RATU IBLIS

RATU IBLIS
Tak Ingat Apapun


Saat Mue Linzong dan Mue Sanron kebingungan tentang apa yang telah terjadi pada Klan Mue di sisi lain Xiao Ziya masih menunggu kedatangan Zu Junyang dan Zu Genzi, kedua pemuda itu seharusnya sudah datang beberapa saat yang lalu karna saat ini hari sudah larut malam. Xiao Ziya sempat berfikir untuk meninggalkan mereka namun gadis itu tak tega jika keduanya harus menyusul sendirian ke Kerajaan Bulan, setelah menunggu cukup lama akhirnya Xiao Ziya melihat dua orang pemuda yang sedang berlari ke arahnya.


"Maaf karna membuat Nona Ziya menunggu lama, orang tua kami memberi banyak sekali nasehat sebelum kami pergi." ucap Zu Junyang dengan jujur, ayah dan ibunya sempat melarang pemuda itu untuk ikut dengan Xiao Ziya ke Kerajaan Bulan karna takut gadis itu hanya ingin menculik putranya saja. Untunglah Zu Junyang dapat meyakinkan kedua orang tuanya bahwa Xiao Ziya adalah gadis baik yang tak akan menyakiti siapapun tanpa sebab yang jelas.


"Ibu saya menyiapkan banyak barang yang harus ia bawa, ia menitipkan pesan agar Anda menjaga saya dengan baik nantinya. Maaf jika pesan daru ibu saya membuat Anda tersinggung Nona Ziya." ucap Zu Genzi, wajah jika orang tua pemuda itu sangat khawatir padanya. Zu Genzi adalah anak tunggal yang sangat di manja oleh ayah dan ibunya sejak kecil, orang tua Zu Genzi hanya khawatir anak mereka tak bisa bertahan hidup ketika berada jauh dari jangkauan keduanya.


"Kalian sangat beruntung karna mendapat orang tua yang sangat baik seperti mereka, tenang saja selama ikut dengan saya keselamatan kalian adalah tanggung jawab saya." ucap Xiao Ziya dengan raut wajah sedih. Gadis itu sedang membayangkan bagaimana rasanya jika ia memiliki seorang ibu yang selalu mengkhawatirkan keadaanya ketika ia pergi ke suatu tempat yang jauh.


Tanpa Xiao Ziya sadari air mata mulai mengalir dengan cukup deras membasahi pipinya, Zu Junyang dan Zu Genzi kelabakan saat melihat Xiao Ziya menangis. Mereka berdua tak mengerti apa yang membuat gadis itu merasa sedih, mungkinkah ia tak memiliki sesosok ayah ataupun ibu? atau gadis itu terlahir dari keluarga yang kurang harmonis. Zu Junyang dan Zu Genzi tak berani menanyakan hal tersebut pada Xiao Ziya karna mereka takut akan menyakiti hati Xiao Ziya lebih jauh lagi.


"Mari kita berangkat sekarang." ucap Xiao Ziya yang mengajak keduanya untuk memulai perjalanan menuju Istana Kerajaan Bulan.


Para prajurit penjaga perbatasan membungkukkan badan mereka ketika Xiao Ziya melintas, para prajurit itu sudah mendapat informasi bahwa Xiao Ziya akan kembali ke Kerajaan Bulan. Mungkin ini penghormatan terakhir yang bisa mereka berikan pada Xiao Ziya yang sudah banyak berjasa untuk penduduk Kerajaan Bintang Timur, jika para penduduk mendapatkan informasi yang sama mungkin mereka akan berjajar di sepanjang jalan untuk mengantar kepergian Xiao Ziya, sangat disayangkan gadis itu melarang Raja Yongling Zu memberitahu kepergiannya pada penduduk Kerajaan Bintang Timur.


"Selamat tinggal Nona Besar Xiao Ziya, kami akan selalu mengingat semua yang telah Anda lakukan untuk Kerajaan Bintang Timur. Kembalilah kapanpun, kami akan menerima kedatangan Anda." ucap para prajurit penjaga perbatasan secara serempak, beberapa diantara mereka meneteskan air mata.


"Semoga saya kembali lagi ke tempat penuh kenangan ini, sampai jumpa semua dan saya harap kalian bisa menjaga diri dengan baik." ucap Xiao Ziya dengan senyuman lebar yang menghiasi wajah cantiknya. Gadis itu meminta Zu Junyang dan Zu Genzi untuk mempercepat langkah mereka agar Xiao Ziya tak bisa mendengar suara teriakan dari prajurit penjaga perbatasan yang memintanya untuk kembali suatu hari nanti.


Mungkin Xiao Ziya tak akan pernah kembali ke tempat itu atau menginjakkan kakinya lagi di sana setelah mendengar penolakan dari Ratu Junyi Zu. Kata kata sang ratu masih terngiang dengan jelas di kepala Xiao Ziya.


"Anda baik baik saja Nona Ziya?." tanya Zu Junyang, pemuda itu merasa khawatir karna ia melihat Xiao Ziya berjalan dengan tatapan kosong. Apa yang telah terjadi di Istana Kerajaan Bintang Timur ketika mereka berdua kembali ke Klan Zu?.


"Saya baik baik saja, hanya merasa sedikit lelah." jawab Xiao Ziya dengan kata kata bohong, gadis itu tak mungkin mengatakan bahwa wanita yang melahirkannya bukanlah ibu kandung yang ia cari selama ini.


"Jika Nona Ziya merasa lelah, kita bisa beristirahat di sini." ucap Zu Genzi.


"Perjalanan masih sangat jauh dan saya tak bisa membuang buang waktu hanya karna merasa lelah." jawab Xiao Ziya. Akhirnya Zu Junyang dan Zu Genzi hanya bisa mengikuti keinginan gadis itu saja, mereka berdua berharap Xiao Ziya akan baik baik saja hingga mereka sampai di wilayah Kerajaan Bulan.


Di tempat lain saat ini Raja Yongling Zu dan Putra Mahkota Yunzo Zu sedang menunggu sang ratu sadar, mereka berdua ingin mengetahui secara detail penjelasan tantang ucapan sang ratu pada Xiao Ziya beberapa saat sebelum gadis itu pergi meninggalkan Kerajaan Bintang Timur. Setelah menunggu cukup lama akhirnya Ratu Junyi Zu tersadar, wanita itu langsung melihat kesekeliling dengan tatapan bingung. Sepertinya sang ratu tak mengingat apapun yang terjadi sebelum ia pingsan, kemungkinan besar Ratu Junyi Zu juga tak menyadari kalimat apa yang telah ia lontarkan pada Xiao Ziya.


"Bagaimana kondisi mu sekarang istriku?." tanya Raja Yongling Zu sembari mengusap kening sang istri pelan.


"Mengapa saya berada di sini? dimana Nona Ziya?." tanya Ratu Junyi Zu yang hanya mengingat bahwa terakhir kali ia berbincang bincang dengan Xiao Ziya kemudian ia kehilangan kesadaran begitu saja.


"Nona Ziya sudah kembali ke Kerajaan Bulan beberapa saat yang lalu. Apakah ibu tak mengingat apapun yang telah ibu lakukan pada Nona Ziya?." tanya Putra Mahkota Yunzo Zu dengan tatapan penuh selidik. Ia tau wanita yang sedang ia tanyai adalah ibu kandungnya, di sisi lain Putra Mahkota Yunzo Zu merasa tak terima karna Xiao Ziya mendapat perlakuan yang tak pantas seperti tadi.


"Memangnya apa yang telah ibu lakukan pada Nona Ziya?." ucap Ratu Junyi Zu yang menanyakan balik hal tersebut pada sang putra mahkota.


Putra Mahkota Yunzo Zu menatap ke arah ibunya sebentar kemudian pemuda itu memilih untuk keluar dari kamar utama tempat Ratu Junyi Zu di rawat, setelah sampai di luar ruangan tersebut Putra Mahkota Yunzo Zu mengepalkan tangannya dengan erat kemudian memukul dinding yang ada di depannya. Entah mengapa ia masih belum percaya bahwa Ratu Junyi Zu tak mengingat apapun yang telah ia katakan pada Xiao Ziya, putra mahkota melihat binar mata ibunya bergetar ketika membalikkan pertanyaan tersebut padanya.


"Argh... apa yang akan terjadi pada adik Ziya nantinya. Bagaimana jika adik ziya tak ingin berkunjung kembali ke istana ini." ucap Putra Mahkota Yunzo Zu dengan frustasi, ia tak bisa membantu apapun untuk memulihkan ingatan sang ratu. Ketika Ratu Junyi Zu mendapatkan sedikit serpihan ingatan yang ia miliki ia malah melontarkan kata kata menyakitkan pada Xiao Ziya.


Saat Putra Mahkota Yunzo Zu sedang melampiaskan amarahnya dengan memukul dinding, Yang Mulia Raja Yongling Zu masih tersenyum tipis ke arah sang istri. Raja Yongling Zu tak bisa memaksa sang istri mengingat kembali kejadian tersebut, bagaimanapun juga kesehatan Ratu Junyi Zu merupakan prioritas Raja Yongling Zu saat ini.


"Beristirahatlah istriku, kau tak perlu memikirkan apapun yang dikatakan oleh Putra Mahkota." ucap Raja Yongling Zu yang meminta pada ratunya untuk beristirahat memulihkan tubuh serta jiwa yang terasa begitu lelah.


"Sudahlah ini bukan kesalahan mu, beristirahatlah hingga kondisi mu membaik." ucap Raja Yongling Zu yang ikut keluar dari kamar utama, entah mengapa baru kali ini ia merasa ragu dengan apa yang dikatakan oleh sang istri


"Mungkinkah ibu menyembunyikan sesuatu?." tanya Putra Mahkota Yunzo Zu dengan suara pelan agar tak didengar oleh siapapun. Raja Yongling Zu hanya menggelengkan kepalanya sebagai pertanda bahwa ia tak mengetahui apapun tentang hal ini.


Suasana di istana Kerajaan Bintang Timur berubah menjadi sunyi setelah kepergian Xiao Ziya, beberapa pelayan dan prajurit yang mendengar setra menyaksikan langsung kejadian itu merasa sangat kecewa dengan sikap sang ratu terhadap salah satu anaknya sendiri. Meskipun Xiao Ziya adalah anak dari Ratu Junyi Zu dengan seorang pria dari dunia bawah, Xiao Ziya bukanlah aib yang harus ia buang jauh jauh agar orang lain tak mengetahuinya.


"Nona Ziya banyak membantu Kerajaan Bintang Timur ketika ia tinggal di tempat ini, saya juga mendengar bahwa Nona Ziya sengaja datang ke Dunia Manusia Abadi hanya untuk bertemu dengan sang ibu." ucap salah seorang pelayan yang sedang menyapu halaman belakang Istana Utama.


"Jika saya adalah seorang ibu maka saya akan merasa sangat bahagia mendapat seorang putri seperti Xiao Ziya." ucap pelayan lain, ibu ibu di luar sana pasti sangat iri dengan ibu kandung dari Xiao Ziya. Gadis itu memiliki paras yang sangat cantik dengan kekuatan yang sudah melebihi para dewa dewi, selain itu Xiao Ziya adalah gadis yang akan bersikap dingin pada orang yang belum ia kenali, dan menunjukkan keramahan pada orang orang tertentu saja.


"Sangat disayangkan Yang Mulia Ratu Junyi Zu menolak fakta bahwa gadis itu adalah putrinya. Entah mengapa saya sangat kecewa dengan sikap sang ratu kali ini." ucap pelayan lainnya dengan raut wajah masam.


Saat ini Xiao Ziya dan kedua pemuda yang akan ia latih telah sampai di bagian terdalam dari hutan perbatasan antara Kerajaan Bintang Timur dengan Kerajaan Bulan, saat ketiganya sedang berjalan dengan santai tiba tiba ada segerombolan singa liar yang keluar dari semak semak dan mengepung ketiganya. Zu Junyang dan Zu Genzi menatap ke arah Xiao Ziya, mereka ingin tau apa keputusan Xiao Ziya mengenai situasi saat ini.


"Kalian mundur lah, saya sudah berjanji untuk menjaga kalian berdua selama ikut bersama dengan saya." ucap Xiao Ziya dengan nada datar, Zu Junyang dan Zu Genzi mundur beberapa langkah karna mereka tak ingin membantah perintah dari Xiao Ziya.


Xiao Ziya menatap tajam ke arah singa singa kelaparan itu, sepertinya mereka ingin menyantap Xiao Ziya bersama dengan kedua pemuda yang ikut dengannya. Mengetahuinya hal tersebut tak membuat Xiao Ziya merasa takut, gadis itu malah tersenyum mengerikan dan langsung melesat menghampiri beberapa singa dengan aura membunuh yang melekat kuat di tubuh Xiao Ziya. Dalam satu gerakan gadis itu telah mematahkan leher beberapa singa hingga kawanan singa yang lain menjadi ragu untuk mencari masalah dengan gadis itu.


"Kalian semua majulah secara bersamaan." ucap Xiao Ziya yang tak ingin menyia-nyiakan waktunya hanya untuk hal hal seperti ini.


Ucapan dari Xiao Ziya membuat beberapa singa merasa terhina, para singa itu bersiap untuk menerkam ke arah Xiao Ziya secara bersamaan. Xiao Ziya meregangkan otot tangan dan otot kakinya agar pertarungan kali ini berjalan dengan cepat dan ia bisa segera sampai di wilayah Kerajaan Bulan. Setelah memastikan posisi mereka tertata dengan rapi, seorang singa maju kedepan kemudian mengaum dengan suara yang sangat besar sepertinya singa tersebut pemimpin dari singa singa yang lain.


Setelah mendengar suara auman itu ratusan singa langsung menerjang ke Xiao Ziya dengan cakar cakar tajam mereka, dengan sigap Xiao Ziya mengambil pedang hitam miliknya untuk memberikan serangan balik.


Pertarungan di antara Xiao Ziya dengan segerombol singa membuat hewan lain yang tinggal di dalam hutan tersebut merasa kebingungan, singa bukanlah hewan yang mudah untuk dikalahkan namun jika singa tersebut merasa kalah dari seseorang maka ia akan terus mengejar ketertinggalan itu hingga bisa mengalahkan orang tersebut.


"Apa kami hanya diam saja dan menyaksikan pertarungan Anda?." tanya Zu Junyang yang sangat ingin membantu Xiao Ziya.


"Jangan ikut campur tanpa perintah langsung dari saya." jawab Xiao Ziya dengan nada dingin sembari melawan para singa yang terus berdatangan untuk menyerangnya itu.


"Kami hanya tak ingin Anda terluka." ucap Zu Genzi dengan binar mata sedih.


"Saya memang sudah terluka." jawab Xiao Ziya dengan nada dingin, luka yang diberikan oleh singa singa yang terus menyerangnya tak akan sesakit luka yang diberikan oleh Ratu Junyi Zu kepadanya.


Setelah pertarungan yang memakan waktu cukup lama, akhirnya Xiao Ziya dapat membunuh semua singa yang menghalangi jalannya itu. Zu Junyang dan Zu Genzi hanya bisa menelan ludah mereka dengan kasar, keduanya mengerti bahwa Xiao Ziya sengaja membuat pertarungan berjalan dengan waktu lama sebagai pelampiasan atas kekesalannya hari itu. Setelah urusannya dengan para singa itu selesai Xiao Ziya meminta Zu Junyang dan Zu Genzi untuk melanjutkan perjalanan mereka yang sempat tertunda, kali ini Xiao Ziya melesat dengan kekuatan tinggi karna ia ingin segera sampai di Istana Kerajaan Bulan.


Di tempat lain tepatnya Istana Kerajaan Yuan Liong, Mue Sanron dan Mue Linzong telah sampai di tempat itu dengan amarah yang meluap luap dari dalam tubuh mereka. Putra Mahkota Yuan Konju meminta para prajurit dan beberapa jenderal untuk menahan keduanya agar tak masuk ke dalam istana utama akan tetapi Mue Linzong menyerang mereka semua dengan berutal menggunakan sihir api.


"Berhentilah, jangan mengacau di istana ini." tegur Putra Mahkota Yuan Konju dengan tatapan sinis yang ia berikan pada Mue Linzong dan Mue Sanron. Saat ini Klan Mue sudah tak berguna lagi bagi Istana Kerajaan Bintang Timur, karna hal itu ia tak perlu bersikap terlalu sopan kepada keduanya.


Hai hai semua author minta maaf kalau ada salah sama kalian ya guys, maaf juga kalau ada beberapa kata yang ga nyambung karna ini ngetiknya sambil ngantuk. Gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya guys, Minal aidzin wal faidzin mohon maaf lahir batin. Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.