RATU IBLIS

RATU IBLIS
Dunia Semesta Tingkat Rendah 06


Ditempat lain saat ini Xiao Yan sedang membuat rencana untuk membebaskan Wi Xume, meski masa tahanan istrinya tak ada satu bulan namun itu waktu yang cukup lama bagi Xiao Yan.


"Aku harus mengambil pedang yang kusimpan di Klan Xiao." ucap Xiao Yan, ia masih ingat bahwa beberapa barang berharga miliknya masih berada di paviliun tempatnya tinggal saat masih menjadi anggota Klan Xiao.


Pemuda itu berjalan dengan santai walau disepanjang perjalanan banyak penduduk yang menatapnya dengan hina, mereka sangat membenci Xiao Yan yang telah menelantarkan adiknya sendiri demi seorang wanita gila yang tak beretika. Setelah sampai di dekat wilayah Klan Xiao, ia berjalan menuju bagian belakang klan untuk mencari jalan rahasia yang hanya diketahui olehnya dan Xiao Xun.


Saat masih kecil Xiao Yan dan Xiao Xun sering bermain bersama mereka menggali sebuah lubang yang cukup besar, karna itu Xiao Yan dan Xiao Xun kecil dapat pergi kapanpun tanpa diketahui oleh siapa siapa.


"Untunglah saat ini Xun sibuk mengurus akademi jika tidak aku akan kesulitan masuk kedalam." ucap Xiao Yan dengan senyum bahagia, ia menganggap bahwa dirinya seorang jenius yang tak tertandingi untuk masalah taktik dan rencana.


Xiao Yan masuk kedalam lubang yang ada di ujung tembok Klan Xiao bagian selatan, setelah berhasil ia langsung tiba di halaman belakang paviliun yang ia tinggali dulu. Xiao Yan berjalan dengan suara langkah kaki yang pelan agar tak ada penjaga yang curiga. Setelah berhasil masuk kedalam ia mengambil satu kotak sedang berisi koin emas serta beberapa senjata dan barang berharga yang ia miliki.


"Sebaiknya aku segera pergi." ucap Xiao Yan dengan tergesa gesa, ia tak sengaja menyenggol salah satu vas bunga hingga pecah. Para penjaga yang ada di luar segera masuk kedalam untuk memastikan apakah ada maling yang masuk kedalam paviliun.


"Apa yang sedang kau lakukan di sini." ucap salah seorang penjaga dengan nada bicara marah.


"Mengambil beberapa barang yang tertinggal." jawab Xiao Yan tanpa rasa bersalah.


"Harusnya kau meminta izin terlebih dahulu pada ketua yang lain." ucap pengawal lainnya yang tak bisa memahami jalan pikiran Xiao Yan. Jika barang barang itu benar miliknya maka para ketua Klan Xiao tak akan melarangnya untuk masuk kedalam.


"Jangan terlalu banyak bicara, aku pergi dulu." ucap Xiao Yan yang langsung melesat pergi meninggalkan tempat itu. Para penjaga ingin mengejarnya namun dihentikan oleh Xiao Xun.


Xiao Xun ada di sana sejak Xiao Yan mengendap endap masuk kedalam paviliun melalui jalan rahasia itu, ia hanya diam dan memperhatikan apa yang ingin dilakukan oleh kakak tertuanya. Ternyata Xiao Yan hanya ingin mengambil barang barang pribadi miliknya yang masih tertinggal.


"Biarkan saja dia pergi, lagipula semua barang yang ia ambil adalah miliknya sendiri." ucap Xiao Xun dengan wajah tenang.


"Apa kita perlu melapor pada panatua?." tanya salah seorang penjaga yang khawatir di lain hari Xiao Yan akan masuk kedalam wilayah Klan Xiao dengan cara yang tak sopan.


"Lebih baik kalian tutup lubang besar yang ada di dinding sebelah selatan, dia masuk lewat jalan itu." ucap Xiao Xun dengan tegas memberi perintah. para penjaga dengan segera mencari beberapa material yang cukup kuat untuk menutup lubang besar itu.


Xiao Xun keluar dari paviliun tempatnya tinggal, ia ingin menemui Wi Algi yang sedang berada di paviliun milik adik perempuannya. Terlihat Wi Algi sedang membersihkan daun daun yang jatuh di halaman belakang walaupun hari sudah malam.


"Bukankah kau bisa melakukannya esok pagi?." ucap Xiao Xun yang tak mengerti mengapa pemuda itu sangar rajin sekali.


"Ini masih jam kerja saya, saya akan istirahat ketika jam kerja saya telah usai." ucap Wi Algi dengan wajah senang karna hidupnya saat ini terjamin dan tak akan merasa kesulitan lagi.


"Baiklah jika begitu, saya akan di sini untuk beberapa waktu." ucap Xiao Xun yang duduk bersandar di sebuah pohon persik dengan buah yang hampir matang.


"Saya akan menyediakan beberapa cemilan dan teh hangat." ucap Wi Algi dengan semangat,ia berlari menuju dapur untuk menyeduh teh dan mengambil beberapa toples berisi cemilan manis. Setelah selesai ia menghampiri Xiao Xun dan meletakkan teh dan cemilan itu.


"Apa saya boleh menanyakan sesuatu pada anda, mungkin Ini pertanyaan yang kurang sopan." ucap Xiao Xun yang meminta izin terlebih dahulu.


"Silahkan, saya akan menjawab seadanya." ucap Wi Algi yang tak merasa keberatan. Lagipula ia berhutang banyak pada orang orang Klan Xiao.


"Apa kau tak merasa kasihan pada adikmu?." tanya Xiao Xun, mungkin saat ini kondisi Wi Xume sangat buruk karna terusir dari Istana Kerajaan Qiyu dan kehilangan anggota keluarganya. Xiao Xun memiliki firasat bahwa yang membunuh semua keluarga Wi Xume adalah adik perempuannya, namun ada satu hal yang membuatnya ragu Wi Algi bersaksi bahwa saat itu yang ia lihat adalah wajah adiknya sendiri bukan orang lain.


Sangat tak mungkin bagi Xiao Ziya untuk menyerupai wajah Wi Xume karna ilmu itu sangatlah tinggi dan kitabnya tak ada di dunia bawah maupun dunia atas. Lalu siapa sebenarnya pelaku dari kasus pembunuhan keluarga Wi Xume yang ada di Kerajaan Barat?.


"Apa itu rasa kasihan? saya telah kehilangan banyak orang karna keegoisan gadis itu." ucap Wi Algi yang mengingat kejadian saat Wi Xume menusuk ibunya sendiri.


"Apa kau yakin Wi Xume pelaku dari pembunuhan itu?." tanya Xiao Xun yang sangat penasaran.


"Saya sangat yakin karna saya melihatnya sendiri. Gadis itu mengatakan bahwa ia akan menjadi seorang ratu dan hidup bahagia di Kekaisaran Qiyu, setelah itu saya tak mendengar apapun selain suara jeritan ibu." ucap Wi Algi yang merasa sangat sedih, ia meneteskan beberapa air mata.


"Baiklah jika kau sudah bertekad seperti itu, apapun akhirnya nanti itu pilihanmu sendiri." ucap Xiao Xun yang tak ingin bertanya apapun lagi karna akan membuat Wi Algi curiga padanya. Ia memakan beberapa camilan yang disiapkan.


Wi Algi izin untuk masuk ke dalam kamar dan beristirahat karna tubuhnya sudah sangat lelah, setelah membaringkan tubuhnya di atas kasur dan memejamkan mata ia sempat berfikir sejenak apakah yang melakukan semua itu benar benar adiknya sendiri ataukan ada orang lain yang ikut campur.


"Tak mungkin jika nona Ziya yang melakukannya, untuk apa dia menolong saya jika dialah yang membunuh seluruh anggota keluarga saya." ucap Wi Algi yang tetap berfikiran positif pada Xiao Ziya. Seandainya ia tau tentang fakta yang sebenarnya mungkin Wi Algi akan sangat marah pada Xiao Ziya.


Saat ini Xiao Ziya sedang berjalan jalan mengelilingi ibu kota Inlen suasana malam yang masih ramai membuat gadis itu merasa sedikit terganggu. Xiao Ziya masuk kedalam sebuah restoran bintang lima, seorang gadis muda menahannya karna menganggap Xiao Ziya sebagai gadis miskin yang tak akan bisa membayar.


"Maaf nona restoran ini hanya melayani para keluarga bangsawan dan orang orang yang memiliki uang saja." ucap gadis itu dengan tatapan menghina yang ia arahkan pada Xiao Ziya.


Xiao Ziya menatap gadis muda itu dari bawah hingga atas kemudian menatap ke arah matanya beberapa saat dan langsung memalingkan wajah. Apakah gadis muda yang bekerja sebagai pelayan itu sedang menghinanya? ahahah lelucon macam apa ini bukankah seharusnya pihak restoran melakukan tes sebelum menerima seseorang untuk bekerja di sana, lantas bagaimana gadis sombong dan angkuh itu bisa diterima.


"Apakah anda sudah bercermin terlebih dahulu nona?." ucap Xiao Ziya dengan nada bicara yang sangat sopan. Beberapa pengunjung yang ada di sana menatap ke arah pintu masuk.


"Apa yang anda maksud? ini adalah ketentuan dari pihak restoran." ucap gadis itu yang terus membuat alasan alasan yang tak masuk akal.


"Ah benarkah begitu? apakah saya bisa bertemu dengan manager anda?." ucap Xiao Ziya yang ingin memastikan kebenaran dari apa yang dikatakan oleh sang gadis. Gadis pelayan itu hanya diam dengan ekspresi cemas karna apa yang ia katakan hanyalah omong kosong belaka.


Sejak awal restoran tempatnya bekerja selalu menerima siapapun yang ingin makan walau mereka hanya memesan air putih saja,namun pelayan bernama Yiana sangat malas melayani orang orang miskin yang membuang buang waktunya. Jika saja gadis itu sedikit memahami tentang fashion maka ia akan tau bahwa hoodie dan celana yang digunakan oleh Xiao Ziya seharga puluhan juta.


"Manager kami sangat sibuk dan tak memiliki waktu untuk melayani rakyat jelata seperti anda." ucap pelayan bernama Yiana itu dengan lantang hingga menimbulkan kegaduhan diantara para pelanggan yang sedang menikmati makanan mereka.


"Jika aku ada di posisi gadis muda itu maka akan ku tampar di pelayan kurang ajar." ucap istri dari pria tersebut, ia sangat geram melihat tingkah sang pelayan yang menganggap dirinya sendiri sangat luar biasa.


"Saya rakyat jelata? lalu anda itu apa? sampah masyarakat?." ucap Xiao Ziya dengan suara tawa meledeknya. Semua pengunjung tertawa mendengar perkataan gadis itu.


"Sialan pergilah dari sini karna kami tak pernah menerima pelanggan sepertimu." ucap Yiana lagi kini ia mencoba untuk mendorong Xiao Ziya, namun sekuat apapun ia mendorong Xiao Ziya tak bergerak walau satu inchi.


Xiao Ziya tetap diam diperlakukan seperti itu, sang pelayan bernama Yiana melontarkan beberapa kata kata kasar yang membuat semua orang marah. Beberapa pelayan lainnya mencoba menenangkan Yiana namun perkataan mereka tak digubris sedikitpun oleh gadis itu. Hingga akhirnya salah seorang pelayan menelfon manager mereka karna kondisi yang kacau. Seorang pemuda turun dari lantai atas ruang VVIP restoran itu, dia adalah pemilik restoran yang sedang menyelesaikan beberapa pekerjaan.


"Ada apa ini?." tanya pemuda itu pada salah seorang pelayan wanita.


"Seorang pelayan muda bernama Yiana membuat kegaduhan tuan muda, ia mengusir salah seorang gadis yang ingin makan di tempat ini." ucap pelayan itu yang sedikit memberi penjelasan.


Pemuda pemilik restoran itu adalah Anzo Yu pemuda yang di tabrak oleh Xiao Ziya saat berada di mall tempo lalu. Pemuda itu berjalan untuk melihat siapa gadis yang diusir oleh karyawannya, Anzo Yu merasa sangat terkejut saat melihat wajah gadis yang sangat familiar baginya.


"Apa yang kau lakukan pada temanku." teriak Anzo Yu yang membuat Yiana terkejut karna bosnya mengatakan bahwa gadis berpenampilan gembel itu adalah temannya.


"Mungkin tuan muda salah orang, gadis ini hanyalah seorang rakyat jelata yang tak pantas berteman dengan anda." ucap Yiana yang menghina Xiao Ziya secara terang terangan.


"Kau tau mengapa saya hanya diam hingga saat ini? jika saja pemerintah di dunia semesta tingkat rendah tak terlalu ketat maka sejak tadi kepala anda sudah terpisah dari tubuhnya." ucap Xiao Ziya dengan suara datar dan aura yang sangat mencekam. Tubuh Yiana menggigil dengan hebat karna merasa takut.


"Saya minta maaf atas kecerobohan karyawan saya." ucap Anzo Yu yang berharap jika gadis bernama Xiao Ziya tak akan memperpanjang permasalahan ini.


"Penghinaan yang saya terima tak akan hilang dengan permintaan maaf anda saja." ucap Xiao Ziya dengan santai, ia tak akan memaafkan orang yang sudah menghinanya secara terang terangan seperti itu.


"Lalu apa yang ingin anda lakukan?." ucap Anzo Yu dengan nada bicara gemetar.


"Saya ingin membunuh gadis ini, jika kau tak mengijinkannya mari kita berperang." ucap Xiao Ziya yang membuat semua orang terkejut, gadis itu menyatakan perang terhadap dunia semesta tingkat rendah secara terang terangan.


"Apakah anda yakin dunia tempat anda tinggal akan menang melawan kami?." ucap Anzo Yu yang sangat percaya dengan kemampuan teknologi yang sedang dikembangkan oleh pemerintahan mereka.


"Tentu kalian akan berhadapan dengan beberapa lapisan dunia, apakah kalian sanggup? ditambah lagi saya juga mampu membuat senjata peledak semacam nuklir? apakah anda mengira saya hanya seorang kultivator bodoh yang tak tau cara menggunakan senjata?." ucap Xiao Ziya dengan santai dan senyum membunuhnya yang berhasil mengintimidasi banyak orang.


"Mengapa anda sangat kejam pada kami?." ucap Anzo Yu yang tak mengerti mengapa gadis yang ada di hadapannya itu sangat sensitif.


"Tanyakan saja pada pemimpin kalian saat ini mengapa mereka membunuh banyak sekali kultivator hanya untuk sebuah penelitian." ucap Xiao Ziya yang masih mengingat dengan jelas jeritan kesakitan yang ia dengar dari dalam robot rongsokan itu.


Semua orang yang ada di sana hanya diam, memang benar apa yang dilakukan oleh pemerintah saat ini adalah sebuah kesalahan. Meskipun hubungan antara dunia semata tingkat rendah dan dunia lain tak akur namun para kultivator tak pernah menyakiti mereka terlebih dahulu selalu mereka yang membuat masalah dan menimbulkan keributan.


"Apakah kalian tau ditampar saya tinggal orang orang biasa seperti kalian sangatlah banyak, kami para kultivator akan melindungi mereka. Karna kami selalu melindungi yang lemah, namun jangan pernah berfikir bahwa kami akan diam saja jika kalian terus mengusik tanpa henti." ucap Xiao Ziya yang memberikan sedikit penjelasan bahwa di berbagai lapisan dunia orang biasa yang tak memiliki akar sihir ataupun kemampuan untuk berkultivasi itu ada, namun mereka bisa menerima hal itu dengan baik dan tetap menjalankan hidup tanpa banyak menuntut.


"Apakah anda sedang berbohong pada kami? pemimpin selalu mengatakan bahwa hanya lapisan dunia inilah yang didiami oleh orang orang yang kurang beruntung." ucap Anzo Yu dengan kesal, ia sangat ingin menjadi kultivator yang kuat dan membanggakan.


"Bukankah kalian tak pernah melihat kebenarannya secara langsung. Jika saja kalian tau hidup di jalan kami sangatlah sulit, hukum rimba masih berlaku yang kuat yang akan mendominasi." ucap Xiao Ziya dengan ekspresi kesalnya. Mengapa orang orang itu menganggap bahwa hidup menjadi kultivator atau ahli sihir adalah hal yang menyenangkan.


Mereka akan merasakan sulit untuk tidur karna nyawa yang terancam setiap waktu, terkadang untuk bertahan hidup mereka harus membunuh beberapa orang yang tak bersalah. Para kultivator yang ada di jalan kegelapan akan menggunakan cara apapun agar bisa naik ke tingkat selanjutnya, semua orang berpotensi besar menjadi musuh dalam waktu sekejap saja. Hal indah mana yang dirasakan oleh seorang kultivator?.


"Jika anda berpendapat demikian maka saya akan percaya." ucap Anzo Yu yang dapat melihat kejujuran di mata dan juga ekspresi wajah Xiao Ziya.


"Bos seharusnya kau mengusir gadis ini segera karna dia adalah musuh besar semua orang yang tinggal di sini." ucap Yiana yang mencoba untuk memprovokasi, namun tak ada seorangpun yang berani menatap ke arah Xiao Ziya mereka hanya menundukkan kepala karna merasa malu.


"Gadis itu benar selama ini kitalah yang selalu mennyinggung orang orang dari lapisan dunia lain. Bahkan pemimpin kita pernah menantang seorang dewa lalu ia kalah dan mulai melakukan kecurangan." ucap salah seorang penduduk yang masih ingat kejadian beberapa tahun yang lalu.


"Sepertinya kita sendiri yang terlalu terobsesi." ucap pengunjung lain.


"Mengapa kalian malah membela gadis gila ini, bagaimana jika dia membunuh kita sekarang karna mengetahui identitasnya sebagai kultivator?." ucap Yiana yang terus memprovokasi semua orang, ia ingin gadis muda yang ada di sebelahnya itu disingkirkan.


"Saya datang ke sini bukan karna keinginan saya sendiri, saya hanya memenuhi undangan dari pemimpin di dunia ini. Banyak orang yang sudah mengetahui identitas saya dan mereka masih hidup karna saya tak akan membunuh tanpa alasan yang jelas. Mungkin satu satunya orang disini yang akan meregang nyawanya adalah kau." ucap Xiao Ziya yang memberikan sedikit penjelasan tentang prinsip hidupnya dan semua orang percaya.


Yiana menatap ke sekeliling, tak ada yang berpihak padanya walau mereka rekan kerjanya sekalipun. Yiana merasa sangat marah pada semua orang yang mengabadikan dirinya ditambah mereka lebih percaya pada orang asing.


"Pemimpin akan menghukum kalian semua jika mengetahui hal ini." ucap Yiana dengan sangat marah, ia akan melaporkan semua kejadian ini pada badan pengawas kependudukan.


"Lakukanlah jika kau masih hidup." ucap Xiao Ziya yang mengambil sebuah jarum perak dalam cincin semestanya, jarum perak itu ia lempar hingga menembus jantung Yiana.


Yiana melotot karna terkejut, ia kesulitan bernafas karena ada bagian jantungnya yang bocor dan beberapa pembuluh darah pecah. Lambat laun kesadaran Yiana mulai menghilang dan dia mati di tempat, untuk menghilangkan jejak dan juga bukti Xiao Ziya membakar mayat Yiana menggunakan api biasa.


"Rahasiakan apa yang terjadi hari ini, ini bukan untuk keselamatan saya namun ini untuk keselamatan kalian sendiri. Saya bisa kembali ke tempat tinggal saya kapanpun tapi kalian akan menjadi buronan jika hal ini sampai bocor ketelinga badan pemerintahan." ucap Xiao Ziya yang memberi peringatan pada semua orang yang melihat kejadian itu secara langsung, tanpa mendengar tanggapan mereka Xiao Ziya langsung melesat pergi begitu saja.


"Saya harap kalian bisa mengerti." ucap Anzo Yu, ia kembali ke ruang kerja untuk menyelesaikan beberapa dokumen penting dan juga rekap keuangan.


Hai hai semua author back lagi nih gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote ya guys karna wajib, gift hadiah apapun, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.