
Dimas sudah diperjalanan menuju kampung halamannya, Reno sudah berangkat sekolah sedari tadi. Hermione belum menampakan dirinya kepada Dimas padahal dia sudah duduk dikursi belakang mobil Dimas tanpa sepengetahuannya.
"Tu orang mana ya dari tadi gak muncul-muncul" ucap Dimas.
"Eh diakan iblis bukan orang" ucap Dimas.
"Masa masih tidur udah jam 9 pagi ini" ucap Dimas melihat jam tangannya sebentar lalu fokus kembali kejalan.
"Kalau dia kenapa-kenapa gimana ya? Eh nggak, nggak mungkin, Dimas jangan mikir yang aneh-aneh" ucap Dimas.
"Janjian jam 7 tapi sampai jam 9 belum keliatan batang hidungnya" ucap Dimas.
"Kata siapa belum keliatan?" tanya Hermione.
"Kata akulah" jawab Dimas.
"Eh" Dimas langsung menepikan mobilnya lalu melihat kebelakang.
"Ihh kenapa disitu? Duduk disebelah aku" ucap Dimas, Hermione lalu menghilang dan muncul disebelah Dimas dengan wujud Dara.
"Dari jam 6 aku udah ada didalam mobil kali" ucap Hermione.
"Kok aku gak liat?" tanya Dimas.
"Sengaja gak nampakin diri aku kekamu" jawab Hermione.
"Dasar" ucap Dimas.
"Cepet jalan atau mau pakai kekuatan aku biar langsung sampai?" ucap Hermione.
"Jangan" ucap Dimas cepat.
"Yaudah jalan" ucap Hermione.
"Siap bos" ucap Dimas lalu menjalankan mobilnya.
***
Jalanan macet parah, Hermione dari tadi tidak bisa diam karena pegal.
"Dimas kita menghilang aja yok" ajak Hermione.
"Nggak Dara" jawab Dimas.
"Iss kamu mah, pegel tau mana capek duduk terus ditambah panas lagi" ucap Hermione, Dimas hanya menggelengkan kepalanya pelan karena kalimat itu terus yang selalu keluar dari mulut Hermione.
"Jadi manusia tersiksa benget, mending dineraka aja enak" ucap Hermione.
"Perasaan lebih panas dineraka dari pada disini" ucap Dimas.
"Ohh iya yah, tau ah bingung aku" ucap Hermione dia melihat kebelakang lalu menjentikan jarinya. Seketika kursi belakang berubah menjadi kasur single size dan disana terdapat kipas angin yang sudah berputar.
"Nah ginikan enak" Hermione lalu pindah dan menghadap kekipas angin.
"Aaaaaaa" Hermione membuka mulutnya sisipan kipas angin yang berputar.
"Lah kok bisa sih kipas anginnya nyala kamu hidupin gimana itu?" tanya Dimas melihat kebelakang.
"Terus ini kursi kenapa diganti jadi kasur?" tanya Dimas.
"Pakai kekuatan akulah" jawab Hermione masih menghadap kipas anginnya.
"Ac mobil aja sampai gak mempan sama dia padahal dineraka lebih panas dari pada dibumi" ucap Dimas pelan.
"Aku dengar" ucap Hermione.
"Eh lanjut aja kegiatan kamu disana" ucap Dimas langsung melihat kearah depan.
***
Karena macet parah, Hermione dan Dimas sampai kekampung Dimas pada saat matahari sudah tidak terlihat lagi. Hermione tidur sambil memeluk guling dikasur single size yang tadinya kursi belakang mobil. Dimas menghentikan mobilnya didepan rumahnya, orang tua dia sebenarnya ada dirumah sakit tapi dia memilih kerumah untuk menyimpan barang-barangnya lalu pergi kerumah sakit.
"Dara bangun udah sampai" ucap Dimas menggoyangkan tubuh Hermione.
"Hmm 3 menit lagi" ucap Hermione masih menutup matanya.
"3, 2, 1 udah ayo bangun" ucap Dimas.
"Itu 3 detik Dimas" ucap Hermione menjentikkan jarinya, seketika dia menghilang dan kursi yang dia ubah menjadi kasur kembali menjadi semula, kipas angin juga menghilang dari sana. Dimas melihat sekeliling, Hermione muncul didepan mobil Dimas dengan pakaian yang baru.
"Ayo buruan keluar, lama banget katanya mau kerumah sakit nanti" ucap Hermione dia lalu melihat rumah orang tua Dimas, rumah itu tadinya 1 lantai tapi sekarang sudah berubah menjadi 2 lantai.
"Lah kan tadi dia yang lama sekarang malah aku yang disalahin" ucap Dimas pelan sambil membuka pintu mobil.
"Aku dengar" ucap Hermione.
"Hmm iya iya" ucap Dimas. Dimas berjalan kearah bagasi lalu membuka bagasinya betapa terkejutnya dia melihat ternyata barang-barang tidak ada.
"Semuanya ada disini" ucap Hermione, Dimas lalu melihat kearah Hermione ternyata barang-barangnya sudah ada disamping Hermione.
Dimas menutup bagasinya lalu berjalan kearah Hermione.
"Bilang dong" ucap Dimas.
"Kan tadi udah bilang" ucap Hermione. Dimas hanya membuang napasnya kasar lalu menarik 1 koper yang isinya baju miliknya dan perlengkapan yang lain seperti alat mandi dan semacamnya, Hermione lalu menghilangkan semua kopernya.
"Astaga ilang kemana lagi ini?" tanya Dimas.
"Semuanya udah rapi tertata, beres dah" ucap Hermione.
"Huh makasih" ucap Dimas.
"Hmm" jawab Hermione.
"Ayo" ajak Dimas menarik tangan Hermione.
"Ke?" tanya Hermione.
"Ya rumah sakitlah kan barangnya udah rapi semua yaudah ayo kesana" jawab Dimas membuka pintu mobil untuk Hermione.
"Aku ikut?" tanya Hermione.
"Ikut, masuk" jawab Dimas, Hermione lalu masuk kedalam mobil, Dimas berjalan memutari mobil dia membuka pintu mobil.
"Ngapain duduk disini?" tanya Dimas melihat Hermione pindah kekursi pengemudi, Hermione menjentikkan jarinya seketika Dimas sudah ada didalam mobil disebelah kursi pengemudi. Hermione menjalankan mobilnya.
"Istirahat, biar aku yang ngendarainnya" ucap Hermione.
"Emang kamu tau jalannya?" tanya Dimas.
"Kamu lupa?" bukannya menjawab Hermione malah bertanya balik.
"Oh iya yah hehe" Dimas cengengesan baru ingat kalau Hermione iblis.
Hermione fokus dengan jalan, tiba-tiba dia ingat dengan 2 pemuda pengikutnya.
"Astaga 2 manusia itu kan tinggalnya dikampung ini juga, untung aku gak pernah nampakin diri kemereka jadi mereka gak tau" batin Hermione.
"Eh kok bisa samaan gitu ya dapat pengikut dikampung ini" batin Hermione.
"Bodo amat, mau bagaimanapun Dimas yang akan aku selamatkan kalau mereka berdua bye bye" batin Hermione lagi.
Skip.
Mereka sampai dirumah sakit yang ada dikampung tersebut, mereka keluar dari mobil lalu berjalan masuk kedalam rumah sakit. Dimas menanyakan kepada resepsionis setelah tau ruangannya mereka berdua lalu menuju ruangannya. Setelah beberapa menit mencari ruangan tersebut akhirnya mereka sampai didepan ruangannya.
Tok...
...Tok......
^^^Tok...^^^
Dimas mengetuk pintu, saat mendengar perintah untuk masuk mereka berdua lalu masuk kedalam ruangannya. Didalam ruangan ada orang tua Dimas dan 2 pemuda yang tak tai siapa. Hermione yang melihat 2 pemuda itu terkejut tapi dengan cepat dia mengubah ekspresinya menjadi datar.
"Kenapa aku tidak mencari tahu dulu 2 pengikutku yang baru itu, ternyata mereka ada disini juga dan lebih parahnya lagi mereka sahabat Dimas" batin Hermione.
"Sahabat yang iri dengan Dimas karena Dimas sudah sukses makanya mereka menggunakan jalan pintas" batin Hermione.
"Ma" panggil Dimas.
"Dimas astaga kamu kok disini?" tanya mama Dimas berdiri lalu memeluk Dimas, dan dibalas oleh Dimas.
"Kapan kamu sampai? Kenapa gak ngabarin mama kalau mau kesini?" tanya mama Dimas.
"Surprise Dimas jangan bikin malu deh" ucap Hermione, mama Dimas langsung melepaskan pelukannya lalu melihat kearah Hermione. 2 pemuda yang ada disana sudah melihat Hermione sedari tadi, sedangkan papa Dimas sudah tidur karena sudah malam.
"Nah itu maksudnya ma, berjanda dikit biar gak tegang" ucap Dimas.
"Kamu pacarnya Dimas? Akhirnya Dimas punya pacar mana cantik banget pacarnya" tanya mama Dimas menatap Hermione.
"Ha hehe temen" ucap Hermione, Dimas langsung menyenggol lengan Hermione.
"Enak aja bilang temen, calon mantu mama ini" ucap Dimas.
"Temen" ucap Hermione tersenyum kuda memperlihatkan gigi putih bersih dan rapinya.
"Calon mantu" ucap Dimas tersenyum kepada mamanya dan langsung merangkul pundak Hermione.
"Temen tante" ucap Hermione.
"Calon mantu jangan didengerin dia kebiasaan suka kayak gini" ucap Dimas.
"Kitakan temen" ucap Hermione melihat Dimas sambil melepaskan rangkulannya.
"Hehe bisa aja cedol dawet, sejak kapan kita temen hmm?" ucap Dimas melihat Hermione, mama Dimas dan 2 pemuda itu slaing pandang heran.
"Hehe sejak zaman dahulu" jawab Hermione.
"Eh seharusnya pada zaman dahulu, eh itukan kartun kancil bodolah" batin Hermione.
"Dahulu palamu" ucap Dimas.
"Jangan didengerin ni anak kebiasaan suka gini gak pernah ngakuin pacarnya" ucap Dimas.
"Malu dia jadi pacar kamu" ucap mama Dimaa bercanda.
"Haha bisa aja tante ini, jangan terlalu jujur tante kasian nanti ada yang tersinggung" ucap Hermione ikut bercanda.
"Ohh jadi kamu malu hmm?" tanya Dimas.
"Berjanda Dimas serius amat, kan biar gak tegang" ucap Hermione.
"Bodolah ngambek" ucap Dimas lalu duduk disofa, memanyunkan bibirnya dan melipat kedua tangan didada.
"Ngambek kok bilang" ucap Hermione.
"Hehe kebiasaan dia tan suka ngambek gak jelas" ucap Hermione mengadu.
"Biarin aja jangan dibujuk" ucap mama Dimas.
"Jahat banget" ucap Dimas.
"Sut kamu diem, nama kamu siapa?" tanya mama Dimas, saat Hermione ingin menjawab Dimas sudah menjawabnya terlebih dahulu.
"Namanya Dara, calon mantu mama, kuliahnya ngambil jurusan kedokteran sama dengan aku, kampusnya juga sama duduknya sebelahan dengan aku, dia punya kadal nakal banget" ucap Dimas.
"Hah kadal?" ucap mama Dimas, 2 pemuda itu saling pandang lalu melihat Hermione.
"Hehe adik aku dia ngasih julukan kadal karena adik aku ngasih julukan Dimas buaya" ucap Hermione cengir.
"Anjir malu gue" batin Hermione.
"Ohh adik, kamu itu bikin mama kaget cewek secantik ini masa melihara kadal" ucap mama Dimas.
"Jangankan kadal ma biawak sama buaya aja dipelihara sama dia" ucap Dimas.
"Hehe salah satunya kamu peliharaan aku Dimas" ucap Hermione. Mama Dimas dan 2 pemuda itu menahan tawanya.
"Lah kok? Taulah males aku" ucap Dimas.
"Tante ini mama Dima panggil aja mama biar sama kayak Dimas jangan panggil tante ya, kalau mereka berdua teman Dimas kenalin diri kalian cepet" ucap mama Dimas kepada 2 pemuda itu.
"Kenalin nama aku Fido" ucap pemuda yang menginginkan kaya dan tampan kepada Hermione.
"Kalau aku Eji" ucap pemuda satunya lagi yang menjadi suami manusia Hermione.
"Ohh Dara" ucap Hermione tersenyum.
"Jangan senyum" ucap Dimas, Hermione lalu mengubah ekspresinya menjadi datar.
"Ya ampun kamu itu aneh aja, oh iya duduk ngapain berdiri terus pasti capek" ucap mama Dimas.
"Ihh anak orang disuruh berdiri terus mama ini tega" ucap Dimas.
"Ini udah disuruh duduk Dimas" ucap mama Dimas.
"Duduk jangan berdiri terus, maaf mama lupa nyuruh duduk" ucap mama Dimas.
"Nggak apa-apa kok" ucap Hermione.
"Sok kuat tadi aja dimobil kepanasan karena macet kagak bisa diam" ucap Dimas, Hermione melihat Dimas lalu tersenyum tapi senyumnya itu bukan senyum manis.
"Bisa aja ni orang ngambil kesempatan, dia tau aja kalau aku gak akan buat apa-apa kalau lagi disini, awas aja kau Dimas" batin Hermione.
Hermione lalu duduk disamping Dimas bagian kanan, 2 pemuda yang bernama Fido dan Eji duduk disamping Dimas bagian kiri sedangkan mama Dimas duduk dikursi sebelah ranjang papa Dimas.
Hermione mencubit pinggang Dimas sangat keras.
"Awh kamu kenapa sih?" tanya Dimas melihat Hermione sambil mengusap pinggangnya.
"Ada nyamuk" jawab Hermione cengir kuda tapi tatapannya tajam.
"Nyamuk kok dicubit ditampar dong" ucap Dimas, Hermione lalu menampar kedua pipi Dimas sangat keras.
"Awh" Dimas mengusap kedua pipinya.
"Ngapa kamu nampar aku sih? Sakit tau" ucap Dimas.
"Katanya tampar yaudah aku tampar aja" jawab Hermione dengan ekspresi polos.
"Bener ya orang pintar akan bersikap bodoh untuk menutupi kepintarannya" ucap Dimas.
"Hehe aku gak pinter kok" ucap Hermione. Mama Dimas hanya tersenyum melihat kelakuan mereka.
"Sakit tau" ucap Dimas mengusap pipinya yang terdapat cap jari lima.
"Sukurin" batin Hermione yang didengar Dimas.
"Maaf kirain kamu minta tampar yaudah aku tampar aja" ucap Hermione dengan ekspresi polos mengusap kedua pipi Dimas.
"Wah bermuka dua kamu ya" batin Dimas.
"Lebih dari dua Mas" batin Hermione.
"Oh iya kan kamu bisa berubah ya hehe" batin Dimas.
"Gak aku maafin" Dimas menyingkirkan tangan Hermione dari pipinya.
"Terus gimana dong biar aku dimaafin?" tanya Hermione, Dimas tersenyum licik melihat Hermione.
"Hmm mudah aja kok" ucap Dimas.
"Hayo mau ngapain tuh" ucap mama Dimas.
"Gak ngapa-ngapain" jawab Dimas, Dimas lalu menunjuk sebelah pipinya Hermione lalu menampar pipi yang ditunjuk Dimas.
"Astoge asbuncis asnaga ascabe bukan ditampar Dara, anak siapa sih ini gini banget?" ucap Dimas mengusap pipinya yang ditampar.
"Hahaha sukurin tampar aja Dara" ucap mama Dimas.
"Anaknya ditampar bukannya dibela malah disukurin" ucap Dimas.
"Sekali-sekali" ucap mama Dimas.
"Sisa satu lagi pipi kamu belum ditampar 2 kali, sini biar adil" ucap Hermione.
"Enak aja, gak mau" ucap Dimas.
"Yaudah kalau gak mau" ucap Hermione cuek.
"Huh dasar" ucap Dimas mengusap pipinya yang merah.
Bersambung...