
Saat ini waktunya pertandingan ketiga antara Muyen VS Xu Yuzi. Pertandingan kali ini cukup sengit karna kekuatan mereka berdua imbang. Namun Muyen berhasil memenangkannya.
Pertandingan keempat antara Ruo Rixer dengan Suma, kali ini Suma tak bisa menyombongkan apapun karna Ruo Rixer jauh lebih kuat darinya hingga suma kewalahan.
Pertandingan kali ini berjalan hingga malam hari setengah kandidat sudah tersisihkan dan resmi tak lolos dan tak bisa menjadi murid Akademi Kekaisaran, esok adalah saat yang di tunggu tunggu semua guru murid luar akan datang dan memilih beberapa kandidat murid baru untuk dijadikan murid pribadi mereka. Dan kandidat yang di pilih menjadi murid pribadi oleh salah seorang guru / master akan mendapatkan beberapa hak istimewa.
Saat ini para kandidat sudah berada di penginapan mereka masing masing, mereka mulai memulihkan tenaga untuk menyiapkan diri esok hari. Sedangkan saat ini Xiao Ziya sedang berjalan jalan di sekitar penginapannya.
"Humm apakah menjadi salah satu murid pribadi itu menyenangkan?" gumang Xiao Ziya pada dirinya sendiri.
Tiba tiba ada seseorang yang menepuk punggung Xiao Ziya, reflek Ziya langsung membalikkan badannya dan bersiap untuk memukul bila orang itu adalah musuhnya.
"Tenanglah adikku apakah kau ingin memukul kakakmu yang tampan ini?" ucap Xiao Xun yang terkejut dengan reflek adiknya yang begitu cepat.
Xiao Ziya langsung menurunkan tangannya dan menatap kakak laki laki ke duanya dengan tatapan yang sedikit sinis, mungkin Xiao Ziya merasa kesal.
"Xun gege, bisakah kau menyapaku dengan cara yang wajar, untung saja aku tak jadi memukulmu tadi." ucap Xiao Ziya sambil memanyunkan bibirnya, gadis itu benar benar terlihat lucu dan menggemaskan.
"Hehe, maaf adikku yang cantik gegemu ini sangat merindukanmu apakah kau tak ingin memelukku?" ucap Xiao Xun dengan wajah polos tanpa dosa. Ya benar adanya Xiao Xun jarang sekali bertemu adiknya semenjak dia menjadi murid dari Akademi Kekaisaran namun sekarang dia bisa sering sering bertemu dengan adiknya mungkin Xiao Yan iri dengannya.
Mendengar perkataan dari Xiao Xun membuat hati Xiao Ziya menjadi menghangat dengan antusias Xiao Ziya memeluk Xiao Xun. Ling Fuen yang sedari tadi ada di sana hanya bisa melihat kemesraan kakak beradik itu.
"Cukup cukup kalian jangan membuatku iri." ucap Ling Fuen dengan wajah masamnya.
"Hei hei bukankah kau juga memiliki adik perempuan?" ucap Xiao Xun sambil menaikkan satu alisnya. Bagaimana bisa temannya itu iri dengannya, padahal adik perempuannya juga lulus dalam seleksi kali ini.
"Iya adikku memang lulus, tapu dia tak semanis dan selucu adikmu itu." ucap Ling Fuen.
"Baiklah baiklah apakah Fuen gege ingin Ziya peluk?" tawar Xiao Ziya pada teman kakaknya itu. Ling Fuen merasa sedikit tersentuh dengan ucapan Xiao Ziya. Dengan senang hati Ling Fuen membentangkan tangannya untuk menerima pelukan dari Xiao Ziya.
Xiao Ziyapun menatap Xiao Xun, dan Xiao Xun menganggukkan kepalanya tanda dia mengizinkan Ziya untuk memeluk temannya itu. Setelah mendapat persetujuan Xiao Ziya langsung memeluk Ling Fuen.
"Ah ternyata enak juga menjadi dirimu Xiao Xun, bukankah adik perempuanmu ini sangat baik." ucap Ling Fuen.
"Ekem ekem." ucap seseorang yang baru datang, seorang perempuan cantik yang seumuran dengan Xiao Xun.
"Adik Ziya apakah kau tak merindukan jiejiemu ini?" ucap gadis itu yang membuat fokus Xiao Ziya terpecah.
"Muer Jiejie aku sangat merindukanmu, mengapa Jiejie sangat tinggi." ucap Xiao Ziya, walau tak terlalu dekat dengan Xiao Muer namun dia tetaplah Kakak perempuan Ziya. Xiao Muer adalah putri dari ketua ke tuju Klan Xiao.
Akhirnya Xiao Ziya berjalan jalan dengan Xiao Xun, Ling Fuen, dan juga Xiao Muer. Setelah hari sudah sangat larut mereka memutuskan untuk kembali ke penginapan dan Xiao Ziya langsung masuk ke kamarnya dan tidur.
Sedangkan di tempat lain tepatnya Kerajaan Daun Perak ada seorang pria yang tengah merenungi nasipnya siapa lagi jika bukan Yuan Zie. Dia benar benar merasa bosan dengan tugas tugas kerajaan yang membuat kepalanya hampir meledak.
"Siapa yang bisa menggangikanku menjadi raja? di sini sangat membosankan tak ada siapapun yang bisa ku ajak mengobrol." ucap Yuan Zie sambil menekuk mukanya.
"Apakah cucu dari Raja Artur merasa kewalahan memimpin sebuah kerajaan kecil seperti ini?" ucap Raja Artur yang entah datang dari mana, kebiasaanya yang datang dan pergi tiba tiba memang sudah mendarah daging dan tak bisa di hilangkan.
"Kakek bisakah kau datang dengan cara yang normal? jika nona Ziya ada di sini pasti dia sudah mencaci makimu." ucap Yuan Zie yang tak habis fikir dengan tingkah laku kakeknya itu.
"Ya aku sangat merindukan gadis kecil yang nakal itu." balas Raja Artur sambil menggelilingi ruang kerja Yuan Zie.
"Mari kita datang mengunjunginya besok." ucap Yuan Zie.
"Dia sedang mengikuti seleksi untuk menjadi murid Akademi Kekisaran. Entah apa yang direncanakan oleh gadis itu padahal jika dia mau dua bisa mendirikan akademi sendiri." ucap Raja Artur sambil berfikir.
"Dia masih terlalu kecil bila ingin melakukan hal itu, bisakah kakek sedikit lebih pintar?" sindir Yuan Zie.
"Baiklah besok kita akan datang mengunjunginta sekaligua memberi ucapan selamat, malam ini kakek akan menginap di sini. Cepatlah menikah cucuku agar kau taj kesepian lagi, mukamu itu tak buruk mengapa tak ada wanita yang mau denganmu." ucap Raja Artur yang membuat Yuan Zie ingin membunuh kakeknya sendiri.
Matahari sudah mulai menampakkan dirinya, sekarang bukan para kandidat lagi namun para murid luar baru Akademi Kekaisaran sudah berkumpul di tempat berlangsungnya acara pemilihan murid pribadi oleh para guru murid luar.
"Baiklah karna kalian sudah berkumpul di sini saya mengucapkan trimakasih karna sudah berpartisipasi dalam seleksi pemilihan murid baru Akademi Kekaisaran, dan selamat untuk kalian yang sudah lulus dan resmi menjadi murid luar Akademi Kekaisaran semoga kalian semua bisa berkembang pesat di akademi. Dan untuk kalian para kandidat yang tak lulus jangan patah semangat kalian bisa mencobanya lagi pada pemilihan murid baru selanjutnya. Saya mewakili Akademi Kekaisaran mengucapkan trimakasih." ucap Yin Mierou sambil membungkukkan badannya sebagai tanda penghormatan dan trimakasih untuk seluruh peserta.
"Baiklah selanjutnya saya akan memperkenalkan tiga guru utama yang mengajar para murid luar, di sebelah sana Wen Ciyan, Su Kirin, dan juga Bi Eji. Mereka bertiga yang akan mengajar dan membantu kalian untuk menjadi lebih kuat. Dan kali ini salah satu guru agung juga datang untuk melihat bakat kalian semua." ucap Yin Mierou yang membuat para murid baru menjadi sangat bersemangat.
"Mohon maaf tetua Yin Mierou apa yang harus kita lakukan untuk menunjukkan bakat? apakah kita harus bertarung lagi antar murid baru?" tanya salah seorang murid baru yang mewakili teman temannya.
"Yang perlu kalian lakukan hanyalah serang batu berwarna hitam yang ada di arena dengan sekuat tenaga kalian, dan ingat kalian dilarang menggunakan senjata ataupun jurus. Cukup gunakan tenaga dalam kalian dan pusatkan dengan satu pukulan." jelas Yin Mierou pada semua peserta yang datang.
**Hai hai semuaaaaa gimana gimana kangen ga sama author?? humm pengen banget bisa kaya dulu crazy up huhuhu sedihnya.
Aku usahain deh buat para pembacaku biar kalian ga kecewa.
Jangan lupa dukung aku ya dengan cara vote sebanyak banyaknya, komen, rate, like, share.
Biar aku tambah semangat jangan lupa Follow aku ya**.