
Sedangkan di sisi lain saat ini ketiga pemuda yang dikirim untuk menangkap Xiao Ziya sudah kembali ke tempat tinggal mereka yaitu sebuah lapisan dunia yang sangat misterius bahkan keberadaanya saja tak banyak diketahui oleh orang lain. Karna ketiga pemuda itu kembali dalam kondisi terluka parah sehingga membuat orang tua mereka khawatir sekaligus marah.
"Apa yang terjadi pada kalian? mengapa kalian kembali dengan kondisi mengenaskan seperti ini." ucap salah seorang pria paruh baya yang menatap ketiga pemuda itu secara bergantian.
"Gadis yang ingin kita jadikan sebagai objek uji coba memiliki kekuatan yang sangat besar sehingga kami kewalahan melawannya ayah." ucap salah seoramg pemuda yang merupakan putra dari pria paruh baya itu.
Ternyata ketiga pemuda yang dikirim ke dunia bawah adalah anak dari pemimin generasi ketiga hingga generasi saat ini.
"Seharusnya ayah tak mengirimmu kesana putraku." ucap Fenzu Zee yang merupakan pemimpin generasi kelima (sekarang). Ia melihat dengan teliti luka luka goresan pedang yang ada di tubuh putrnya itu, bukankah itu sangat menyakitkan.
"Kami tak mengira bahwa gadis bernama Xiao Ziya itu bisa menangkis dan menghindar dari peluru timah panas yang aku dan saudara Lino tembakkan." ucap Gerry Zee ia adalah putra dari pemimpin generasi ketiga, mereka memang tak mengetahui jika jiwa yang ada di dalam tubuh Xiao Ziya adalah jiwa seorang gadis yang tinggal di jaman moderen.
"Sebaiknya untuk misi selanjutnya kita mengirim beberapa master agar hal seperti ini tak terulang lagi." ucap Yanzuro Zee merupakan pemimpin generasi ketiga.
"Apa tidak sebaiknya kita mencari objek uji coba yang lain saja karna gadis bernama Xiao Ziya itu terlalu berbahaya." ucap Fenzu Zee yang menyarankan agar mereka berhenti mengincar Xiao Ziya demi keselamatan semua orang.
"Tak ada bahan uji coba yang lebih baik dari gadis itu, lagipula kita memiliki kecerdasan yang lebih tinggi dari seorang dewa sekalipun karna itu status kita ada di atas mereka. Jangan membuat para leluhur merasa malu karna kita tak sanggup membereskan seorang gadis berumur tiga belas tahun." ucap Anzu Zee, sebagai pemimpin generasi keempat ia merasa bahwa membawa Xiao Ziya kedunia mereka hanya memerlukan strategi yang cerdas dan waktu yang tepat saja.
Sedangkan di sisi lain saat ini Xiao Ziya sudah sampai di Akademi Kekaisaran Qiyu, gadis itu berkeliling di seluruh sudut akademi dan memastikan para prajurit sudah menempati titik yang tepat, saat gadis itu sedang sibuk mempersiapkan sistem keamanan untuk pesta penyambutan pagi ini tiba tiba Xiao Ziya merasakan ada beberapa orang yang mengikutinya dari belakang. Karna penasaran siapa yang mengikutinya gadis itu berjalan melewati lorong kelas murid luar yang sangat sepi dan juga gelap.
Beberapa orang melesat ke arah Xiao Ziya dan mencoba untuk menyerangnya menggunakan pedang yang mereka bawa. Mata Xiao Ziya bersinar mengeluarkan cshaya berwarna merah ternyata orang orang yang mengikuti dan menyerangnya adalah murid murid Akademi Kekaisaran Qiyu yang berasal dari Sekte Bambu perak sepertinya mereka masih berusaha untuk membalaskan dendam teman mereka.
"Sialan, mengapa sulit sekali membunuh gadis sialan sepertimu." ucap Felix yang terus berusaha menyerang menggunakan pedangnya.
Xiao Ziya menghindari setiap serangan yang mereka layangkan dengan mudah, gadis itu sudah bosan dengan masalah ini yang belum juga selesai. Seandainya saja teman teman Muyen itu percaya dengan apa yang ia katakan dan menerima bukti bukti yang telah mereka temukan sendiri maka Xiao Ziya tak perlu melakukan kekerasan.
"Hais katakanlah jika kalian memang ingin menyusul Muyen." ucap Xiao Ziya yang meregangkan otot ototnya yang kaku, ia menatap teman teman Muyen dengan tatapan tajam. Lorong kelas yang sedari awal sudah berhawa dingin kini semakin bertambah dingin, bulu kuduk Felix, Yienran, dan kedua temannya yang lain berdiri. Mereka merasa bahwa kematian sedang ada di sekitar mereka, perlahan mereka berempat mundur kebelakang dan mencari jarak aman.
Xiao Ziya tersenyum dengan senyuman yang mengerikan kemudian gadis itu melesat ke arah Ling Zoho, gadis itu memenggal kepala Ling Zoho menggunakan sebilah pedang berwarna merah yang baru saja ia ambil dari cincin semesta.
Walau lorong kelas itu sangat gelap namun Su Miji, Yienran, dan Felix dapat melihat dengan jelas saat kepala Ling Zoho terpisah dari badannya. Mereka bertiga menatap ke arah Xiao Ziya dengan tubuh yang gemetaran, gadis itu dapat membunuh dalam satu kedipan matanya bahkan setelah membunuh Xiao Ziya tak pernah menunjukkan ekspresi bersalah.
"Gadis itu benar benar sudah gila, kita harus segera pergi dari sini." ucap Felix yang mengajak kedua temannya untuk lari. Akhirnya mereka bertiga lari dan mencari tempat yang cukup ramai namun sangat disayangkan belum sempat keluar dari lorong gelap itu kepala mereka bertiga sudah terjatuh di lantai.
Xiao Ziya berjalan dengan santai melewati empat jasad murid Akademi Kekaisaran Qiyu yang tergeletak di lantai, gadis itu mengelap darah yang berlumuran di pedangnya itu kemudian pergi menjauh. Kali ini Xiao Ziya tak akan membakar keempat jasad itu karna ini adalah sebuah peringatan bagi seluruh penghuni Akademi Kekaisaran Qiyu agar tak membuat masalah dengan master mereka.
Setelah semua persiapan pesta sudah selesai Xiao Ziya masuk kedalam salah satu ruangan yang digunakan sebagai kamar untuknya. Gadis itu merebahkan tubuhnya di atas ranjang kemudian memejamkan matanya sebentar.
Tak berselang lama setelah Xiao Ziya tertidur pagipun datang semua orang yang mendapat undangan pesta penyambutan sibuk mendandani diri mereka agar terligat anggun dan menawan saat pesta dilangsungkan. Sedangkan saat ini Xiao Ziya baru bangun dan membuka matanya perlahan ia langsung berjalan ke kamar mandi dan menggunakan seragam resmi sebagai Master dari Akademi Kekaisaran Qiyu.
"Humm mungkin saya harus menambah sedikit aksesoris." ucap Xiao Ziya yang mengambil beberapa hiasan rambut dan memilih mana yang akan ia gunakan. Xiao Ziya mengambil sebuah mahkota kecil berwarna biru, ia memasang mangkota itu keatas kepalanya. Selain itu Xiao Ziya menggunakan kalung yang berhiaskan spirit stone hitam yang cantik, semua hiasan yang ia gunakan menambah kesan elegan dan juga anggun.
Setelah merasa sudah siap Xiao Ziya keluar dari kamarnya dan berjalan menuju aula utama Akademi Kekaisaran Qiyu, saat masuk kedalam aula utama banyak mata yang memandanginya.
"Master Ziya memang gadis tercantik yang ada di Wilayah Kekaisaran Qiyu." ucap salah satu murid akademi yang terpesona dengan kecantikan yang dimiliki oleh Xiao Ziya.
"Sepertinya Master Ziya gadis tercantik yang pernah ada di dunia bawah." ucap murid lain yang memiliki pendapat berbeda.
Xiao Ziya berjalan kedepan dan duduk di sebuah kursi yang memang disiapkan hanya untuk dirinya, kini mereka tinggal menunggu beberapa tamu penting yang belum hadir.
"Adik Ziya kemarilah." ucap Xiao Yuna yang memanggil Xiao Ziya sembari melambaikan tangannya.
Karna merasa dirinya dipanggil akhirnya Xiao Ziya menoleh kesumber suara dan menemukan saudara saudaranya dari Klan Xiao sudah berkumpul. Xiao Ziya turun dari kursi mewahnya itu dan bergabung dengan saudaranya yang lain, cukup lama mereka berbincang bincang hingga prajurit yang ditugaskan untuk menjaga pintu masuk aula utama mengumumkan kedatangan Kaisar Yan beserta beberapa anggota Kekaisaran Qiyu yang lain.
"Siapa gadis yang menempel pada kakak kita?" tanya Xiao Xun yang menatap geli gadis itu, karna tingkahnya yang manja seperti belatung kepanasan.
"Entahlah saya juga tak mengenalnya." jawab Xiao Ziya dengan singkat karna gadis itu sedang merasa kesal.
Aura membunuh yang cukup kental keluar dari tubuh Xiao Ziya dan aura menbunuh itu hanya dirasakan oleh Wi Xume, gadis itu gelagapan saat melihat Xiao Ziya sedang menatap tajam kearahnya. Wi Xume menunjukkan ekspresi ketakutannya ia menggoyang goyangkan pelan lengan Kaisar Yan.
"Ada apa? mengapa kau terlihat ketakutan seperti itu?." tanya Kaisar Yan pada Wi Xume karna ia tak merasakan ada ancaman di sekitarnya.
Dengan wajah pura pura polosnya itu Wi Xume menunjuk ke arah Xiao Ziya sehingga sehingga ada beberapa orang yang langsung mengalihkan pandangannya ke arah Xiao Ziya, namun yang mereka lihat hanyalah Xiao Ziya yang sedang bercengkrama dengan Xiao Xun menyadari beberapa orang sedang melihat ke arahnya Ziya langsung melihat kearah mereka kemudian tersenyum dengan manis.
"Apa kau ingin menemui adik Ziya dan saudara Xun?." tanya Kaisar Yan yang merasa kebingungan. Karna tak bisa membuat alasan lain akhirnya Wi Xume mengiyakan apa yang dikatakan oleh Kaisar Yan.
Kaisar Yan dan Wi Xume berjalan mendekat ke arah Xiao Ziya beserta saudara dan saudarinya yang lain. Setelah sampai di hadapan mereka semua Kaisar Yan memperkenalkan gadis yang ada di sampingnya itu.
"Wah mangkota biru milik adik Ziya sangatlah cantik." ucap Wi Xume dengan ekspresi terkagum kagum pada mahkota biru yang terpsang dengan indah di kepala Xiao Ziya. Mendengar gadis antah berantah menyebutnya dengan panggilan adik membuat Xiao Ziya ingin menamparnya.
"Maaf anda tidak bisa menyebut saya dengan panggilan adik karna saya bukan adik anda, dan anda juga harus ingat status anda." ucap Xiao Ziya yang mulai mengucapkan komentar pedasnya.
Wi Xume melihat ke arah Kaisar Yan seperti meminta sebuah pembelaan dari pemuda itu, dengan mata berkaca kaca yang dibuatnya berhasil menarik rasa simpati dari Kaisar Yan.
"Saya harap adik Ziya bisa menghormati gadis yang akan menjadi pendamping saya ini." ucap Kaisar Yan yang mengatakan bahwa Wi Xume adalah gadis yang ia pilih untuk menjadi pendamping hidupnya.
"Saya harap jika Kaisar Yan sudah bosan menjadi seorang kaisar silahkan lengser dari tahta anda." ucap Xiao Ziya dengan senyuman maut andalannya, tentu semua orang yang ada di sana berpihak pada Xiao Ziya.
Karna tak ingin keributan semakin memanas akhirnya pesta penyambutan Kepala Akademi Kekaisaran Qiyu yang baru dimulai, pertama tama Xiao Ziya memberikan beberapa kata sambutan kemudian Xiao Xun menjelaskan visi dan misinya selama menjabat sebagai kepala akademi. Setelah serentetan acara yang cukup membosankan selesai kini para tamu bisa menikmati hidangan yang disajikan.
Xiao Ziya berjalan menuju kursi mewah yang sengaja disiapkan untuknya, namun saat ia ingin duduk di sana tiba tiba Wi Xume mendudukinya terlebih dahulu, gadis itu terlihat sangat senang dan menatap remeh ke arah Xiao Ziya seperti sedang menantangnya.
Xiao Ziya tetap berjalan menuju kursinya itu setelah itu ia mendorong Wi Xume hingga gadis itu terjatuh, setelah kursinya kosong Xiao Ziya mendudukinya dan tersenyum.
"Yang Mulia Kaisar Yan adik anda mendorong saya hingga saya jatuh tersungkur." ucap Wi Xume yang menunjukkan lecet di kakinya. Kaisar Yan menggertakkan giginya karna merasa kesal baru kali ini ia merasa kesal pada Xiao Ziya.
"Apa yang kau lakukan padanya bukankah dia hanya ingin duduk saja." ucap Kaisar Yan, ia membentak Xiao Ziya dengan kencang. Xiao Xun dan saudara saudara Xiao Ziya ingin memaki gadis bernama Wi Xume itu namun Ziya memberikan isyarat agar mereka tak ikut campur.
"Ah maafkan saya Kaisar Yan yang terhormat namun kursi ini memang disediakan khusus untuk saya sebagai Master di Akademi ini." ucap Xiao Ziya dengan wajah polosnya. Wi Xumw mengepalkan tangannya erat.
"Tapi kau bisa memintanya turun secara baik baik." ucap Kaisar Yan yang sedang menasehati adik perempuannya itu karna tindakan Xiao Ziya sudah terlewat batas.
"Ah jadi begitu rupanya, mungkin saya tadi reflek karna merasa kesal. Jika ada orang asing yang duduk di singgasana anda apa yang akan anda lakukan?." tanya Xiao Ziya dengan senyuman penuh arti miliknya.
"Tentu saya akan memenggal kepala orang itu." ucap Kaisar Yan dengan tegas, tanpa sadar ia masuk kedalam perangkap adiknya sendiri.
"Bukankah apa yang saya lakukan itu masih sangat baik hanya mendorongnya saja bukan memenggal kepalanya seperti apa yang Kaisar Yan katakan." ucap Xiao Ziya yang memenangkan ronde pertama.
"Hiks hiks mengapa adik anda sangat jahat pada saya? apa saya melakukan kesalahan." ucap Wi Xume yang kembali membuat ulah dan mengadu pada Kaisar Yan.
Xiao Ziya memutar bola matanya jengah, aih gadis itu sangatlah berisik dan memuakkan.
"Kalau mental lembek jangan sok keras, dikit dikit ngadu dikit dikit ngadu. Cewe lemah kok ngayal jadi ratu bangun dong jangan mimpi teros !!!." triak Xiao Ziya dengan sangat keras, mendengar perkataan Xiao Ziya tentu membuat Wi Xume merasa malu ditambah suara sorakan dari murid murid akademi yang ada di aula.
Hai hai semua maaf updatenya jarang karna hp ku lagi strees bisa mati idup sendiri, mau beli juga ga ada duit atau ada yang mau beliin? wkwkwk bercanda guys. Jangan lupa follow buat yang belum, vote ya karna wajib, like like like, komen, rate, share juga ya.