RATU IBLIS

RATU IBLIS
Tak Tau Malu


Saat itu kelas murid inti sedang sepi mungkin mereka sedang berlatih di lapangan belakang, karnanya Xiao Ziya menyusul kesana. Saat sampai Xiao Ziya melihat mantan mantan muridnya itu sedang berlatih dengan giat mereka menggunakan pelatihan yang diajarkan oleh Xiao Ziya. Gadis itu berjalan menghampiri para murid inti dan beberapa dari mereka menyadari kehadiran Xiao Ziya.


"Salam hormat kami pada Nona Xiao Ziya." ucap semua murid inti yang mengucapkan salam sembari membungkukkan badan mereka.


"Saya terima salam kalian semua, bagaimana apakah latihan kalian berjalan dengan lancar?." tanya Xiao Ziya pada murid muridnya itu.


"Berkat nona kami sudah naik satu tingkatan lagi." ucap Al Denzi yang merasa senang, dengan semua ilmu yang Xiao Ziya ajarkan mereka bisa berkembang dengan sangat pesat.


Pandangan Xiao Ziya teralihkan pada Yue Agze yang sedang meringis kesakitan akibat bekas luka yang ia dapatkan dari ibu dan kedua kakak perempuannya. Xiao Ziya menatap miris ke arah pemuda itu namun ia tak memiliki niat untuk membantu karna penghianat memang pantas mendapat perlakuan yang kejam.


"Saya dengar nona menolak tawaran menjadi pemimpin akademi, mengapa nona menolaknya?." tanya Al Xun yang ingin tau alasan Xiao Ziya menolak jabatan itu.


"Karna saya ingin berpetualang menaklukkan semua lapisan dunia." ucap Xiao Ziya dengan penuh semangat, ia sangat berharap bahwa ia dapat membuka buku bersampul tengkorang yang ia simpan di dalam cincin penguasa mutlaknya.


"Ah ternyata nona memiliki mimpi yang sangat besar." ucap Xiao Sunjin yang tak yakin bahwa gadis itu bisa melakukannya. Meski Xiao Ziya sangatlah kuat namun menaklukkan seluruh lapisan dunia bukanlah hal yang mudah.


"Ini bukan sekedar mimpi jika saya berusaha sekuat mungkin untuk melakukannya." ucap Xiao Ziya yang sangat optimis dengan apa yang ia katakan. Semua murid inti kagum dengan prinsip hidup yang dimiliki oleh Xiao Ziya mereka akan menjadikan gadis itu sebagai panutan.


Yue Agze menundukkan kepalanya selama Xiao Ziya berinteraksi dengan para murid inti yang lain, ia merasa sangat malu jika harus bertatapan langsung dengan gadis itu.


"Hey mengapa kau diam saja bukankah biasanya kau yang paling bersemangat saat nona Ziya datang kesini?." ucap Zen Linji yang keheranan dengan sikap Yue Agze. Biasanya pemuda itu akan berbincang bincang lama dengan Xiao Ziya.


"Nona pasti sangat marah pada saya saat ini." jawab Yue Agze dengan suara yang lirih namun masih dapat di dengar oleh teman temannya yang lain.


"Tentu, penghianat memang pantas mendapatkannya." ucap Xiao Ziya dengan nada dinginnya, ia sudah muak dengan orang orang yang berpura pura baik padanya di awal namun akhirnya mereka akan menghianati kepercayaan yang gadis itu berikan.


Semua murid inti tak mengerti maksut perkataan Xiao Ziya, memangnya apa yang telah dilakukan oleh Yue Agze sehingga seorang Xiao Ziya menyebutnya dengan sebutan penghianat.


"Apa yang telah terjadi diantara kalian berdua?." tanya Al Ergan yang ingin tau mengapa Xiao Ziya menyebut temannya sebagai penghianat.


"Tanyakan saja padanya, bagaimana kerja otaknya yang aneh itu." ucap Xiao Ziya yang malas menceritakan apa yang telah terjadi kemarin.


Yue Agze hanya diam saja di saat dihujani pertanyaan oleh teman temannya yang lain, ia tak ingin menceritakan hal itu karna mungkin saja ia akan dibenci oleh teman teman satu kelasnya nanti. Xiao Ziya menatap dengan tatapan sinis ke arah Yue Agze ia tau apa yang sedang pemuda itu fikirkan. Tentu saja hukuman untuk Yue Agze tak akan seringan ini jika ia berani menghianati Xiao Ziya.


