Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
Sayur Lodeh


Keara menerima kotak berpita biru itu. Tatapannya seketika berubah menjadi nanar. Dengan sekumpulan bulir yang nampak jelas ingin mendesak luruh ke pipi. Mas Rizky memang sangat tahu warna favoritnya. Soft blue.


"Boleh dibuka?" tanya Keara.


Harris mengangguk.


Keara tidak bisa lagi menahan buliran air matanya begitu melihat isi dalam kotak itu. Sebuah jepit rambut berhias mutiara yang sangat cantik. Desainnya sederhana tapi terlihat indah, perpaduan warna manik-maniknya serasi, dan detailnya sangat rapi. Secara tersirat, tampilannya menunjukkan harga hairpin ini.



"Cantiknya...." Keara menyusut bulir yang menyembul di sudut matanya.


Keduanya tercekam dalam hening. Keara masih memandangi jepitan rambut itu dengan tatapan nanar. Sedangkan Harris, seperti biasa, dia tidak bisa memilih ucapan, cerita, atau tanya apa yang bisa ia lontarkan untuk memecah keheningan. Ia pun lebih senang membiarkan Keara larut dalam pikirnya sendiri.


Sekian menit berlalu tanpa seorang pun berniat berbicara lebih dulu. Suara yang ada hanya bisik-bisik tidak jelas dari orang-orang yang ada di dalam rumah, dentingan sendok yang beradu dengan piring dan gelas, kipas angin gantung berkecepatan maksimal, dan deru mesin kendaraan yang lewat di depan rumah Keara.


"Bagaimana ceritanya ini bisa ada di mas Harris?" tanya Keara memecah kesunyian di antara mereka.


"Kapan mas Rizky menitipkan ini? Kenapa baru diberikan padaku hari ini?" sambung Keara.


Harris mengangkat wajahnya. Netranya bersitatap dengan netra cantik bersimbah peluh, persis seperti gadis yang dilihatnya enam tahun silam.


"Dua minggu sebelum kecelakaan itu, saat aku sedang berada di Hongkong. Rizky memintaku membeli oleh-oleh untukmu."


"Oh.." Keara kembali menundukkan kepalanya.


Keara bergeming. Bibirnya setengah terbuka hendak mengucap lagi, tapi urung ia lakukan. Hening kembali menyelimuti keduanya.


Keara seolah kecewa mendengar kenyataan bahwa Harrislah yang membeli dan memilihkan jepitan rambut itu. Atau..... entahlah apa yang ada di kepala gadis manis itu.


Oh ****, Harris! Stop bilang dia manis!


"Kenapa baru sekarang?" Keara mengulang pertanyaannya. Begitu penuh rasa penasaran berjejal di kepalanya, tapi hanya satu tanya itu yang terlontar.


"Aku belum sempat memberikan jepitan rambut itu pada Rizky.. Keburu kecelakaan naas itu terjadi." Harris menundukkan kepalanya. Dengan dua siku yang bertumpu di paha, netranya itu menatap lantai keramik rumah Keara yang ia pijak.


"Maaf, seharusnya aku berikan kepadamu jauh-jauh hari. Tapi..." Kalimat Harris menggantung. Ia bimbang apa yang harus diutarakannya. Ia memang menunda-nunda waktu untuk memberikan jepit rambut itu. Butuh keberanian besar untuk memutuskan menemui Keara.


Keara mengerjapkan mata beberapa kali setelah menghapus bulir bening yang mengalir di pipinya. Mengurai rambut panjangnya. Lantas memasangkan jepitan dari kotak berpita biru ke rambutnya.


Harris terpana melihat tindakan Keara tersebut. Dengan mata dan bibir membulat. Memorinya merekam setiap gerik gadis manis itu. Oh ****, manis lagi?


"Gimana? Cantik gak Mas?" tanya Keara.


Dengan bo dohnya, Harris bahkan tidak berkedip. Sel-sel di otaknya seakan membeku. Tatapannya terus merekam sosok gadis manis yang sedang tersenyum itu, dengan jepit rambut mutiara bertengger cantik menghiasi 'mahkota'nya.


Perubahan Ekspresi Keara dari murung dan sedih berubah menjadi ceria dan manis tak luput dari pengamatan Harris. Seolah telah melupakan kesedihan yang menyelimutinya beberapa saat lalu. Dan barusan dengan mudahnya dia bertanya apa dia cantik? iish, menggemaskan.


"Cantik banget."


Boom!! Jawaban jujur, tapi meluncur di luar nalar dengan ekspresi melongo seperti orang terhipnotis. Harris Risjad, bo dohnya dirimu. Dimana kesan cool sedingin gunung es yang selama ini ditampilkan di depan Keara? Menguap diterjang kipas angin gantung dengan kecepatan putaran paling tinggi.


"Hehe.. makasiih.." Keara tersenyum semakin lebar. Kesedihan yang tersisa hanya nampak dari mata yang sedikit memerah. Selebihnya, Keara yang ceria telah kembali.


"Ini mas Harris yang pilihkan.. Belinya di luar negeri pula.. Pantesan aja keliatan simple and glamour at the same time.. Hihii.." Keara mengusap jepitan yang hinggap dengan cantik di rambutnya.


"Nanti aku juga akan berterima kasih pada mas Rizky.. Mungkin lusa aku akan mengunjunginya." Keara menunduk, tanpa mengendurkan senyumnya. Sekelebatan bayang Rizky menghampiri fikirnya.


'Seandainya mas Rizky sendiri yang memberikan kotak berpita biru ini padaku.. Pasti aku akan langsung menghambur ke pelukannya....' batin Keara.


"Aku.. pamit pulang." celetuk Harris, membuat Keara mengangkat kembali wajahnya.


Bersamaan dengan itu, ibu Keara muncul dari arah dalam rumah. "Eh, jangan pulang dulu.. makan dulu di sini Mas Harris.. Monggo, ayo ke meja makan.."


"Oh, m-maaf Bu, saya harus se...'


"Ayo, Mas.. kita makan dulu." Keara menggamit pergelangan tangan Harris. Membuat pria itu seketika tidak mampu berkata-kata lagi.


"Pasti mas Harris dari kantor, dan belum makan malam." Keara menambahkan seraya berusaha menarik tubuh Harris, namun berat badan keduanya tidak seimbang. Harris tetap bergeming.


"Maaf tapi saya buru-buru..." ucap Harris. Keara menoleh. Menatap Harris lekat-lekat. Membuatnya tergagap menjawab, "Saya.. belum sholat maghrib."


Harris menoleh pada Keara, seakan meminta pendapat. Tak menyangka, Keara menganggukkan kepalanya dengan lembut dan mengulas senyum tipis nan manis.


Hey, manis lagi?!


...----------------...


Setelah menunaikan ibadah sholat maghrib, dari dalam kamar ibadah berukuran 3x3 meter itu, Harris memilih diam dan menunggu hendak melanjutkan dengan sholat isya'. Selain karena Maghrib yang ditunaikan begitu terlambat, sampai mendekati waktu isya, pun Harris merasa tidak enak jika keluar dan mengusik Keara yang sedang berbincang bersama ibu dan kakaknya.


Dari dalam mushola, Harris mencuri dengar , eh tidak. Bukan mencuri. Tapi memang terdengar jelas dengan sendirinya. Karena letak meja makan yang berada tepat di samping 'mushola' tempatnya duduk dan terdiam.


"Iya gitu deh Buk.." suara Keara terdengar nyaring dan ceria. "ternyata Muthia itu adiknya istrinya Mas Daniel.. Namanya mbak Marsya. Tadi aku mampir ke rumahnya, dan ketemu mas Daniel juga.."


"Alhamdulillah.. mas Daniel itu orang baik. Ibuk ikut bahagia sekarang mas Daniel sudah menikah dengan orang yang disayangi.." suara ibu Keara terdengar oleh Harris.


"Ibuk kenal sama istrinya?" tanya Keara.


"Bukan kenal, tapi tau.. Dulu pernah dibawa ke rumah beberapa kali. Nyonya juga keliatan sayaang sekali sama pacar mas Daniel dulu.. Yaa yang jadi istrinya sekarang ini."


"He'em.. mbak Marsya sama pak Daniel ketemu lagi di kantor." kali ini suara laki-laki. Pasti suara kakak K, mas Arman, tebak Harris. "Mbak Marsya jadi staf baru di divisi keuangan. Dia gak tau kalau itu kantor punya mantan pacarnya. Terus yaa drama CLBK gitu deh.. Cinta Lama Belum Kelar."


"Nah, besok itu aku udah mulai kerja di kafenya mbak Marsya ini, buk.." sambung Keara.


"Oya? Kafenya mbak Marsya yang di Diponegoro itu?"


Obrolan akrab terus mengalir. Membuat Harris harus menunaikan sholat isya dengan konsentrasi sedikit terbagi. Mendengar Keara berbincang dengan keluarganya, membuatnya rindu. Rindu suasana ceria mengobrol di meja makan. Rindu kehangatan keluarga yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.


Harris menyusut satu bulir yang lolos dari sudut matanya seusai menuntaskan ibadahnya. Setitik perih mencuat. Ia bahkan tidak tahu bagaimana sensasi hangat bercengkrama di meja makan bersama orang tua dan saudara, tapi sudah merasa rindu. Aneh dan bodoh. Bodoh dan aneh.


"Oi, mas.." Kepala Keara menyembul dari balik tirai di belakang punggungnya. Membuat Harris terperanjat. "Ayo buruan makan.. Ditungguin juga.. Malah lanjut sholat isya.."


"Oh maaf." Harris mengusap tengkuknya untuk menutupi rasa gugup yang mendadak datang.


Ia berdiri dan membuntut di belakang Keara. Lalu mendudukkan diri di samping Keara dan di depan mas Arman.


Harris menerima piring yang telah diisi nasi oleh Keara. Menyendok sayur lodeh, bakwan jagung, dan ayam goreng. Sungguh menu rumahan yang ia rindukan. Setelah memastikan yang anggota makan malam yang lain juga sudah menyantap isi piringnya masing-masing, ia pun menyuap makan malamnya dengan lahap.


Ia mengunyah dan menelan dengan cepat. Ia sembunyikan perasaan takjub tentang Rasa masakan ibu Keara sangat sesuai dengan lidahnya. Lidah yang jarang sekali menjamah masakan rumahan. Masakan seorang ibu.


Keara, ibu, dan mas Arman terus bercengkrama sembari makan. Tidak ada kesan formal dan harus menjaga sikap. Memang seperti inilah family time bagi keluarga Keara.


"Mas Harris udah habis? Cepet banget makannya.." seloroh Keara.


Harris meneguk air putih hingga segelas tandas dalam waktu singkat. "Makanan sangat enak. Terima kasih banyak."


"Ah masa.. Mas Harris pasti sering makan makanan mahal, jadi sekalinya ketemu sayur lodeh langsung ditelan cepat-cepat." goda Ibu.


Harris hanya tersenyum sambil kembali mengusap tengkuknya. Kalau saja ia sedang berhadapan dengan klien, pasti saat ini ia sudah menyanggah dan berargumen jika dibanding makanan western dan cepat saji yang biasa ia makan, sayur lodeh ibu berkali-kali lipat lebih nikmat.


"Justru saya telan cepat-cepat supaya bisa nambah Bu.. Sayur lodehnya sangat enak."


"Boleh.. boleh mas.. Yuk monggo nambah lagi."


"Nambah aja, Harris.. Rizky juga suka banget sayur lodeh buatan ibu." kali ini mas Arman turut mendukungnya. Ia mendorong mangkuk sayur lodeh mendekatkannya pada Harris. Membuat Harris mengisi lagi piringnya yang sudah kosong.


Dari sudut matanya, tampak Keara terbengong -bengong melihat Harris menyantap sepiring penuh nasi, sayur lodeh, bakwan jagung, dan ayam goreng (lagi). Raut mukanya seolah berkata, 'Waah.. gunung es ternyata doyan sayur lodeh..'


Membayangkan itu.. dan melirik ekspresi lucu Keara, membuat Harris tersenyum-senyum sendiri. Menyenangkan. Membahagiakan.


'Bolehkah aku menjadi bagian dari keluarga ini?'


...----------------...


...----------------...


🌹 Happy reading


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih