
Selain itu kelompok bandit yang masih tersisa di Kekaisaran Binzo datang ke wilayah yang dikuasai oleh bandit rubah putih karna mereka mendapat informasi kekacauan yang sedang terjadi berasal dari altar persembahan untuk dewi rubah. Saat ketuju kelompok bandit sampai di sekitar altar persembahan Dewi Rubah mereka melihat ratusan prajurit yang tampak asing sedang menjaga area altar tersebut, selain itu ketuju keompok bandit melihat dua binatang sihir yang sangat kuat.
"Apa apaan ini mengapa altar Dewi Rubah dijaga oleh para prajurit yang tampak lebih kuat dari prajurit Kekaisaran Binzo." ucap salah seorang anggota bandit tengkorak yang menatap ke arah pasukan iblis milik Xiao Ziya.
"Siapa orang hebat yang sudah mereka singgung sampai seperti ini." ucap Ling Eungi ketua dari kelompok bandit dewa racun.
Ketuju kelompok bandit itu berusaha untuk naik ke atas altar persembahan dewi rubah namun pasukan iblis milik Xiao Ziya menghadang mereka, setelah pertarungan antara para kelompok bandit dengan pasukan iblis milik Xiao Ziya yang sangat sengit tiba tiba sebuah cahaya putih muncul di tengah tengah altar setelah cahaya itu menghilang muncul sosok Xiao Ziya yang masih dengan kemarahannya.
"Tada, saya sudah kembali ahahaha karna dewi yang kalian sembah sudah tiada bukankah ini saat yang tepat untuk menghabisi kalian." ucap Xiao Ziya yang mendekat ke arah anggota bandit dewi rubah, gadis itu mengayunkan sabit kematiannya ke kanan dan kekiri dengan pelan kemudian mempercepat gerakannya. Seketika semua anggota bandit rubah putih dengan kondisi tubuh tercabik cabik bahkan beberapa dari mereka kehilangan mata mereka.
Melihat kematian seluruh kelompok bandit rubah putih membuat para bandit yang lain bertriak dengan kencang namun mereka harus melawan pasukan iblis milik Xiao Ziya.
"Beraninya kau membunuh satu diantara sepuluh kelompok bandit yang mendiami wilayah Kekaisaran Qiyu." ucap seorang anggota bandit cambuk beracun yang menatap Xiao Ziya dengan tajam. Xiao Ziya meminta pasukan iblisnya untuk kembali masuk kedalam cincin semesta karna ia ingin menghanisi para kelompok bandit dengan tangannya sendiri. Lima ratus lima pasukan iblis milik Xiao Ziya kembali masuk kedalam cincin semesta.
"Apa kau sedang mempersiapkan kematianmu?." Wu Anzu ketua kelompok bandit utara yang tersenyum dengan ekspresi wajah yang menggelikan.
Xiao Ziya tak menanggapi para bandit itu hal pertama yang harus ia lakukan adalah mengembalikan jiwa Xiao Xun kedalam tubuhnya sebelum terlambat, agar tak ada yang mengganggu prosesi pengembalian jiwa itu Xiao Ziya membuat dinding pembatas disekitarnya kemudian gadis itu bersila di hadapan tubuh kakak laki lakinya.
"Semoga saja ini belum terlambat." ucap Xiao Ziya yang merasa sangat khawatir ia tak akan siap bila harus kehilangan salah satu orang yang ia sayangi.
Setelah bersila Xiao Ziya menutup mata dan mulai merapalkan mantra kuno pengembalian jiwa, kedua aura yang ada di atas kepala Xiao Ziya yaitu aura dari mawar es dan mawar api menyatu dan memperkuat jiwa milik Xiao Xun setelah beberapa tahapan jiwa Xiao Xun mulai berusaha masuk kedalam tubuhnya. Para kelompok bandit sedang berusaha mengagalkan apa yang dilakukan oleh Xiao Ziya akan tetapi dinding pembatas yang di buat oleh gadis itu terlalu kuat sehingga mereka tak bisa melakukan apapun.
"Dia bukan gadis sembarangan, mengembalikan jiwa yang telah diambil tentu hal yang sulit bahkan para dewa dan dewi belum tentu mampu melakukannya." ucap Xienran ketua dari kelompok bandit pedang putih.
Kelompok bandit pedang putih adalah satu satunya kelompok bandit yang berasal dari sekte aliran putih yang seharusnya memiliki sikap baik dan berbudi luhur. Para ketua sekte mereka selalu mengajarkan pada mereka untuk melakukan hal hal baik namun dalam generasi kali ini terjadi perpecahan sehingga para murid yang menolak keras aturan sekte memilih untuk keluar dan membentuk kelompok baru.
Disisi lain Xiao Ziya sedang berusaha keras untuk menyatukan jiwa Xiao Xun yang sudah masuk kembali kedalam tubuh pemuda itu karna akan sedikit sulit membuat jiwa dan tubuh seseorang bersatu kembali setelah sempat dimbil paksa. Keringat bercucuran dari tubuh Xiao Ziya gadis itu telah mengeluarkan setengah dari energi qi yang ia miliki sepertinya untuk menyatukan jiwa Xiao Xun dengan tubuhnya, Xiao Ziya hanya bisa mempertaruhkan nyawa. Waktu berlalu dengan cepat malampun telah tiba namun Xiao Ziya belum berhasil membangkitkan kakak laki lakinya gadis itu tak ingin menyerah bagaimanapun caranya Xiao Xun harus selamat. Ledakan energi terjadi di dalam tubuh Xiao Ziya Kenzo nama dari buku bersampul tengkorak yang kini ada di dalam dantian Xiao Ziya merasa cemas pada gadis itu dikarnakan Xiao Ziya terlalu memaksakan dirinya.
"Nona muda sebaiknya anda berhenti sekarang jika tidak andalah yang akan celaka." ucap Kenzo yang memberi peringatan pada nona mudanya, ia tau Xiao Ziya sangat menyayangi keluarganya tapi gadis itu tak perlu sampai memaksakan diri.
"Jika saya tak bisa mengembalikan jiwa Xun gege maka saya memang pantas untuk mati." ucap Xiao Ziya dengan nada datarnya, sudah banyak energi qi yang ia keluarkan ia juga menggunakan beberapa spirit stone tingkat tinggi untuk mempercepat pengembalian jiwa itu namun mengembalikan lebih sulit daripada mengambil.
"Berhentilah sekarang karna nyawamu yang akan menjadi taruhannya." ucap Kenzo yang tetap memaksa Xiao Ziya untuk menghentikan hal itu, namun gadis yang menjadi nona mudanya sangat keras kepala dan tak ingin mendengar apapun.
Kelompok bandit masih mengawasi pergerakan Xiao Ziya, jika dinding pembatas itu semakin melemah maka mereka akan langsung menyerang gadis yang berani memasuki wilayah kekuasan mereka. Energi qi yang dimiliki Xiao Ziya benar benar sudah sangat tipis Xiao Ziya juga bisa merasakan hal itu namun tekadnya masih sangat kuat ia sangat yakin bahwa kakak laki lakinya bisa hidup kembali.
"Saya tidak akan berhenti, saya akan menentang kematian jika itu menyangkut keluarga saya." triak Xiao Ziya yang terdengar sampai ke Istana Neraka. Raja Artur benar benar cemas pada penerusnya itu ia takut jika Xiao Ziya melakukan sesuatu yang melebihi batas.
"Sepertinya saya memang harus ikut campur dalam masalah ini." ucap Raja Artur yang menghela nafas panjang dan bersiap untuk pergi ke tempat Xiao Ziya berada. Setelah menembus beberapa lapisan dunia akhirnya Raja Artur sampai di wilayah Kekaisaran Binzo ia langsung melesat pergi mencari dimana keberadaan gadis nakalnya itu.
Saat sampai di suatu tempat yang sangat ramai dikerumuni oleh orang orang Raja Artur merasakan aura dari Xiao Ziya sehingga ia menerobos masuk dan berada di barisan paling depan. Hal yang sangat miris ia melihat Xiao Ziya sedang berusaha menghidupkan kembali kakak laki lakinya yang sebenarnya sudah mati karna ketika seseorang kehilangan jiwanya dalam jangka waktu lebih dari tiga jam artinya orang itu sudah mati.
"Hentikanlah gadis bodoh kau hanya menyia nyiakan nyawamu sendiri." triak Raja Artur dengan nada kesalnya, mendengar suara yang familiar baginya Xiao Ziya langsung menoleh dan melihat kehadiran Raja Artur.
"Jangan hentikan saya." ucap Xiao Ziya yang terus melanjutkan pengembalian dan penyatuan jiwa Xiao Xun.
"Gegemu itu telah tiada jadi tenanglah dan terima kepergiannya." ucap Raja Artur yang mengingatkan pada Xiao Ziya bahwa kakak laki lakinya itu sudah tak bernyawa lagi dan apapun usaha yang dilakukan oleh Xiao Ziya tak akan membuat Xiao Xun hidup kembali.
"Jiwanya diambil paksa oleh dewi berengsek itu jadi saya tak akan menerima kematian kakak laki laki saya ini. Dan jangan hentikan saya anda mengerti?." ucap Xiao Ziya yang malah mengancam Raja Artur. Bagi gadis itu Xiao Xun masih bisa diselamatkan entah bagaimanapun caranya entah apa yang harus ia korbankan namun kakak laki lakinya harus tetap hidup.
Karna energi qi yang ia miliki sudah habis namun gadis itu terus memaksakan diri akhirnya Xiao Ziya muntah darah, hal ini dikarnakan gadis itu mendapat luka dalam yang cukup serius. Sabit kematian yang masih ada di samping Xiao Ziya bergetar dengan hebat karna terkena muntahan darah dari Xiao Ziya tiba tiba saja sabit kematian itu melesat ke atas langit.
"Apa ada hal buruk yang terjadi pada gadis itu?." tanya Lee Brian pada sabit kematiannya dengan serius. Sabit kematian itu memiliki jiwa dan kesadarannya sendiri sehingga ia dapat menjelaskan apa yang terjadi pada nona mudanya.
Lee Brian mengepalkan tangannya dengan geram, ia tak akan membiarkan gadis bernama Xiao Ziya itu mati begitu saja.
"Mari kita pergi kesana untuk membantu gadis keras kepala itu." ucap Lee Brian yang menggenggam sabit kematian milik Xiao Ziya kemudian pria itu tiba tiba saja menghilang dari tempatnya.
Dalam sekejap mata Lee Brian sudah ada di depan Xiao Ziya dan seorang pemuda yang mungkin adalah kakak laki laki dari gasis itu, Lee Brian dengan mudah menembus dinding pembatas yang dibuat oleh Xiao Ziya karna pria itu jauh lebih kuat dari Xiao Ziya dan ia mungkin seratus kali lebih kuat dari Raja Artur.
"Siapa kau apa yang ingin kau lakukan pada gadis itu?." tanya Raja Artur yang dapat merasakan tekanan yang hebat dari pria asing yang kini berada di samping Xiao Ziya.
"Diamlah kakek tua kau bahkan tak dapat membantu gadis ini." ucap Lee Brian dengan nada dingin dan tatapan jatamnya.
Lee Brian menatap ke arah Xiao Ziya dengan mata yang sayu, ia tak menyangka gadis yang dapat membunuh siapapun tanpa mengedipkan mata itu sangat menyayangi keluarganya ia bahkan rela mengorbankan nyawanya sendiri demi kakak laki lakinya yang sudah sekarat dan hampir mati itu.
"Gadis kecil trimakasih atas kerja kerasmu sekarang beristirahatlah." ucap Lee Brian yang mentotok titik kesadaran Xiao Ziya hingga gadis itu pingsan.
Lee Brian mengambil sebuah sabit berwarna perak kemudian ia mengrahkan sabit itu pada tubuh Xiao Xun.
"Kematianmu tidak diterima karna itu hiduplah kembali." ucap Lee Brian yang mengucpkan beberapa kata seketika jiwa Xiao Xun menyatu kembali pada tubuhnya dengan sempurna.
"Dan beraninya orang orang hina seperti kalian mengganggu gadis ini, apa kalian sudah bosan hidup!!." bentak Lee Brian pada para kelompok bandit yang masih berkumpul di sekitar altar, aura kematian milik Lee Brian menyebar di seluruh wilayah Kekaisran Binzo hal itu membuat semua orang yang ada di wilayah Kekaisaran Binzo kesulitan untuk bernafas bahkan sebagian dari mereka banyak yang pingsan. Raja Artur sedang menahan kekuatan tekanan aura kematian dari pria yang ada di samping Xiao Ziya ia tak mengerti mengapa pria itu sangat marah saat melihat kondisi Xiao Ziya yang seperti itu.
"Sebenarnya siapa kau dan apa hubunganmu dengan gadis itu?." tanya Raja Artur yang merasa sangat penasaran ia ingin mendapat penjelasan tentang hal itu.
"Kau tak layak untuk mengetahui siapa saya dan apa hubungan saya dengan gadis ini, namun dia ada di bawah perlindungan saya." ucap Lee Brian yang menaik kembali aura kematiannya karna tak ingin membuat masalah di tempat yang menjadi wilayah dalam perlidungan Xiao Ziya.
Lee Brian memasukan sebuah pil berwarna hitam kedalam mulut Xiao Ziya dan memaksa gadis yang sedang tak sadarkan diri itu untuk menelannya, tiba tiba saja tubuh Xiao Ziya menyerap energi qi dalam jumlah yang sangat banyak untuk memulihkan kondisi tubuhnya sendiri Lee Brian tersenyum kemudian ia mengusap rambut Xiao Ziya. Setelahnya Lee Brian langsung pergi ia tak menggubris triakan dari Raja Artur.
"Siapa pria misterius itu, apakah gadis nakal ini kenal dengan pria barusan." ucap Raja Artur yang masih saja penasaran dengan identitas pria hebat yang baru saja ua temui, dari analisanya Raja Artur tau bahwa pria tadi berkali kali lipat lebih kuat darinya dan mungkin saja ia berasal dari lapisan dunia teratas yang ada di alam semesta.
Perlahan lahan kesadaran Xiao Xun mulai pulih pemuda itu membuka matanya pelan dan mencoba mengingat ingat apa yang sebenarnya terjadi, dalam ingatan terakhirnya ia sedang di altar dewi rubah untuk dijadikan persembahan pada sang dewi. Saat Xiao Xun melihat kesekelilingnya yang ia lihat adalah sebuah dinding pembatas yang sangat kuat dan kelompok bandit yang sedang berada di luar dinding, ia juga melihat pria berambut putih yang tampak tak asing baginya jika tidak salah pria itu adalah kenalan dari adiknya. Saat melihat lagi kesekeliling Xiao Xun terkejut melihat Xiao Ziya yang tergeletak tak sadarkan diri di sampingnya.
"Adik Ziya apa yang terjadi padamu mengapa kau sampai seperti ini." ucap Xiao Xun yang mengguncang tubuh gadis itu agar Xiao Ziya segera bangun, untung saja saat itu Xiao Ziya masih bernafas.
"Gadis itu sedang pingsan karna kelelahan." ucap Raja Artur dari luar dinding pembatas, sebenarnya ia bisa saja masuk kedalam namun itu akan membuat dinding pembatas milik Xiao Ziya menjadi melemah.
"Mengapa adikku bisa kelelahan sampai pingsan?." tanya Xiao Xun pada Raja Artur dengan wajah cemasnya.
"Itu karnamu, gadis keras kepala itu berusaha untuk menghidupkanmu. Jiwamu yang telah diambil oleh dewi rubah direbut kembali oleh adikmu itu, ia juga memusnahkan suluruh pengikut dewi rubah. Dan ia menghabiskan seluruh energi qi yang ia simpan selama ini hanya untuk menghidupkan kakak laki laki sepertimu yang bahkan tak bisa melindungi adik perempuannya sendiri." ucap Raja Artur yang mengkritik Xiao Xun, karna menurut Raja Artur seharusnya pemuda itu biasa melindungi dirinya sendiri agar kejadian seperti ini tak akan terulang kembali di masa depan.
Xiao Xun tercengang mendengar apa yang dikatakan oleh Raja Artur, ternyata adik perempuannya itu begitu menyayanginya jika ia tau bahwa hal ini akan terjadi lebih baik Xiao Xun tetap tinggal di akademi dan tak menjalankan misi akhir, menggulang pembelajaran selama satu tahun bukanlah hal yang sulit, namun bagaimana ia bisa menjalani hidupnya jika adik perempuan yang seharusnya ia lindungi malah mati karna ingin menyelamatkan nyawanya.
Sedangkan saat ini Xiao Ziya sedang berada di alam bawah sadarnya gadis itu sedang bersila di atas lautan spiritualnya yang sedang berputar putar, gadis itu menyerap semua energi qi yang masuk kedalam tubuhnya perlahan lahan energinya mulai pulih. Setelah Xiao Ziya merasa energinya sudah cukup untuk memulihkan kondisi kakak laki lakinya gadis itu kembali ke alam sadarnya. Xiao Ziya membuka matanya ia terkejut melihat Xiao Xun sudah hidup kembali dan saat ini Xiao Xun sedang menangis di hadapannya.
"Mengapa kau menangis seperti itu Xun gege?." tanya Xiao Ziya yang merasa bingung, bukankah ia pingsan sebelum penyatuan jiwa itu berhasil apakah ada seseorang yang membantunya.
Xiao Ziya mengedarkan pandangan matanya kesana kemari, mata Xiao Ziya dan Raja Artur saling bertemu. Karna Raja Artur tau apa yang membuat gadis itu kebingungan dengan cepat Raja Artur menggelengkan kepalanya sebagai pertanda bahwa bukan ia yang membantu Xiao Ziya menghidupkan Xiao Xun.
Hai hai guys author kembali setelah kemarin libur karna emang lagi capek, jangan lupa follow buat yang belum, vote ya karna wajib, gift hadiah apapun, like likw like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima juga.