"Ceritakan pada kami nona apa yang telah teman satu kelas kami lakukan pada anda." ucap Al Denzi yang memaksa Xiao Ziya untuk menceritakannya.


"Kemarin saat dalam perjalanan pulang menuju Istana Kerajaan Hitam ada seseorang yang diam diam mengikuti saya. Awalnya saya tak curiga karna memang banyak penguntit di sekitar saya, namun tiba tiba saja orang itu melesat dan ingin menikam saya dari belakang. Saat saya bertanya apa alasan dia melakukan semua ini, dia mengatakan bahwa hidupnya kesepian dan semua itu karna ulah saya. Akhirnya saya ikuti kemauannya untuk membebaskan ibu dan kedua saudari orang tersebut yang sedang di kurung di dalam penjara bawah tanah Istana Kerajaan Hitam. Ya kalian bisa menebak sendiri siapa orang itu. Lihatlah apa yang ia dapatkan setelah membebaska ibu dan kedua saudarinya, orang orang bodoh memang tak pernah mendengarkan perkataan saya." ucap Xiao Ziya yang menceritakan semuanya pada para murid inti.


Mereka semua tak menyangka bahwa Yue Agze tega melakukan hal itu pada Xiao Ziya. Gadis itu sangat baik ada Yue Agze ia telah menyelamatkan dan membantu pemuda itu beberapa kali.


"Namun saya memang benar benar kesepian." ucap Yue Agze yang merasa bahwa dirinya tak sepenuhnya bersalah.


"Nikmati saja hari harimu bersama ibu dan kedua saudarimu." ucap Xiao Ziya yang memutar bola matanya dengan malas.


"Bukankah selama ini kau memang selalu kesepian, sebelum nona Ziya datang kesinipun kau selalu kesepian. Keluargamu selalu menyiksamu mereka terkadang tak memberimu makan apakah kau sudah lupa dengan semua itu. Setelah keluargamu masuk penjara karna kesalahan mereka kau memang masih kesepian namun tak ada lagi yang menyiksamu." ucap Al Ergan yang selama ini menjadi tempat bercerita Yue Agze, ia tau bahwa selama ini Yue Agze mendapatkan perlakuan yang tak baik dari keluarganya.


"Karna nona Ziyalah hidupmu menjadi lebih baik, mengapa kau tega menghianati kepercayaan yang nona berikan padamu." ucap Xiao Sunjin yang tak terima dengan apa yang Yue Agze lakukan pada Xiao Ziya.


Yue Agze hanya mengepalkan tangannya saat ia mendengar semua perkataan dari teman teman satu kelasnya itu, apa yang ia takutkan benar benar terjadi perlahan lahan semua orang akan mulai membencinya.


"Saya memang bersalah karna telah menghianati nona, saya harap nona bisa memaafkan saya." ucap Yue Agze yang meminta maaf ada Xiao Ziya, pemuda itu tak ingin disiksa lagi saat ia kembali ke Kediaman Keluarga Bangsawan Yue Funzi.


"Tidak ada tempat untuk seorang penghianat, seharusnya kau tau itu." ucap Xiao Ziya dengan nada bicara datarnya. Ia tak ingin memberikan kesempatan pada Yue Agze biarlah pemuda itu merasakan apa yang sepantasnya ia dapatkan. Membangun sebuah kepercayaan bukanlah hal yang mudah.


"Kau telah membuat nona Ziya kecewa padamu." ucap Al Xun.


"Saya pamit, ada beberapa hal yang harus saya lakukan." ucap Xiao Ziya yang langsung pergi dari hadapan para murid inti.


Setelah kepergian Xiao Ziya, para murid inti menatap Yue Agze dengan tatapan yang tak bersahabat sepertinya mereka semua sedang marah pada pemuda itu. Para murid inti pergi ke kelas mereka meninggalkan Yue Agze yang masih terdiam mematung di lapangan entah apa yang ada dikepala pemuda itu ia sempat berfikir bahwa Xiao Ziya pamit karna ingin pergi ke Kediaman Bangsawan Yue Funzi untuk menangkap kembali ibu dan kedua kakak perempuannya.


"Nona Ziya pasti akan membantuku, ia tak akan tega melihatku seperti ini." ucap Yue Agze yang tersenyum kemudian pemuda itu memilih untuk pulang ke Kediaman Keluarga Bangsawan Yue Funzi.


Sepertinya Yue Agze tak mengenal Xiao Ziya dengan baik, gadis itu bisa melakukan apapun di luar prediksi orang lain. Jika ia sudah memilih untuk tidak peduli maka apapun yang terjadi pada orang itu Xiao Ziya tak akan membantu walau orang itu mengemis padanya.


Saat ini Xiao Ziya sedang berada di wilayah Kerajaan Neraka, gadis itu ingin berjalan jalan sebentar di sana dan menghilangkan rasa penatnya. Saat sibuk berkeliling kesana kemari ada seorang anak kecil dengan pakaian lusuh yang tak sengaja menabraknya.


"Maafkan saya nona, saya benar benar tak sengaja menabrak anda." ucap seorang gadis kecil dengan badan yang gemetaran.


"Berdirilah, berhati hatilah saat berjalan." ucap Xiao Ziya yang meminta pada gadis kecil yang ada di hadapannya untuk berdiri.


Gadis itupun berdiri, dari postur tubuhnya sepertinya gadis itu masih berusia tujuh tahun. Tak berselang lama ada beberapa pria yang berlari ke arah Xiao Ziya, sepertinya mereka sedang mengejar gadis yang ada di hadapannya itu.


"Mau lari kemana kau, ibumu telah menjualmu pada kami karna ia tak sanggup membayar hutang." ucap seorang pria dengan badang tinggi tegapnya dan sepasang tanduk dikepala.


"Saya mohon tuan lepaskan saya." ucap gadis itu yang sepertinya sedang ketakutan.


"Jika saya boleh tau berapa hutang ibu dari gadis muda ini?." tanya Xiao Ziya yang merasa kasihan pada gadis yang ada di hadapannya, mengapa ibunya sangat tega menjualnya.


"Ibunya berhutang pada kami sebesar lima ribu koin emas." ucap pria itu yang menyebutkan nominal hutang dari ibu gadis itu.


Xiao Ziya mengambil lima ribu koin emas di dalam cincin semestanya kemudian ia memberikan pada para pria yang ingin membawa gadis kecil di hadapannya pergi. Beberapa pria itu langsung pergi setelah mendapatkan koin emas dari Xiao Ziya.


"Trimakasih karna nona sudah membantu saya, perkenalkan saya Yui Zume." ucap gadis itu yang bertrimakasih pada Xiao Ziya sambil memperkenalkan siapa namanya.


"Saya Xiao Ziya." ucap Xiao Ziya yang memperkenalkan dirinya juga.


"Sebagai ucapan trimakasih saya nona bisa mengangkat saya sebagai pelayan anda tanpa perlu digaji." ucap Yui Zume yang ingin menjadi pelayan dari Xiao Ziya karna jika dilihat dari pakaian yang Xiao Ziya kenakan ia merupakan orang kaya.


"Saya mohon nona, saya bisa melakukan apapun untuk anda." ucap Yue Zume yang tetap memohon pada Xiao Ziya, jika ia berhasil maka ia akan mendapatkan kehidupan yang mewah.


"Saya sudah memiliki banyak pelayan." jawab Xiao Ziya dengan datar gadis itu mulai merasa risih akhirnya Xiao Ziya memilih pergi dari sana.


Siapa yang akan menyangka bahwa Yui Zume mengikuti kemanapun Xiao Ziya pergi. Karna tak ingin naik darah karna gadis kecil tak tau diri itu akhirnya Xiao Ziya membiarkannya saja tanpa ada niatan untuk menegur ataupun berkomunikasi pada gadis itu.


Saat berjalan jalan di sebuah pasar yang tak jauh dari Istana Kerajaan Neraka, Xiao Ziya melihat sebuah gaun cantik berwarna emas dengan sulaman benang emas berbentuk burung merak yang anggun. Xiao Ziya pergi ke toko itu dan melihat gaun yang ia inginkan, entah mengapa gadis bernama Yui Zume itu terus mengikutinya.


"Permisi bibi berapa harga gaun ini?." tanya Xiao Ziya yang sangat menginginkan gaun cantik berwarna emas yang ia lihat itu.


"Harganya tiga ribu enamratus koin emas, gaun ini dibuat menggunakan hain sutra emas yang sangat jarang ditemukan selain itu gaun ini juga disulam menggunakan benang emas sehingga harganya cukup mahal." ucap pemilik toko yang menyebutkan berapa harga gaun yang Xiao Ziya inginkan.


"Saya ingin gaun ini serta baju yang ada di belakang itu, apakah bibi memiliki beberapa tusuk rambut yang cantik?." tanya Xiao Ziya yang ingin membeli tusuk rambut yang baru.


Pemilik toko itu menunjukkan koleksi tusuk rambut yang ada di tokonya, Xiao Ziya membeli lima tusuk rambut dan tiga japit rambut yang ia anggap cantik. Setelah membeli semua itu Xiao Ziya membayar seharga tujuh ribu koin emas, gadis itu memang tak pernah pelit jika soal uang karna ia memiliki banyak koin emas yang tak akan habis walau ia hambur hamburkan.


Setelah membayar Xiao Ziya keluar dari toko itu dan berjalan menuju Istana Kerajaan hitam, entah mengapa Yui Zume yang tadinya berjalan di belakang gadis itu menjadi berjalan di samping Xiao Ziya. Tanpa malu Yui Zume merebut kantong belanjaan milik Xiao Ziya kemudian gadis itu tersenyum.


"Trimakasih karna telah membelikan saya gaun yang cantik." ucap Yui Zume yang mengambil belanjaan Xiao Ziya dan mengatakan bahwa Xiao Ziya membelikan gaun emas, benerapa baju, tusuk rambut, dan japit untuk dirinya.


Xiao Ziya menatap dengan heran ke arah Yui Zume apakah urat malu gadis itu benar benar sudah putus sehingga ia melakukan hal seperti itu. Xiao Ziya membeli gaun dan beberapa barang yang lain tentu untuk dirinya sendiri mengapa ia harus membelikan gadis asing itu.


"Kembalikan barang itu milik saya dan saya tak membelikannya untukmu." ucap Xiao Ziya yang muali kesal dengan sikap Yui Zume yang seenaknya mengambil barang milik orang lain.


"Tidak, saya menyukai gaun itu juga. Nona bisa membelinya lagi jadi yang ini untuk saya." ucap Yui Zume yang memeluk kantung belanjaan Xiao Ziya, gadis itu benar benar gila ini pertama kalinya Xiao Ziya bertemu dengan spesies manusia seperti itu.


Xiao Ziya mengambil barang belanjaanya dengan paksa. Yui Zume yang tak ingin barang yang ia inginkan diambil kembali oleh Xiao Ziya pun menangis di sana hingga banyak orang yang mengerumuni mereka.


"Apa yang terjadi mengapa kau menangis?." ucap seorang wanita paruh baya yang bertanya pada Yui Zume karna wanita itu menangis dengan sangat kencang.


"Gadis ini mengambil gaun yang saya inginkan." ucap Yui Zume sambil menunjuk ke arah Xiao Ziya.


"Kembalikan barang milik gadis ini nona." ucap seorang pemuda pada Xiao Ziya.


"Gaun ini saya beli dengan koin emas saya sendiri mengapa saya harus memberikannya ada gadis itu?." ucap Xiao Ziya yang membalas ucapan orang orang yang tak tau kejadian sebenarnya seperti apa.


"Tapi saya sangat menginginkan gaun itu, saya sangat miskin sehingga tak bisa membelinya." ucap Yui Zume dengan wajah melasnya. Gadis itu benar benar menyebalkan apakah ia ingin menarik simpati banyak orang sehingga kerumunan itu akan memaksa Xiao Ziya memberikan gaun yang ua beli pada Yui Zumi.


"Nona bisa membelinya lagi, berikan saja pada gadis kecil ini." ucap wanita paruh baya tadi yang membela Yui Zume.


"Tidak bisa seperti itu sudah jelas nona ini yang membelinya." ucap seorang gadis lain yang juga menggunakan pakaian bagus seperti Xiao Ziya.


"Gadis kecil ini adalah orang miskin seharusnya nona mengalah padanya." ucap pemuda tadi yang tetap ingin Xiao Ziya memberikan gaun emas itu pada Yui Zume.


Sedangkan Yui Zume tersenyum karna ia merasa telah memenangkan permainan yang ia buat. Semua orang membelanya hanya beberapa orang saja yang membela Xiao Ziya.


"Apa hak anda mengatur saya? saya berhak melakukan apapun yang saya inginkan selama tak merugikan orang lain." ucap Xiao Ziya yang geram dan mulai kehabisan kontrol pada dirinya.


"Nona ini pemilik gaun itu jadi kalian tak bisa memaksanya." ucap gadis yang ada di sebelah Xiao Ziya.


Semua orang yang ada di sana tetap memaksa Xiao Ziya dengan alasan Xiao Ziya adalah seorang nona muda yang kaya, ia bisa membeli gaun serupa lagi, namun gadis kecil yang ada di hadapan mereka sangatlah kasian ia terlahir dari keluarga miskin.


"Tolong nona mengalah saja." ucap seorang wanita yang lain.


"Mengapa bukan kalian saja yang membelikan gadis ini sebuah gaun? mengapa harus saya, apakah kalian tak mampu?." ucap Xiao Ziya yang mulai menyindir kerumunan orang orang yang memaksanya untuk memberikan gaun kesukaanya.


"Memang berapa harga gaun itu." ucap seorang pria yang tak suka dengan sikap sombong yang dimiliki Xiao Ziya.


"Tiga ribu enam ratus koin emas." ucap Xiao Ziya yang memberi taukan berapa harga gaun yang ingin direbut oleh Yui Zume. Semua orang yang ada di sana tentu saja terkejut nona muda yang ada di hadapannya menghambur hamburkan uang hanya untuk sebuah gaun.


"Mengapa nona tak memberikan beberapa koin emas pada gadis malang ini." ucap seseorang yang bertanya mengapa Xiao Ziya tak memberikan beberapa koin emas pada Yui Zume agar gadis itu bisa membeli gaunnya sendiri.


"Saya sudah menebusnya dari perdagangan manusia seharga lima ribu koin emas, apakah saya harus menanggung biyaya hidupnya? dia fikir dia siapa hingga saya harus mengurusnya." ucap Xiao Ziya yang malas meladeni gadis gila itu.


Mendengar perkataan Xiao Ziya, Yui Zumepun menangis sejadi jadinya gadis itu tetap merasa bahwa ia juga layak menjadi seorang nona muda yang kaya.


"Saya juga ingin hidup bahagia seperti nona, namun nona menolak saya sebagai pelayan pribadi ada." ucap Yui Zume yang tetap ingin semua orang membelanya.


"Ketika saya ada di posisi terbawah saya tak lemah seperti anda." ucap Xiao Ziya yang tersenyum meledek ke arah Yui Zume.


"Hidup anda sudah bahagia sejak anda lahir." ucap Yui Zume yang meneriaki Xiao Ziya sepertinya gadis itu iri.


"Lalu apa hubungannya antara saya dan takdirmu yang malang itu?." ucap Xiao Ziya yang merasa tak ada sangkut pautnya antara kehidupan gadis itu dengan dirinya.


"Nona jangan berkata seperti itu, anda hanyalah bangsawan biasa kami akan melaporkan sikap anda ini pada Yang Mulia Raja Artur." ucap wanita yang membela Yui Zume sedari tadi.


Xiao Ziya menantang agar mereka melaporkannya pada Raja Artur. Akhirnya mereka semua pergi ke Istana Kerajaan Neraka, Raja Artur yang sedang bersantaipun merasa terganggu karna seorang prajurit datang padanya dan mengatakan bahwa ada kerumunan rakyat yang ingin membuat laporan. Akhirnya mereka semua diminta pergi ke aula utama.


Semua orang pergi ke aula utama begitupun dengan Xiao Ziya yang berjalan dengan santai tanpa ada beban karna ia memang tak bersalah dalam hal ini.


"Salam hormat kami pada Yang Mulia Raja Artur." ucap semua orang yang memberikan salam kecuali Xiao Ziya yang malah tersenyum pada Raja Artur.


Hai hai semuanya author balik lagi nih gimana kabar kalian semoga baik baik aja ya, jaga kesehatan, makan yang teratur, minum vitamin juga. Jangan lupa follow buat yang belum, vote ya guys biar aku semangat up nya, gift hadiah apapun, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.