RATU IBLIS

RATU IBLIS
Pulang Ke Dunia Bawah


Xiao Ziya, Lee Brian, dan Min Yuzang sampai di ruang makan utama yang ada di kastil pemimpin malaikat kematian. Lee Brian duduk di sebuah kursi yang disiapkan khusus untuknya sedangkan Ziya dan Min Yuzang duduk bersebelahan.


Setelah itu belasan pelayan masuk dengan membawa nampan berisikan berbagai macam makanan. Para pelayan menata makanan itu dengan rapi di atas meja makan.


Xiao Ziya dan yang lain mulai menyantap makanan yang telah disediakan, tidak ada pembicaraan diantara mereka bertiga selagi sibuk dengan makanan masing-masing. Lee Brian terlihat beberapa kali melirik ke arah Xiao Ziya dan tersenyum saat melihat keponakannya makan dengan sangat lahap.


"Makanlah perlahan, tidak ada yang ingin merebut makanan milikmu keponakan ku." tegur Lee Brian dengan suara pelan.


Xiao Ziya hanya menganggukkan kepalanya. Setelah beberapa menit berlalu akhirnya mereka selesai makan dan para pelayan kembali masuk ke dalam ruang makan untuk membereskan dan membawa pergi piring dan gelas kotor yang ada di sana.


"Ada sesuatu yang ingin saya katakan pada paman." ucap Xiao Ziya dengan sedikit raut wajah tegang. Entah pemintaan kali ini akan disetujui sang paman ataukah tidak.


"Ada apa keponakan ku?." tanya Lee Brian yang merasa penasaran. Mungkin ada hal penting yang ingin disampaikan oleh keponakannya.


"Sepertinya saya harus segera kembali ke dunia bawah, ada beberapa urusan yang harus segera diselesaikan. Tidak baik jika saya terlalu lama tinggal di sini dan menelantarkannya urusan tersebut." ucap Xiao Ziya.


Lee Brian langsung terdiam, pria itu sedang mempertimbangkan permintaan dari Xiao Ziya untuk kembali ke dunia bawah sesegera mungkin. Lee Brian mengerti banyak hal yang harus dilakukan oleh keponakan kesayangannya itu, dan dia tidak bisa menahan Xiao Ziya terlalu lama untuk tinggal di dunia tempat para malaikat kematian.


"Baiklah persiapkan dirimu, hari ini juga paman akan mengantar mu kembali ke dunia bawah." jawab Lee Brian dengan berat hati.


"Terimakasih paman, Ziya permisi terlebar dahulu." pamit Xiao Ziya. Gadis itu bergegas pergi meninggalkan ruang makan utama Kastil Pemimpin Malaikat Kematian.


Setelah kepergian Ziya suasana di dalam ruang makan kembali menjadi hening, Lee Brian sedang larut dalam pikirannya sedangkan Min Yuzang sangat mengerti apa yang sedang difikirkan oleh sang pemimpi.


"Saya mengerti bagaimana perasaan Tuan Lee Seung pada Nona Muda Xiao Ziya, saya harap Tuan memahami batasan diantara kalian. Untuk kehidupan yang sekarang Anda cukup menjaganya dari jauh, jangan memaksakan ego Anda untuk menahannya." tegur Min Yuzang.


"Ini bukan rasa egois saya untuk memilikinya, saya khawatir pemuda lain akan menyakitinya seperti pada kehidupan kehidupan sebelumnya." jawab Lee Brian dengan senyuman tipis.


Min Yuzang menghela nafas panjang, cukup rumit hubungan antara paman dan keponakan diantara Lee Brian dan Xiao Ziya. Di masa lalu keduanya adalah sepasang kekasih yang saling mencinta, mereka bahkan sudah menikah. Min Yuzang mengetahui semua itu karna Lee Brian sendiri yang bercerita padanya.


"Semoga Tuan bertemu dengan gadis itu dikehidupan mendatang dan ditakdirkan menjadi sepasang kekasih." balas Min Yuzang.


Di sisi lain saat ini Xiao Ziya sudah masuk ke dalam kamar yang dia tempati selama tinggal di Kastil Pemimpin Malaikat Kematian. Ziya membereskan beberapa barang miliknya yang ada di dalam kamar tersebut.


"Kamar ini sangat nyaman untuk saya tempati, akan tetapi semua ini bukanlah milik saya." ucap Xiao Ziya dengan suara pelan.


Ziya memasukkan semua barang barangnya ke dalam cincin semesta. Setelah itu ia bergegas keluar dari kamar untuk menemui sang paman yang akan mengantarnya kembali ke Dunia Bawah.


Baru saja membuka pintu kamar tersebut Xiao Ziya dikejutkan dengan keberadaan Min Yuzang yang sudah berdiri tegak dan hendak mengetuk pintu kamar tersebut.


"Saya yang akan mengantar Adik Ziya kembali ke Dunia Bawah. Saat ini Tuan Lee Brian memiliki urusan penting yang tidak bisa ia tinggalkan." ucap Min Yuzang.


"Ah baiklah saya akan kembali bersama Yuzang Gege, sebelum itu saya harus pamit pada paman." jawab Xiao Ziya yang ingin pergi ke ruang kerja pamannya.


Min Yuzang langsung menarik tangan gadis itu dan membawanya menuju halaman depan kastil tempat tinggal Pemimpin Malaikat Kematian. Xiao Ziya hanya pasrah ketika ditarik oleh sang malaikat kematian berambut merah.


"Mengapa Yuzang Gege menarik tangan Ziya?." tanya Xiao Ziya, ia merasa sedikit kesal mendapat perlakuan seperti itu.


"Saya tidak ingin Nona Ziya mengganggu Tuan Lee Brian. Sebaiknya kita pergi sekarang, pegang tangan saya erat-erat." jawab Min Yuzang. Alasan yang pria itu katakan tidak bisa diterima oleh akal sehat Xiao Ziya.


Akhirnya Ziya memilih untuk mengalah, ia menggenggam tangan Min Yuzang dengan erat beberapa saat setelahnya mereka melintasi dimensi ruang dan waktu dengan sangat cepat.


"Saya tidak bisa mengantar kepergian mu, sampai jumpa di lain waktu keponakan ku." ucap Lee Brian yang saat itu menatap kepergian Xiao Ziya dari jendela ruang kerjanya.


Selama perjalanan lintas dimensi Xiao Ziya hanya diam dan memperhatikan kondisi sekitar, sepertinya teleportasi yang ia lakukan dan para malaikat kematian lakukan memilih beberapa perbedaan yang sulit untuk dijelaskan.


"Sebentar lagi kita akan sampai Nona Ziya, saya tidak bisa mengantar Anda langsung ke Istana Kerajaan Binglin. Saya akan menurunkan Anda di depan gerbang perbatasan." ucap Min Yuzang.


Apa yang dikatakan Min Yuzang benar adanya, mereka berdua tiba-tiba muncul di depan gerbang perbatasan Kerajaan Binglin. Para prajurit penjaga gerbang yang baru saja bekerja beberapa hari lalu terkejut dengan kemunculan Ziya dan seorang pria asing.


"Terimakasih telah mengantarkan saya pulang dengan selamat Tuan Min Yuzang, tolong Sampai pada paman Lee Brian untuk datang mengunjungi saya di waktu senggangnya. Berikan kotak kayu ini pada paman." ucap Xiao Ziya yang baru saja mengeluarkan sebuah kotak kayu berukuran sedang dari dalam cincin semesta miliknya.


"Baik Nona Ziya. Tuan Lee Brian berpesan agar Anda bisa mengendalikan kekuatan dengan baik. Saya pamit." setelah mengucapkan kalimat itu Min Yuzang langsung menghilang dari hadapan Xiao Ziya.


Para prajurit penjaga perbatasan saling bertatapan satu sama lain, beberapa diantara mereka berasal dari luar wilayah Kerajaan Binglin karna itu ada yang tidak mengenali wajah Xiao Ziya.


"Permisi apakah Nona Muda ada keperluan dengan seseorang dari wilayah Kerajaan Binglin? tolong tunjukkan token identitas Anda sebelum masuk ke dalam." ucap salah seorang prajurit penjaga perbatasan dengan sopan.


"Apakah kalian berasal dari luar wilayah?." tanya Xiao Ziya yang sedang menatap ke arah beberapa penjaga perbatasan satu-persatu.


"Kami berasal dari daratan timur dan mulai bekerja di sini empat hari yang lalu, maaf jika kami lancang pada Nona Muda. Kami hanya melakukan pekerjaannya sesuai dengan aturan yang ada." jawab salah seorang prajurit penjaga gerbang.


Xiao Ziya tersenyum dan mengambil token identitasnya sebagai pemilik Klan Xiao, sang prajurit yang menerima token tersebut gemetaran. Para prajurit penjaga perbatasan secara serempak membungkukkan badan di hadapan Xiao Ziya.


"Selamat datang kembali Nona Muda Xiao Ziya, kami pernah mendengar cerita Anda dari Tuan Muda Xiao Yan dan juga beberapa anggota keluarga kerajaan. Maaf karna kami tidak mengenali Anda barusan." ucap para prajurit perbatasan. Mereka sadar telah membuat kesalahan besar dan berharap sang Nona Muda tidak memecat karna kesalahan itu.


"Kalian tidak sengaja melakukannya, segera bukakan gerbang saya ingin pergi ke istana untuk beristirahat." perintah Xiao Ziya. Meskipun gadis itu tidak marah, tatapan dingin yang dia arahkan pada para prajurit perbatasan membuat mereka semua merinding ketakutan.


Tanpa menunggu waktu lama gerbang perbatasan terbuka dengan lebar dan Xiao Ziya bergegas masuk ke dalam. Gadis itu melewati senuah desa yang sangat dekat dengan perbatasan, para penduduk yang menyadari kepulangan sang Nona Muda langsung membungkukkan badan di sepanjang jalan.


"Selamat datang kembali ke Wilayah Kerajaan Binglin, kami semua menyambut kepulangan Anda." ucap para pendiri secara serempak.


"Terimakasih sambutan hangatnya, bagaimana kabar kalian beberapa hari belakangan ini??" tanya Xiao Ziya.


"Kami semua dalam kondisi baik-baik saja, kami sangat menghawatirkan Nona Ziya yang tak kunjung kembali." ucap para pendukung desa.


"Saya memiliki beberapa pekerjaan di lapisan dunia lain, perlu waktu yang cukup lama untuk menyelesaikan semua pekerjaan itu. Saya datang kesini untuk mampir sebentar dan mengumumkan Xiao Yan sebagai Raja Kerajaan Binglin." jawab Xiao Ziya.


"Semoga Nona Muda selalu diberi keselamatan dimanapun Anda berada. Silahkan Nona melanjutkan perjalanan menuju Istana Kerajaan, terimakasih telah memberikan respon pada sambungan orang orang kecil seperti kami." ucap sang kepala desa yang mewakili para penduduk.


"Sampai jumpa semuanya." balas Xiao Ziya.


Untuk mempercepat perjalanannya untuk sampai di Istana Kerajaan Binglin, Ziya memutuskan untuk melesat menggunakan kecepatan penuh. Akhirnya dalam satu kedipan mata gadis itu sudah sampai di depan gerbang utama Kerajaan Binglin.


Xiao Ziya menatap kebingungan ke arah tenda tenda yang didirikan di luar istana, tenda tersebut ditempati oleh para prajurit dan beberapa pelayan. Karna merasa penasaran akhirnya gadis itu mendekati salah satu tenda.


"Apa yang sedang kalian lakukan di sini?." tanya Xiao Ziya pada tiga orang prajurit yang sedang berjaga di luar tenda.


Prajurit itu menatap ke arah Xiao Ziya dengan tatapan bingung, kemungkinan besar mereka berasal dari dataran timur sama seperti para prajurit yang berjaga di gerbang perbatasan.


"Kami adalah para prajurit yang direkrut beberapa hari yang lalu. Kami semua belum bisa masuk ke dalam istana, Tuan Xiao Cunyu mengatakan di seluruh area Istana Kerajaan Binglin dikelilingi oleh sihir pembatas yang tidak bisa dimasuki semua orang. Sihir tersebut dibuat oleh putrinya yaitu Nona Muda Xiao Ziya, saat ini Nona Muda belum kembali dari rumah pamannya untuk menyelesaikan sebuah misi." jelas salah seorang prajurit dengan sangat rinci.


Mendengar penjelasan dari sang prajurit Xiao Ziya menepuk jidatnya pelan. Ia sampai lupa menghancurkan sihir pembatas sebelum dibawa pergi oleh sang paman. Saat itu kesadaran benar benar hilang dan dia tidak ingat apapun.


"Astaga saya lupa Raja Artur juga tidak akan mampu menghancurkan sihir penghalang itu." ucap Xiao Ziya dengan suara yang cukup kencang.


Spontan gadis itu menjadi puas perhatian para prajurit dan pelayan yang sedang melakukan aktivitas di luar tenda. Mereka sedang bertanya-tanya apakah si gadis cantik itu adalah Nona Muda Xiao Ziya. Jika itu benar maka penderita mereka semua selama beberapa hari akan segera berakhir.


"Saya akan pergilah untuk menemui yang lain sebelum membukakan akses untuk kalian masuk ke dalam." ucap Xiao Ziya.


Hai hai semua author balik lagi nih, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun makasih banget, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya guys.