RATU IBLIS

RATU IBLIS
Mencarikan Tuan


Hari berganti dengan cepat kini pagipun telah datang, Xiao Ziya baru saja membuka matanya perlahan untuk menyesuaikan sinar matahari yang masuk kedalam kamar. Setelah semua nyawanya terkumpul Xiao Ziya bangun dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, setelah menggunakan seragam master yang ia miliki Xiao Ziya berjalan keluar dari kamar ia akan menemui sang naga hijau.


Tok tok tok


Suara pintu kamar tamu yang diketuk oleh Xiao Ziya, tak lama setelah itu pintu kamar tamu terbuka dan menampakkan sesosok pria dengan rambut berwarna hijau yang diikat kebelakang. Xiao Ziya menatap pria itu dengan keheranan bukankah semalam yang menginap di kamar tamu adalah si naga hijau mengapa bisa berganti menjadi sesosok pria.


"Jadi kau tuan naga hijau?." tanya Xiao Ziya yang menunjuk ke arah pria itu.


"Selamat pagi nona Ziya, saya adalah naha hijau. Trimakasih karna mengizinkan saya untuk menginap di istana anda." ucap pria itu yang membungkuk dengan sopan pada Xiao Ziya.


Setelah itu Xiao Ziya mengajak pria yang merupakan jelmaan dari naga hijau untuk keluar dari Istana Kekaisaran Qiyu.


"Apa kau tak memiliki nama?." tanya Xiao Ziya yang sedikit tak nyaman jika harus memanggil pria yang berjalan di sampingnya dengan sebutan naga hijau.


"Ketika saya dalam wujud manusia biasanya mereka memanggil saya dengan sebutan Genzo." ucap pria itu yang memperkenalkan dirinya pada Xiao Ziya lagi.


"Baiklah tuan Genzo sebelum kita pergi untuk mememui teman teman saya sebaiknya kita sarapan terlebih dahulu." ucap Xiao Ziya yang masuk kesebuah kedai. Suasana kedai itu cukup ramai karna banyak penduduk yang membeli makanan untuk mereka sarapan.


Beberapa pengunjung wanita dan gadis muda menatap ke arah pria berambut hijau yang ada di samping Xiao Ziya, mereka bertanya tanya mengapa Xiao Ziya selalu dikelilingi oleh pria dan pemuda yang tampan. Hal itu membuat banyak wanita dan gadis yang merasa iri pada Xiao Ziya.


"Pria yang ada di samping nona Ziya sangatlah tampan, apakah ia tamu kekaisaran?." tanya salah seorang pengunjung wanita yang penasaran dengan asal usul Genzo.


"Seandainya saya bisa seberuntung nona Ziya." ucap seorang gadis yang mematap Xiao Ziya dengan tatapan iri yang tak bisa ia sembunyika.


Xiao Ziya duduk di salah satu bangku yang kosong, Genzo duduk di sebelah Xiao Ziya. Melihat gadis muda yang ada di hadapannya tetap tenang walau sedang menjadi pembicaraan banyak orang yang ada di kedai itu membuat Genzo semakin kagum dengan sosok Xiao Ziya, seandainya ia tak terlambat mengenal gadis itu mungkin saat ini ia bisa menjadi salah satu hewan pengikut setia Ziya.


"Pesanlah apa yang ingin anda makan, tak perlu sungkan." ucap Xiao Ziya yang meminta pada Genzo untuk memesan makanan yang ingin pria itu makan. Xiao Ziya memesan dua potong roti isi sayuran, satu prosi daging asap, serta minuman segar.


Setelah mereka berdua memesan makanan, Xiao Ziya menanyakan beberapa hal pada Genzo mengenai dunia yang ditinggali oleh para hewan ilahi. Selama ini yang Xiao Ziya ketahui para hewan dengan tingkatan tinggi pasti berasal dari dunia dewa ataupun alam neraka saja ternyata mereka memiliki dunianya sendiri.


"Dahulu kami para hewan ilahi hidup dengan tenang di dunia kami sendiri, namun sudah lama dunia yang kami tempati diambil alih oleh beberapa orang yang menyebut diri mereka sebagai tangan kiri sang pencipta." ucap Genzo yang menceritakan garis besarnya saja pada Xiao Ziya karna ia yakin gadis itu akan mengerti walau penjelasan yang ia berikan tak terlalu rinci.


"Apa mereka juga seorang kultivator?." tanya Xiao Ziya yang mengajukan pertanyaan lagi pada Genzo.


"Sepertinya mereka seorang kultivator yang jauh lebih kuat daripada para dewa." ucap Genzo yang ingat bagaimana orang orang itu menyerangnya saat ia dan teman temannya berusaha untuk mempertahankan dunia mereka.


"Suatu saat jika saya memiliki kesampatan maka saya akan datang kedunia para hewan ilahi itu, akan saya kembalikan apa yang seharusnya menjadi hak kalian." ucap Xiao Ziya yang memiliki sebuah keinginan untuk memerdekakan para hewan ilahi yang kehilangan tempat tinggal mereka. Walau orang orang yang menyebut diri mereka sebagai tangan kiri sang pencipta itu sangatlah kuat namun Xiao Ziya percaya bahwa ia mampu untuk melawan mereka semua ini semua hanya soal waktu saja.


"Trimakasih karna nona memiliki pemikiran yang sangat baik." ucap Genzo yang lega karna reaksi Xiao Ziya jauh lebih baik dari apa yang ia bayangkan.


Setelah beberapa saat akhirnya pesanan Xiao Ziya dan Genzo telah datang, mereka menyantap makanan itu dengan lahap apalagi Xiao Ziya yang memiliki selera makan tinggi. Setelah menghabiskan semua pesananya Xiao Ziya membayar tagihan kemudian gadis itu membawa Genzo menuju Akademi Kekaisaran Qiyu. Setelah berjalan cukup lama akhirnya Xiao Ziya sampai di gerbang masuk Akademi Kekaisaran Qiyu.


"Selamat pagi master Ziya." ucap para penjaga gerbang Akademi Kekaisaran Qiyu yang membungkuk dan memberikan salam pada Xiao Ziya.


"Pagi semuanya, trimakasih atas sambutan kalian." ucap Xiao Ziya yang membalas sapaan ramah para penjaga gerbang.


Setelah itu Xiao Ziya masuk kedalam akademi bersama dengan Genzo yang terus mengikutinya dari belakang, Xiao Ziya telah sampai di depan ruang kepala Akademi gadis itu perlu bertanya pada Ling An dimana kelas teman temannya berada.


"Salam hormat saya pada master Ziya." ucap Ling An yang memberikan salam pada Xiao Ziya.


"Salam saya pada kepala akademi." ucap Xiao Ziya yang membalas salam dari Ling An.


"Ada keperluan apa hingga Master Ziya datang ke akademi?." tanya Ling An yang merasa bahwa gadis seperti Xiao Ziya akan datang ketika ia memiliki urusan penting di akademi.


"Saya ingin bertemu dengan teman teman saya yang berasal dari Klan Xiao karna saya ada urusan penting dengan mereka." ucap Xiao Ziya. Setelah Ziya mengatakan hal itu Ling An meminta pada gadis itu dan pria yang datang bersamanya untuk menunggu di ruang kerja kepala akademi sedangkan Ling An sendiri akan pergi memanggil teman teman Xiao Ziya yang berasal dari Klan Xiao.


"Apakah anda selalu diperlakukan seperti ini?." tanya Genzo pada Xiao Ziya, entah apa maksut pertanyaan dari naga hijau itu karna terdengar sedikit ambigu bagi Xiao Ziya.


"Diperlakukan seperti apa?." tanya Xiao Ziya yang meminta kejelasan pada Genzo mengenai pertanyaan yang ia ajukan.


"Saya melihat bahwa anda diperlakukan layaknya seseorang yang memiliki kedudukan tinggi." ucap Genzo yang memberi penjelasan pada Xiao Ziya.


