
Kepala Desa Elnz menggunakan kekuatannya secara maksimal agar segera sampai di gerbang perbatasan, perasaanya semakin tak karuan setelah melihat mawar biru yang menutupi langit desa sebentar lagi akan mekar. Jika sampai mawar biru itu mekar dengan sempurna maka akan terjadi ledakan energi yang sangat besar, pelindung bagian luar dari Desa Elnz tak akan sanggup menahan ledakan tersebut. Setelah berusaha dengan sekuat tenaga akhirnya pria tua itu sampai di luar gerbang perbatasan, dengan segera ia menghampiri seorang gadis yang sedang duduk bersila di dalam mawar biru dengan ukuran besar. Kepala Desa Elnz sangat yakin bahwa gadis cantik itu adalah Nona Besar yang telah diramalkan oleh leluhurnya puluhan tahun yang lalu.
"Hormat saya pada Nona Besar, saya harap nona berkenan memaafkan kesalahan yang telah dilakukan oleh keempat kesatria dari Desa Elnz ini dan menarik kembali semua mawar milik Anda." ucap Tuan Elzi sembari membungkukkan badannya di hadapan Xiao Ziya. Pria tua itu dapat merasakan aura dingin yang sangat luar biasa keluar dari tubuh gadis yang ada di hadapannya.
Di sisi lain saat ini keempat pemuda yang menyebut diri mereka sebagai kesatria sihir dari Desa Elnz sedang menatap tak percaya ke arah kepala desa, mengapa sang kepala desa begitu menghormati gadis asing yang hendak masuk ke desa mereka itu?. Gadis asing bernama Xiao Ziya tersebut telah membuat Elmo terluka cukup parah dengan meminta si pelayan elf untuk menyerang teman mereka. Meskipun Xiao Ziya terlihat sangatlah kuat, sikap kepala desa terhadap gadis itu terlalu berlebihan.
"Anda tak perlu sampai membungkukkan badan seperti itu kepala desa." ucap Trinzes dengan tatapan tak suka, kepala desa mereka adalah orang yang paling dihormati di desa ini. Kedudukannya paling tinggi diantara semua orang yang tinggal di Desa Elnz, dan sebagai seorang tamu seharusnya Xiao Ziya yang membungkukkan badannya ketika bertemu dengan kepala desa.
"Berhentilah membuat omong kosong seperti itu, jangan membuat Nona Muda semakin marah dengan tingkah ceroboh kalian." ucap Tuan Elzi yang memberi peringatan pada Trinzes atas apa yang baru saja ia katakan.
Xiao Ziya memejamkan matanya untuk beberapa saat, gadis itu menarik kembali semua mawar biru yang sedang melayang tepat di atas langit Desa Elnz kemudian dimasukkan kembali ke dalam alam spiritual miliknya. Mawar biru besar yang saat itu menjadi tempat duduk Xiao Ziya juga ikut menghilang, gadis itu turun dan menginjakkan lagi kakinya pada lapisan es yang sangat dingin. Jika seluruh tanah yang ada di wilayah Desa Elnz tertutupi oleh lapisan es sedingin ini, dimana mereka akan bercocok tanam dan mendapatkan bahan pokok untuk memenuhi kebutuhan sehari hari?.
"Terimakasih atas kebaikan Nona Besar. Perkenalkan saya Elzi, kepala desa di wilayah ini." ucap Tuan Elzi yang sedang memperkenalkan dirinya pada Xiao Ziya.
"Saya Xiao Ziya, maaf karna kedatangan saya membuat kekacauan di wilayah Anda." ucap Xiao Ziya dengan suara lembut dan nada bicara yang terdengar ramah sangat jauh berbeda saat ia berbicara dengan keempat kesatria sihir.
"Itu bukan masalah besar, saya yakin keempat pemuda ini yang membuat masalah terlebih dahulu." ucap Tuan Elzi yang melimpahkan semua kesalahan pada keempat kesatria sihir.
"Saya mengerti mereka hanya ingin menjadi pelindung untuk desa yang sangat mereka cintai, namun di lain hari sebaiknya Anda memberitahu mereka untuk meminta token identitas pada siapapun yang ingin masuk ke desa ini. Tak semua kultivator memiliki kesabaran ekstra seperti saya, dan saya yakin masih banyak kultivator yang jauh lebih kuat dari saya." ucap Xiao Ziya yang memberikan sedikit saran tentang bagaimana cara keempat kesatria sihir itu mendapatkan identitas dari setiap orang yang ingin masuk ke desa mereka.
"Baiklah saya mengerti, silahkan masuk kedalam Nona Ziya dan Tuan Elf." ucap Tuan Elzi yang tak melupakan keberadaan Lunx yang berada di belakang Xiao Ziya.
Untung saja perselisihan itu selesai sebelum Xiao Ziya menghancurkan Desa Elnz menggunakan ledakan energi dari mawar biru miliknya, kini mereka semua berjalan masuk ke dalam Desa Elnz. Banyak penduduk desa yang melihat ke arah Xiao Ziya dan Lunx dengan tatapan penasaran, sepertinya desa ini sudah lama tak kedatangan tamu. Kepala Desa Elnz mengarahkan Xiao Ziya dan Lunx untuk pergi ke rumahnya, rumah kepala desa adalah tempat teraman yang ada di Desa Elnz karna terbuat dari balok es kualitas terbaik dan tingkat dingin yang stabil.
Xiao Ziya masuk ke dalam rumah milik kepala desa, ia melihat beberapa barang yang terbuat dari balok es termasuk meja dan kuris yang mereka miliki. Apakah semua ini tak membuat kepala desa dan keluarganya merasa keinginan? meskipun mereka semua penyihir dengan elemen es namun ada beberapa penyihir dengan tingkat toleransi dingin yang berbeda.
"Maaf karna semua rumah yang ada di desa ini terbuat dari balok es, saya berharap Nona Ziya tak kedinginan karenanya." ucap Tuan Elzi dengan raut wajah khawatir.
"Saya baik baik saja dan tak perlu khawatir tentang hal itu." jawab Xiao Ziya dengan wajah santai, tubuh gadis itu masih dilapisi oleh api hitam sehingga tak ada aura dingin yang dapat menyentuh kulitnya.
"Siapa yang datang kakek?." tanya seorang gadis dengan usia sedikit lebih tua dari Xiao Ziya, gadis itu baru saja keluar dari sebuah ruangan yang tak jauh dari ruang tamu.
Gadis itu menatap dengan lekat ke arah Xiao Ziya kemudian manik matanya yang berwarna biru tua mengeluarkan sedikit cahaya, sepertinya sangat gadis tak menyukai kehadiran gadis lain yang lebih cantik darinya.
"Kemarilah cucuku, perkenalkan ia adalah Nona Xiao Ziya tamu di desa ini." ucap Tuan Elzi yang sedang memperkenalkan Xiao Ziya pada cucu perempuannya.
"Nama saya Yingli, senang bisa bertemu dengan Nona Ziya." ucap gadis itu yang tersenyum pada Xiao Ziya meskipun senyuman itu sangat tidak tulus.
"Senang juga bisa bertemu dengan gadis cantik seperti Nona Yingli." jawab Xiao Ziya dengan senyuman manisnya.
"Saya ingin pergi bertemu dengan teman teman saya, karna itu saya pamit terlebih dahulu." ucap Yingli kemudian keluar dari rumah kepala desa tanpa menoleh lagi ke arah Xiao Ziya.
"Maaf atas sikap kurang sopan dari cucu saya, jika saya boleh tau apa tujuan Nona Ziya datang ke Desa Elnz ini?." tanya Tuan Elzi yang penasaran dengan tujuan Nona Besar datang ke tempat terpencil seperti Desa Elnz.
"Anda pasti mengenal seorang wanita yang pernah datang ke desa ini dengan tubuh dipenuhi dengan luka parah. Saya adalah cucu dari Yie Linyia yang pernah Anda selamatkan." ucap Xiao Ziya tanpa berbasa-basi lagi, saat ini hatinya sedang tak tenang dan ada sesuatu yang membuatnya sangat khawatir.
Tuan Elzi terdiam cukup lama, matanya berubah menjadi muram karna ia mengingat kembali kejadian kelam itu. Meskipun ia dan penduduk desa yang lain berhasil menyembuhkan luka dari wanita bernama Yie Linyia itu namun sang wanita memilih untuk melebur jiwanya dan memasukkan jiwa itu kedalam sebuah pedang yang ia bawa. Tuan Elzi menghela nafas dengan berat, akhirnya setelah sekian lama cucu dari wanita itu datang untuk mencabut pedang tersebut.
"Syukurlah jika cucu dari wanita itu adalah Nona Besar Xiao Ziya, beliau pasti sangat bangga memiliki cucu yang sangat hebat seperti Anda." ucap Tuan Elzi dengan air mata yang menetas membasahi pipinya.
"Maar karna membuat Anda mengingat kembali kejadian di masa lalu." ucap Xiao Ziya yang merasa tak enak hati pada sang kepala desa.
"Saya hanya merasa senang karna Anda telah datang memenuhi wasiat terakhir dari Nyonya Yie Linyia, malam nanti saya akan mengantar Anda ke tempat pedang itu berada. Saya juga tak mengerti mengapa pedang itu hanya terlihat di malam hati saja, Nyonya Linyia pernah berpesan hanya pewaris terpilih saja yang dapat menggunakan pedang itu kapanpun." ucap Tuan Elzi.
"Sebaiknya saya mencari penginapan yang ada di desa ini." ucap Xiao Ziya yang akan mencari tempat untuknya bermalam.
"Lebih baik Anda tinggal di rumah saya saja, saya masih memiliki beberapa kamar kosong." ucap Tuan Elzi yang menyarankan Xiao Ziya untuk tinggal di rumahnya saja.
"Saya tak ingin merepotkan Anda dan yang lain." tolak Xiao Ziya secara halus, ia tak bisa tinggal di rumah kepala desa karna ada cucu perempuan sang kepala desa yang tak menyukai kehadirannya.
"Baiklah jika begitu saya akan mengantar Anda menuju sebuah penginapan kecil yang sering disewakan oleh anak pertama saya saat terjadi badai es." ucap Tuan Elzi yang beranjak pergi dari rumahnya menuju penginapan memiliki anak pertamanya, Xiao Ziya dan Lunx mengikuti sang kepala desa dari belakang.
Di tempat lain saat ini Yie Munha baru saja terbangun setelah ia pingsan selama beberapa jam, gadis itu membuka mata dan langsung melihat kesekitar. Yie Munha bernafas lega karna saat ini ia masih berada di dalam Istana Kerajaan Bulan, awalnya ia mengira telah dibuat pingsan oleh seseorang kemudian ia diculik dan di bawa pergi ke Klan Yie. Gadis itu turun dari tempat tidurnya dan hendak keluar dari kamar, sangat disayangkan kamar itu terkunci dari luar. Yie Munha hanya bisa pasrah dan menunggu salah satu tuan muda membukakan pintu kamarnya itu, Yie Munha tau bahwa orang orang di Istana Kerajaan Bulan sedang mencemaskan keselamatannya serta bagaimana nasib kerajaan itu selanjutnya. Entah mengapa Yie Munha merasa bahwa ia hanya akan menjadi beban bagi banyak orang jika terus berada di tempat itu.
"Kakek dan nenek tak akan berhenti sebelum mereka berhasil membawa saya kembali ke Klan Yie, haruskah saya menyerahkan diri demi kebaikan semua orang?" tanya Yie Munha pada dirinya sendiri. Gadis itu tak ingin hidupnya berakhir ditangan sosok yang kerap dipanggil dengan sebutan Penguasa Agung namun di sisi lain ia tak ingin sang Penguasa Agung datang dan menghancurkan Kerajaan Bulan milik adik sepupunya.
Yie Munha sedang berfikir dengan keras, seandainya Xiao Ziya berada di posisinya saat ini apa yang akan dilakukan oleh gadis itu? akankah ia menyerahkan nyawanya begitu saja. Dengan segera Yie Munha menggelengkan kepalanya, ia tak ingin mengecewakan banyak orang yang sudah berkorban sejauh ini termasuk paman dan bibinya.
"Semoga paman dan bibi baik baik saja, saya sangat ingin melihat keadaan mereka." ucap Yie Munha dengan raut wajah sedih, tak banyak hal yang biasa ia lakukan selain melatih ilmu yang diajarkan oleh Xiao Ziya. Yie Munha masih mengingat janjinya pada Xiao Ziya, ia akan menguasai jurus penghancur bumi sampai ke tingkatan tertinggi sampai adik sepupunya itu kembali dalam perjalanan panjang.
"Saya akan berlatih lebih keras lagi." ucap Yie Munha penuh dengan semangat, gadis itu sedang mengetuk pintu dan berharap ada seseorang yang mendengarnya dari luar.
"Apa ada orang di luar sana? izinkan saya untuk keluar dari kamar ini. Saya harus berlatih dan menepati janji saya pada Nona Ziya." ucap Yie Munha dengan suara yang cukup kencang.
"Terimakasih telah mengizinkan saya keluar, saya akan pergi ke tempat berlatih." ucap Yie Munha dengan senyuman lebar kemudian gadis itu pergi ke tempat ia biasa berlatih bersama kedua pemuda dari Klan Zu itu.
Sang prajurit hanya melihat kepergian Yie Munha, setelah gadis itu benar benar tak terlihat lagi ia baru pergi menuju ruangan khusus untuk kedua anak dari Ratu Min Xunzi. Sang prajurit akan melaporkan bahwa Yie Munha telah ia keluarkan dari dalam kamar karna ingin berlatih jurus yang diberikan oleh Nona Ziya. Di sisi lain saat ini Xiao Ziya, Lunx, dan kepala desa telah sampai di depan sebuah penginapan yang terbuat dari balok es juga. Saat masuk ke dalam penginapan itu Xiao Ziya merasa sedikit lega karna perabotan yang mereka miliki terbuat dari kayu dan bahan bahan lainnya.
"Selamat datang ayah, apa yang sedang Anda lakukan di sini?." tanya Yunha anak pertama dari Tuan Elzi.
"Ayah sedang mengantarkan tamu, mereka ingin tinggal di penginapan mu." ucap Tuan Elzi sembari mengarahkan pandangannya pada Xiao Ziya dan Lunx.
Yunha melihat ke arah gadis manusia biasa dan seorang elf tua yang berada di belakang gadis itu, Yunha merasa senang karna setelah sekian lama akhirnya ada manusia yang berkunjung ke Desa Elnz ini.
"Kalau begitu saya permisi terlebih dahulu Nona Ziya, malam nanti saya akan menjemput Anda." ucap Tuan Elzi yang harus pergi meninggalkan tamunya. Sebagai seorang kepala desa ia memiliki banyak pekerjaan yang harus segera diselesaikan.
"Baiklah sampai jumpa lagi Tuan Elzi, terimakasih karna telah mengantar kami." jawab Xiao Ziya dengan senyuman tipisnya.
Tuan Elzi pun pergi, kini Yunha sedang membicarakan beberapa hal yang tak boleh dilakukan oleh para tamu yang menginap di tempatnya. Semua peraturan yang dijelaskan oleh pria itu sama persis dengan peraturan di penginapan lain pada umumnya.
"Jadi berapa kamar yang ingin Anda sewa?." tanya Yunha dengan sangat ramah.
"Apakah ada kamar khusus dengan fasilitas terbaik di penginapan Anda ini?." tanya Xiao Ziya yang ingin tinggal di sebuah kamar dengan fasilitas terbaik.
"Kami memiliki beberapa kamar yang lebih unggul daripada yang lainnya, namun Anda perlu menambah biaya sewa kamar tersebut dengan bahan makanan pokok maupun buah buahan segar." jawab Yunha dengan jujur, di Desa Elnz bahan makanan seperti beras, gandum, jagung, sayur sayuran, serta buah buahan segar sangatlah mahal dibandingkan dengan koin emas.
"Bagaimana jika saya membayar dengan bahan makanan pokok saja?." tanya Xiao Ziya yang memberikan penawaran menarik pada pria itu.
"Berapa banyak bahan makanan yang Anda bawa? saya tak melihat Anda membawa tas atau yang lainnya?" tanya Yunha dengan tatapan bingung.
Dengan segera Xiao Ziya mengeluarkan dua karung besar berisikan beras, dua karung gandum, dan satu karung penuh berisikan buah apel yang baru saja di petik dari dalam kebun yang ada di cincin semesta milik gadis itu. Yunha membelalakkan matanya dan ia memperlihatkan raut wajah senang, sudah lama ia tak melihat pengunjung sekaya ini di penginapannya.
"Saya ingin menyewa dua kamar terbaik di penginapan Anda, bila ini kurang Anda tinggal mengatakannya saja." ucap Xiao Ziya dengan senyuman yang sengaja ia sembunyikan. Gadis itu merasa sedikit miris dengan konsisi tanah di Desa Elnz yang tak dapat ditanami apapun.
"Anda bisa tinggal selama satu minggu penuh dengan dua kamar terpisah. Terimakasih banyak karna membayar menggunakan bahan makanan seperti ini, kami sedang sangat kekurangan." ucap Yunha yang tak berhenti berterimakasih pada Xiao Ziya.
"Jika Anda membutuhkan bahan makanan untuk membuatkan sarapan serta makan malam katakan saja." ucap Xiao Ziya.
"Baiklah Nona, terimakasih atas kebaikan Anda." ucap Yunha.
Yunha membawa masuk semua bahan makanan yang dibayarkan oleh nona muda itu sebagai biyaya menginap ke sebuah ruangan khusu. Setelahnya Yunha kembali dengan anak laki lakinya serta sang istri yang saat itu sedang berada di dapur.
"Salam kami pada Nona Muda dan Tuan Elf." ucap sang wanita dan anak laki laki yang ada di sampingnya itu.
"Kalian tak perlu memberikan salam pada saya karna saya pelayan Nona Ziya." jawab Lunx dengan tatapan datar, sebagai seorang pelayan ia tak berhak mendapatkan salam yang sejajar dengan nona mudanya itu.
"Tenanglah Lunx itu bukan masalah besar." ucap Xiao Ziya yang sedang menenangkan sang leluhur elf.
"Maaf karna kami tak mengetahui hal itu." jawab Yunha beserta anak dan istrinya.
"Sebelum masuk ke kamar saya ingin meminta bantuan Nyonya untuk menyiapkan hidangan makan malam. Saya telah menyiapkan bahan bahan yang perlu Anda masak." ucap Xiao Ziya yang ingin menjamu kepala desa serta keluarga pemilik penginapan itu.
"Dengan senang hati saya akan membantu nona." jawab Ming Angli yang tak merasa keberatan untuk membantu tamu vip di penginapan suaminya itu.
Xiao Ziya mengibaskan tangannya kemudian muncul berbagai macam sayuran segar, satu karung ukuran sedang berisikan beras kualitas terbaik, telur ayam, berbagai macam buah buahan yang dimasukkan ke dalam kantung, daging sapi, daging ayam, serta ikan seger. Melihat bahan makanan sebanyak itu membuat Ming Angli tak bisa mengatakan apapun, nona muda yang datang ke penginapannya sangatlah kaya sehingga memiliki benda aneh untuk menyimpan bahan bahan makanan yang ia miliki.
"Nanti malam kita akan makan bersama, pastikan Nyonya memasaknya dengan lezat." ucap Xiao Ziya dengan cengiran tak bersalah padahal ia sudah merepotkan nyonya pemilik penginapan.
"Makan bersama?." tanya Yunha dengan tatapan bingung, bukankah nona muda itu hanya ingin menjamu sang ayah saja?.
"Tentu kita akan makan bersama dengan Kepala Desa, kalian juga ikut makan bersama kami. Dan bila ada sayuran ataupun sayur yang tersisa nyonya bisa menyimpannya untuk kebutuhan dapur Anda. Saya memang sengaja melebihkan." ucap Xiao Ziya dengan wajah polosnya.
"Terimakasih banyak Nona Ziya, saya akan menyajikan makanan terenak yang pernah saya buat untuk makan malam nanti. Silahkan Anda dan Tuan Elf beristirahat terlebih dahulu." ucap Ming Angli dengan mata berkaca kaca, wanita itu hampir saja menangis karna mendapat seorang pengunjung yang sangat cantik dan juga baik hati.
"Baiklah kami permisi." ucap Xiao Ziya yang mengajak Lunx untuk naik ke lantai atas, mereka akan memilih kamar yang akan ditempati.
Setelah kepergian Xiao Ziya dan pelayan elf nya, Ming Angli dan sang suami menangis sejadi jadinya. Mereka merasa sangat senang karna kebutuhan untuk beberapa bulan kedepan sudah ada dan mereka tak perlu membeli satu karung kecil beras dengan harga yang sangat mahal.
"Syukurlah nona itu sangatlah baik." ucap Ming Angli sembari mengusap air matanya.
"Aku akan membantu ibu memasak." ucap seorang pemuda bernama Gunzo. Ia anak tunggal dari pasangan suami istri pemilik penginapan itu sekaligus cucu pertama dari sang kepala desa.
Hai hai semua author balik lagi nih, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.