
Ming Angli dan putranya sibuk mempersiapkan hidangan untuk makan malam nanti sedangkan Yunha berusaha untuk menyembunyikan semua bahan pokok yang baru saja ia dapatkan dari Xiao Ziya. Di Desa Elnz ini sering terjadi pengambilan bahan pangan secara paksa oleh beberapa orang, mereka bahkan segan untuk memukul ataupun membunuh orang yang tak ingin memberikan bahan makanan pada mereka.
Baru saja Yunha merasa khawatir akan hal itu, samar samar ia mendengar suara langkah kaki yang berjalan masuk ke dalam penginapannya, dengan segera pria itu keluar dari ruang rahasia untuk melihat siapa yang datang.
"Selamat sore tuan Yunha, saya dengan Anda mendapat pengunjung baru yang menginap di sini." ucap seorang pria yang tersenyum dengan senyuman menyeramkan, di belakang pria itu sudah ada sepuluh orang dengan memegang senjata mereka masing masing.
"Ah iya ada seorang nona muda yang menginap di sini." jawab Yunha dengan tangan sedikit gemetaran. Meskipun pria itu adalah anak dari kepala desa, orang orang itu tetap akan datang untuk merampas bahan makanan yang ia miliki.
"Apa kau mendapatkan bayaran berupa bahan pangan ataukah koin emas?." tanya seorang pria dengan tatapan penuh selidik, tamu yang datang dari luar desa biasanya membawa sedikit bahan makanan untuk bekal perjalanan mereka.
"Saya mendapat koin emas sebagai bayarannya." ucap Yunha yang hanya bisa berbohong lada orang orang itu, jika ia bertengkar di dalam penginapan kemungkinan besar beberapa barang akan rusak karna hal itu.
"Tunjukkan pada kami seberapa banyak koin emas yang kau dapatkan." ucap seorang pria dengan senyuman miring.
Yunha hanya diam dan tak menjawab ataupun merespon keinginan mereka, Yunha tau hal selanjutnya yang akan terjadi adalah perampasan secara paksa atas koin emas yang telah menjadi miliknya. Saat ini penginapan yang ia kelola hanya mendapat beberapa pengunjung perbulan sehingga pendapatan yang ia dapat turun drastis.
"Maaf saat ini kami memerlukan koin emas ini untuk memenuhi kebutuhan sehari hari." jawab Yunha dengan tegas, pria itu tak ingin memberikan koin emas miliknya meski ia harus babak belur.
Beberapa orang pria berlari ke arah Yunha dan hendak memukul pria itu menggunakan tongkat besi, Yunha memejamkan mata dan berharap ia tak akan mati hanya Karan serangan seperti itu. Tiba tiba saja terdengar suara benturan antara tongkat besi dengan sebuah pedang berwarna hitam legam, para pria yang ingin menjarah di penginapan itu langsung menoleh ke samping dan menemukan seorang gadis cantik yang sedang menahan serangannya.
"Apakah gadis ini yang menginap di penginapan mu Tuan Yunha, dia sangat cantik dan menawan." ucap seorang pria yang mengedipkan mata pada Xiao Ziya. Xiao Ziya sangat risih dengan sikap serta perlakuan mereka semua.
Yunha membuka mata dan langsung melihat ke arah Xiao Ziya, pria itu merasa lega karna sang nona muda dengan berani menyelamatkannya dari orang orang jahat itu.
"Mari bermain dengan kami nona cantik." ucap beberapa pria yang ingin mendekati Xiao Ziya, dengan sigap gadis itu menyerang mereka menggunakan pedang hitamnya.
"Mundur dia seorang kultivator yang hebat." ucap pria lain yang meminta rekan rekannya untuk mundur dan berlari pergi dari penginapan itu.
"Anda baik baik saja Tuan Yunha?." tanya Xiao Ziya dengan tatapan dingin, ia tau pemilik penginapan ini memiliki kemampuan untuk mengalahkan sekelompok semut seperti tadi, namun mengapa pemilik penginapan hanya diam saja dan pasrah ketika dirinya ingin dipukuli.
"Saya baik baik saja nona, terimakasih karna telah membantu." jawab Yunha dengan canggung.
"Anda adalah anak dari kepala desa, mengapa Anda diam saja saat diperlakukan seperti itu?." tanya Xiao Ziya dengan tatapan sinis, ia berharap mendapat jawaban yang memuaskan dari Yunha.
"Karna saya adalah putra dari seorang kepala desa dengan mengetahui alasan mereka melakukan hal itu, akhirnya saya memilih diam dan tak membuat keributan yang lebih besar. Jika saya menyerang mereka dengan sihir yang saya memiliki kemungkinan besar sebagian dari mereka akan terluka parah dan tak memiliki biyaya berobat. Orang orang itu ingin mengambil koin emas dan uang yang saya dapatkan dari penginapan ini namun kali ini saya tak memberikannya, karna itulah mereka sangat marah dan kemungkinan besar untuk beberapa hari keluarga mereka tak bisa makan." jawab Yunha dengan mata berkaca kaca, ia sangat ingin membantu namun ia juga membutuhkan bahan makanan itu.
"Baiklah saya mengerti, saya permisi untuk mencari udara segar." ucap Xiao Ziya yang langsung keluar dari penginapan tanpa mengajak Lunx yang saat ini masih beristirahat di kamarnya.
Xiao Ziya berjalan keluar dengan santai dari penginapannya, ia menyusuri setiap sudut yang ada di Desa Elnz. Gadis itu ingin mencari kesepuluh orang yang ingin merampas koin emas serta bahan makanan milik Yunha, jika mereka benar benar dalam kondisi yang kesulitan maka Xiao Ziya akan membantu. Setelah mencari cari cukup lama, Xiao Ziya mendengar suara seorang wanita dan pria yang sedang menangis, sang wanita memangku anak perempuan dengan kisaran usia sembilan tahun yang sedang tergeletak lemas. Karna penasaran dengan apa yang telah terjadi akhirnya Xiao Ziya berjalan mendekati mereka.
"Apa yang terjadi pada putri kalian?." tanya Xiao Ziya sembari melihat kondisi anak perempuan yang berada dalam pangkuan sang ibu
"Putri kami kedinginan dan kelaparan, kami tak memiliki makanan apapun di rumah. Keluarga Mouzi menjual satu kantung beras dengan harga dua ratus koin emas, pada bulan sebelumnya mereka menjual dengan harga seratus koin emas." ucap sang wanita yang sedang menjelaskan pada gadis asing dihadapannya itu.
Xiao Ziya mengangkat kepala dan melihat ke arah seorang pria yang sedang berusaha menenangkan istrinya itu, bukankah pria itu salah satu dari kesepuluh orang yang ingin merampas di penginapannya tadi?. Sang pria melihat ke arah Xiao Ziya dengan tatapan terkejut, ia takut gadis itu datang untuk menghabisi nyawanya.
"Tolong maafkan saya nona muda, saya melakukan hal itu karna terpaksa." ucap sang pria yang meminta maaf pada Xiao Ziya.
"Saya mengerti bagaimana kondisi kalian saat ini." jawab Xiao Ziya dengan tatapan datar.
Xiao Ziya memegang tangan gadis itu kemudian mengalirkan sedikit api hitamnya pada tubuh sang gadis, perlahan lahan tubuh gadis kecil itu kembali menghangat dan mencapai suhu tubuh normalnya. Gadis kecil itu membuka mata dan langsung melihat ke arah Xiao Ziya, ia tersenyum ke arah Xiao Ziya karna sangat kagum dengan kecantikan yang dimiliki oleh Ziya.
"Ibu lihatlah ada seorang Dewi yang datang untuk menjemput ku." ucap gadis itu dengan melantur.
Ibunya langsung memukul pelan mulut gadis itu, bagaimanapun saat ini ia masih hidup dan tak sedang dijemput oleh seorang dewi. Sang gadis dengan segera membuka matanya lebar lebar dan kembali melihat ke arah Xiao Ziya dari atas hingga bawah, ternyata ia seorang manusia yang sangat cantik.
"Maafkan sikap putriku Nona, dan terimakasih telah mengembalikan suhu tubuhnya." ucap pria itu yang terlihat senang karna putrinya baik baik saja.
"Wah banyak sekali melon dan semangka yang jiejie miliki." ucap gadis itu dengan mata berbinar binar. Sudah lama ia tak merasakan segarnya buah buahan seperti semangka dan melon, sang ayah hanya bisa membelikan buah buahan dengan kualitas buruk di pasar itupun saat ayahnya memiliki uang lebih.
"Semua ini jiejie berikan untukmu, mintalah ibu mu untuk memotongnya." jawab Xiao Ziya dengan senyuman manis yang menghiasi wajah cantiknya.
"Semua ini untuk Zuhi?" tanya gadis kecil itu yang ternyata bernama Zuhi.
"Ya semua ini untuk Zuhi, makanlah yang banyak agar tenaga mu pulih kembali." jawab Xiao Ziya yang tak keberatan harus membagikan hasil panennya dari dalam cincin semesta.
"Mari masuk ke dalam rumah kami nona, udara di luar sangatlah dingin." ucap ibu dari Zuhi yang mempersilahkan Xiao Ziya untuk masuk ke dalam rumah mereka.
Xiao Ziya masuk ke dalam sebuah rumah es dengan ukuran yang tak terlalu besar namun nyaman untuk ditinggali oleh keluarga kecil itu, Xiao Ziya melihat bahwa mereka tak memiliki banyak barang barang. Ibu Zuhi masuk ke dalam dapur untuk memotong kan semangka serta melon yang diberikan oleh Xiao Ziya, sedangkan Zuhi dan ayahnya sedang di ruang tamu menemani nona muda yang telah membantu mereka.
"Perkenalan nama saya Yuzeng dan istri saya bernama Jinglia." ucap pria yang sempat ingin merampas di penginapan milik Yunha.
"Perkenalan nama saya Xiao Ziya, senang berkenalan dengan seluruh anggota keluarga Anda." jawab Xiao Ziya dengan ramah.
"Saya mendengar bahwa Desa Elnz kesulitan mendapat bahan makanan namun istri Anda mengatakan bahwa Keluarga Mouzi menjual bahan makanan. Dari mana keluarga itu mendapatkan semua pasokan bahan makanan yang ingin mereka jual pada penduduk desa?." tanya Xiao Ziya dengan rasa penasaran tinggi.
"Keluarga Mouzi mendatangkan bahan makanan dari beberapa kerajaan yang dekat dengan Desa Elnz, saat penduduk menanyakan mengapa harganya sangat mahal mereka hanya menjawab bahwa uang yang dikeluarkan untuk mendapat bahan makanan itu sangatlah besar." ucap Yuzeng yang sedang menjelaskan pada nona muda yang ada di hadapannya itu.
Xiao Ziya sedang berfikir dengan keras, tak ada kerajaan di sekitar Desa Elnz kecuali Kerajaan Elf yang telah ia lewati beberapa waktu yang lalu. Xiao Ziya juga sangat yakin bahwa Raja Elf tak akan mengizinkan orang luar masuk ke dalam wilayah padang gandum miliknya, jadi dari mana Keluarga Mouzi mendapatkan seluruh bahan makanan itu?. Kerajaan Ming Tuo adalah kerajaan terdekat dari Desa Elnz ini, setidaknya mereka membutuhkan waktu satu hingga dua minggu untuk sampai ke sana, meskipun Kerajaan Ming Tuo adalah pemasok bahan makanan terbesar di lapisan dunia manusia abadi namun sangat tak mungkin mereka mengirim bahan makanan ke wilayah sedingin ini.
"Apa yang sedang nona muda fikiran?." tanya Yuzeng dengan tatapan bingung.
"Tidak apa apa paman, saya hanya sedang mengingat ingat kerajaan mana yang paling dekat dengan Desa Elnz ini." jawab Xiao Ziya dengan senyuman tipis.
Ibu Zuhi kembali dari dapur dan membawa nampan berisi semangka dan melon yang telah dipotong potong kecil, wanita itu menyajikannya untuk Xiao Ziya dan sang putri kecilnya. Zuhi mengambil beberapa potong buah melon kemudian memakannya dengan sangat lahap, gadis kecil itu sangat kelaparan hingga memakan buah buahan serakus itu.
"Silahkan dinikmati Nona Ziya, maaf hanya ini yang bisa saya sajikan untuk Anda." ucap Jinglia, wanita itu merasa sedikit malu karna tak biasa menjamu tamunya dengan baik.
"Tak perlu merasa tak enak hati pada saya, saya bisa mengerti konsisi keluarga Anda saat ini." jawab Xiao Ziya.
Xiao Ziya mengeluarkan satu kantung besar berisi beras, gadis itu juga memberikan beberapa sayuran segar pada keluarga paman Yuzeng agar mereka bisa makan untuk beberapa hari kedepan. Yuzeng dan sang istri menatap ke arah Xiao Ziya dengan tatapan bingung, mengapa gadis itu sangat baik pada keluarga mereka?.
"Untuk sekarang hanya ini yang bisa saya berikan pada kalian." ucap Xiao Ziya.
"Kami sangat berterimakasih atas kebaikan nona muda." ucap Yuzeng dan Jinglia, keduanya membungkukkan badan di hadapan Xiao Ziya sebagai tanda rasa terimakasih yang tulus.
"Baiklah saya harus pergi karna ada hal lain yang perlu saya lakukan." ucap Xiao Ziya yang langsung melesat pergi dari rumah itu menuju penginapan tempatnya tinggal, sebentar lagi malam akan datang dan Xiao Ziya memiliki janji dengan kepala desa untuk melihat tempat pedang peninggalan neneknya berada.
Di sisi lain Kepala Keluarga Mouzi mendapatkan kabar bahwa saat ini ada seorang gadis asing yang berasal dari luar Desa Elnz datang untuk berkunjung, sang kepala desa menyambut kedatangan gadis itu dengan baik. Mendengar kabar tersebut membuat Tuan Zunhi Mouzi atau lebih dikenal sebagai Kepala Keluarga Mouzi sedikit cemas, bagaimana jika gadis itu memberitahukan bahwa tak ada kerajaan yang dekat dengan Desa Elnz seperti yang ia ceritakan pada para penduduk selama ini. Selama ini penduduk Desa Elnz tak pernah keluar terlalu jauh dari wilayah mereka, semua orang merasa takut jika di luar sana banyak bandit ataupun monster yang siap untuk menyerang kapanpun, karna itulah para penduduk di Desa Elnz tak tau berapa jarak yang harus ditempuh untuk sampai ke kerajaan terdekat dengan desa mereka.
"Darimana gadis itu berasal?." tanya Tuan Zunhi Mouzi pada seseorang dengan pakaian serba hitam. Sebagai satu satunya keluarga bangsawan yang ada di Desa Elnz ini, mereka memiliki banyak pekerja sekaligus mata mata yang siap melaporkan setiap pergerakan yang dilakukan oleh penduduk setempat ataupun orang yang datang dari luar desa.
"Saat ini saya belum mengetahui secara pasti megenai identitas gadis itu." ucap seseorang dengan pakaian seba hitam.
"Awasi setiap pergerakan gadis itu, jika ada hal mencurigakan yang ia lakukan bunuh saja." ucap Tuan Zunhi Mouzi yang memberikan perintah pada mata matanya.
"Baik saya mengerti Tuan." ucap seseorang dengan pakaian serba hitam itu yang langsung meninggalkan Tuan Zunhi Mouzi di dalam ruang kerjanya.
Tuan Zunhi Mouzi meremas sebuah kertas yang sedang ia pegang, setelah sekian lama tak menerima orang luar yang ingin berkunjung ke Desa Elnz, mengapa tiba tiba sang kepala desa mempersilahkan gadis asing itu masuk ke desa mereka. Pria itu benar benar khawatir jika bisnis yang ia lakukan selama ini akan hancur hanya karna kehadiran seorang gadis, seperti ia harus datang dan melihat secara langsung apakah gadis itu berbahaya ataukah tidak.
"Saya akan datang untuk menemui mu gadis asing." ucap Tuan Zunhi Mouzi dengan tatapan tajam. Andai saja pria itu tau siapa gadis yang ingin ia usik, mungkin ia sudah memilih untuk berdiam diri di dalam rumah dan tak melakukan apapun yang dapat menyinggung gadis itu.
Hai hai semua author balik lagi nih, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya guys.