RATU IBLIS

RATU IBLIS
Dunia Semesta Tingkat Rendah 12


Di perjalanan tak ada yang membuka suara hingga suasana terasa sangat hening, Xiao Ziya fokus melihat keluar jendela mobil, Hanz fokus menyetir mobil agar tidak menabrak orang atau terjadi kecelakaan, sedangkan Kenzo dan Zero entah apa yang mereka lakukan.


"Kita sudah sampai nona Ziya." ucap Hanz yang langsung memarkirkan mobilnya di tempat yang aman.


Suasana pelabuhan yang sangat ramai membuat mereka berempat sedikit kesulitan untuk sampai di markas organisasi serikat perdagangan. Entah ini perasaan Xiao Ziya saja atau benar benar kenyataan, menurut apa yang ia lihat lalu lalang di pelabuhan seperti sengaja dibuat buat untuk menghambat perjalanan mereka. Karna banyak wajah wajah orang yang sama berkali kali melintas di hadapan Xiao Ziya, selain itu sebagian dari mereka menyembunyikan senjata tajam di balik baju.


"Kalian harus berhati hati." ucap Xiao Ziya yang masih tenang, mungkin Wenzi mengira rencananya tak akan terbaca oleh gadis itu, siapa sangka Xiao Ziya mengetahuinya dalam sekali lihat.


"Ada apa nona?." tanya Kenzo yang merasa bingung karna semua berjalan seperti hari hari biasa.


"Ikuti saja perintah nona." ucap Hanz yang sedikit merasakan ancaman dari sekitarnya.


Xiao Ziya mengambil sebuah pisau kecil dari dalam cincin semestanya, ia memainkan pisau itu dengan memutarnya berkali kali sambil terus berjalan. Perlahan kerumunan orang yang membuat pengap mulai menyingkir, mereka merasakan aura yang sangat kuat dari Xiao Ziya. Ada seorang pria yang tiba tiba berlari ke arah yang berlawanan dengan cepat Xiao Ziya melempar pisau yang ia pegang dan mengenai kepala belakang pria tersebut.


"Tolong selamatkan saya." ucap pria itu sebelum ia pingsan karna pendarahan hebat yang terjadi di dalam kepalanya. Xiao Ziya tersenyum dengan puas karna berhasil menggagalkan rencana pria itu. Ternyata sang pria yang berlari ke arah berlawanan ingin melapor pada Wenzi bahwa gadis yang ia cari sudah datang dan mulai menunjukkan taringnya.


Semua orang yang menyaksikan hal itu hanya terdiam mereka tak berani melakukan perlawanan yang serius karna bos hanya meminta untuk mengawasi pergerakan dari Xiao Ziya. Gadis itu berjalan diikuti tiga mafia bersaudara, suhu udara yang tadinya normal tiba tiba menjadi sangat ingin. Setiap jengkal yang diinjak oleh Xiao Ziya berubah menjadi beku dan dilapisi es yang cukup tebal, gadis itu akan bersungguh sungguh dalam memberantas organisasi serikat perdagangan.


"Bagaimana kita bisa melapor pada bos?." ucap salah seorang wanita yang merasa bingung karna ia tak bisa berlari begitu saja, mungkin nasibnya akan sama seperti pria sebelumnya.


"Berjalanlah dengan natural jangan panik agar gadis itu tak merasa curiga." ucap rekan yang lain.


Wanita itu berjalan dengan santai menuju suatu tempat yang ada di pinggir pelabuhan, Xiao Ziya melihatnya sekilas kemudian tersenyum akhirnya ia menemukan markas serikat perdagangan.


"Ikuti saja, keluarkan senjata kalian sekarang." ucap Xiao Ziya yang memberikan perintah pada Hanz dan saudaranya yang lain.


Hanz, Kenzo, dan Zero mengambil senjata api laras panjang sedangkan Xiao Ziya mengambil pedang hitam andalannya. Ukuran pedang hitam milik Xiao Ziya memanglah besar, Kenzo saja sampai tercengang karna Xiao Ziya bisa membawanya dengan mudah seperti mengangkat kapas.


"Bukankah itu sangat berat?." ucap Kenzo dengan mata yang membelalak.


"Apapun bisa dilakukan oleh nona kita." ucap Hanz yang tak terkejut lagi dengan segudang bakat yang dimiliki oleh Xiao Ziya. Mungkin jika pemimpin dunia atas mengetahui hal ini pasti ia akan sangat iri, itulah yang sedang Hanz fikirkan.


Seribu orang berkumpul di depan Xiao Ziya, mereka menghalangi gadis itu untuk mencapai markas mereka. Orang orang yang menghalangi Xiao Ziya terdiri dari delapan ratus pria dan dua ratus wanita sepertinya mereka sudah sangat terlatih. Xiao Ziya meminta pada Hanz, Kenzo, dan Zero untuk melihat apa yang akan ia lakukan untuk membasmi ribuan orang dalam jangka waktu kurang dari sepuluh menit. Xiao Ziya melesat dengan sangat cepat, ia menebas setiap kepala yang dilewati hingga banyak kelompok serikat dagang yang ingin mundur namun sia sia karna Xiao Ziya sangatlah cepat.


Kurang dari sepuluh menit seribu nyawa sudah melayang, mereka telah menyinggung orang yang salah, ketiga mafia bersaudara merasa lemas melihat bagaimana Xiao Ziya membunuh banyak orang tanpa ada ekspresi bersalah, mungkin jika gadis itu menjadi mafia ia akan sangat ditakuti oleh semua orang yang ada di lapisan dunia semesta tingkat rendah.


"Akhirnya saya sadar dia terlalu jauh untuk digapai." ucap Zero dengan ekspresi mengenaskan, diantara ketiga mafia bersaudara hanya Zero yang memiliki perasaan khusus pada Xiao Ziya. Ia sangat tertarik dengan kecantikan, karisma, kekuatan, dan kecerdasan gadis itu. Awalnya Zero mengira bahwa ia ada di level yang sama dengan Xiao Ziya karna gadis itu pandai menggunakan pistol ganda, akan tetapi perkiraanya salah Xiao Ziya jauh diatas ekspetasi.


"Bersabarlah adikku, lain kali kau perlu bercermin terlebih dahulu." ucap Hanz yang sengaja meledek adiknya itu.


"Sudahlah kalian jangan bertengkar, kita di sini ingin membantu nona Ziya." ucap Kenzo yang melerai pertengkaran kedua saudaranya, diantara mereka bertiga hanya Kenzo yang paling sehat otaknya.


Wenzi dan para anggotanya yang masih tersisa masih bersembunyi di dalam markas, ia sedang menunggu laporan dari kelompok penyerang pertama apakah mereka berhasil atas gagal. Sudah menunggu sekitar tiga puluh menit namun tak ada seorangpun yang kembali ke dalam markas, akhirnya Wenzi meminta seorang pemuda untuk melihat keluar.


Pemuda itu dengan patuh keluar dari markas serikat perdagangan, baru saja membuka pintu dan melihat kesekitar pelabuhan pemuda itu langsung merinding dan berlari masuk ke markas.


"Apa yang terjadi? mengapa tubuhmu gemetaran seperti itu?." tanya Wenzi yang ingin tau.


"Mereka semua sudah mati." ucap pemuda itu, ia merasa pusing dan mual karna melihat lautan darah yang sangat menjijikan.


"Katakan dengan jelas." ucap Wenzi yang sudah panik, mana mungkin gadis sekecil itu bisa membunuh ribuan orang dalam jangka waktu yang sangat singkat. Meski ketiga mafia bersaudara itu membantunya namun melawan seribu orang bukanlah hal yang mudah ditambah mereka adalah orang orang yang dilatih oleh militer khusus.


"Seribu orang yang ada di penyerang pertama sudah mati bos." ucap pemuda itu yang langsung pingsan karna tak kuat menahan rasa takut yang menghantui dirinya.


Wenzi dan anggota yang lain bingung bagaimana cara mereka menyelamatkan diri, jika mereka semua melewati pintu belakang markas maka waktunya tak akan cukup. Jika mereka tetap berdiam diri di dalam markas artinya mereka siap menyerahkan nyawa pada gadis itu.


"Kalian semua tunggulah di sini dengan tenang, saya akan melihat kondisi di luar." ucap Wenzi yang berjalan menuju pintu belakang markasnya, pria itu ingin menyelamatkan nyawanya sendiri tanpa memikirkan nyawa anggotanya yang lain.


"Mengapa anda lewat pintu belakang?. tanya Grenz, ia merasa curiga pada Wenzi.


"Bagaimana jika keempat orang itu sudah menunggu di pintu depan? akan lebih baik jika saya berjalan mengitari markas." ucap Wenzi yang memiliki alasan logis, semua anggota serikat perdagangan percaya dengan pemimpin mereka kecuali Grenz yang masih merasa curiga.


Wenzi membuka pintu belakang dan mulai keluar dengan suara langkah kaki yang sangat pelan, ia menaiki sebuah kapal yang ada di dekat markas. Wenzi menyalakan mesin kapal itu dan membuat Grenz langsung berlari menuju pintu belakang, ternyata benar pria itu ingin menyelamatkan nyawanya sendiri.


"Sialan dia telah mengkhianati kita semua." ucap Grenz dengan sangat marah, tentu ia tak terima dengan perlakuan Wenzi pada anggotanya yang lain.


Tanpa bantuan mereka semua, Wenzi tak akan pernah menjadi orang yang kaya raya dan memiliki segalanya. Organisasi serikat perdagangan bisa berdiri hingga sekarang karna pengorbanan dari banyak anggota, namun seperti ini balasan dari Wenzi yang tega meninggalkan mereka semua.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang?." tanya salah satu anggota baru dari organisasi serikat perdagangan, belum lama ia bergabung dengan kelompok ini dan sekarang nyawanya sudah terancam.


"Kita hanya punya dua pilihan, melawan dan berharap beberapa dari kita masih bisa bertahan hidup, atau pasrah begitu saja menunggu ajal." ucap Grenz secara terang terangan, ia tak akan memberi kalimat penenang yang hanya akan memberi harapan palsu pada anggota serikat dagang yang lain.


Bruaak.


Suara pintu depan yang di dobrak oleh Hanz, setelah itu mereka berempat masuk kedalam markas dengan wajah sangar terutama Xiao Ziya. Gadis itu sangat mirip dengan malaikat maut yang ingin mencabut nyawa setiap orang yang dilihatnya.


"Tahan sebentar." ucap Xiao Ziya yang menghentikan langkah Hanz serta kedua saudaranya yang lain. Hanz menoleh ke arah Xiao Ziya dengan tatapan penuh tanda tanya mengapa gadis itu menghentikan aksi mereka.


"Jangan membantah." ucap Xiao Ziya dengan tatapan tajam yang ia arahkan pada Hanz, akhirnya pemuda itu diam tanpa mempertanyakan apapun.


"Dimana pemimpin kalian?." tanya Xiao Ziya dengan ekspresi datar, ia tak bisa merasakan aura dari pria itu.


Karna tak ada yang kunjung menjawab pertanyaannya, Xiao Ziya menunjuk seorang gadis yang paling muda diantara yang lain. Ia menanyakan hal yang sama pada gadis itu dimana pemimpin mereka sekarang, gadis itu menundukkan kepalanya kemudian menelan ludah berkali kali untuk mengumpulkan keberanian. Setelah keberaniannya sudah cukup iapun menceritakan semuanya pada Xiao Ziya bahwa pemimpin mereka sudah kabur melalui pintu belakang. Xiao Ziya tersenyum kemudian berjalan mendekat ke arah gadis itu, sang gadis gemetaran karna hidupnya akan segera berkahir. Namun yang terjadi di luar perkiraan semua orang, Xiao Ziya mengusap kepala gadis itu dengan lembut karna usianya ada di bawah Ziya.


"Lain kali jika ingin mancari uang, bergabunglah dengan kelompok yang benar atau carilah pekerjaan lain." ucap Xiao Ziya yang memberikan nasehat pada gadis kecil itu. Ia tahu bahwa gadis sekecil ini tak akan nekat masuk dalam sebuah organisasi kotor seperti serikat perdagangan tanpa alasan yang jelas.


"Baiklah kakak, apakah saya boleh pulang?." tanya gadis itu dengan polos, ia harus pulang dengan selamat agar ada yang merawat sang ayah yang sedang sakit parah.


"Bawalah ini dan pulanglah, katakan pada ayahmu uang ini kau dapatkan atas keberanianmu." ucap Xiao Ziya yang memberikan sebuah amplop coklat yang sangat tebal pada gadis kecil itu.


Mata sang gadis kecil berlinangan air mata, ia tak menyangka orang yang ia anggap akan mengambil nyawanya malah memberi bantuan padanya. Gadis kecil itu akhirnya tau siapa pihak yang salah dalam masalah ini, mungkin pemimpin organisasi serikat perdagangan telah membuat masalah.


"Terimakasih kakak, saya pamit pulang dulu." ucap gadis itu yang segera berlari menuju pintu keluar.


Grenz mengambil sebuah pistol dari saku celananya, ia menembak ke arah gadis yang sedang berlari ke pintu keluar namun pelurunya di hadang oleh pedang hitam milik Xiao Ziya. Ziya menatap tajam ke arah Grenz yang tak berperasaan itu.


"Mengapa kau membiarkannya pergi bukankah dia juga bagian dari kami?." tanya Grenz dengan nada kesal.


"Dia berbeda dengan kalian, dia masih sangat kecil mungkin umurnya ada di kisaran enam tahun. Saya tau dia ada di sini karna paksaan dari seseorang." ucap Xiao Ziya yang melihat ke arah wanita paruh baya yang kini sedang memalingkan wajahnya.


"Kami juga ingin pergi seperti gadis itu." ucap sang wanita paruh baya dengan suara pelan, tentu Xiao Ziya masih bisa mendengar apa yang wanita itu katakan.


"Seorang ibu yang telah menjual putrinya sendiri untuk bekerja di tempat kotor ini apakah dia masih pantas untuk hidup?." ucap Xiao Ziya yang langsung menebas wanita paruh baya itu menggunakan pedang hitamnya.


"Tentu saja tidak." ucap Xiao Ziya dengan suara tawa yang sangat nyaring, tawa Xiao Ziya membuat anggota serikat perdagangan yang lain ingin melarikan diri.


"Apa sekarang kami bisa menghabisi mereka?." tanya Zero yang sudah merasa gatal, ia tak sabar ingin menghabisi mereka semua.


"Jangan sisakan satupun, saya akan pergi untuk mengejar pria itu." ucap Xiao Ziya yang langsung melesat menuju pintu belakang markas. Kecepatan Xiao Ziya tak bisa dilihat oleh mata telanjang.


Xiao Ziya terus berlari di atas air dan terus mencoba untuk mengejar Wenzi, kemampuan Xiao Ziya yang satu ini mungkin dimiliki oleh banyak kultivator namun bisa dipastikan Wenzi tak memilikinya. Wenzi saat ini hampir sampai di sebuah pulau rahasia yang menjadi markas lain dari organisasi serikat perdagangan, markas itu sengaja di buat di pulau terpencil agar musuh tak bisa mendeteksi keberadaan mereka.


"Akhirnya aku bisa bebas dari gadis itu, mungkin mereka semua sedang mengucapkan sumpah serapah ahahaha." ucap Wenzi dengan suara tawa yang sangar lantang, tak ada yang lebih berharga daripada nyawanya sendiri. Siapa yang menyuruh mereka semua untuk percaya padanya? sungguh hal yang sangat konyol.


Wenzipun sampai di markas kedua serikat perdagangan, suasana tempat itu sangat sepi dan sunyi karna semua anggota sedang berada di markas pelabuhan. Wenzi masuk kesebuah rumah kayu yang cukup besar, ia berjalan menuju dapur untuk memasak makanan.


"Apakah pria itu sedang bercanda? di saat anggotanya yang lain sedang dalam ambang kematian ia malah ingin memasak?." ucap Xiao Ziya yang sudah berada di atap rumah kayu tersebut dan mengintip Wenzi dari sebuah lubang kecil.


Wenzi terus melanjutkan aktivitas memasaknya tanpa menyadari kehadiran Xiao Ziya di sana, setelah selesai memasak ia menikmati makanannya tanpa ada rasa cemas ataupun bersalah.


"Setelah ini aku akan pindah ke tempat yang jauh." ucap Wenzi dengan ekspresi bahagia, ia akan memulai hidup barunya menggunakan semua uang yang ia kumpulkan selama ini.


Xiao Ziya turun dari atap rumah kayu itu, ia melihat kesekeliling dan menemukan sebuah tempat yang dipenuhi dengan bebatuan, Xiao Ziya memiliki ide yang sangar cemerlang ia mengambil batu sebanyak banyaknya kemudian merubah tubuhnya menjadi transparan agar tak bisa dilihat oleh Wenzi.


Tak...tak...klotak.


Suara baru yang Xiao Ziya lempar dan mengenai genteng rumah kayu itu, Wenzi keluar dari rumah kayunya dan melihat kesekitar namun tak ada siapapun di sana. Karna situasinya masih aman ia kembali masuk kedalam, Wenzi memutuskan untuk tidur karna merasa sangar lelah.


Tak..tak..tak...duar.


Suara baru yang dilempar oleh Xiao Ziya, tanpa sengaja salah satu batu yang ia lempar mengenai kaca hingga pecah. Wenzi yang tadinya ingin tidur kini merasa terganggu dengan suara suara itu, ia kembali melihat keluar dan hasilnya tetap sama tak ada orang lain di sana.


"Darimana suara suara itu berasal." ucap Wenzi yang semakin penasaran, ia juga merasa takut jika penunggu pulai terpencil ini sedang marah padanya. Ini pertama kali Wenzi datang kesana sendirian, biasanya ia akan pergi dengan puluhan orang dan tinggal selama beberapa hari.


"Jaman sekarang hal seperti itu sudah tak ada lagi." ucap Wenzi yang sedang menepis rasa takut yang datang.


Di sisi lain saat ini Hanz, Kenzo, dan Zero telah membunuh setengah dari anggota serikat perdagangan yang ada di sana. Cukup sulit untuk membunuh mereka semua karna tempat yang terlalu sempit hingga pergerakan tak bisa leluasa, selain itu puluhan dari mereka adalah mantan militer khusus tentu memiliki kekuatan yang hampir setara dengan Zero.


"Jika nona yang turun tangan maka mereka akan mati dalam satu menit." ucap Zero yang sudah mulai kelelahan, ia berusaha menghilangkan rasa lelahnya itu karna tak ingin kalah dengan seorang gadis yaitu Xiao Ziya.


"Dia memang jutaan kali lebih hebat dari kita." ucap Hanz yang masih sangat mampu untuk membunuh ratusan orang lagi.


Grenz adalah orang tersulit yang akan mereka lawan kali ini, pria ini dulunya adalah seorang pelatih militer yang diakui oleh pemimpin dunia semesta tingkat rendah, namun karna sebuah permasalahan ia dikeluarkan dari militer dan bergabung dengan organisasi serikat perdagangan untuk membalas dendam. Dengan bantuan banyak orang ia berhasil melengserkan Anzu Zee dari kursi pemerintahan, Anzu Zee adalah pemimpin generasi keempat sebelum Fenzu Zee.


**Hai hai semua gimana kabarnya semoga baik baik aja ya, jangan lupa rutin makan biar sehat terus oke. Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib ya kalau ga vote aku ngambek nih, jangan lupa gift hadiah apapun, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga.


Jangan lupa follow ig zepeto ku ya guys.


IG: Jeylina_Zelston**