Suami Untuk Keara

Suami Untuk Keara
Adik Ipar


🌹 PT. Swadaya,


Di ruangan General Manager


"Saya dapat laporan, kalau kerjaan kamu banyak yang keteteran dan gak beres." ucap Mery, selaku GM PT. Swadaya pada Manager Marketing perusahaan. Yang sekaligus adalah adik iparnya. Nico Dirgantara.


"Ehmm Maaf, Bu.. saya sudah berusaha semaksimal mungkin.." jawab Nico retoris. Dalam hati dia menyadari kekeliruannya. Kak Mery pasti dapat laporan dari sekretarisnya. Pasalnya kemarin saat deadline penyerahan file hasil evaluasi penjualan perusahaan tahunan, Nico malah keluar kantor dari jam 10 siang sampai jam empat sore baru kembali ke kantor. Itupun file yang diminta belum selesai ia revisi.


"Bagaimana usaha maksimal kamu?"


"Ada beberapa kendala, saya butuh tambahan waktu untuk revisi laporannya." ujar Nico. Dia terus menundukkan kepala dengan jemari kedua tangan saling memilin di depan badannya. Dia tentu tidak punya nilai tawar yang mumpuni. Kesalahannya kali ini fatal.


"Deadlinenya sudah lewat kemarin. Dan hari ini kamu masih minta tambahan waktu?? Waras kamu?" Mery tersulut emosi. Dia tidak sedang datang bulan, tetapi berurusan dengan Nico selalu membuatnya naik pitam. Sekecil apapun kesalahan Nico, dia tidak segan segan menegur dengan emosi bersungut-sungut.


"Maaf Bu, ini kesalahan saya." Nico jelas tidak punya pilihan lain selain mengakui kesalahannya.


"Kemarin driver yang biasa antar jemput Ara ambil cuti mendadak, Mayra juga ada sidang. Sehingga saya harus menjemputnya dari sekolah."


Mery semakin tersulut emosi. Dia menggebrak meja dan langsung berdiri. "Kita lagi bicara secara profesional disini. Tidak ada yang mau tau urusan rumah tangga kamu!"


Nico semakin menundukkan wajahnya.


"Kalaupun saya terima alasan kamu jemput anak di sekolah, Memangnya sampai menghabiskan waktu enam jam??" imbuh Mery.


Nico tidak bisa berkata-kata. Kemarin dia menghabiskan waktu yang cukup lama karena makan siang dan bertemu Keara. Tapi itu jelas bukan alasan rasional untuk diutarakan.


"Mau berkilah apa lagi kamu?"


"Jangan mentang-mentang papa yang kasih kamu posisi ini kamu jadi seenak jidatmu saja. Kerja gak tepat waktu. Laporan gak ada yang beres. Cuma nyumbang nama doang kamu disini? Begini cara kamu balas budi buat kebaikan papaku??" murka Mery.


"Sekali lagi saya minta maaf. Saya janji kesalahan semacam ini tidak akan terulang lagi.." ucap Nico lirih, namun tegas.


"Kamu ingat sudah berapa kali kamu mengatakan ini?" Mery berjalan mendekati Nico yang sedang berdiri tertunduk. Seraya melipat tangannya bersedekap di dada.


Nico mengangkat wajahnya demi melihat sorot tajam penuh amarah Mery. Namun hanya sepersekian detik. Nico menundukkan pandangannya lagi. Dia sadar, ini bukan kali pertama dia tidak menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Tapi sepertinya ini kemarahan Mery yang terdahsyat.


"Apa kami berlebihan meminta imbalan padamu kontribusi untuk perusahaan ini? Di saat papa dengan mudahnya memberi kamu jabatan selevel manager, tanpa merangkak dari bawah, mengalahkan senior-senior kamu yang pendidikannya lebih tinggi dibanding kamu. Dan yang pasti lebih kompeten daripada kamu. But see..? Begitu mudahnya kamu menyepelehkan amanah papa saya?" Mery tersenyum, namun senyum sarkas dengan aroma mengejek.


"Tidak Bu.. Ini murni kesalahan saya. Saya janji ke depannya akan lebih baik lagi."


Mery sudah akan membuka mulutnya, tapi dering telepon interkom membuyarkan rencananya. Mery menyambar gagang telepon.


"Jangan ganggu saya dulu." ketus Mery. Dia masih ingin melanjutkan cercaannya pada Nico.


"Maaf Bu, hanya mau menginformasikan kedatangan Pak Arman dari PT. MDFirst. Ibu minta saya langsung menghubungi kalau pak Arman datang." jawab lugas Dewi, sekretaris GM.


Mery memang menyuruh Dewi menelepon dulu kalau Arman datang. Tapi dia tidak mengira kalau kedatangan Arman bersamaan dengan adanya Nico di ruangannya.


Mery melirik Nico. Kemudian menimbang dengan nalarnya. Apa yang harus ia lakukan kalau dua lelaki ini saling bertemu di kantornya? Kalau ia menyuruh Nico keluar sekarang, sama saja akan membuatnya bertemu Arman di depan sana.


Sejak ia tau Arman adalah kakak Keara beberapa waktu lalu, Merry selalu menghindari bertatap muka dengan Arman. Ia tak lagi gencar mendekati pria itu. Justru terkesan menjauhi. Sekarang ia ingin menghadapi masalah itu. Apapun reaksi Arman nanti, ia ingin meminta maaf dan apapun itu akan ia lakukan demi Arman.


"Saya sedang ada tamu, bersyukur kamu saya ga memperpanjang masalah." ujarnya pada Nico.


Nico mengangguk pelan. Tak berani bersuara sedikitpun.


"Serahkan laporan kamu ke Dewi jam satu siang ini. No more extention time!" ujar Merry lugas. Tepat di depan wajah Nico.


Bersamaan dengan terlontarnya kalimat terakhir Merry, pintu ruangannya terketuk dua kali dan menyembullah wajah Arman setelahnya.


"Maaf Bu Mery, saya bisa tunggu di luar kalau Bu Mery masih sibuk." ucap Arman.


"Engga, Man.. Gak apa-apa. Aku udah selesai kok." Mery lalu memberi kode dengan tangannya agar Nico keluar dari ruangannya.


Dalam hatinya, ia menunggu momen bertemunya Arman dan Nico. Hatinya berdebar hebat. Mery terus bersedekap demi menahan gejolak di dadanya. Dia yakin Arman akan sangat terkejut mengetahui Nico bekerja di perusahaan ini. Lebih-lebih, Arman pasti shock mengetahui Nico adalah adik ipar Mery.


Begitu Nico berbalik badan, netranya langsung bertemu pandang dengan Arman, yang sedang berjalan mendekat ke meja Mery. Arman langsung menghentikan langkahnya. Terpaku memandang Nico. Begitupun dengan Nico.


"M-mas Arman?" Nico dan Arman sama-sama menampakkan ekspresi terkejut. Tidak menyangka akan bertemu di suasana awkward begini. "Apa kabar Mas?"


Arman menyunggingkan sebelah sudut bibirnya, sangat tak bersahabat. Lelaki itu secara terang-terangan menolak bersalaman dengan Nico. Sehingga tidak ada alasan bagi Nico berlama-lama di ruangan General Manager.


"Dia sebagai apa disini?" tanya Arman pada Mery begitu bayang Nico tak terlihat lagi.


"Manager Marketing." jawab Mery singkat.


"Wah keren juga.." Arman menganggukkan kepalanya.


Arman mengambil dokumen di tasnya, "Ini laporan progress project bulan ini, Bu.. Pak Daniel menyampaikan maaf tidak bisa datang kemari sendiri."


"Tidak masalah, Man.." Mery melangkah kembali ke kursi tahtanya. Arman pun duduk di kursi di hadapan Mery.


"Saya perlu tanda tangan Bu Mery di sana."


Merry mengangguk seraya membaca laporan yang baru disodorkan Arman. Setelah dirasa cukup memahami isi laporan, Merry membubuhkan tanda tangannya. Mengcopy laporan tersebut dan memberikannya kembali pada Arman.


"Ada yang perlu kamu tau Man.. Saya ga mau nutup-nutupin lagi." kalimat Merry menghentikan Arman yang hendak beranjak.


Arman menaikkan alisnya tanda tak mengerti.


"Nico. Cowok yang kamu lihat tadi. Ehmm.. Dia.. dia itu adik ipar aku."


...----------------...


...----------------...


🌹 Happy reading


🌹 jadikan favorit kamu yaa.. biar update teruus kalau ada chapter baru 😉


🌹 klik like, komen, beri hadiah dan vote ... terima kasiih