggu K.. aku mau bicara." cegat Nico.


Keara terkejut. Tidak menyangka akan kehadiran Nico. "Ngapain lagi sih?"


"Please K.. Aku lagi suntuk banget.. Aku butuh teman."


"Iihh.. sejak kapan kita temenan.." sahut Keara cuek. Tidak peduli pada Nico yang membungkuk di depannya. Memohon-mohon pada Keara untuk didengarkan.


Teman-teman Keara sudah memperhatikan Nico dari atas ke bawah. Mereka tidak menyangka Keara punya kenalan seorang klimis dengan pakaian jas lengkap berusaha mengejar-ngejarnya. Wajahnya juga ganteng, seperti blasteran bule. Benar-benar seperti artis Jefri Nicole, yang sedang digandrungi anak muda masa kini.


"Ayolah K.. Ini kan udah di luar jam kerja kamu." pinta Nico dengan terus memelas.


"Terus kenapa kalau di luar jam kerja? Wajib gitu ngikut kamu..?" sergah Keara lagi.


"K.. kalau ga mau, buat kita ajalaah.. Kita mau nemenin masnya kok.." seloroh Cindy, salah satu teman Keara yang bekerja di bagian kasir bakery. Keara hanya mencibir Cindy. Belum tau aja mereka, orang ganteng ini sudah beranak istri. Sold out.


"Maaf yaa kaka cantik.. Saya nya masih ada urusan sama Keara yang judes tapi lucu ini.." ucap Nico dengan nada manis yang dibuat-buat kepada Cindy. Cindy, Risa, dan Desti kompak ber'ciye-ciyee sambil tersipu-sipu centil.


Keara makin kesal mendengarnya. "Gak usah sok akrab gitu deh.. Mau kamu apa sih?"


"Aku cuma mau ngobrol sama kamu K.. Aku butuh teman bicara. Itu saja."


"Emang kamu gak punya temen lain?"


"Punya. Tapi yang aku mau kali ini cuma kamu K.. Aku cuma ingin berbagi cerita sama kamu.. Pleaasee.."


Keara diam sejenak. "Sebelum maghrib aku sudah harus pulang."


"Oke."


"Aku bawa motor sendiri. Gak mau ikut mobil kamu." tawar Keara lagi.


"Deal." Nico tersenyum senang. Penuh kemenangan. Sebahagia ini hingga ia melupakan sejenak kesedihannya.


...----------------...


...----------------...


🌹 Happy reading


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih