RATU IBLIS

RATU IBLIS
Kalian Bukan Tamuku


Hari sudah mulai sore Yume sudah terbangun dari tidur lelapnya sedangkan Xiao Ziya masih setia memeluk bantalnya, gadis itu terlihat sangat pulas sehingga Yume tak tega membangunkan Xiao Ziya.


"Dia sangat baik padaku, jangan sampai orang orang istana Xingmen menyakitinya." ucap Yume sambil menatap Xiao Ziya dengan teduh.


Sebenarnya apa yang terjadi pada Yume saat tiba di wilayah kekaisaran Qiyu jauh dari ekspetasinya, ia mengira orang orang dari istana kekaisaran tak ada yang mau mendengar penjelasannya. Siapa sangka seorang adik kaisar yang statusnya cukup tinggi menerimanya dengan baik dan memberinya kesempatan untuk balas dendam. Pandangan Yume tentang orang orang Kekaisaran Qiyupun sekarang berubah, ternyata tak semua anak bangsawan akan sombong dan menginjak injak rakyat biasa.


Setelah menunggu agak lama akhirnya Xiao Ziyapun terbangun dari tidur lelapnya. Dia sedikit terkejut saat melihat Yume yang sedang menatapnya.


"Apakah ada yang aneh dengan wajahku?." ucap Xiao Ziya secara spontan, gadis itu tak terbiasa di tatap lama oleh orang lain.


"Tidak hanya saja aku tak tega saat akan membangunkan nona." ucap Yume yang sedikit merasa takut jika ia akan dimarahi oleh Xiao Ziya.


"Baguslah, waktu tidurku adalah hal yang paling berharga. Untung saja kau tak membangunkanku. Kau tau jika kaisar sekalipun yang mengusik tidurku aku akan memarahinya." jelas Xiao Ziya pada Yume.


Yume merasa sangat bersyukur karna tidak melakukan tindakan yang salah, siapa sangka gadis berparas cantik, imut, dan manis itu sangat menyeramkan saat marah. Yume mengintip dari jendela saat Xiao Ziya beradu argumen dengan orang orang dari Kerajaan Xingmen.


"Mari kita sembuhkan dulu luka lukamu, setelah itu kau harus merubah penampilanmu." ucap Xiao Ziya yang mengoleskan salep pada luka yang ada di tubuh Yume, kemudian Xiao Ziya merapal sebuah mantra sihir yang bisa membuat wajah seseorang berubah.


Yume sungguh takjub dengan kekuatan Xiao Ziya, gadis itu terlihat lebih muda dari Yume yang sudah berusia enam belas tahun namun kekuatannya jauh lebih kuat darinya.


"Trimakasih nona sudah berbaik hati padaku." ucap Yume sambil membungkukkan badannya.


Setelah semuanya beres Xiao Ziya mengajak Yume untuk pergi menuju dapur kekaisaran, sudah lumayan lama Xiao Ziya tak memasak makanan yang akan ia makan.


"Hormat kami pada nona besar." ucap seluruh pelayan yang ada di dapur istana, melihat kedatangan Xiao Ziya jelas membuat mereka merasa senang.


"Aku ingin memasak, jadi bisakah kalian membantuku?." tanya Xiao Ziya pada para pelayan yang saat ini saling bertatapan satu sama lain.


"Kami siap membantu." ucap semua pelayan yang ada di dapur.


"Kalian memasaklah untuk orang orang dari Kerajaan Xingmen dan juga kaisar. Aku akan memasak untuk tamuku kalian faham." ucap Xiao Ziya yang tak ingin menyia nyiakan bakat menasaknya hanya untuk membuatkan makanan orang orang kerajaan Xingmen.


Menurut Xiao Ziya orang orang dari Kerajaan Xingmen tak pantas untuk berada di istana kekaisaran apalagi mencicipi makanan yang ia buat.


"Aku akan membantu nona." ucap Yume yang merasa canggung ketika dirinya hanya berdiri dan melihat Xiao Ziya yang sedang membuat adonan.


"Baiklah kau boleh membantuku." ucap Xiao Ziya yang mengizinkan Yume untuk membantunya.


Di tempat lain saat ini Xiao Yan dan beberapa orang sedang berada di aula istana kekaisaran. Xiao Yan ingin meminta penjelasan orang orang dari Kerajaan Xingmen tentang perlakuan mereka terhadap adiknya.


"Mengapa kalian menghina adikku." ucap Xiao Yan dengan nada tegasnya.


"Mohon maaf Yang Mulia Kaisar bukankah tak pantas seorang putri berpenampilan layaknya rakyat biasa." ucap Selir Xi Jinhu yang sedang mencari cari kesalahan Xiao Ziya.


"Lagipula adik Yang Mulia Kaisar sangatlah tidak sopan terhadap anda." ucap Pangeran Xi Wanho yang menambahi, sepertinya mereka ingin memprovokasi Xiao Yan agar ia marah dan menjatuhi hukuman pada Xiao Ziya.


"Lagipula adik saya hanya merusak sebuah taman kecil." ucap Pangeran Xi Yizu yang sedang membela Putri Xi Minju.


"Jadi menurut kalian adikku yang bersalah atas hal ini?." tanya Xiao Yan yang tak mengerti jalan fikiran orang orang Kerajaan Xingmen, sudah terlihar jelas bahwa merekalah yang bersalah namun mereka malah membalikkan fakta dan menyalahkan Xiao Ziya.


"Adik Yang Mulia terlalu berlebihan, saya hanya merusak sedikit taman jelek itu." ucap Putri Xi Minju.


Jika saat ini Xiao Ziya juga berada di aula mungkin saja orang orang dari Kerajaan Xingmen hanya tinggal namanya saja. Xiao Ziya sangat tempramental dan tak segan membunuh atau melukai siapapun yang berani mengusiknya, Xiao Ziya juga tak pernah takut dengan status tinggi yang dimiliki orang lain.


"Lain kali jaga sikap kalian, ini adalah wilayahku kalian tak bisa berbuat seenak hati. Mungkin kali ini kalian selamat namun tidak dengan lain kali." ucap Xiao Yan yang mengingatkan orang orang dari Kerajaan Xingmen agar tak berbuat sesuka hati mereka di dalam istana kekaisaran.


Walaupun Xiao Yan yang menjadi kaisar namun otoritas tertinggi tetap dimiliki oleh Xiao Ziya.


"Baiklah kalian bisa kembali, saya akan meminta pelayan menyiapkan makan malam." ucap Xiao Yan yang kemudian pergi dari aula utama.


Terlihat wajah orang orang dari Kerajaan Xingmen terlihat tidak senang dengan apa yang dikatakan oleh Xiao Yan.


"Lihat saja cepat atau lambat istana kekaisaran ini akan menjadi milik kami." ucap Pangeran Xi Minho dengan tatapan tajamnya.


Entahlah apa yang diinginkan oleh orang orang Kerajaan Xingmen itu, yang pasti untuk mendapatkan istana kekaisaran Qiyu mereka berlu berhadapan dengan Xiao Ziya dan juga pasukan iblis miliknya.


"Dimana adik Ziya mengapa aku tak melihatnya setelah kejadian tadi." ucap Xiao Xun yang khawatir pada adiknya itu.


"Mungkin dia masih merasa kesal." ucap Xiao Yan.


"Maaf karna perlakuan adikku, putri Ziya menjadi marah dan tidak ikut serta dalam jamuan makan malam." ucap Putri Xi Anhi yang sepertinya ingin menarik simpati dari Xiao Yan.


Saat mereka ingin memulai makan malam tiba tiba masuk beberapa prajurit membawa sebuah meja yang panjang dan beberapa kursi. Mereka menatanya tepat disamping meja makan yang sedang dijadikan tempat jamuan makan malam.


"Apa yang sedang kalian lakukan?." tanya Xiao Yan yang merasa bingung untuk apa meja makan tambahan itu.


"Aku yang meminta mereka untuk meletakkannya di sana, apakah ada masalah?." ucap Xiao Ziya yang memasuki ruang makan dengan seorang gadis yang mengikutinya dibelakang.


"Apa kau sedang marah pada kami?." tanya Xiao Xun yang merasa ada yang salah dengan adiknya, tak biasanya Xiao Ziya makan dengan meja terpisah dari saudara saudaranya.


"Yah, aku hanya tak ingin satu meja dengan orang yang membuatku kesal." ucap Xiao Ziya yang langsung mengarahkan pandangannya pada Putri Xi Minju.


Tak lama setelah itu beberapa pelayan datang membawakan hidangan yang telah dimasak oleh Xiao Ziya, berbagai hidangan yang tak pernah mereka lihat sebelumnya. Di meja makan Xiao Ziya tersaji mie ayam, pangsit isi daging sapi, dan tentu saja nasi goreng kesukaan Xiao Ziya.


Xiao Yan, Xiao Xun, dan Pangeran kegelapan melihat makanan yang tersaji disana. Mereka ingin bergabung dengan Xiao Ziya namun mereka sadar gadis itu sedang merajuk.


"Baiklah karna kita semua sudah berkumpul maka makan malam bisa dimulai." ucap Xiao Yan sambil menyantap makanan yang telah dihidangkan begitu pula dengan orang orang dari Xingmen.


Yume terlihat sangat menikmati makanan yang dibuat oleh Xiao Ziya, rasanya sangat luar biasa enak hingga gadis itu kehabisan kata kata untuk mendeskripsikan makanan buatan Xiao Ziya.


"Nona Ziya mie ini sangatlah enak, aku belum pernah merasakan mie seenak ini." ucap Yume dengan perasaan yang sangat senang.


Melihat makanan yang ada di meja Xiao Ziya membuat putri Xi Minju merasa iri karna hidangan hidangan itu tak ada di mejanya.


"Pelayan." triak putri Xi Minju yang memanggil pelayan.


"Ada apa tuan putri." ucap seorang pelayan yang bergegas datang menghampiri.


"Aku juga ingin makanan yang sama seperti milik gadia itu." ucap Putri Xi Minju sembari menunjuk ke arah Yume yang sedang menikmati makanan.


"Maaf tuan putri, makanan itu dibuat oleh nona besar dan kami tak bisa membuatnya." jawab pelayan itu dengan jujur.


Entah apa yang ada di otak Putri Xi Minju, ia beranjak dari kursinya dan hendak merebut makanan yang ada di hadapan Yume, sepertinya Putri Xi Minju sangat tak tau sopan santun.


"Jauhkan tanganmu dari makanan yang ku buat." ucap Xiao Ziya dengan nada datar.


"Saya adalah tamu di sini dan saya juga berhak mencicipinya." ucap Putri Xi Minju dengan tak tau malu.


"Biarkan putriku mengambilnya, kau masih bisa memasknya lagi putri Ziya." ucap selir Xi Jinhu yang selalu saja membela tindakan salah yang dilakukab putrinya.


Kali ini anggota istana kekaisaran yang lain tak ingin ikut campur, mereka tau Xiao Ziya akan marah jika mereka mencampuri urusan gadis itu tanpa diminta.


"Aku memasak hanya untuk tamuku saja, dan aku tak peduli dengan putrimu itu. Bukankah putrimu seorang gadis yang sudah berusia empat belas tahun. Seharusnya dia sudah bisa memasak beberapa menu makanan bukan." ucap Xiao Ziya sembari menarik makanan yang dipegang oleh Putri Xi Minju dan meletakkanya kembali di hadapan Yume. Xiao Ziya memberi isyarat pada Yume untuk menghabiskan makanannya.


"Putriku sangatlah dimanja oleh raja sehingga ia tak diperbolehkan pergi kedapur." ucap Selir Xi Jinhu.


"Itu bukan urusanku, kalian yang memanjakannya dan itu tak ada hubungannya denganku." ucap Xiao Ziya penuh dengan penekanan.


Xiao Ziya kembali ke kursinya dan mulai menikmati lagi makanan yang ia buat. Putri Xi Minju terlihat sangat kesal dan menginginkan makanan milik Xiao Ziya.


"Kami adalah tamu kehormatan kaisar, mengapa putri biasa sepertimu berani merendahkan kami." ucap Putri Xi Minju yang sudah kehilangab kendali. Ia berani meneriaki Xiao Ziya yang sedang menyantap hidangannya.


"Kalian tamu kaisar, bukan tamuku jadi itu bukan tanggung jawabku. Lagipula aku datang dari akademi kesini dengan keinginanku sendiri bukan karna permintaan dari kaisar untuk menyambut kalian." ucap Xiao Ziya yang membuat Xiao Yan merasa bersalah, seharusnya ia tak hanya meminta jenderalnya untuk menjemput Xiao Xun saja.


"Yume mari kita pergi." ucap Xiao Ziya yang langsung meninggalkan ruang makan setelah ia menghabiskan semua makanannya.


Hai hai semua author update lagi nih.


Jangan lupa vote sebanyak banyaknya, like like like, komen ya, rate bintang lima dan share ya guys.