
Setelah berhasil menemukan penyebab anak Kepala Akademi Wunyeng tidur dalam waktu yang sangat lama Xiao Ziya memutuskan untuk pergi dari ruangan itu. Xiao Ziya akan mencari hari yang tepat untuk pergi ke dunia dewa dan mencari beberapa bahan obat yang tak ia miliki, saat membuka pintu ruangan itu ternyata kepala akademi ada di depan pintu dan ingin masuk kedalam.
"Ah ternyata nona Ziya saya kira siapa yang datang." ucap Welinzo yang sempat cemas jika ada murid lain yang mengetahui tempat itu. Welinzo merahasiakan hal iji dari banyak orang hanya dirinya dan pemimpin akademi saja yang tau tentang kondisi putranya itu.
"Apakah nona sudah mengetahui alasan putra saya seperti ini?." tanya Welinzo yang sangat berharap Xiao Ziya bisa menyembuhkan putranya. Jika gadis itu berhasil membuat putra kesayangannya itu bangun maka ia rela memberikan apapun walau jabatannya sebagai Kepala Akademi Wunyeng yang diminta oleh Xiao Ziya, Welinzo akan memberikannya dengan senang hati.
"Putra anda terkena racun teratai dewa, racun itu membuat seseorang kehilangan kesadarannya dalam jangka waktu yang sangat lama. Perlahan lahan racun itu memakan jiwa Yunho dan membuat pemuda itu akan benar benar mati. Untuk membuat obat untuk putra anda diperlukan bahan bahan langka yang sangat sulit untuk didapatkan." ucap Xiao Ziya yang mengatakan dengan jujur bahwa bahan obat untuk putra sang Kepala Akademi Wunyeng sangat sulit didapatkan.
"Bahan apa yang anda perlukan untuk membuat obat untuk putraku?." tanya Kepala Akademi Wunyeng yang berencana untuk mencarikan semua bahan obat yang diperlukan oleh Xiao Ziya, sesulit apapun untuk mendapatkan bahan obat itu Welinzo akan mendapatkannya.
"Anda perlu mencari mawar es, mawar api, persik emas, akar teratai pelangi, daun peri, air mata dewa, tiga helai rambut dewi." ucap Xiao Ziya yang menyebutkan bahan bahan apa saja yang diperlukan untuk membuat obat.
Mendengar bahan bahan yang disebutkan oleh Xiao Ziya membuat Kepala Akademi Wunyeng hampir pingsan, dimana ia mencari semua bahan bahan yang sangat langka itu? melihatnya saja ia belum pernah dan apa itu air mata dewa? apa dia harus membuat seorang dewa menangis dan mengumpulkan air mata dewa yang berjatuhan itu ini sungguh tak masuk akal.
"Bagaimana saya bisa mencari semua bahan bahan yang sangat langka itu." ucap kepala akademi dengan wajahnya yang lesuh. Kini tak ada harapan lagi agar putranya bisa kembali pulih dan melihat dunia lagi bersama dengannya.
"Saya yang akan mencari semua bahan bahan itu setelah urusan saya dengan para murid jenius sudah selesai." ucap Xiao Ziya yang memutuskan untuk mencari bahan bahan itu setelah pertandingan antara murid inti yang ada di bawah bimbingannya dengan murid jenius selesai.
"Baiklah trimakasih karna nona bersedia membantu saya, maaf karna telah merepotkan." ucap Kepala Akademi Wunyeng yang membungkukkan kepalanya di hadapan Xiao Ziya.
"Kalau begitu saya pamit." ucap Xiao Ziya yang langsung melesat pergi dari ruangan itu.
Xiao Ziya berhenti di depan sebuah penjual manisan buah, gadis itu membeli beberapa tusuk manisan apel. Xiao Ziya masih belum mengeri mengapa putra kepala akademi bisa terkena racun teratai dewa padahal racun itu hanya ada di dunia dewa saja. Tak mungkin jika seorang dewa atau dewi turun ke dunia atas dan sengaja meracuni pemuda itu tanpa alasan yang jelas, atau putra dari kepala akademi memiliki masalah dengan seorang kultivator yang sangat kuat.
"Ini sungguh aneh sekali." ucap Xiao Ziya sambil memakan sebuah manisan apel.
Gadis itu berjalan menyusuri pasar dan melihat lihat apa saja yang di jual. Xiao Ziya melihat sebuah jubah dengan bulu domba sebagai hiasan di lehernya, Xiao Ziya berjalan menghampiri toko itu dan ingin membeli jubah yang ia rasa sangat cocok untuk dirinya.
"Paman berapa harga jubah ini?." tanya Xiao Ziya yang menginginkan jubah itu.
"Harganya empat belas keping koin emas." ucap sang pemilik toko yang memberitau pada Xiao Ziya berapa keping emas yang harus gadis itu bayarkan.
Xiao Ziya mengambil satu kantung kecil koin emas yang ada di dalam cincin semestanya, Xiao Ziya mengambil empat belas koin emas dari kantung itu dan memberikannya pada pemilik toko.
"Trimakasih, datanglah lagi di lain waktu nona." ucap pemilik toko itu sembari memberikan barang yang dibeli oleh Xiao Ziya.
Setelah mendapat apa yang ia inginkan Xiao Ziya memutuskan untuk pulang ke Istana Kerajaan Hitam, saat sampai di depan gerban masuk para prajurit penjaa gerbang melihat manisan apel yang ada di tangan Xiao Ziya sepertinya mereka menginginkannya. Sebagai prajurit penjaga gerbang mereka tak memiliki banyak waktu untuk keluar dan membeli apa yang mereka inginkan.
"Ini untuk paman." ucap Xiao Ziya yang memberikan semua manisan apel yang ia beli, gadis itu bahkan tersenyum dengan tulus.
"Trimakasih nona Ziya." ucap para penjaga gerbang yang merasa senang karna nona muda mereka sangatlah baik.
Xiao Ziya masuk kedalam istana dan ia langsung mendapat sambutan dari Pangeran Zeeling dan Pangeran Anz yang menunggunya di balik pintu masuk istana.
"Apa kau sedang marah padaku?." tanya Pangeran Zeeling secara tiba tiba pada Xiao Ziya yang membuat gadis itu sangat kebingungan, sebenarnya apa yang sedang difikirkan oleh gegenya itu.
"Mengapa saya harus marah pada gege?." tanya Xiao Ziya yang mungkin lupa dengan kejadian Pangeran Zeeling yang bertelanjang dada di hadapannya kemarin.
"Dia mengira kau sedang marah padanya adikku setelah ia bertelanjang dada di hadapanmu." ucap Pangeran Anz yang membuat Xiao Ziya ingat dengan kejadian kemarin, wajah gadis itu kembali memerah karna ia merasa sangat malu.
"Apa kau baik baik saja? adik begitu marah pada gege?." tanya Pangeran Zeeling yang sangat khawatir jika adiknya itu benar brnar marah padanya, apa yang harus ia lakukan ia tak tau apa saja yang disukai oleh adiknya itu jika memang harus membujuknya.
Xiao Ziya sangat kesal pada gegenya yang satu itu mengapa ia tak paham bahwa dirinya sangat malu saat melihat hal hal seperti itu, walaupun jiwanya sudah remaja namun semasa hidupnya dia belum pernah melihat tubuh yang sangat indah seperti itu.
"Saya tidak marah pada gege saya hanya malu tolong sedikit pintar saat sedang membaca eskpresi orang lain." ucap Xiao Ziya yang langsung pergi dari hadapan kedua gegenya itu jika tidak mungkin saja ia akan membuat Pangeran Zeeling babak belur.
"Bukankah aku yang bertelanjang dada mengapa adik Ziya yang merasa malu?." tanya Pangeran Zeeling yang membuat Pangeran Anz gemas dan ingin memukul kepala kakak laki lakinya itu.
"Itu tandanya adik Ziya merasa bahwa apa yang kau perlihatkan padanya belum pernah ia lihat sebelumnya, sepertinya ada yang rusak dari otakmu." ucap Pangeran Anz yang ikut pergi dari sana karna ia juga tak tahan dengan kebodohan kakak laki lakinya itu.
Setelah Pangeran Anz dan Xiao Ziya pergi dari sana Pangeran Zeeling mencoba untuk mencerna perkataan kedua adiknya itu, setelah menemukan jawabannya Pangeran Zeelingpun tersenyum dan langsung pergi ke kamarnya.
Xiao Ziya yang saat ini sedang ada di dalam kamar baru saja selesai mandi dan sekarang ia sedang mencoba jubah dengan bulu domba yang baru saja ia beli. Ternyata jubah itu sangat hangat dan juga lembut Xiao Ziya sangat menyukainya.
Waktu berjalan dengan begitu cepat Xiao Ziya telah menjadi guru dari para murid inti selama dua minggu, banyak yang terjadi di kelasnya, banyak hal hal lucu dan mengesalkan yang terjadi. Pada hari kelima saat Xiao Ziya mengajar di kelas murid inti gadis itu mengeluarkan salah satu muridnya yang selalu saja membolos dan tak pernah mendengarkan apa yang ia ajarkan saat berada di kelas murid itu tentu saja Runsugi.
Saat ini Xiao Ziya dan para murid inti yang lain sedang berada di kelas mereka untuk mempersiapkan diri sebelum mengikuti pertandingan. Ya hari ini adalah pertandingan antara murid inti melawan murid jenius.
"Baiklah dalam pertandingan hari ini saya hanya berharap kalian berusaha sekuat tenaga, lampaui apa yang menjadi batasan kalian, karna kalian lebih hebat dari apa yang kalian fikirkan." ucap Xiao Ziya yang memberikan semangat pada murid muridnya. Semua murid inti bersorak dengan keras mereka tak akan mengecewakan guru cantik mereka itu yang telah mengajarkan banyak hal.
"Kami tak akan mengajarkanmu Guru Ziya." triak semua murid inti yang sepertinya sudah siap mengikuti pertandingan.
Di lapangan utama Akademi Wunyeng sudah banyak guru dan murid yang berkumpul di sana, mereka ingin melihat pertandingan antara murid inti dengan para murid jenius ini adalah sebuah pertandingan yang sangat mereka nanti nantikan.
"Apakah guru penggantiku itu berhasil mengajari para murid inti itu?." ucap Ayunzo yang juga ada di sana, ia sangat penasaran dengan perkembangan murid muridnya yang ia tinggalkan selama dua minggu.
"Saya yakin murid muridmu itu tak akan mampu melawan para murid jenius." ucap Gumi yang merupakan kepala murid jenius, ia melihat secara langsung bagaimana para murid jenius dilatih dengan keras oleh pemimpin akademi, mereka bahkan dibelaki oleh senjata spiritual baru dan berbagai macam jurus baru yang sangat hebat.
"Nona Ziya pasti bisa melakukannya dengan baik." ucap Kepala Akademi yang memberikan dukungannya pada Xiao Ziya.
Pemimpin Akademi Wunyeng dan para murid jenius sudah sampai di lapangan utama, terlihat para murid jenius sudah siap dengan pertandingan hari ini masing masing dari mereka membawa sebuah pedang dengan tingkatan jenderal di punggung mereka.
"Dimana para murid inti dan guru mereka yang sangat sombong itu apakah mereka melarikan diri karna merasa takut?." ucap Wonyong Gu yang merasa bahwa para murid inti sudah kabur karna merasa ketakutan.
"Ahahaha mereka hanya terlalu banyak bicara, dasar pecundang." ucap Zinren yang juga merendahkan Xiao Ziya beserta para murid inti yang ada di bawah bimbingannya selama dua minggu. Walau Xiao Ziya sangatlah kuat dan mereka sudah merasakan sendiri seperti apa kekuatan gadis itu namun mengajarkan para murid inti tentang kultivasi dan berbagai ilmu adalah hal yang berbeda. Banyak orang yang mampu menjadi kultivator hebat namun tak banyak dari mereka yang mampu menjadi guru yang hebat.
Setelah mendapatkan cemoohan dari berbagai pihak Xiao Ziya dan para murid inti datang menggunakan seragam berwarna hitam Xiao Ziya melapisi baju hitamnya menggunakan jubah yang ia beli semalam, gadis itu tampak begitu anggun dengan tatapan tajam dan aura kepemimpinan yang sangat mendominasi.
"Aura gadis itu tak bisa diremehkan, ia bahkan melampaui Raja Zeus." ucap Pemimpin Akademi Wunyeng yang merasakan tekanan hebat saat matanya bertemu dengan mata tajam Xiao Ziya.
"Kami kira kalian sudah kabur karna merasa takut, sudahlah kalian mengundurkan diri saja dari pertandingan ini. Kalian tak akan mampu melawan kami." ucap Wonyong Gu yang sangat percaya diri bahwa ia bisa menang melawan para murid inti.
"Kami tak takut malawan kalian, mari kita lihat siapa yang lebih unggul." ucap Yue Agze yang sepertinya sedang marah karna ia merasa ini semua sudah keterlaluan.
Akhirnya pertandinganpun akan segera dimulai, Kepala Akademi naik ke atas arena pertandingan kali ini ialah yang akan memimpin jalannya pertandingan.
"Ini adalah pertandingan persahanatan saya harap kalian tak saling membunuh di atas arena, jika ada lawan yang mengangkat tangan itu tandanya ia menyerah dan tak ada yang boleh memukulnya lagi, jika ada yang melalukan kecurangan dalam bentuk apapun maka akan didiskualifikasi. Grub yang menang adalah mereka yang memenangkan banyak pertandingan." ucap Kepala Akademi Wunyeng yang memberitaukan apa saja aturan yang harus ditaati saat pertandingan ini berlangsung.
Akhirnya yang ditunggu tunggupun dalam babak pertama Xiao Sujin melawan Sungi Ling, kedua pemuda itu telah naik ke atas arena. Terlihat semangat yang membara diantara kedua murid itu, Sungi Ling mengeluarkan pedangnya dan bersiap untuk menyerang, Xiao Sunjin juga mengeluarkan pedang yang ia miliki.
"Ahahaha kau ingin melawan pedangku ini menggunakan pedang jelekmu itu?." ucap Sungi Ling yang menghina pedang yang dimiliki oleh Xiao Sunjin. Xiao Ziya sengaja tak membekali para muridnya dengan pedang spiritual tinggat tinggi agar mereka bisa berjuang untuk memenangkan pertandingan kali ini.
"Guru Ziya mengatakan yang terpenting adalah kekuatan dalam diri kita sendiri." ucap Xiao Sunjin yang percaya dan yakin bahwa ia sanggaup mengalahkan pemuda yang ada di hadapannya itu.
Sungi Ling mulai menyerang dengan tempo pelan dengan mudah Xiao Sunjin menangkis setiap serangan pemuda itu.
"Jurus membelah bumi." ucap Sungi Ling yang akan mengeluarkan salah satu jurus baru yang diajarkan oleh Pemimpin Akademi Wunyeng.
Sebuah bayangan pedang raksasa terbentuk dia atas langit, pedang itu menyerang Xiao Sunjin dengan sangat cepat hingga pemuda itu terluka. Xiao Sunjin tak ingin menyerah begitu saja pemuda itu mengeluarkan jurusnya juga.
"Tornado angin." ucap Xiao Sunjin yang mengeluarkan salah satu ilmu sihirnya, dengan cepat sebuah tornado yang cukup besar terbentuk dan membentur bayangan pedang milik Sungi Ling hingga bayangan pedang itu terhisap kedalam tornado.
Sungi Ling tak bisa percaya dengan apa yang ia lihat jurusnya yang begitu kuat dipatahkan begitu saja oleh sebuah pusaran angin yang tak seberapa itu. Sungi Ling yang masih melamun tak sadar jika Xiao Sunjin menyerangnya sehingga pemuda itu terluka dan terpental cukup jauh dari atas arena.
"Pemenang babak pertama Xiao Sunjin dari kelas murid inti." ucap Kepala Akademi Wunyeng yang mengumumkan pemenang babak pertama.
Para murid jenius yang melihat hal itu tentu saja tak terima, mereka menatap tajam ke arah Xiao Sunjin yang baru saja memenangkan babak pertama. Para murid jenius beranggapan bahwa Xiao Sunjin curang karna menyerang Sungi Ling saat pemuda itu sedang melamun.
Wunyong Gu mengeluarkan pedangnya dan ingin menyerang Xiao Sunjin yanh berjalan ke arah anggota murid inti yang lain. Xiao Ziya yang melihat hal itu tak tinggal diam, gadis itu mengambil salah satu pedang dari dalam cincin semestanya dan menghalangi pedang Wunyong Gu yang hampir saja mengenai Xiao Sunjin.
"Apa yang kau lakukan pada muridku?." ucap Xiao Ziya dengan nada marah, gadis itu tak mengira bahwa salah satu murid jenius memiliki sikap yang sangat buruk.
"Dia curang karna menyerang Sungi Ling saat ia sedang melamun." ucap Wunyong Gu yang berteriak tepat di depan wajah Xiao Ziya.
"Apakah guru kalian tak pernah mengajarkan agar tak lengah saat berhadapan dengan musuh?." ucap Xiao Ziya yang langsung mengajak Xiao Sunjin untuk berkumpul bersama anggota murid inti yang lain. Sedangkan Wonyong Gu hanya bisa menelan kekesalannya pada Xiao Ziya.
Hai hai semua gimana kabar kalian semoga sehat sehat aja ya, jangan lupa follow buat yang belum follow, vote ya guys, gift hadiah apapun, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga.