
Harris memutar kemudinya. Ia berbalik arah. Urung menuju ke rumah, ia putuskan untuk datang ke perusahaan salah satu rekanannya. Ia mantap ingin menuntaskan masalah yang bisa saja menggerogoti keutuhan rumah tangganya.
Terngiang kembali ucapan ayah mertuanya sesaat tadi sebelum pria tua itu meninggalkan kantornya.
"Tolong jaga putriku. Dia terlihat sangat bahagia dan sangat mencintaimu. Tapi ada orang lain yang berusaha mengusik kebahagiaan kalian. Aku tidak rela putriku bersedih karenanya. Aku akan menjaganya dengan caraku. Tapi aku yakin, kamu bisa melindunginya dengan cara yang lebih baik."
Entah mertuanya itu hanya berpura-pura baik atau memang benar-benar sudah bertaubat. Harris tidak ambil pusing. Dia hanya ingin urusannya dengan David Soehandoko dan tante Martha selesai secepatnya. Harris ingin mengenyahkan dua manusia itu dari kehidupannya untuk waktu yang sangat lama.
Harris melangkah tanpa keraguan. Menapaki lantai marmer sebuah perusahaan kontruksi terbesar di kota ini. Ia mendekati meja resepsionis dan meminta langsung dipertemukan dengan presiden direktur perusahaan tersebut. Beruntung, Harris bukanlah orang biasa yang bisa diremehkan kehadirannya. Karena kalau orang biasa meminta bertemu dengan presdir, tentunya akan melalui proses berbelit-belit, bahkan bisa saja dilarang untuk bertemu langsung.
Resepsionis tersebut mendial sebuah nomor. Tak lama kemudian mempersilahkan Harris memasuki gedung. Resepsionis itu pun dengan cekatan mengantarkan Harris menuju ruangan yang akan menjadi lokasi temu dengan sang Presdir.
"Silakan masuk, Tuan.. Presdir ada di dalam." ucap sang resepsionis sebelum meninggalkan Harris di depan sebuah pintu kayu besar nan kokoh.
Harris mengangguk singkat dengan ekspresi datarnya. Lantas mengetuk dua kali pintu di hadapannya sebelum membukanya.
Seorang pria tua dengan wibawa yang tidak perlu diragukan lagi berdiri menyambut Harris. "Mimpi apa saya semalam, tiba-tiba kedatangan tamu istimewa. Pak Harris Risjad. Enterpreneur muda dan berbakat di negara ini." ucapnya seraya menjabat tangan Harris.
"Pak Handoko terlalu memuji saya. Saya belum ada apa-apanya dibandingkan anda."
"Apa maksud anda soal usia?" kelakar Pak Handoko.
"Bukan Pak. Tapi soal kematangan." balas Harris.
"Hahaha.." dua orang beda generasi itu pun tertawa terbahak-bahak.
Harris dipersilakan duduk di sofa di ruang kantor Presdir PT. Handoko Build corp. Benar. Harris saat ini berada di perusahaan inti Handoko grup. Ia mendatangi langsung ayah dari David Soehandoko, sekaligus pemilik perusahaan kontruksi Handoko grup. Lelaki yang dengan sadar ingin menjadi duri dalam rumah tangganya.
Setelah berbasa-basi membicarakan bisnis dan kerja sama yang sudah terjalin antara perusahaan Harris dan Pak Handoko, Harris merasa tak bisa menunda topik utama yang mengantarkannya kemari.
"Sebenarnya ada hal penting di luar urusan perusahaan yang perlu saya bicarakan dengan anda pak.." ujar Harris memutus perbincangan basa basi yang tidak penting baginya.
Pak Handoko mengernyit. "Silakan Pak Harris. Hal apa yang membawa anda kemari?"
"Tentang putra anda. Pak David Suhandoko."
Pak Handoko semakin mengernyit. Kepalanya sedikit maju untuk memberi perhatian lebih pada Harris. "Apa David bertingkah tidak menyenangkan pada anda? Anak itu memang belum bisa profesional. Pengalaman bisnisnya masih jauh di bawah Anda. Dia juga terlalu dimanjakan sejak kecil.. Jadinya begitu. Suka seenaknya. Hehehee.."
Pak Handoko masih mencoba mencairkan suasana. Dia belum mengerti situasi sebenarnya.
Harris hanya melempar seringai sebagai tanggapan. Harris sungguh enggan berbasa-basi lagi. Dia mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan bukti-bukti yang ia miliki pada pak Handoko.
Harris mengeluarkan bukti berupa foto, video pengakuan Alex bahwa dia dibayar oleh David untuk memata-matai Keara, juga rekaman percakapan rencana licik antara David dan Martha. Pak Handoko menyimak dengan seksama semua bukti yang dijabarkan di hadapannya. Perlahan terlihat jelas gurat kemarahan di wajah renta itu. Telinga dan wajahnya memerah, serta tangannya terkepal erat.
"Dasar anak breng*sek!! Sampai sebesar itu hanya wanita saja di otak kotornya itu. Tidak pernah belajar bisnis dengan serius. Memalukan! Mencoreng nama baik orang tua!!" geram Pak Handoko.
Harris mendengar rentetan kalimat umpatan kekecewaan dari seorang ayah pada putranya itu dengan sabar dan tanpa melempar reaksi apapun. Ia sungguh ingin melihat seserius apa pak Handoko akan menangani anaknya. Kesalahan David memang fatal, dan Harris bisa saja melaporkan David ke polisi. Tapi dia lebih memilih jalan lain. Tanpa polisi. Dan yang pasti tanpa media, yang bisa saja semakin memperkeruh suasana.
"Pak Harris, saya akan mengurus David. Anda tenang saja. Anak bodoh itu tidak akan mengganggu keluarga anda lagi. Saya pastikan itu."
"Boleh saya tau apa tindakan anda untuk mengatasi masalah ini Pak Handoko?"
"Saya akan mengirimnya jauh dari negara ini. Saya akan pantau sendiri anak itu. Saya yang akan menjamin, Pak Harris. David tidak akan pernah menemui istri anda lagi. Anda bisa mempercayai ucapan saya." tegas Pak Handoko.
Harris mengangguk pelan. Ia sebenarnya bukan orang yang mudah mempercayai orang lain. Tapi ia yakin, pak Handoko pasti bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Itu semua karena bisnisman senior seperti pak Handoko pasti lebih memilih menyingkirkan anaknya daripada mengorbankan bisnis yang sudah susah payah ia bangun bertahun-tahun.
Bukan hanya resiko kehilangan satu klien sekelas Harris Risjad taruhannya. Namun juga nama baik perusahaannya. Karena kalau Pak Handoko tidak menangani David dengan serius, bukan mustahil kalau Harris bisa saja melaporkan kejahatan David pada polisi. Melihat begitu banyak dan nyata bukti yang dibawa Harris hari ini. David Soehandoko, penerus tahtanya itu, tidak hanya akan menjadi tahanan polisi, tapi juga bulan-bulanan wartawan berita.
Harris melenggang keluar dari kantor presdir perusahaan properti terbesar di kota ini dengan perasaan lega. Satu tikus berhasil ia singkirkan. Tinggal satu tikus lagi yang tersisa. Dia tidak ingin memelihara masalah dalam rumahnya. Dia tidak ingin keutuhan dan keharmonisan keluarganya menjadi taruhan.
Tepat setelah Harris memasuki mobil, ponselnya berdering dan nama wanitanya tertera di layar.
"Assalamualaikum, sayang.."
"Waalaikumsalam, mas.. Mas Harris kemana?? Kenapa terlambat pulang? Kenapa gak kasih kabar? Biasanya jam segini sudah di rumah. Cepetan pulang mas.." renteten kalimat dengan nada cemas meluncur begitu saja dari mulut Keara. Harris tersenyum seraya menggelengkan kepala. Ia bahkan tidak diberi kesempatan menjawab semua pertanyaan istrinya.
"Iya, sayang... Ini sudah di......"
"Mas, ada polisi di rumah kita. Cepet pulang. Aku takut, sayang. Ada apa sebenarnya..?"
"Apa? Polisi?"
......................
Nyicil up yaa kaka.. Terima kasih yang masih setia sama mas Harris dan Keara. Lovvveeee yoouuu sekebon 💙💙💙
🌹 Happy reading
🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉
🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih