Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
Jebakan Untuk Mertua


Bara berdehem sebelum mengemukakan laporan hasil pengintaiannya. Ia sudah mendengarkan obrolan David, Martha dan asisten David kemarin sore dari ponselnya yang terhubung langsung dengan alat penyadap di tas kerja David. "David Soehandoko. Lelaki itu benar-benar adalah bos Alex."


"Dia sangat murka saat melihat foto-foto mesra bos dan non Keara yang dikirim Agus melalui ponsel milik Alex. Lelaki itu bahkan sampai membanting ponselnya." lanjut Bara.


"Dasar orang gila! Orang mesum gak waras."


"Jelas lah tak waras.. Kalau waras mana mungkin dia suka bermain dengan nyonya Martha. Padahal banyak wanita muda dan cantik di sekitarnya.." Aswin ikut menimpali membenarkan ucapan bosnya. Berdecak heran, tak mengerti jalan pikiran si casanova David Soehandoko yang tetap mempertahankan Martha meskipun kekasihnya silih berganti.


"Lalu?" tanya Harris pada Bara tanpa mengindahkan ucapan Aswin. Dia tidak peduli sama sekali pada Martha. Karena sampai detik ini, tidak sekalipun Harris menganggap Martha bagian dari keluarganya.


"Nyonya Martha mengusulkan untuk memanfaatkan keserakahan Pak Suryo. Wanita itu tahu kalau Suryo bukan bapak yang baik. Pria itu setuju menikahkan kamu dan Keara dengan imbalan uang bulanan seratus juta rupiah."


Netra Harris memicing. "Tante Martha tau soal itu?"


Bara mengangguk.


Harris terlihat berpikir. Lelaki itu diam saja selama beberapa detik dengan jemari yang mengusap-usap dagunya.


"Kita biarkan saja mertuaku yang berhati busuk itu ikut masuk dalam permainan ini. Kita lihat apa dia terpancing dengan iming-iming uang yang lebih banyak atau setia denganku yang tak lain adalah menantunya sendiri."


Bara mengangguk lagi.


"Kita masih bisa mendengar obrolan mereka kan? Kita bisa antisipasi rencana tikus got itu kalau iya." tandas Aswin.


"Apa istrimu akan baik-baik saja kalau kita membiarkan bapaknya masuk dallam perangkap?" tanya Bara pada Harris. Ia tau betul bosnya itu cinta mati pada Keara. Apapun yang membuat wanitanya itu bersedih, tidak akan ia biarkan terjadi.


Harris mengangguk meski anggukannya sedikit gamang. Ia tidak yakin betul. Tapi melihat sikap anti pati Keara ketika tau bapaknya menerima dana cuma-cuma tiap bulan, membuat Harris bisa meraba sedikit perasaan istrinya.


"It's okey. Lagi pula bukan aku yang menjebak bapak mertuaku itu. Tapi orang tua serakah itu sendiri nantinya yang akan menentukan dia masuk perangkap, atau dia sudah bertobat dari sifat serakah mengkomersilkan putrinya sendiri." pungkas Harris.


"Baik. Kita tunggu saja. Semoga pagi ini ada kejelasan rencana apa yang akan mereka lakukan." ujar Bara.


"Itu artinya kau bisa secara langsung mendengarkan percakapan mereka?" tanya Aswin yang penasaran.


"Of course."


"Bagaimana caranya?"


Bara menunjuk alat elektronik berukuran kecil yang menyumpal telinga kirinya. Aswin langsung terkekeh dan mengacungkan dua jempol tangannya ke arah Bara.


Harris pun menepuk bahu Bara. "Thanks Bar.. Kamu udah banyak bantuin aku. Aku pasti mudah terkecoh kalau saja kamu tidak sigap menangkap Alex kepa*rat itu. Aku akan dengan mudahnya masuk dalam perangkap David. Cemburu membabi buta pada Keara dan akhirnya mempertaruhkan keutuhan rumah tanggaku."


Bara mengendikkan bahu agar telapak tangan Harris terangkat dari sana. "What's wrong?"


Harris mengangkat alis. Tak mengerti.


"Baru kali ini anda berterima kasih. Biasanya cuma ngasih duit aja sebagai gantinya kata terima kasih.." ledek Bara.


Bertahun-tahun mengenal Harris, Bara sangat hafal tabiat boss dinginnya ini. Gengsinya terlalu besar untuk mengucapkan kata terima kasih. Terlebih Harris memiliki cukup banyak harta yang bisa diberikan sebagai pengganti ucapan terima kasih. Pasti karena masalah kali ini terkait dengan kelangsungan rumah tangga Harris dengan sang wanita tercinta. Apa lagi kalau bukan karena hal itu.


Harris tergelak. "Baru kali ini juga kau protes begini. Hahahaa.."


Bara hanya menarik sedikit kedua sudut bibirnya membentuk senyuman tipis. Sedang Aswin tersenyum lebar seraya sebelah lengannya merangkul Bara.


"Kalau lagi kumpul gini dan ngerencanain sesuatu, jadi inget Rizky yaa.." celetuk Aswin. "Biasanya dia penyumbang ide brilian dengan sikapnya yang tenang tapi menghanyutkan itu."


Harris dan Bara mengangguk mengamini ucapan Aswin.


Sementara itu di gedung perkantoran Handoko Building corp., tampak seorang pria yang sudah berumur, tapi masih terlihat cekatan dalam langkahnya, memasuki gedung itu dengan ayunan langkah yang percaya diri. Meskipun dalam benaknya berkecamuk memikirkan perihal apa dia diminta datang ke gedung ini.


Pagi-pagi sekali seseorang berpakaian jas formal menjemputnya atas perintah seseorang yang ia tau memiliki kuasa atas sebagian besar proyek perumahan di kota ini. Ya, pengetahuan pria tua ini memang hanya sebatas itu. Dia tau nama orang-orang yang berkuasa dan memiliki pengaruh besar.


Pria tua itu diminta masuk ke sebuah ruangan. Ia tidak tau tepatnya di lantai mana ia berada. Tadi ketika berada di dalam lift, ia hanya masuk dan keluar lift begitu lelaki yang menjemputnya ini bergerak. Pun ketika saat ini. Lelaki yang entah siapa namanya ini membukakan pintu yang terlihat paling mencolok dari yang lain dan menyuruhnya masuk. Ia menurut.


"Selamat pagi, Pak Suryo.." sapa seseorang yang duduk di kursi besar di belakang meja yang tak lain adalah David Soehandoko. CEO of Handoko Building corp.


Suryo Pratomo. Lelaki tua yang merupakan ayah kandung Keara, tersenyum menyeringai. Ia bisa mencium aroma uang dari sapaan David. Apalagi yang diinginkan seorang CEO perusahaan besar memanggilnya, kalau bukan tentang hal-hal yang melibatkan uang yang besar.


"Ayo duduk dulu. Akan aku suruh asistenku membawakan kopi." ucap Dave.


Pak Suryo menurut. Ia melangkah maju dan duduk di kursi yang ada di hadapan Dave dengan menyilangkan kaki. "Mimpi apa aku semalam, seorang CEO besar memintaku bertemu secara khusus."


"Apa kau bisa menebak keinginan sehingga aku memanggilmu sepagi ini?" Dave menaikkan alisnya, menatap dengan bibir yang menyunggingkan senyum licik.


"Hemm.. Sepertinya urusan wanita."


"Hahahahhaa.. Bagaimana bisa tebakanmu langsung tepat, pak tua.." Dave tergelak. Tidak menyangka maksud hatinya bisa tertebak dengan mudah oleh seorang Suryo Pratomo.


"Apalagi yang diinginkan orang-orang kaya dariku? Mengajak bekerja sama dalam bisnis pun sangat tidak mungkin." kelakar Suryo.


Dave tergelak lagi. Pintar juga pria tua ini, pikirnya.


"Aku bisa lakukan apa saja asal imbalannya setimpal." gumam Suryo.


"Tidak perlu khawatir soal itu. Yang pasti aku bisa memberimu tunjangan bulanan lebih dari yang diberikan menantumu."


Suryo membulatkan netranya. Tak menyangka Dave bisa mengetahui urusan internalnya. Tapi dia tak ambil pusing. Orang kaya kan selalu banyak tau.


"Lalu wanita mana yang kamu inginkan. Akan kujebak dia sampai kau bisa menikmatinya sepuasmu."


"Putrimu. Keara."


"Hah?"


🌹 Happy reading


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih