RATU IBLIS

RATU IBLIS
Penyusup?


Min Xome masuk kembali ke dalam kamarnya untuk membangunkan Min Wungi, setelah sang adik berhasil dibangunkan mereka berdua bergegas pergi menuju gerbang bagian belakang Istana Kerajaan Bulan. Sesampainya di tempat yang dituju mereka berdua langsung bertanya pada beberapa prajurit yang berjaga apakah ada orang mencurigakan yang terus memantau kondisi Istana Kerajaan Bulan.


"Apakah kalian melihat seseorang di sekitar sini?." tanya Min Xome dengan raut wajah serius.


"Tak ada siapapun yang berlalu-lalang di sekitar gerbang belakang. Kami menjaganya dengan baik agar tak ada penyusup yang masuk." ucap salah seorang prajurit penjaga gerbang bagian belakang dengan jujur.


Di sisi lain saat ini Min Wungi sedang mengamati konsisi di beberapa tempat yang ada di dekat gerbang belakang, tiba tiba saja mata Min Wungi tertuju pada sebuah pohon yang tingginya hampir sama dengan tinggi dinding gerbang belakang. Setelah cukup lama mengawasi pohon tersebut Min Wungi membuat sebuah formasi sihir di bawahnya, beberapa saat setelah formasi sihir terbentuk pohon itu berguncang dengan sangat hebat hingga menjatuhkan seorang pemuda asing.


"Itu dia!." ucap Min Wungi sembari menunjuk ke arah pemuda yang masih kesakitan dan terkejut karna ia jatuh secara tiba tiba.


Min Xome dan beberapa prajurit penjaga gerbang bagian belakang menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Min Wungi, ternyata informasi dari beberapa penyihir hitam itu benar. Dengan segera Min Xome dan Min Wungi mendekat ke arah pemuda itu dan mengepungnya.


Yang Zu menatap sinis ke arah dua pemuda yang sedang mengelilinginya itu, ia tak melakukan tindak kejahatan apapun dan mereka berdua tak perlu memperlakukannya sampai seperti itu. Yang Zu berusaha untuk berdiri kemudian bertatap tatapan langsung dengan Min Xome.


"Inikah cara kalian memperlakukan orang lain?." tanya Yang Zu dengan tatapan sinis, kedua pemuda itu memakai pakaian yang mewah. Kemungkinan besar mereka berdua adalah pangeran dari Kerajaan Bulan.


"Anda berada di sekitar istana Kerajaan Bulan dengan gelagat yang sangat mencurigakan. Beberapa waktu yang lalu Anda juga berusaha menerobos masuk ke dalam, bukankah begitu?." ucap Min Xome dengan senyuman miring. Jika pemuda itu hanya diam di atas pohon maka mereka tak akan menaruh rasa curiga padanya.


"Jangan asal menuduh, sedari tadi saya berada di atas sana." ucap Yang Zu yang berusaha mengelak dari tuduhan itu.


"Para penyihir yang membuat formasi di sekitar istana lah yang mengatakan hal itu, dan tak ada orang lain disekitar sini selain Anda." ucap Min Xome dengan tatapan penuh selidik.


"Beberapa waktu yang lalu saya melihat seorang gadis dengan gaun berwarna merah tua melompati dinding gerbang bagian belakang, mungkin dia orang yang sedang kalian cari." jawab Yang Zu, satu satunya jalan untuk keluar dari tuduhan itu adalah menyalahkan gadis cantik yang ia temui.


Min Xome dan Min Wungi bertatapan satu sama lain, mungkinkah yang dimaksud oleh pemuda asing ini adalah Xiao Ziya? gadis itu bebas ingin masuk ke dalam istana menggunakan cara apapun karna wilayah Kerajaan Bulan adalah miliknya. Formasi sihir milik para penyihir hitam juga tak bekerja untuk gadis itu, aura kematian yang dimiliki oleh Xiao Ziya sudah melebihi kedua orang tua mereka.


"Jangan menyalahkan orang lain atas kesalahan yang Anda lakukan." ucap Min Wungi dengan tatapan tak suka. Ia mulai memiliki pemikiran bahwa pemuda itu diam diam mengikuti Xiao Ziya dan mencoba untuk menyusul Ziya masuk ke dalam istana.


Dari atas langit istana Kerajaan Bulan terlihat seorang naga berwarna hitam yang sedang terbang mengelilingi istana itu, Mokuzo sedang menunggu perintah dari nonanya untuk turun ke bawah sana namun sebelum itu ia sempat melihat dua orang pemuda yang sangat familiar dengan seorang pemuda asing.


"Sepertinya ada yang sedang mengacau di luar istana Anda." ucap Mokuzo yang memberi laporan pada Nona Besarnya.


Mendengar hal itu Xiao Ziya langsung melihat kebawah, gadis itu menaikkan sebelah alisnya karna ia tak terlalu ingat dengan pemuda asing yang sedang berselisih paham dengan kedua kakak sepupunya itu. Setelah mengingat ingat kembali, Xiao Ziya langsung mengepalkan kedua tangannya karna merasa sangat kesal. Ternyata pemuda yang ia temui di kedai itu mengikutinya pulang hingga sampai ke Istana Kerajaan Bulan.


"Saya harus menghajarnya." ucap Xiao Ziya penuh dengan emosi.


"Baiklah saya akan turun sekarang." ucap Mokuzo yang langsung terbang kebawah sana. Setelah beberapa saat akhirnya mereka mendarat di luar gerbang bagian belakang.


Yang Zu menatap keheranan pada naga hitam yang sedang melotot padanya itu, mengapa sang naga terlihat sangat marah padahal mereka baru saja bertemu. Hal yang paling mengejutkan adalah, seorang gadis yang tiba tiba melompat turun dari punggung sang naga hitam ditambah gadis itu sangat familiar bagi Yang Zu.


"Apa yang Anda lakukan di sini? mungkinkah Anda mengikuti saya saat di perjalanan pulang?." tanya Xiao Ziya dengan tatapan tajam yang ia arahkan pada pemuda bernama Yang Zu itu.


"Perjalanan pulang? ahahaha saya melihat dengan jelas Anda menyusup masuk kedalam istana Kerajaan Bulan." ucap Yang Zu dengan suara yang cukup kencang, para prajurit yang sedang berjaga hanya menertawakan kebodohan pemuda itu. Untuk apa pemimpin mereka menyusup kedalam istananya sendiri?.


"Mengapa adik Ziya harus menyusup kedalam wilayahnya sendiri? sudah sangat jelas bahwa Anda yang mencoba menyusup masuk ke dalam istana." balas Min Xome dengan tatapan kesal, pemuda itu tak tau identitas dari asik sepupunya namun terus saja menyudutkan sang adik sepupu.


"Wilayahnya sendiri?" tanya Yang Zu seperti orang linglung.


"Ya, adik Ziya adalah pemimpin baru di wilayah Kerajaan Bulan. Jadi jaga ucapan Anda." balas Min Wungi.


"Dia seorang pemimpin? gadis lemah sepertinya?." ucap Yang Zu, perkataan pemuda itu membuat semua orang yang mendengarnya merasa sangat kesal.


"Benarkah saya selemah apa yang Anda pikirkan Tuan Muda Yang Zu?. Sebaiknya Anda segera pergi dari wilayah Kerajaan Bulan karna saya sudah muak melihat wajah feminim Anda." ucap Xiao Ziya dengan tegas. Pemuda itu sangatlah mengganggu dengan sifat tak tau malu yang ia miliki.


"Bukankah wajah feminim adalah sebuah pujian untuk saya?." tanya Yang Zu. Xiao Ziya hampir tersedak ketika mendengar perkataan pemuda itu.


"Feminim atau lebih sering disebut dengan sisi kewanitaan pada seorang pria. Mungkin Anda lebih baik menjadi seorang gadis cantik dan pendiam." ucap Xiao Ziya dengan tatapan datar. Entah apa yang dilakukan pemuda itu ketika sedang berkaca hingga berdandan layaknya seorang wanita.


"Apakah Anda merasa keberatan dengan kepribadian saya? apapun yang saya lakukan adalah hak saya." ucap Yang Zu dengan sedikit membentak.


"Saya tak mempermasalahkan sisi lain dari diri Anda. Tentu Anda memiliki hak atas tubuh yang Anda miliki, saya hanya tak suka ketika Anda terus berada di sekitar saya." jawab Xiao Ziya dengan tegas.


Yang Zu merasa kesal, pemuda itu mencekal tangan Xiao Ziya dengan erat dan mencoba menarik gadis itu kedalam pelukannya. Sebelum hal menjijikan semacam itu terjadi padanya, Xiao Ziya mengeluarkan sebuah pedang dari dalam cincin semesta.


Yang Zu sangat terkejut dengan sikap Xiao Ziya terhadap seorang pria yang ingin mendekatinya, jika gadis itu terus bersikap demikian maka tak ada pemuda yang akan memberikan lamaran padanya. Dengan segera Yang Zu melepaskan cengkraman tangannya dan memberi jarak yang cukup jauh dari Ziya.


"Saya datang untuk mengajukan lamaran terhadap Anda namun saya baru mengetahui Nona Ziya adalah gadis yang kasar. Bagaimana jika tak ada pemuda yang akan menikah dengan Anda nantinya?." tanya Yang Zu dengan raut wajah khawatir. Kecantikan yang dimiliki oleh Xiao Ziya tak boleh direbut oleh orang lain, bagaimanapun caranya ia akan mendapatkan Xiao Ziya.


"Saya menolak lamaran Anda. Masa depan saya adalah pilihan saya sendiri, orang luar seperti Anda tak perlu ikut campur terlalu jauh." jawab Xiao Ziya dengan singkat padat dan jelas.


Di sisi lain Mokuzo sang naga hitam sudah tak bisa menahan amarahnya lagi, pemisah asing itu terus mengucapkan kata kata sampah yang mengganggu Nona Besarnya.


"Bisakah saya memakannya?." tanya Mokuzo pada Xiao Ziya.


"Tenanglah, kau bisa kembali sekarang." ucap Xiao Ziya yang langsung memasukkan Mokuzo kedalam cincin semesta miliknya.


"Jangan menganggu adik Ziya kami. Pemuda seperti Anda belum pantas bersanding dengannya." ucap Min Xome dan Min Wungi secara bersamaan.


"Lihat saja, saya akan mendapatkan Xiao Ziya bagaimanapun caranya." ucap Yang Zu dengan penuh percaya diri. Setelah mengatakan hal itu tiba tiba ada sebuah petir berwarna hitam yang menyambar tubuh Yang Zu hingga tak sadarkan diri.


Xiao Ziya, Min Xome, dan Min Wungi dibuat terkejut dengan sambaran petir yang datang secara tiba tiba. Langit malam hari ini sangatlah cerah, lalu darimana datangnya petir aneh tadi?.


"Apakah dia mati?." tanya Min Wungi yang penasaran dengan kondisi Yang Zu.


"Dia hanya pingsan, sebaiknya kita masuk ke dalam istana. Biarkan saja pemuda aneh itu berada di sana." ucap Xiao Ziya yang mengajak kedua kakak sepupunya untuk masuk kedalam istana dan meninggalkan Yang Zu sendirian dengan kondisi pingsan.


Sedangkan di atas langit tepatnya di alam tempat tinggal para malaikat, beberapa malaikat kematian melihat ke arah Lee Brian dengan tatapan bingung. Mengapa pria itu terlihat sangat marah dan menurunkan petir hitam kesebuah tempat? apa sesuatu sedang terjadi pada keponakan kesayangan pria itu.


"Apa yang membuat Anda begitu marah Malaikat Kematian Lee Brian?." tanya malaikat kematian yang lain, Lee Brian adalah kedudukan tertinggi yang ada di alam kematian sehingga para malaikat lain sangat menghormatinya.


"Seorang pemuda dengan wajah yang menyerupai wanita ingin mengajukan lamaran pada keponakan saya." ucap Lee Brian penuh dengan emosi, satu sambaran petir masih belum cukup untuk memberi pelajaran pada pemuda itu namun jika Lee Brian menyambarnya lagi bisa dipastikan pemuda itu akan mati.


"Sepertinya ia berasal dari lapisan dunia Misterius, lebih baik Anda menjaga Nona Ziya dengan lebih ketat." ucap seorang malaikat kematian yang pernah melihat pemuda itu sebelumnya.


"Tak akan ada yang menyalahkan keponakanku atas kejadian ini. Petir yang menyambar merupakan sebuah fenomena alam, mereka akan menganggap ini kesialan dari sang pemuda." ucap Lee Brian yang telah memperhitungkan hal ini dengan baik.


"Anda begitu menyayangi Nona Ziya, apakah ada alasan khusus dibalik semua itu?." tanya beberapa malaikat kematian yang merasa penasaran dengan alasan Lee Brian yang selalu memprioritaskan keselamatan Xiao Ziya. Pria itu memiliki keponakan lain selain gadis bernama Xiao Ziya, namun hanya Xiao Ziya yang mendapatkan perhatian darinya.


"Saya harus menjaganya agar saya tak menyesal dan kehilangan gadis itu lagi." jawab Lee Brian penuh dengan teka teki.


Akhirnya malaikat kematian yang lain berhenti menanyakan alasan mengapa Lee Brian begitu perhatian pada Xiao Ziya, mereka percaya suatu hari cepat atau lambat semuanya akan terbaca dengan jelas. Di sisi lain saat ini Xiao Ziya dan kedua kakak sepupunya sudah berada di dalam kamar mereka masing masing, Xiao Ziya sedang sibuk membuat beberapa ramuan yang akan ia bawa dalam perjalanan menuju Desa Elnz.


Tanpa gadis itu sadari bulan terlah tergantikan dengan matahari dan ia masih sibuk menuang beberapa ramuan kedalam botol kaca kecil, saat Xiao Ziya sedang sibuk dengan kegiatannya sendiri tiba tiba ada seseorang yang mengetuk pintu kamar gadis itu.


"Untuk apa wanita itu datang lagi?" ucap Xiao Ziya dengan ekspresi malas, gadis itu tau bahwa saat ini yang sedang mengetuk pintu kamarnya adalah Ratu Jinha Zee yang sedang menyamar menjadi pelayan dan membawakan nampan berisi makanan.


Xiao Ziya berjalan dan membukakan pintu kamarnya, gadis itu melihat ke arah sang pelayan dengan tatapan datar. Xiao Ziya sudah tak sabar memukul wajah menyebalkan dari Ratu Jinha Zee itu.


"Selamat pagi Nona Ziya, saya datang membawakan sarapan untuk Anda." ucap Jinha Zee yang sedang menyamar menjadi seorang pelayan dengan senyuman ramah palsunya.


"Saya akan makan bersama dengan yang lain, bawa saja makanan ini kembali ke dapur." ucap Xiao Ziya dengan tegas, lagipula ia tak meminta si pelayan untuk mengantar sarapan ke kamarnya.


"Saya memasak makanan ini khusus untuk Anda. Saya harap Anda bisa menghargai perjuangan saya." ucap pelayan itu dengan raut wajah sedih.


"Apa kalian melihat saya meminta pelayan ini mengantar makanan?." tanya Xiao Ziya pada empat orang prajurit yang sedang berjaga di luar pintu kamarnya.


"Sedari pagi Nona Ziya belum keluar dari kamar dan melakukan interaksi dengan siapapun." jawab seorang prajurit dengan tegas.


"Jangan lancang terhadap Nona Besar Xiao Ziya." ucap prajurit lain yang tak menyukai sikap keras kepala pelayan tersebut.


"Saya hanya ingin memberikan yang terbaik pada Nona Ziya." ucap Jinha Zee yang kini sedang berakting menangis di hadapan Xiao Ziya dan keempat prajurit itu.


Hai hai semua author balik lagi nih, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib gift hadiah apapun, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.