Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
Aku Milikmu


"B-bapak?" gumam Keara lirih. Air matanya sudah tak bisa ditahan lagi. Luruh membasahi pipinya yang mulus.


Ia sudah menduga. Meski ingatan tentang bapaknya, sangatlah minim. Bahkan ia tidak ingat apapun tentang bapak. Bapak meninggalkannya ketika usianya masih sangat kecil. Tidak ada kenangan indah yang bisa ia kenang. Hanya penderitaan dan hutang menumpuk saja yang ditinggalkan bapak kepada ibunya, membuat Keara membenci sosok bapak kandung yang tidak pernah benar-benar dikenalnya.


"Duduklah dulu, K.. Kita bicara bersama." ibu menarik lembut lengan Keara.


Harris melonggarkan pelukannya. Ia cukup tau diri untuk tidak terlibat terlalu jauh dalam urusan internal keluarga Keara. "Kalau begitu, saya permisi....."


Harris tidak melanjutkan kalimatnya karena Keara menggenggam tangannya erat dan menatap dengan tatapan mata sayu. Sorot mata itu mengisyaratkan bahwa gadis itu melarang Harris pergi.


"Nak Harris di sini saja gak apa-apa.." tutur Ibu. Beliau seolah mendengar keinginan Keara yang tidak terucap. "Lagi pula, sebentar lagi Nak Harris akan menikah dengan Keara. Akan jadi bagian dari keluarga ini juga."


Keara menarik lemah tangan Harris dan memberinya tempat duduk di sampingnya. Ibu dan bapak pun turut duduk, dengan posisi yang berjauhan.


"Jadi anak bapak sebentar lagi mau menikah..?" Bapak berbicara sambil mengulas senyum. Senyum yang ditanggapi dengan wajah masam seluruh orang di depannya.


"Alhamdulillah.. Bapak tepat waktu."


Keara melirik ibunya yang terus memalingkan wajah. Tidak pernah melihat ke arah bapak. Bagaimana tidak, sosok yang tidak pernah lagi dibicarakan, apa lagi dirindukan, tiba-tiba muncul kembali dan bersikap ramah seolah tidak terjadi apa-apa.


Secara hukum tentunya ibu dan bapak masih terikat status suami istri. Meski secara agama mereka otomatis bercerai karena tidak adanya nafkah lahir batin yang diberikan dalam jangka waktu yang lama.


"Bapak kembali.. Karena bapak pikir putri cantik bapak sudah waktunya membutuhkan bapak untuk menjadi wali nikahnya.. Bapak belum mati dan masih sehat, jadi bapak pikir sudah seharusnya bapak menunaikan tugas bapak untuk menikahkan kamu. Yaah.. Meskipun sudah menelantarkan kalian selama ini, tapi bapak ini tetap bapak kandung kalian..."


Keara melihat pria tua yang mengaku sebagai bapaknya itu. "Bagusnya bapak ga usah dateng. Kami semua yakin bapak sudah meninggal. Sekarang baru muncul, tau-tau mau langsung jadi wali nikahku.. Kayak enteng banget gitu tugas bapak.."


"Keara..." tegur ibu dengan suara parau.


Harris pun mere*mas bahu Keara. Berusaha menenangkan gadisnya itu. Keara jelas marah dan tidak menerima kehadiran ayah kandungnya. Tidak ada kenangan indah yang ia ingat bersama bapaknya. Yang tertanam di otaknya hanyalah bagaimana penderitaan ibu dan kakaknya yang harus bekerja sangat keras demi menghidupinya dan juga untuk melunasi hutang-hutang bapaknya.


Dan semua kesusahan di masa kecilnya sedikit demi sedikit merajut benih kebencian terhadap sang ayah. Dan tidak lagi menginginkan kehadirannya.


"Lalu sekarang mau bapak apa datang lagi kemari?" kali ini mas Arman melontar tanya.


"Bapak tidak mau apa-apa Arman.. Hanya ini yang bapak bisa kasih pada kalian." Bapak meletakkan bungkusan plastik hitam yang berukuran agak besar di atas meja. "Ini hasil kerja keras bapak selama ini. Bapak tau ini tidak seberapa dibandingkan dengan utang-utang bapak yang bapak bebankan kepada kalian. Tapi semoga sedikit bisa menebus kesalahan bapak.."


"Kami tidak butuh kehadiran bapak dan uang bapak." ketus Keara.


"K..." ibu menggeleng lemah ke arah Keara. Memberi isyarat agar Keara tidak berbicara kasar lagi.


Harris lagi-lagi hanya mengeratkan dekapannya pada gadisnya.


"Arman juga tidak setuju bapak kembali lagi ke rumah ini.." sahut mas Arman.


"Tentu tidak akan, mas.." tegas ibu berujar. "Ibu dan bapak sudah dianggap bercerai menurut hukum agama. Sudah tidak boleh tinggal serumah.. Sudah gugur kewajiban bapakmu menafkahi kita. Tapi ikatan darah kalian dengan bapak tidak bisa terputus. Jadi tetap hormati dia bagaimanapun perangainya.."


"Baguslah.. " Keara menghentak seraya langsung berdiri. "Kita tidak perlu berinteraksi apa-apa. Bapak hanya perlu menjadi wali nikahku sebulan lagi.. Lalu silakan kembali lagi ke kehidupan bapak sendiri."


Keara langsung beranjak masuk ke dalam kamar. Harris menatap ibu, dan ibu mengangguk. Menandakan beliau mengijinkan Harris menyusul Keara masuk ke dalam kamar.


Harris masuk ke dalam kamar Keara. Gadis itu duduk bersila di atas ranjang dengan mendekap bantal yang diletakkan di atas pahanya. Harris pun mendekat dan duduk di tepi ranjang di dekat gadisnya.


"Aku tau kamu marah.. Tapi bukankah kehadiran bapak lebih baik daripada kamu terus bertanya-tanya bagaimana keadaan bapak kamu?" ucap Harris membuka pembicaraan.


Keara menatapnya masam. Lelaki di depannya ini sangat berbeda sorot matanya dibandingkan dengan ketika berada di ruang tamu bersama bapak tadi. Tadi mas Harris sangat tajam menatap bapak. Ekspresinya keras seolah sangat menjaga Keara dan turut merasakan kemarahan yang berkecamuk di dada Keara.


Harris tertawa kecil. "Hey.. Jangan mengira aku berpihak pada bapakmu dan mengesampingkan perasaanmu.." Harris menjawil ujung hidung Keara. Keara mendengus kesal dibuatnya.


"Mas Harris ini bisa baca pikiran orang?"


Harris hanya mengendikkan bahu. "Berarti benar ucapanku kan.."


Keara menunduk. Dia bergumam pelan, "Tapi aku sungguh tidak menyukai kedatangan bapak kembali ke rumah ini..."


"Aku tau, sayang.." Harris meraih jemari Keara dan memainkannya dengan lembut.


"Tapi bisakah kau menganggap ini sebagai jalan kemudahan untuk pernikahan kita? Kalau saja bapak kamu tidak kembali, dan kita menikah dengan mas Arman sebagai walinya, pernikahan kita bisa saja tidak sah dan tidak berkah karena bapak kandung kamu sebenarnya masih hidup.."


Keara menatap nanar pada lelaki di depannya. "Mas Harris benar juga.. Tapi aku tetap risih dan tidak terbiasa. Selama ini aku menganggap bapak sudah mati, tapi tiba-tiba dia datang. Itu aneh mas..."


"Iya aku tau sayang.. Aku tau." tutur Harris lirih. "Semoga saja beliau kembali karena benar-benar sudah menyesali perbuatannya. Berdoalah sayang, pasrahkan semua pada Allah.."


"Iya, mas.. Makasih yaa.. Mas Harris tidak mempermasalahkan keadaan keluargaku.."


"Omongan apa itu sayang? Keadaanku justru jauh lebih buruk daripada kamu.." Harris menarik kepala Keara untuk didekap di dadanya. Mengusap lembut rambut gadis itu sembari menciuminya.


"Aku yang seharusnya berterima kasih padamu...."


Harris terdiam. Tidak meneruskan kalimatnya. Netranya terpaku pada sesuatu yang ada di atas nakas samping tempat tidur Keara. Dia lalu menyunggingkan senyum tipis.


Keara yang menyadari perubahan Harris, mengikuti arah tatapan lelaki itu. Tatapan itu tertuju ke sebuah pigora foto kecil yang tersimpan di atas nakas. Sebuah foto kebersamaannya dengan Rizky. Keara menjulurkan tangannya untuk menutupi foto itu dengan cara menjatuhkannya ke depan.


"Ehmm maaf...", lirih Keara.


"Kenapa sayang? Tidak perlu ditutup, dan tidak perlu meminta maaf juga..." Harris menarik kembali Keara dalam dekapannya.


"Aku sudah sering melihat foto-foto semacam itu di kamar Rizky..."


"Mas Harris ga marah, aku masih majang foto mantan..?"


"Engga.. Mantan kamu sudah gak ada juga.. Gak akan bisa merebutmu dariku.." Harris terkekeh kecil. Kemudian menarik nafas panjang.


"Justru akulah yang malu pada Rizky, karena akulah yang merebut calon pengantinnya.."


"Aku sudah pernah meminta ijin padanya setelah aku pertama kali menciummu dulu, tapi dia belum memberiku tanda atau isyarat.. Apa dia mengijinkannya atau tidak."


Keara tidak menjawab. Dia justru tenggelam lebih dalam di dada bidang lelakinya. Tangannya bertaut semakin erat di balik punggung Harris. Seolah memberi jawaban kalau 'aku milikmu sekarang..'. Membuat hati Harris perlahan dialiri desiran hangat yang melenakan.


...----------------...


...----------------...


🌹 Happy reading


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih