RATU IBLIS

RATU IBLIS
Durzo


Xiao Ziya saat ini sedang berada di sebuah restoran ternama yang ada di dekat Akademi Wunyeng, gadis itu masuk kedalam restoran kemudian menanyakan apakah tempat vip masih kosong ataukah tidak. Karna tempat vip masih kosong gadis itu memesan seluruh tempat vip dan seluruh makanan atau minuman terbaik yang dimiliki oleh restoran itu. Untuk membayar semua itu Xiao Ziya mengeluarkan kurang lebih sepuluh ribu koin emas, itu adalah jumlah yang sangat besar untuk rakyat biasa namun hal kecil untuk seorang Xiao Ziya.


Setelah memesan tempat Xiao Ziyapun pergi menuju Akademi Wunyeng untuk menghampiri para murid yang ia undang dalam acara makan bersama serta perpisahan itu, saat akan masuk kedalam para prajurit penjaga gerbang masuk Akademi Wunyeng membungkukkan badan mereka dan memberikan salam pada Xiao Ziya. Gadis itu berjalan menuju lapangan depan karna para murid yang ia undang sudah ada di sana.


"Selamat pagi semua." sapa Xiao Ziya pada murid Akademi Wunyeng yang ada di lapangan depan.


"Pagi nona Xiao Ziya." jawab mereka secara bersamaan.


"Hari ini saya sengaja untuk mengadakan acara makan bersama dengan kalian sebagai peringatan hari ulang tahun saya, selain itu hari ini saya juga akan pergi dari wilayah Kerajaan Hitam karna saya harus kembali ke dunia bawah untuk bergabung bersama keluarga saya di sana. Saya sangat senang bisa bertemu dengan kalian semua, saya harap kalian bisa berkebang lebih jauh lagi dan menjadi kultivator yang hebat." ucap Xiao Ziya yang memberikan beberapa kata sebagai ucapan perpisahan.


Terlihat para murid Akademi Wunyeng yang ada di sana merasa sedih dengan kepergian Xiao Ziya, hari yang mereka semua takutkan akhirnya tiba mereka belum siap jika harus kehilangan sosok Xiao Ziya yang menjadi panutan bagi mereka selama ini.


"Apakah nanti kami bisa mengunjungi nona di sana?." ucap Al Denzi yang berfikir mungkin suatu hari ia akan pergi ke dunia bawah untuk menemui Xiao Ziya.


"Datanglah kapanpun kalian mau Klan Xiao dan juga Kekaisaran Qiyu akan menyambut kedatangan kalian dengan baik." ucap Xiao Ziya yang menjawab pertanyaan dari Al Denzi, akan menyenangkan jika teman temannya dari dunia atas datang mengunjunginya nanti.


"Kami pasti akan datang kesana." ucap Al Xun yang terlihat senang karna tadinya ia fikir Xiao Ziya akan melarang mereka datang ketanah kelahiran gadis itu.


"Saya telah menyewa restoran yang ada di dekat sini, mari kita pergi bersama." ucap Xiao Ziya yang memimpin jalan menuju restoran itu.


Sepertinya Kepala Akademi Wunyeng beserta putranya tak bisa menghadiri undangan Xiao Ziya kali ini karna saat ini Yunho sedang ada di kediamannya. Pemuda itu sedang mengurung diri di dalam kamar semenjak cintanya ditolak oleh Xiao Ziya. Mungkin ini terkesan lebay untuk orang lain namun bagi Yunho, Xiao Ziya adalah gadis yang spesial gadis pertama yang ia lihat setelah pertama kali membuka matanya. Kesan cantik dan anggun masih membekas di fikiran pemuda itu mungkin ini adalah patah hati terhebat untuk seorang Yunho.


"Putraku apakah kau benar benar tak ingin menghadiri undangan makan yang nona Ziya sampaikan untukmu, mungkin ini hari terkhir kau bisa melihat wajah gadis yang menjadi cinta pertamamu itu." ucap Kepala Akademi Wunyeng pada putranya, ia takut putranya akan frustasi jika tak datang ke acara itu.


"Bukankah nona itu akan terus tinggal bersama Raja Zeus." ucap Yunho dengan nada datarnya mungkin ia tak terlalu mendengar apa yang Xiao Ziya katakan saat gadis itu menolak pernyataan cintanya.


"Hari ini dia akan pergi, kembali ke dunia bawah untuk bergabung dengan keluarganya yang ada di sana. Ayah tak tau apakah nona Xiao Ziya akan kembali ke sini lagi atau tidak yang pasti para murid akademi dan beberapa guru sudah mengikuti Xiao Ziya pergi ke restoran." ucap Kepala Akademi Wunyeng yang mengingatkan lagi pada putranya bahwa hari ini hari terakhir Yunho bisa melihat wajah Xiao Ziya.


Baru beberapa bulan pernyataan cintanya ditolak oleh gadis itu sekarang gadis itu ingin pergi jauh dari kehidupannya mengapa takdir semenyebalkan ini, itulah yang ada di fikiran Yunho sekarang. Tadinya pemuda itu berfikir tak apa jika cintanya ditolak karna setidaknya ia bisa melihat Xiao Ziya saat gadis itu berkunjung ke akademi namun semuanya tak berjalan sesuai pemikirannya.


"Jika kau tak ingin datang maka ayah akan datang sendiri, karna ayah berkali kali berhutang nyawa pada gadis itu." ucap Kepala Akademi Wunyeng yang beranjak pergi dari depan pintu kamar Yunho. Ia akan pergi menuju restoran tempat acara itu akan diselenggarakan.


Saat mendengar suara langkah kaki ayahnya yang semakin menjauh Yunho langsung mandi dan bersiap kemudian pemuda itu berlari menuju restoran yang dimaksut oleh sang ayah. Saat sampai di restoran itu seorang pelayan mengatakan bahwa pesta makan bersama yang diadakan oleh Xiao Ziya berada di lantai atas, dengan cepat Yunho berlari.


Saat ini Xiao Ziya sedang bersenda gurau bersama dengan beberapa murid Akademi Wunyeng yang duduk di depannya, ia sedikit terkejut ketika ada seseorang yang membuka pintu ruangan vip.


"Ternyata tuan muda Yunho, trimakasih karna telah memenuhi undangan saya." ucap Xiao Ziya dengan senyum manis yang natural, senyuman yang membuat jantung Yunho berdetak dengan sangat kencang.


"Maaf karna saya terlambat, ini hadiah untuk anda." ucap Yunho yang memberikan sebuah kotak kado pada Xiao Ziya. Dengan senang hati gadis itu menerima hadiah yang diberikan oleh Yunho.


"Trimakasih atas hadiahnya." ucap Xiao Ziya yang mempersilahkan Yunho untuk bergabung makan bersama dengan mereka.


Acara makan bersama yang diadakan oleh Xiao Ziya berjalan dengan lancar, gadis itu mendapat banyak hadiah dari para murid Akademi Wunyeng, guru, dan juga kepala sekolah. Selain itu Xiao Ziya juga mendapat banyak surat perpisahan dari mereka, mereka semua berpesan pada Xiao Ziya untuk membaca surat itu saat ia sudah berada di dunia bawah.


"Kami semua sangat senang karna bisa mengenal sosok yang sangat mengagumkan seperti nona." ucap Kepala Akademi yang mewakili seluruh anggota Akademi Wunyeng.


"Ingatlah nona kami akan berkunjung suatu hari nanti." ucap Al Denzi yang mengingatkan Xiao Ziya.


"Trimakasih semuanya karna telah menerima kehadiran saya di sini dengan baik, maaf jika saya harus pergi secepat ini." ucap Xiao Ziya yang tersenyum dengan sedikit eskpresi sedih.


Setelah itu para guru, dan murid Akademi Wunyeng berpamitan untuk kembali ke akademi. Sebagian dari mereka memilih untuk kembali kerumah dan meratapi kepulangan gadis nomer satu yang ada di Wilayah Kerajaan Hitam itu. Sedangkan Yunho dan Kepala Akademi Wunyeng masih ada di sana.


"Apa ada yang ingin anda sampaikan tuan muda Yunho?." tanya Xiao Ziya yang merasa bahwa pemuda itu ingin menyampaikan sesuatu padanya.


"Anda benar benar tak bisa menerima pengakuan cinta saya?." tanya Yunho dengan wajah murung, pemuda itu tau bahwa jawaban Xiao Ziya tak akan pernah berubah namun hati Yunho dan isi kepalanya juga sangat keras kepala.


"Maaf namun jawaban saya masih sama seperti sebelumnya, jika hubungan sebagai kekasih saya memang tak bisa menerimanya namun jika tuan muda Yunho ingin menjadi kakak laki laki saya dengan senang hati saya akan menerimanya." ucap Xiao Ziya yang menawarkan pada Yunho untuk menjadi kakak laki lakinya.


Semua pemuda yang ditolak oleh Xiao Ziya akan berakhir menjadi kakak laki laki dari gadis itu, mungkin itu jauh lebih baik daripada mereka menjadi orang asing yang tak saling mengenal. Lagipula Xiao Ziya percaya bahwa para pemuda itu akan mendapatkan gadis yang baik juga.


"Baiklah jika begitu adik Ziya." ucap Yunho yang tersenyum dengan berat hati.


"Sampai bertemu lagi Yunho gege." ucap Xiao Ziya yang memeluk Yunho sebagai tanda perpisahan mereka.


"Jangan membuat kepala akademi sedih dengan kau mengurung diri seperti di hari lalu." ucap Xiao Ziya yang mengacak rambut Yunho dengan gemas. Xiao Ziya juga menghadiahkan sebuah ciuman di pipi pemuda itu.


"Sampai jumpa Yunho gege." ucap Xiao Ziya yang langsung melesat pergi dari hadapan kepala akademi dan juga yunho.


Sedari tadi Yunho hanya diam seperti patung dan tak bisa berkata apapun karna ia sungguh tak menyangka akan diperlakukan semanis itu ketika menerima permintaan Xiao Ziya untuk menjadi salah satu kakak laki lakinya.


"Putraku apakah kau baik baik saja?." tanya kepala akademi yang sedikit cemas pada Yunho yang hanya diam.


"Apakah saya tadi bermimpi dicium oleh adik Ziya?." tanya Yunho yang masih bingung dengan apa yang baru saja terjadi.


"Itu adalah kenyataan, mari kita pulang." ucap Kepala Akademi Yang menyeret tubuh Yunho dengan paksa karna anaknya itu masih mematung dengan senyum lebar yang menghiasi wajahnya.


Sedangkan saat ini Xiao Ziya sudah berada di luar wilayah Kerajaan Hitam, tadinya ia ingin pergi ke Kerajaan Zu Long dan berpamitan pada anggota kerajaan dan Klan Xiao yang ada di sana namun itu akan memakan waktu yang lama. Untung saya Xiao Ziya sempat berpesan pada Xiao Sunjin agar pemuda itu menyampaikan suratnya pada Yang Mulia Raja Zu Fengzo serta beberapa anggota Klan Xiao yang ada di dunia atas.


Saat ini Xiao Ziya sedang mencari dimana letak hutan yang diberitaukan oleh Ling Zungze padanya saat akan datang ke kerajaan bibinya itu. Hari sudah cukup larut namun sepertinya perjalanan Xiao Ziya masih sangat panjang untuk sampai di sana.


"Sepertinya tak akan mudah untuk menemukan hutan itu karna semua hutan sama saja hanya ditumbuhi oleh pepohonan." ucap Xiao Ziya yang menghela nafasnya.


Gadis itu melesat dan naik kesebuah pohon yang tinggi dan juga besar, ia mencari cabang pohon yang besar untuk beristirahat karna itu adalah tempat yang aman. Saat Xiao Ziya sedang tertidur dengan lelap di atas pohon itu ia samar samar mendengar beberapa orang yang sedang berlari dan mengejar sesuatu. Karna ha itu tak ada hubungannya dengan dirinya akhirnya Xiao Ziya melanjutkan tidurnya.


"Serahkan semua yang kau miliki atau nyawamu akan melayang." ucap beberapa bandit hutan yang sedang memeras seorang tuan muda yang tak sengaja lewat di hutan itu.


"Ini adalah hadiah yang sengaja saya beli untuk sepupu yang belum pernah saya temui sebelumnya." ucap tuan muda itu yang tak ingin menyerahkan hadiah mahal yang sedang ia bawa. Dengan susah payah ia mencari hadiah itu lalu mengapa ia harus menyerahkannya pada para bandit hutan itu.


"Kau fikir kami peduli ingin kau berikan pada siapa barangmu itu." ucap sang ketua bandit yang menyodorkan pedangnya pada sang tuan muda.


Pertarungan antara tuan muda dan para bandit itu sangatlah sengit jumlah yang kalah banyak tentu membuat sang tuan muda merasa kewalahan. Akhirnya lengan tuan muda itu terluka, Xiao Ziya yang tadinya hanya diam saja langsung loncat dari pohon untuk menolong pemuda yang sedang terluka.


"Pergilah jika kalian tak ingin mati sia sia di sini." ucap Xiao Ziya yang memberikan peringatan pada kelompok bandit itu.


"Ahahah apakah nona manis sedang bergurau pada kami?." ucap sang ketua bandit yang tertawa dengan lantang disusul oleh suara tawa anggotanya yang lain.


Xiao Ziya mengeluarkan sebuah pedang berwarna perak dari dalam cincin semestanya ia melesat dengan cepat ke arah kelompok para bandit itu. Seketika suara tawa yang sempat menggema itu terhenti karna kepala para anggota bandit sudah terlepas dari badan mereka. Tuan muda yang diselamatkan oleh Xiao Ziya terdiam dan menatap kearah gadis itu ia sedang berfikir monster seperti apa yang sedang berdiri di depannya sehingga sanggup membunuh tanpa ada ekspresi bersalah setelahnya, wajah seperti itu pernah ia lihat saat sang ibu membanti sekelompok penggangu.


"Anda baik baik saja?." tanya Xiao Ziya yang mengulurkan tangannya pada sang tuan muda. Tuan muda itu menerima uluran tangan dari Xiao Ziya kemudian ia berdiri.


"Saya baik baik saja, trimakasih atas bantuannya." ucap tuan muda itu yang membungkuk dihadapan Xiao Ziya.


"Jika saya boleh tau siapa nama sepupu yang belum pernah anda temui itu?." tanya Xiao Ziya yang sepertinya merasa penasaran karna wajah pemuda itu mirip dengan bibinya yaitu Ratu Minxunzi.


"Mengapa anda ingin mengetahuinya?." tanya tuan muda itu yang sedikit tak suka pada gadis yang telah menolongnya karna sang gadis terlalu banyak ingin tau dengan urusan orang lain.


"Karna anda sedikit mirip dengan bibi saya." ucap Xiao Ziya yang berkata jujur pada pemuda yang ada di hadapannya itu.


"Siapa nama bibi anda?." tanya pemuda itu yang ingin memastikan sesuatu.


"Ah bibi saya adalah Ratu Minxunzi saya baru bertemu dengannya beberapa waktu yang lalu." ucap Xiao Ziya tanpa menutup nutupi siapa nama sang bibi karna ia yakin pemuda yang ada di hadapannya adalah salah satu kakak sepupunya.


Benar saja ekspresi pemuda itu tampak sangat terkejut, siapa sangka adik sepupu yang ingin ia temui adalah gadis yang dengan berani menyelamatkannya hari ini. Pantas saja kakak pertama berkata bahwa sang ibu sangat tertarik pada adik sepupu mereka.


"Ah ternyata benar kau adik sepupu saya, perkenalkan nama saya Min Ronje putra terakhir dari sang ratu." ucap tuan muda Min Ronje yang memperkenalkan dirinya pada Xiao Ziya.


"Saya adalah Xiao Ziya, senang bisa bertemu dengan anda." ucap Xiao Ziya dengan senyumannya.


Min Ronje menuntun Xiao Ziya menuju hutan tempat di mana wilayah kerajaan Ratu Minxunzi berada, ia tau bahwa adik sepupunya itu sedikit kesulitan menemukan letak hutan itu karna adik sepupunya tak terbiasa dengan pola hutan yang sangat rumit.


"Saya tidak menyangka bahwa adik sepupu saya sekuat ini." ucap Min Ronje yang masih kagum dengan kemampuan berpedang yang dimiliki oleh Xiao Ziya.


"Trimakasih atas pujiannya." ucap Xiao Ziya yang sudah setengah mengantuk.


Melihat ekspersi mengantuk dari Xiao Ziya membuat Min Ronje ingin tertawa bagaimana bisa ia mendapatkan adik sepupu perempuan yang sangat manis dan menggemaskan seperti itu. Min Ronje menawarkan agar Xiao Ziya naik kepunggungnya dan ia akan menggendong gadis itu hingga sampai di kerajaan sang ibu namun dengan cepat Xiao Ziya menggelengkan kepalanya.


"Jangan sampai kau terjatuh saat berjalan hanya karna menahan kantukmu." ucap Min Ronje yang tertawa dengan lirih agar tak menyinggung perasaan adik sepupunya.


Saat hampir sampai di kerajaan Ratu Minxunzi rasa kantuk Xiao Ziya semakin menjadi jadi gadis itu hampir saja jatuh untung saja kakak sepupunya menangkap tubuh gadis itu dengan cepat. Baru kali ini Xiao Ziya merasakan kantuk yang sangat luar biasa seperti ini sebelumnya ia tak pernah merasakannya.


"Sebaiknya kali ini kau tak menolak tawaranku." ucap Min Ronje yang langsung berjongkok dihadapan Xiao Ziya dengan segera gadis itu naik ke atas punggung kakak sepupunya.


"Maaf telah merepotkan anda, sebelumnya saya tak pernah merasakan kantuk sehebat ini." ucap Xiao Ziya yang tak merasa enak hati, baru saja bertemu dengan kakak sepupunya ia sudah merepotkan.


"Ini adalah hal biasa untuk manusia yang pertama kali masuk ke wilayah ini saat malam hari." ucap Min Ronje yang menggendong Xiao Ziya. Gadis itu benar benar tertidur dengan lelap dengan suara mendengkur kecilnya yang lucu.


"Sungguh adik sepupu yang menarik." ucap Min Ronje yang tersenyum.


Pemuda itu akan melewati gerbang masuk wilayah sihir hitam, para prajurit mempersilahkannya masuk. Selama dalam perjalanan menuju Kerjaan Sihir hitam banyak penyihir yang memandanginya bukan ia yang menjadi pusat perhatian namun Xiao Ziya yang sedang dalam gendongan pemuda itu.


"Siap gadis yang tengah tuan muda Ronje itu bawa?." tanya salah seorang wanita yang merupakan seorang penyihir senior.


"Mungkin gadis itu adalah persembahan untuk Yang Muli Ratu Minxunzi." jawab penyihir lainnya. Entah mengapa susana menjadi sedikit mencekam namun hal itu tak mengusik Xiao Ziya. Saat ini buku bersampul tengkorak yang ada di dalam dantian gadis itu sedang mengawasi pergerakan para penyihir hitam.


Walau nona barunya adalah keponakan dari sang ratu sihir hitam namun rakyat dari sang ratu belum mengetahui hal itu sehingga bisa saja nona barunya itu akan mendapatkan sebuah serangan dari penyihir.


"Tuan muda Ronje apakah gadis ini bisa menjadi santapan saya?." ucap seorang pria muda yang tiba tiba saja muncul entah dari mana, pria itu terlihat tergiur saat melihat ke arah Xiao Ziya yang sedang tertidur lelap dalam gendongan Min Ronje.


"Kau tak bisa merebutnya dariku." ucap Min Ronje dengan tatapan tajam.


Pria itu adalah Durzo ia adalah salah seorang bangsawan di kalangan penyihir hitam, kekuasaannya ada di bawah Ratu Minxunzi namun pria itu sering melakukan banyak hal sesuka hatinya sehingga sang ratu sering dibuat kesal oleh dirinya.


Kini buku bersampul tengkorak yang ada di dalam dantian Xiao Ziya sedang mencari cara agar nonanya itu bangun, bisa sangat berbahaya jika nonanya tetap tertidur karna kemampuan Min Ronje ada di bawah pria yang ingin merebut nonanya itu. Buku bersampul tengkorak itu memanggil Xiao Ziya beberapa kali namun tak ada jawaban apapun. Akhirnya ia mengalirkan kekuatan berwarna hitam pekat pada tubuh gadis itu agar efek tidur dari mantra sihir yang dipasang di dalam hutan menghilang. Akhirnya Xiao Ziya mulai tak merasa ngantuk lagi ia membuka matanya.


"Turunkan saya." ucap Xiao Ziya pada kakak sepupunya.


Min Ronje dan Durzo terkejut karna gadis itu bangun lebih awal dari perkiraan mereka, biasanya manusia yang terkena sihir tidur akan bangun setalah dua hari lamanya. Min Ronjr menurunkan Xiao Ziya ia akan melindungi adik sepupunya kali ini.


"Gadis cantik mari ikut dengan paman." ucap pria muda bernama Durzo itu yang sedang merayu Xiao Ziya.


"Tidak saya tidak tertarik dengan anda." ucap Xiao Ziya dengan lantang yang membuat Durzo merasa kesal pria itu langsung mengeluatkan sebuah tongkat sihir tengkorak miliknya.


Durzo membacakan sebuah mantra tiba tiba ada seratus peti mati yang muncul di hadapan Xiao Ziya dan Min Ronje, Min Ronje merasa khawatir jika ia tak mampu melindungi adik sepupunya yang sedang dalam bahaya. Xiao Ziya meminta pada Min Ronje untuk mundur beberapa langkah, pemuda itu tadinya menolak namun Xiao Ziya tetap memaksanya sehingga ia hanya bisa pasrah saja.


"Kau ingin melawanku? pilihan yang sangat buruk." ucap Durzo yang sangat tidak menyangka bahaa gadis yang Min Ronje bawa akan seberani ini padanya sang penyihir hitam terkuat setelah Ratu Minxunzi.


"Begitukah? namun saya rasa tidak juga." ucap Xiao Ziya yang tersenyum penuh arti.


Ratusan peti mati itu terbuka dan muncul para gadis muda dengan mata merah menyala, gigi yang tajam dan wajah yang sangat pucat. Mereka seperti mayat hidup yang sengaja dibuat oleh pria muda yang ada di hadapan Xiao Ziya itu.


"Perbuatanmu sungguh menjijikkan." ucap Xiao Ziya yang tak bisa terima ketika orang yang telah tiada terpaksa dihidupkan kembali untuk dijadikan mayat hidup seperti itu.


"Kau orang kedua yang mengatakan hal itu setelah Ratu Minxunzi." ucap Durzo yang ingat bahwa sang ratu pernah mengatakan bahwa ia adalah pria yang sangat menjijikkan karna membuat para gadis yang ia hisap esensi kehidupannya menjadi mayat hidup.


Hai hai semuanya author balik lagi semoga kalian sehat selalu ya, jangan lupa follow buat yang belum, vote karna itu wajib, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.