
🌹 Bali
Matahari senja yang kemerahan membuat seorang gadis harus memicingkan matanya. Demi bisa menikmati teduhnya sinar temaram yang berwarna keemasan itu.
Gadis itu berdiri di tepi balkon. Menengadahkan wajahnya ke atas seraya memejamkan mata. Menikmati hembusan angin menyapu lembut kulit tubuh dan wajahnya. Kehangatan matahari yang mulai tunduk di cakrawala turut mendamaikan perasaannya.
Gadis itu Keara. Sedang menikmati senja yang selalu mengingatkannya pada satu nama. Sosok yang kerap menatapnya dengan sorot seteduh senja.
Pertemuannya di pemakaman calon suaminya ketika senja. Ketika hati Keara sedang hancur-hancurnya. Usai menghantarkan jenazah sang pujaan hati di tempat peristirahatan terakhir. Sosok lelaki ini dengan sabar dan tanpa pamrih, membentangkan payung di atas kepalanya dan abai terhadap raganya sendiri yang kebasahan diguyur hujan.
Ketika pertemuan kedua di tempat yang sama. Langit senja juga menaungi keduanya dan menjadi awal kedekatannya. Meski terjadi dengan trik licik mengempesi ban motor Keara. Tapi menjadi awal yang baik terurainya sebuah kesalah pahaman. Bahwa lelaki sedingin gunung es yang dikenal Keara itu, sejatinya memiliki hati yang begitu hangat.
Semua kenangan demi kenangan berputar kembali di benaknya. Membuat sosok lelaki teduh itu semakin diingat, semakin menyesakkan dada.
Saat dirasa senja sudah bergulir menuju petang. Cahaya matahari yang tadinya kemerahan kini hampir tidak lagi memancarkan warnanya. Udara dingin yang menusuk kulitnya tak lagi seramah sebelumnya.
Ditambah lagi perutnya yang mulai keroncongan sudah mengeluarkan bunyi alarm minta diisi. Ia jadi ingat, kalau baru makan cuma sekali, tadi pagi waktu sarapan sebelum berangkat ke bandara menuju Bali. Membuatnya berjalan masuk mendekat ke arah ranjang.
Gadis itu membongkar barang bawaannya. Mengambil roti yang kebetulan ia bawa dari rumah. Lalu kembali ke balkon sambil memakan roti sobek dan sekotak susu coklat. Agaknya balkon dengan pemandangan laut lepas ini sudah cukup sebagai pelepas penatnya.
Suara pintu depan yang terbuka membuat gadis ini menoleh. Dengan rasa penasaran yang membingkai, ia ingin memastikan siapa yang datang dan baru saja menutup pintu. Karena kamar hotel yang teramat besar, membuat dia harus bersabar menunggu si 'tamu' menampakkan diri.
Dialah Ocha, sahabatnya yang entah sejak kapan dia berada di luar kamar. Kini dia kembali ke kamar dengan membawa dua kantong plastik besar berisi penuh makanan dan minuman. Terlihat pula ada kotak pizza berukuran besar di sana. Sontak membuat produksi liur bergejolak.
"K, kita makan yukk.. Laper nih.." Ocha meletakkan kantong-kantong belanjaan itu di atas meja. Lantas membuka kotak pizza yang seketika membuat aroma lezat menguar memenuhi ruang, mengundang selera makan.
Keara yang masih berada di balkon itu langsung beranjak masuk ke dalam. Mendekati sumber aroma yang mengundang rasa laparnya kian menjadi- jadi. Meninggalkan begitu saja roti sobek yang tadi jadi pengganjal perutnya. Seolah menemukan tambatan yang lebih sempurna untuk perut laparnya.
"Kamu beli makanan sebanyak ini?" tanyanya heran. Tidak hanya pizza, aneka merk snack, biskuit, wafer juga minuman air mineral sampai minuman bermacam rasa.
"Iyaa.. Abis aku tadi liat kamu ketiduran di balkon.. Mana perutku laper banget. Ya udah aku keluar kamar sendiri.. Nyari makanan...."
Keara mencomot sepotong pizza kemudian duduk dengan nyaman di atas sofa. Dia bahkan tidak sadar kalau tadi sempat ketiduran. Mungkin efek kelelahan selama perjalanannya tadi.
"Abis ini kita jalan-jalan yuk... Masa udah di Bali kita diem-dieman aja di kamar hotel..? Mentang-mentang kamarnya kece abis.."
Keara mengacungkan jempolnya tanda setuju. Mulutnya sedang penuh mengunyah pizza. Memuaskan perutnya yang sudah kelaparan.
"Emangnya bisa jalan-jalan ke mana malem-malem gini?" tanya Keara kemudian. Bingung juga ternyata kalau pergi liburan minim referensi.
"Ke club gimana?"
"NO!!" ketus Keara.
Membuat Ocha langsung tergelak. Ia lupa sahabatnya ini masih sepolos kapas. Belum mengenal dunia gemerlap seperti dirinya. Meskipun dia juga terhitung baru mengenal dunia itu.. Karena pengaruh teman-teman sekantor, dan sering pergi ramai-ramai di hari sabtu atau minggu.
"Oke.. Oke.. Kalau gitu kita jalan keliling sekitar hotel aja. Ada banyak pusat perbelanjaan berderet di sana. Besok pagi baru deh kita main-main di pantai yang ada di dekat hotel kita.." usul Ocha kali ini mendapat persetujuan penuh dari Keara.
"Kamu lagi dapet arisan apa? Royal banget.. Kayak udah gak butuh duit.." cibir Keara.
"Hehe.. Aku tuh cuma lagi balas budi aja. Masa kamu udah keluar duit banyak buat sewa hotel ini, aku enak-enakan numpang tidur doang siih.."
"Astagaaa.. nyonya Risjad to be , duit dari tuan muda Harris aja masih berlimpah.. Jangan ngirit-ngirit deh.."
"Heh, ngawur! Kan bukan duitku, Cha..."
"Ah elaah.. sama aja. Biarpun kalian lagi berantem, percaya deh sama aku. Dia ga bakal minta balikin duitnya."
"Mending buat hepi-hepi ajaaa..."
Ocha tergelak. Keara hanya bisa menggeleng pasrah.
Sedang membayangkan nasibnya harus bekerja berapa tahun kalau sampai mas Harris minta ganti uangnya yang udah dipakai hura-hura di Bali ini...? Huuhh !!
...----------------...
Keesokan harinya, Keara dan Ocha menikmati liburannya dengan bermain-main di pantai. Berlari menyongsong ombak air laut tanpa takut. Berguling di pasir pantai yang lembut menyentuh kulit. Tertawa lepas mengurai sejenak beban berat yang setia menggelayut selama beberapa hari belakangan.
Keara dengan dress floral warna biru dan rambut panjang terurai membuat penampilannya terlihat segar. Kulit bersih terawat dengan make up natural menambah kecantikannya bak peri kecil yang ceria.
Tidak nampak kepedihan lagi dari senyum dan tawa gadis ini. Semua kegundahannya seakan ia tinggalkan di kamar tidurnya. Hari ini ia ingin lupakan sejenak kerinduan membuncah pada lelakinya. Berusaha melupakan, lebih tepatnya. Karena nyatanya lelaki itu, entah dimana dia berada sekarang, agaknya juga sedang berusaha melupakan Keara.
Terbukti, tidak ada lagi chat dan telepon masuk yang berusaha mencari keberadaan Keara. Semua tenang dan hening. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Seperti tidak pernah ada apa-apa. Nyanyian kerinduan itu seolah disenyapkan.
"Lets have fun, K...!!" pekik Ocha di tengah keramaian lokasi wisata pantai seminyak Bali. Pengunjung pantai belum juga surut meski siang telah beranjak mendekati sore.
"Balik yok Cha.. Udah belang nih kulitku. " ajak Keara.
Setelah merasa cukup berusaha terlihat baik-baik saja, nyatanya dia tetap merasa lelah. Senja selalu mengingatkannya pada lelaki sendu itu. Lelaki yang selalu menatapnya penuh cinta. Lelaki yang akhir-akhir ini selalu berhasil memberikan debaran hangat di hatinya.
Kenyataannya, sejauh apapun ia pergi, hatinya masih berada di tempat yang sama. Enggan beranjak dari sosok yang beberapa waktu lalu menyamankan. Sosok yang mungkin saat ini masih dan sedang terluka atas ketajaman tutur katanya. Atas ketidak beradaan dirinya ketika sosok itu mungkin membutuhkan hadirnya.
...----------------...
...----------------...
Mas Harris mana siih..? ditungguin juga ga muncul-muncul.. Kangen niiihh 😌😌
Mas Harris be like : Nunggu reader kesayangan kasih rating bintang lima duluu ⭐⭐⭐⭐⭐
Hehhehee...
tima kaciii 🥰😘
🌹 Happy reading
🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉
🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih