Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
Bukan Pacar Tapi Kangen


🌹 Rumah Keara


Malam ini selepas isya, Keara duduk di meja makan bersama ibu dan mas Arman. Menikmati hidangan santap malam masakan ibu yang rasanya tak pernah ditolak lidah dan perut mereka. Rendang daging yang lezat plus sambal korek dan tempe goreng. Hmm.. Yummy..


Ibu mengangkat rendang yang baru selesai dipanaskan untuk dihidangkan pada dua anak-anak kesayangannya. Sementara sambil menunggu ibu menyiapkan makanan, Keara sibuk melihat ponselnya. Mengecek chat yang ia kirimkan pada Harris sejak siang tadi, belum kunjung berbalas. Bahkan dibaca saja belum..


"Kamu nih lagak-lagaknya udah punya pacar baru ya??" seloroh mas Arman.


"Enggak kok." sahut Keara cepat.


Bener kan.. Emang dia ga pacaran sama mas Harris. Temen deket doang. Tapi eh tapii.. Tiga hari ini komunikasinya tersendat karena Harris yang sedang mengisi seminar bisnis di Hongkong, membuat moodnya lumayan chaos.


Mungkin terhalang sinyal dan perbedaan waktu. Juga kesibukan Harris di negeri orang. Kirim chat pagi dibalas sore, kirim chat sore dibalas besok paginya. Telepon? Jangan harap bisa diangkat. Ngeselin kan..?


'Padahal kan bukan pacar yaa .?? Jangan badmood gitu dong K..' Keara menyemangati dirinya sendiri.


Dia juga tak habis pikir kenapa begitu sebalnya hanya karena pesannya tak terbalas. Padahal kalau Harris di Indonesia, secepat mungkin lelaki itu akan membalas chat dari Keara, tak peduli sesibuk apapun dia. Makanya begitu keluar negeri dan komunikasi tersendat, Keara merasa aneh dan ada yang hilang dari yang kebiasaannya berkirim pesan dengan lelaki itu.


"Keara udah punya pacar baru? Siapa?" Ibu menyimpan semangkuk besar rendang daging yang masih mengepulkan asap ke tengah meja, seraya netranya menatap penuh selidik pada putrinya.


"Belum ibuuukk.. Mas Arman aja didengerin.." seru Keara kesal.


"Abis mas sering liat kamu video call.an sama cowok. Terus pegang hp sambil senyum -senyum, dan yang barusan ini mukanya badmood sambil bolak-balik nengok hp. Keliatan banget lagi nunggu chatnya dibales.. Hahaa.."


"Mas Arman sotoy.. Sok-sokan jadi detektif.. Sendirinya gimana hubungan sama mbak Merry? Ada perkembangan apa jalan di tempat? Mas Arman kan lempeng gitu orangnya.. Paling mbak Merry kesel sendiri liatnya.." Keara tak mau kalah.


"Eh, jangan salah.. Cowok lempeng kayak mas ini indikasi cowok setia. Lurus. Gak suka nyeleweng.." ujar mas Arman membanggakan dirinya sendiri.


"Ya iyalah.. Mau nyeleweng sama siapa emangnya? Dapet pacar satu aja butuh waktu tiga puluh tahun.. Mana ada waktu buat cari selewengan.. Sudah overtime." seloroh Keara dan langsung dihadiahi lemparan krupuk oleh Arman.


"Asem banget kalau ngomong.. Kayak mas gak laku aja.."


Keara tergelak.


"Udah.. Udah.. Kok jadi ledek-ledekan di meja makan. Ayo cepetan dimakan selagi masih hangat.." sahut ibu, melerai tingkah random anak-anaknya yang sudah beranjak dewasa.


Saking randomnya, bahkan saat menyendok nasipun Arman dan Keara berebut dulu-duluan. Mengambil rendang pun berebutan. Benar-benar membuat ibuk geleng-geleng kepala.


Anak-anaknya sebenarnya sangat akur dan saling menyayangi, cuma sama-sama iseng dan suka menjahili saudaranya. Membuat suasana rumah gaduh dan tak pernah sepi dari jeritan dan gelak tawa Keara.


*Tok.. Tok...*


Terdengar suara ketukan di pintu depan rumah. Tepat saat suapan pertama Keara hendak mendarat di mulutnya.


"Ada tamu tuh.. Bukain pintu K." perintah mas Arman.


"Belum juga sempet makan mas... Mas Arman aja dong.."


"Ya bagus kalau belum sempet makan.. Lah Ini mas Arman lagi ngunyah.. Masa buka pintu sambil ngunyah gini."


Keara mendecih sebal. Dengan bibirnya yang mengerucut dan langkah malas-malas, ia tetap beranjak ke depan rumah hendak membukakan pintu.


Begitu pintu terbuka, sesosok tamu yang berdiri tegap tepat di balik pintu membuat bibir cemberut Keara sedikit demi sedikit mengendur. Berubah menjadi senyum tipis yang berusaha ia tahan-tahan. Demi image.


"Assalamualaikum, K.."


"Waalaikumsalam.. Mas Harris.."


"Maaf K, tadi begitu seminar selesai, aku sudah ga lihat chat dari kamu. Aku langsung ke bandara dan di sana ponsel aku matikan. Jadi aku buka chat dari kamu barusan banget.."


"Oh gitu.." sahut Keara dengan wajah datar. Sama sekali tidak mencerminkan isi chatnya yang ketus tadi.


"Mas Harris ini lagi di Hongkong atau di Antartika sih..? Lama banget bales chatnya.."


"Oh iyaa.. Tau deh yang sibuk banget. Aku kayak chat.an sama artis Korea. Ngechat sekarang, balesannya besok.."


Begitulah ke-sarkas-an Keara dichat terakhir yang dikirimkannya tadi. Dan ternyata manusia super sibuk yang sempat membuatnya badmood seharian ini sudah ada di depan mata. Dengan wajah lelah, sebelah tangan yang menopang di daun pintu, tapi senyuman di bibir Harris terukir tulus tanpa beban. Sungguh berbanding terbalik dengan wajah kusut letih dan lesunya.


Harris tertawa kecil melihat keacuhan Keara. Dari dua chat terakhir yang dikirim gadis ini terlihat jelas dia senewen karena kesibukan Harris. Tapi sekarang ia sok tidak peduli. Menggemaskan. Sayangnya, Harris sudah tidak punya cadangan energi untuk menggoda Keara.


Tiga hari ini kesibukannya sangat menyita waktu. Hingga ia tak sempat berkomunikasi intens dengan Keara. Kerinduannya yang membuncah membuatnya langsung melesat ke bandara. Aswin lah yang kebagian getahnya, harus cekout hotel dengan membawa barang-barang milik Harris.


"Ayo keluar K, temani aku makan. Aku belum makan dari pagi waktu Hongkong. Sekarang laper banget dan jetlag pula.."


"Setelah makan, kita pergi ke mall, beli hape baru untuk kamu.. Yang bisa dipakai komunikasi kalau aku harus pergi ke luar negeri.."


"Biar kamu gak ngambek lagi.. pake bilang aku pergi ke antartika.."


"Siapa yang ngambek..?" Keara mencibir kesal. Sekaligus sebagai kamuflase hatinya yang merasa lega. Lega sudah bisa melihat seseorang yang memenuhi hati dan pikirannya, entah dengan tendensi apa. Sebagai sahabat? Atau sebagai teman dekat?


"Iyaa.. ya udah. Sekarang temani aku makan K.. Please..." pinta Harris dengan wajah memelas.


"Tapi... Aku juga lagi makan di dalem....."


Kedatangan ibuk membuyarkan percakapan mereka.


"Loh ada nak Harris? Kok gak diajak masuk malah ngobrol di depan pintu? Gimana to K...?"


"Iya nih, Bu.. Keara gak peka banget memang.." sahut Harris. Dan langsung mendapat pelototan dari Keara.


"Masuk sini Mas.. Jangan kayak orang minta sumbangan." Keara membelit lengan kekar Harris dan menariknya masuk.


Jangan tanya perasaan Harris. Hanya digandeng lengannya saja, jantungnya sudah melompat-lompat gak karuan, sampai keluar dari tempat semestinya.


"Mas Harris mau makan disini? Ga apa apa kan, Buk?" tanya Keara sekaligus pada dua orang di dekatnya.


"Ya gak apa-apa.. Ayo nak Harris.. Kalau gitu langsung ke meja makan aja, Ayo. Monggo masuk.." ujar ibuk sambil mendahului masuk ke dalam.


"Gimana? Mas mau gak?" tanya Keara dengan nada berbisik.


"Ya mau lah K..." jawab Harris, dengan mengesampingkan rasa malunya. Makan malam bersama keluarga Keara? Jelas ini momen yang ia tunggu-tunggu dan tidak akan ia lewatkan begitu saja.


...****************...


🌹 Happy reading


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih


...****************...