Untuk menjawab pertanyaan dari pria itu Xiao Ziya hanya menganggukkan kepalanya saja sebagai pertanda banwa ia memang diperlakukan seperti itu, lalu Xiao Ziya menjelaskan ketika ia bisa melindungi mereka dari berbagai bahaya yang datang dan menunjukkan kualitas dirinya maka orang lain akan memperlakukannya sebagaimana ia harus diperlakukan. Di dunia ini yang terkuatlah yang akan berkuasa meski memiliki banyak wilayah yang menjadi titik kekuasaanya namun gadis itu selalu mempercayakan pada kerabat atau keluarganya.


"Jika mereka yang anda percaya menghianati anda maka apa yang akan anda lakukan?." tanya Genzo yang belum pernah mendengar tentang keganasan seorang Xiao Ziya.


"Saya akan membunuh mereka tanpa mendengar alasan apapun, atau hukuman teringannya adalah penjara dan penyiksaan." ucap Xiao Ziya dengan sebuah senyuman yang sulit untuk diartikan.


Setelah beberapa saat menunggu akhirnya Ling An kembali dengan membawa teman teman Xiao Ziya yang berasal dari Klan Xiao.


"Ini teman teman master." ucap Ling An penuh dengan kesopanan.


"Trimakasih kepala akademi." ucap Xiao Ziya yang bertrimakasih pada Ling An.


"Ada keperluan apa hingga adik Ziya mengumpulkan kami di ruang kepala akademi?." tanya Xiao Bin yang ingin tau alasan Xiao Ziya mengumpulkan mereka semua apakah ada hal buruk yanh sedang terjadi di Klan Xiao ataukah ada hal penting yang ingin gadis itu sampaikan.


"Sebelumnya perkenalkan pria yang ada di samping saya bernama Genzo." ucap Xiao Ziya yang memperkenalkan Genzo pada para saudaranya.


"Saya Genzo mohon bantuannya." ucap Genzo dengan nada yang ramah. Xiao Feng dan Xiao Xinzo menatap ke arah Genzo dengan curiga jika dilihat dari ujung kepala hingga ujung kaki Genzo terlihat sangat asing bukan seperti orang yang berasal dari Kekaisaran Qiyu.


"Saya Xiao Bin." ucap Xiao Bin.


"Saya Xiao Feng." ucap Xiao Feng dengan tatapan tajam ke arah Genzo.


"Saya Xiao Xinzo, saya harap anda tak memiliki niatan buruk pada adik Ziya." ucap Xiao Xinzo yang langsung menyampaikan apa yang sedang ia cemaskan.


"Kalian tidak perlu khwatir, Genzo datang kesini karna ia memerlukan tuan ataupun nona baru." ucap Xiao Ziya yang membuat saudara saudaranya semakin bingung.


Apakah pria bernama Genzo itu tadinya seorang budam dan ia telah kehilangan majikannya sehingga ia membutuhkan tuan ataupun nona baru?. Lalu mengapa bukan Xiao Ziya saja yang menjadi nona muda dari pria berambut hijau itu? mungkinkah pria itu memiliki masalah dengan adik sepupu mereka sehingga Xiao Ziya menolak pria itu menjadi bawahannya. Banyak sekali pertanyaan yang berputar putar di kepala saudara Xiao Ziya.


"Genzo ini adalah seekor naga hijau, ia adalah binatang pengikut setia dari pemimpin Sekte Harimau Putih. Namun karna nonanya telah mati Genzo tengah mencari tuan atau nona baru." ucap Xiao Ziya yang memberi penjelasan lebih rinci lagi pada kakak kakak sepupunya itu agar mereka tak mengira bahwa Genzo adalah seorang budak. Mendengar penjelasan dari Xiao Ziya membuat Xiao Yuna dan yang lainnya mengangguk faham.


"Mengapa bukan adik Ziya saja yang menjadikannya hewan pengikut setia?." tanya Xiao Xinzo yang menatap Xiao Ziya dengan heran karna adik sepupunya itu memiliki hobi mengoleksi hewan pengikut setia dengan tingkatan yang tinggi.


"Saya sudah memiliki banyak hewan pengikut setia, dan beberapa dari mereka akan menembus ke tingkat selanjutnya. Kalian tau sendiri persiapan apa yang harus saya lakukan." ucap Xiao Ziya.


"Ah benar juga adik Ziya akan kewalahan jika terlalu banyak mengumpulkan hewan pengikut setia." ucap Xiao Feng yang mengerti dengan alasan Xiao Ziya yang sangat masuk akal itu.


"Jadi tuan Genzo diantara saudaraku ini apakah ada yang membuat anda merasa tertarik?." tanya Xiao Ziya pada sang naga hijau yang masing mengamati bagaimana kekuatan dan karakteristik keempat saudara dari Xiao Ziya.


Entah mengapa melihat ketiga pemuda dan seorang gadis itu tak membuat Genzo merasa tertarik, aura mereka yang sangat biasa saja serta kegigihan mereka yang masih ada pada standar rata rata tak akan mampu memancing seekor hewan ilahi untuk menjadikan mereka berempat sebagai tuannya.


"Mohon maaf nona namun tak ada yang membuat saya tertarik." ucap Genzo yang menundukka kepalanya, ia merasa tak enak pada Xiao Ziya karna telah menyusahkan gadis itu.


"Bagaimana dengan kepala akademi Ling An?." tanya Xiao Ziya yang menunjuk ke arah Ling An yang sedang sibuk menandatangani beberapa berkas penting.


Dengan berat hati sang naga hijau menggelengkan kepalanya, meskipun kultivasi Ling An lebih kuat daripada keempat saudara dari Xiao Ziya namun pria itu sangat jarang berlatih dan mengumpulkan energi qi sehingga perkembangan Genzo akan sangat terhambat jika ia menjadikan Ling An sebagai tuan barunya.


"Baiklah tak perlu merasa bersalah, saya akan mencarikan tuan atau nona yang sesuai dengan keinginan anda." ucap Xiao Ziya dengan santai karna pekerjaanya kali ini lebih santai dan tak terlalu menguras tenaga sehingga ia tak merasa keberatan.


"Apakah kami sudah bisa kembali ke kelas sekarang adik Ziya?." tanya Xiao Yuna dengan hati hati karna ia takut akan menyinggung saudra perempuannya.


"Ah sebelum kalian kembali ke kelas ada sedikit oleh oleh yang ingin saya berikan." ucap Xiao Ziya yang baru ingat bahwa ia akan memberikan bahan bahan obat langka yang hanya ditemukan di dunia atas pada saudara, keluarga, dan beberapa temannya.


"Wah oleh oleh apa yang ingin adik Ziya berikan?." tanya Xiao Bin yang sangat antusias saat mendengar Xiao Ziya ingin memberikan oleh oleh pada mereka.


Xiao Ziya memberikan masing masing dua kotak peti kayu berukuran lumayan besar pada keempat saudaranya itu, Xiao Ziya meminta pada mereka berempat untuk membuka peti itu nanti saat kelas sudah berakhir. Selain memberikan pada keempat saudarnya Xiao Ziya juga memberikan sebuah kotak kayu dengan ukuran yang besar pada Ling An.


"Trimakasih adik Ziya, kami akan kembali ke kelas terlebih dahulu." ucap Xiao Feng yang segera pergi ke kelas karna hari ini akan ada praktek berpedang pelajaran favorit pemuda itu.


"Sepertinya Feng gege sangat bersemangat." ucap Xiao Ziya yang sedang berusaha untuk menahan tawanya.


"Dia selalu seperti itu ketika ada kelas berpedang." ucap Xiao Bin yang pamit juga karna tak ingin ketinggalan pelajaran.


Kini di dalam ruang kerja kepala akademi hanya tersisa Kepala Akademi Kekaisaran Qiyu, Xiao Ziya, serta Genzo saja. Xiao Ziya juga ingin pamit karna ia harus menemukan tuan ataupun nona yang sesuai dengan keinginan sang naga hijau setelah itu masih banyak tugas lain yang harus diselesaikan oleh Xiao Ziya.


"Saya pamit terlebih dahulu kepala akademi." ucap Xiao Ziya yang menundukkan kepalanya kemudian pergi dari ruang kerja kepala akademi.


Xiao Ziya dan Genzo berjalan dan akan keluar dari wilayah Akademi Kekaisaran Qiyu namun ada beberapa murid yang memanggil nama Xiao Ziya dan meminta agar gadis itu berhenti. Akhirnya Xiao Ziya menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang ternyata yang memanggil adalah teman teman dari Muyen mungkin mereka ingin meminta kejelasan pada Xiao Ziya mengapa gadis itu membunuh teman mereka.


"Mengapa kalian memanggilku?." tanya Xiao Ziya dengan tatapan datarnya, ia sangat malas jika harus membahas mengenai Muyen yang telah menghianati cinta dari saudara perempuannya serta kepercayaan yang telah ia berikan.


"Kami ingin bertanya mengapa nona Ziya membunuh Muyen beserta keluarganya?." tanya Felix dengan nada bicara yang kasar dan juga cetus. Ia menatap ke arah Xiao Ziya seperti tengah melihat musuh bebuyutannya.


"Karna dia dan keluarganya pantas untuk mati." jawab Xiao Ziya dengan singkat, padat, dan jelas. Jawaban dari Xiao Ziya tentu tak memberi kepuasan pada teman teman Muyen.


"Alasan yang anda berikan sangat tak masuk akal." ucap Ling Zoho, ia sangat ingin memukul Xiao Ziya hingga gadis itu babak belur namun sangat disayangkan Xiao Ziya jauh lebih kuat dariada dirinya.


"Muyen adalah pemud yang baik, seharusnya ia mendapat perlakun baik dari anda." ucap Yienran yang selama ini menyimpan perasaannya pada Muyen, Yienran memilih untuk mengalah ketika Muyen lebih bahagia saat ia bersama dengan Xiao Yuna.


"Dia baik bagi kalian namun tidak dengan saya." jawab Xiao Ziya yang hendak pergi karena ia tak ingin berurusan dengan teman teman Muyen yang naif itu, mereka belum melihat seberapa jahat pemuda yang mereka anggap sebagai teman itu.


Saat Xiao Ziya dan Genzo berjalan melangkah keluar dari gerbang Akademi Kekaisaran Qiyu, tiba tiba saja Yienran melemparkan beberapa pisau kecil ke arah Xiao Ziya. Dengan cepat Xiao Ziy menghindari serangan gadis itu dan menatap tajam ke arah Yienran.


"Jika kalian ingin mati seperti Muyen katakan saja, saya akan mengabulkannya." ucap Xiao Ziya dengan aura membunuh yang menyeruak keluar dari tubuhnya.


"Kami hanya meminta penjelasan padamu, mengapa kau sangat sombong dan angkuh seperti ini." ucap Su Miji yang berteriak pada Xiao Ziya. Ziya tau penjelasan apapun yang ia berikan tak akan membuat merek merasa puas karna yang mereka ketahui adalah Muyen itu pemuda yang baik dan tak mungkin melakukan apa yang Xiao Ziya katakan.


"Saya yakin kalian sudah mendapat penjelasan tentang hal ini dari orang lain, namun kalian tak percaya dengan apa yang mereka katakan. Penjelasan dari saya akan sangat mirip dengan apa yang mereka katakan." ucap Xiao Ziya yang menatik tangan Genzo kemudian melesat pergi dari sana agar waktunya tak terbuang sia sia.


Yienran, Su Miji, Ling Zoho, dan juga Felix meremas tangan mereka. Sebagai teman yang sudah lama kenal tentu mereka berempat tak akan percaya dengan apa yang Xiao Ziya katakan. Dalam fikiran mereka timbul sebuah kesimpulan bahwa Xiao Ziya ingin merebut kembali Kekaisaran Lungzo yang telah dikuasai oleh keluarga Muyen sehingga gadis itu membunuh Muyen beserta keluarganya.


"Jelas kita tak bisa tinggal diam setelah menetahui tentang hal ini." ucap Felix dengan sorot mata tajamnya.


"Kita harus balas dendam atas kematian Muyen." ucap Yienran yang akan membalaskan dendam atas nama orang yang paling ia cintai. Tanpa mereka sadari ada beberapa murid akademi lain yang mendengar pembicaraan mereka.


Hai hai semuanya akhirnya author update lagi gimana kabar kalian?. Jangan lupa follow buat yang belum ya, vote karna itu wajib, gift hadiah apapun, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate, share, tips juga ya.