
"Ada harga untuk setiap pertanyaan yang ingin nona tanyakan." ucap kakek itu dengan raut wajah serius. Sang kakek adalah seorang mata mata yang telah bekerja selama puluhan tahun, ia memiliki banyak informasi mengenai orang orang penting yang ada di Dunia Manusia Abadi, berbagai tempat yang ada di sana, serta benda benda langka yang sedang dicari oleh banyak orang.
Sebelum menanyakan tentang tempat terdingin yang ada di Dunia Manusia Abadi, Xiao Ziya terlebih dahulu membuat dinding pembatas agar pengunjung lain tak dapat mendengar pembicaraan diantara keduanya. Pria tua itu sangat kagum dengan sihir tingkat tinggi yang dimiliki oleh gadis muda di hadapannya itu, ia bisa merasa tenang saat memberikan informasi di tempat ramai seperti ini.
"Bisakah Tuan memperkenalkan diri terlebih dahulu? saya butuh kepastian bahwa informasi yang Anda berikan bukanlah omong kosong belaka." ucap Xiao Ziya yang memulai percakapan dengan raut wajah serius, ia tak keberatan mengeluarkan koin emas sebanyak apapun asalkan informasi yang diberikan benar benar nyata.
"Anda tak perlu mengetahui siapa nama saya, yang perlu Nona ketahui adalah semua informasi yang saya miliki bisa di percaya." ucap Pria itu dengan sorot mata tajam, Xiao Ziya bisa melihat kejujuran dari mata pria tua itu.
"Baiklah saya menginginkan informasi mengenai tempat terdingin yang ada di Dunia Manusia Abadi ini." ucap Xiao Ziya dengan santai, menurutnya informasi tentang tempat tempat yang ada di suatu lapisan dunia bukanlah hal yang akan dirahasiakan keberadaan.
Pria tua itu membelalakkan matanya setelah mendengar informasi apa yang dinginkan oleh gadis di hadapannya itu, wilayah terdingin yang ada di Dunia Manusia Abadi hanya diketahui oleh segelintir orang saja karna informasi mengenai tempat tersebut sangat dirahasiakan. Ada beberapa alasan mengapa orang yang mengetahui letak wilayah terdingin di Dunia Manusia Abadi memilih untuk merahasiakannya, alasan utama adalah rute yang harus dilewati sangatlah berbahaya dan banyak orang yang telah gugur saat dalam perjalanan. Bisa dibilang untuk sampai di tempat tersebut setidaknya harus memiliki izin dari para dewa, pemilik neraka, dan berbagai alam misterius lainnya. Pria tua itu menatap ke arah Xiao Ziya dengan tatapan ragu, gadis itu masih sangat muda dan memiliki masa depan yang panjang, sangat disayangkan jika ia harus mati sebelum sampai di tempat yang ingin ia tuju.
"Mengapa Tuan menunjukkan ekspresi seperti itu? apakah informasi yang saya inginkan sangat dirahasiakan?." tanya Xiao Ziya dengan tatapan curiga. Ada apa dengan wilayah terdingin di Dunia Manusia Abadi? mungkinkah wilayah tersebut memiliki tingkat kesulitan yang sangat tinggi untuk sampai di sana?.
"Sebelumnya saya ingin menanyakan mengapa Anda ingin pergi ke tempat tersebut." ucap pria tua itu, ia akan memberikan informasi tersebut pada gadis yang ada di hadapannya jika sang gadis memiliki alasan yang memuaskan.
"Sebelumnya biarkan saya memperkenalkan diri terlebih dahulu, saya Xiao Ziya dari dunia bawah yang kini memimpin Kerajaan Bulan. Saya ingin Tuan merahasiakan alasan saya pergi ke tempat tersebut, ini bukanlah sebuah permintaan namun perintah." ucap Xiao Ziya dengan sorot mata tajam, mata gadis itu berubah menjadi merah darah dan membuat si pria tua semakin terkejut.
"Anda pemimpin baru di kerajaan ini? maaf atas kelancangan saya pada Nona Besar." ucap pria tua itu yang tak pernah menyangka bahwa gadis cantik di hadapannya adalah Xiao Ziya yang namanya baru baru ini ramai dibicarakan oleh penduduk Kerajaan Bulan.
"Tuan tak perlu bersikap demikian terhadap saya, alasan saya ingin datang ke tempat itu untuk menemukan sisa jiwa dari nenek kandung yang tak pernah saya jumpai." ucap Xiao Ziya dengan nada dingin dan tatapan serius.
Pria tua itu terdiam sejenak saat mendengar alasan Xiao Ziya ingin pergi ke wilayah terdingin di Dunia Manusia Abadi untuk menemukan sisa jiwa dari neneknya?. Mungkinkah gadis bernama Xiao Ziya ini adalah cucu dari Yie Linyia yang sudah lama mati dan meletakkan sisa jiwanya di sebuah pedang yang saat ini berada di Elnz? jika benar gadis itu adalah cucu dari Yie Linyia maka pria tua itu akan memberikan informasi mengenai tempat tersebut secara gratis.
"Siapa nama nenek Anda?." tanya Pria tua itu, ia perlu bukti bahwa Xiao Ziya benar benar cucu dari wanita tersebut.
"Yie Linyia, hanya nama itu yang terdapat di sebuah gulungan tua yang saya buka pagi tadi." jawab Xiao Ziya dengan jujur pada pria tua tersebut. Akhirnya sang pria tua yakin bahwa Xiao Ziya adalah gadis yang ditakdirkan untuk pergi ke wilayah Desa Elnz.
"Begitu rupanya, baiklah saya akan memberikan sebuah peta letak wilayah terdingin di Dunia Manusia Abadi untuk Nona secara cuma cuma. Mungkin kita ditakdirkan bertemu hari ini agar saya bisa memberikan peta tersebut pada Anda." ucap pria tua itu dengan wajah tenang, akhirnya ia tak perlu mencari lagi siapa orang yang terpilih untuk pergi ke wilayah Desa Elnz dan sekarang tugasnya telah selesai. Pria tua tersebut menjalankan profesi sebagai mata mata dan penjual informasi bukan tanpa alasan khusus, saat ia masih muda ada seorang wanita yang datang padanya dengan tubuh bersimbah darah dan menyerahkan peta tersebut. Wanita itu berpesan agar sang kakek mencari seseorang yang ditakdirkan untuk mendapat peta itu.
"Anda mengenal nenek saya?." tanya Xiao Ziya, mungkin pria tua ini pernah bertemu dengan sang nenek ketika neneknya masih hidup.
"Nenek Anda datang menemui saya dan memberikan peta ini dalam kondisi tubuhnya dipenuhi dengan luka dan darah segar yg mengalir." ucap pria tua itu dengan sorot kata sedih karna mengenang kembali kejadian puluhan tahun yang lalu, ia merasa lega karna Xiao Ziya lah yang terpilih untuk bertemu dengan sisa jiwa wanita itu.
Xiao Ziya mengambil beberapa ramuan obat khusus dan benda benda lain yang ingin ia berikan pada pria tua itu, Ziya memasukkan semuanya kedalam sebuah kotak kayu dengan ukuran sangat besar mungkin dua kali lebih besar dari kotak kayu berisi hadiah yang ia berikan pada anggota Keluarga Kerajaan Bintang Timur. Setelah selesai memasukkan semua itu Ziya langsung mengeluarkan kotak kayu tersebut dari dalam cincin semesta kemudian ia serahkan pada si pria tua.
"Terimalah Tuan, ini sebagai tanda terimakasih saya karna Anda tak pernah berhenti mencari siapa orang yang dimaksud oleh nenek saya. Di dalam sana ada ramuan berwarna ungu muda, Anda bisa meminumnya langsung setelah saya pergi dari tempat ini. Sekali lagi saya ucapkan terimakasih untuk jasa jasa Anda." ucap Xiao Ziya kemudian gadis itu menghilangkan sihir pembatas.
Xiao Ziya berdiri dari tempat duduknya kemudian menundukkan kepala di depan pria tua itu, setelahnya Xiao Ziya pergi dengan membawa peta petunjuk wilayah terdingin di Dunia Manusia Abadi yang disebut dengan Desa Elnz. Setelah kepergian Xiao Ziya, pria tua itu langsung membuka kotak kayu yang ada di hadapannya karna penasaran dengan isi di dalam kotak kayu tersebut. Mata sang pria tua melebar karna banyak barang barang berharga yang diberikan oleh Xiao Ziya, tak lupa ia mengambil sebuah botol kaca kecil berisi ramuan berwarna ungu muda dan langsung meminumnya.
"Jika ini racun maka saya akan mati dengan hati tenang karna telah menyelesaikan tugas saya." ucap pria tua itu dengan senyuman lebar, mungkin saja Xiao Ziya ingin menghabisi nyawanya karna takut ia menyebarkan berita ini pada orang lain.
Setelah beberapa saat pria tua itu merasakan aura dingin yang masuk ke dalam tubuhnya, entah mengapa ia merasa tenaganya pulih kembali seperti saat ia masih muda dulu. Pria tua itu juga kebingungan karna pengunjung lain menatapnya dengan tatapan terkejut, ia tak tau apa yang terjadi pada dirinya hingga mengejutkan semua orang.
"Dimana pria tua yang memesan mie pangsit ini?." tanya seorang pelayan restoran sembari membawa nampan berisi mie pangsit beserta minuman.
"Saya ada di hadapan Anda." ucap pria tua itu yang semakin bingung karna pelayan di restoran itu tak mengenalinya.
"Maaf karna saya tak mengenal Tuan Muda, apakah Tuan Muda melihat pria yang duduk di meja sebelah sini?." tanya pelayan itu yang menyebut si pria tua dengan julukan Tuan Muda.
Karna semakin penasaran akhirnya pria tua itu mengeluarkan sebuah cermin kecil yang ia simpan di dalam saku celananya, ia melihat pantulan wajah tampan dari cermin tersebut. Seketika pria tua itu terkejut dan terjungkal kebelakang, bagaimana mungkin penampilannya berubah seperti saat ia berusia 20 tahun? jadi ramuan yang diberikan oleh gadis itu bukanlah racun melainkan ramuan untuk mengembalikan masa muda seseorang.
"Maaf karna saya sempat meragukan niat baik Anda Nona Xiao Ziya." ucap pria tua itu dengan senyuman tipis menghiasi wajah mudanya. Pria itu keluar dari restoran dengan perasaan bahagia, akhirnya ia bisa mendekati seorang gadis kemudian menikah.
"Haruskah saya mengikutinya?." ucap Yang Zu dengan senyuman penuh arti. Yang Zu mendekat ke arah gerbang belakang Istana Kerajaan Bulan, ia ingin melakukan hal yang sama seperti yang Xiao Ziya lakukan. Anehnya saat Yang Zu ingin melompat ke arah gerbang ada sebuah dinding sihir tebal yang membuatnya terpental dan jatuh.
"Argh sialan, mengapa gadis itu bisa masuk ke dalam sedangkan saya tidak." ucap Yang Zu dengan tatapan kesal, pemuda itu menggerutu karna tak bisa mengikuti gadis incarannya itu.
Xiao Ziya masuk ke dalam istana dengan santai, ia berjalan menuju kamarnya untuk beristirahat. Dari kejauhan ia melihat Ratu Jinha Zee yang menyamar sebagai pelayan membawakan nampan berisi makanan, karna malas berurusan dengan wanita itu akhirnya Xiao Ziya memilih untuk masuk ke dalam kamar dan menguncinya dengan rapat selain itu Xiao Ziya meminta beberapa prajurit untuk berjaga di depan kamarnya dan melarang siapa saja mengganggu waktu istirahat gadis itu.
Ratu Jinha Zee yang menyamar sebagai pelayan telah sampai di depan pintu masuk kamar Xiao Ziya, saat ia ingin mengetuk pintu seorang prajurit menghempaskan tangannya.
"Nona Ziya memberikan perintah agar siapapun tak mengganggu waktu Istirahatnya." ucap prajurit itu dengan tatapan datar yang ia berikan pada Ratu Jinha Zee yang sedang menyamar menjadi pelayan.
"Saya datang dengan membawa makanan kesukaan Nona Ziya, tolong izinkan saya untuk memberikan semua ini pada beliau." ucap Ratu Jinha Zee dengan tatapan memelas, untunglah hati para prajurit itu tak mudah luluh begitu saja.
"Maaf karna kami lebih menghargai perintah dari Nona Ziya daripada perasaan Anda. Silahkan kembali ke tempat Anda bertugas." ucap beberapa prajurit dengan tegas.
Ratu Jinha Zee merasa sangat kesal karna diusir oleh para prajurit rendahan itu, dulunya ia seorang ratu yang bisa melakukan apapun pada prajurit prajurit seperti mereka namun saat ini ia harus menahan diri demi keberhasilan rencana yang telah ia buat. Ratu Jinha Zee dengan sangat terpaksa kembali ke dapur dengan membawa makanan kesukaan Xiao Ziya, sedangkan di dalam kamar Ziya hanya mendengar pembicaraan antara para prajurit dengan wanita licik itu.
"Saya harus beristirahat sekarang kemudian berangkat esok pagi." ucap Xiao Ziya yang langsung membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur kemudian menutup mata perlahan, karna hari sudah sangat larut mungkin diperlukan waktu singkat bagi bulan untuk digantikan dengan matahari.
Saat ini Ratu Min Xunzi dan Raja Min Lunxi sudah sampai dan masuk ke dalam wilayah Kerajaan Bintang Timur, para penjaga gerbang mempersilahkan mereka masuk setelah melihat token identitas milik keduanya. Ratu Min Xunzi dan sang suami bergegas pergi menuju Istana Kerajaan Bintang Timur karna mereka tak ingin terlalu lama berada di tempat itu. Setelah sampai di depan gerbang masuk Istana Kerajaan Bintang Timur mereka melihat bendera putih yang sedang dikibarkan di depan istana dengan beberapa karangan bunga yang menghiasi di sepanjang jalan menuju istana tersebut.
"Permisi apa yang sedang terjadi di sini?." tanya Ratu Min Xunzi yang bertanya pada salah seorang prajurit penjaga gerbang.
"Saat ini Istana Kerajaan Bintang Timur sedang berduka karna kepergian Pangeran Xilian Zu." ucap prajurit penjaga gerbang itu dengan tatapan datar, tak ada prajurit ataupun pelayan yang merasa sedih atas kepergian Pangeran Xilian Zu.
"Siapa Pangeran Xilian Zu? saya belum pernah mendengar nama itu sebelumnya." ucap Ratu Min Xunzi dengan tatapan bingung, sepertinya sang kakak hanya memiliki empat orang anak saja dan diantara mereka tak ada yang memiliki nama Xilian Zu.
"Pangeran Xilian Zu adalah putra dari Selir Mue Zu." jelas sang prajurit dengan malas.
"Ah begitu rupanya, saya Min Xunzi adik dari Ratu Junyi Zu. Ini token pengenal milik saya, bolehkan saya masuk ke dalam bersama suami saya?." tanya Ratu Min Xunzi pada prajurit penjaga gerbang.
Sang prajurit melihat ke arah token identitas tersebut dan ia langsung mengenalinya. Prajurit itu meminta maaf karna sikapnya yang kurang sopan pada adik Ratu Junyi Zu, prajurit itu juga menjelaskan bahwa kematian Pangeran Xilian Zu adalah hal yang bagi untuk mereka yang bekerja sebagai prajurit ataupun pelayan karna sang pangeran sering bersikap semena mena.
"Lain kali bersikaplah lebih sopan pada siapapun yang datang untuk berkunjung ke Istana ini, pastikan terlebih dahulu identitas orang tersebut. Untunglah saya sedang tak ingin mencari masalah deng orang orang yang tak melukai Xiao Ziya." ucap Ratu Min Xunzi yang ingin masuk ke dalam istana karna gerbang sudah terbuka dengan lebar.
"Selir Mue Zu sering menghina Nona Ziya, ia beberapa kali ingin mencelakai nona. Kami sangat khawatir dengan konsisi Nona Ziya saat ini karna ia pergi dengan raut wajah sedih. Apakah Anda mengenal Nona Ziya?." tanya prajurit penjaga gerbang itu penuh dengan harapan.
"Saat ini Xiao Ziya dalam keadaan baik, ia pergi karna ada tugas lain yang harus diselesaikan. Kalian tak perlu cemas karna gadis itu memiliki banyak keluarga yang menyayanginya." jawab Ratu Min Xunzi kemudian masuk ke dalam tanpa mendengar kalimat selanjutnya dari sang prajurit.
Malam itu seluruh anggota Keluarga Kerajaan Bintang Timur berkumpul di halaman belakang istana untuk mengenang kematian Pangeran Xilian Zu dengan menyalakan seribu lilin. Selir Mue Zu memegang sebuah guci keramik yang berisikan jantung beku dari putra kesayangannya itu, sang selir belum bisa menerima bahwa Pangeran Xilian Zu mati begitu saja di tangan Putri Beiling Zu.
"Puas, apa kau puas melihat saya kehilangan salah satu anak saya." ucap Selir Mue Zu pada Putri Beiling Zu dengan suara yang cukup kencang. Sang putri hanya menatap datar ke arah Selir Mue Zu karna ia tak merasa bersalah atas kejadian itu.
"Seharusnya kau menghentikan peri sialan itu saat ia ingin menghancurkan tubuh putraku." ucap Selir Mue Zu dengan histeris. Ia begitu sedih, kesal dan kecewa.
"Jika bukan putra Anda yang mati maka sayalah yang akan berada di posisi ini. Saya yakin putra Anda juga memiliki niat untuk membunuh saya saat pertarungan itu berlangsung." jawab Putri Beiling Zu dengan nada dingin, ia tak peduli bagaimana tanggapan orang lain tentangnya nanti yang terpenting ia berhasil melindungi harga diri Adik Ziya yang sangat ia sayangi.
"Cukup, kalian tak perlu bertengkar saat seperti ini. Putri Beiling Zu, ayah harap kau bisa menahan dirimu agar tak membuat suasana semakin keruh." ucap Raja Yongling Zu, ia tak ingin acara ini menjadi berantakan karna pertengkaran antara Selir Mue Zu dengan Putri Beiling Zu.
"Cih." ucap Putri Beiling Zu yang merasa kesal dengan sang ayah, mungkin ayahnya merasa bersalah karna tak bisa melindungi Pangeran Xilian Zu namun itu bukan urusan sang putri.
Hai semuanya author balik lagi nih, gimana kabar kalian?. Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib, gift, like, komen, rate, share.