RATU IBLIS

RATU IBLIS
Balas Dendam Putra Mahkota Yuan Konju


Setelah rapat selesai Xiao Ziya meminta pada Tuan Muda Min Xome dan Min Wungi untuk mengantarnya menuju penjara tempat para pangeran dan putri Kerajaan Yuan Liong di tempat kan. Saat berjalan melewati lorong lorong penjara Xiao Ziya melihat Yie Weinje yang sedang menatapnya dengan tatapan tajam, gadis itu berhenti sejenak dan meminta salah seorang prajurit untuk membukakan pintu penjara itu. Wanita yang saat ini berada di depan Xiao Ziya adalah wanita yang menyebabkan kehancuran bagi nenek kandungnya, seharusnya Yie Weinje tidak merebut Yie Gu dari sang nenek. Bukankah sebagai sesama wanita seharusnya Yie Weinje memahami rasa sakit di wanita lain jika suaminya direbut? atau Yie Weinje memang tak memiliki rasa kemanusiaan.


"Senang melihat Anda ada dalam kondisi seperti ini." ucap Xiao Ziya dengan senyuman lebar.


Yie Munha menggeretak kan giginya dan terus menatap tajam ke arah Xiao Ziya, apakah gadis itu sudah kehilangan akal sehat hingga bisa mengatakan hal seperti itu dengan mudah. Yie Weinje sangat berharap agar suaminya segera datang dan membawanya keluar dari tempat terkutuk itu, Yie Weinje sangat ingin memukul ataupun menyerang Xiao Ziya namun sangat disayangkan tangan serta kakinya diikat oleh tali spiritual sehingga ia tak dapat membebaskan diri.


"Nikmatnya akhir hidup Anda di dalam penjara ini, Nyonya Yie Weinje. Ah satu lagi, jangan pernah berharap Yie Gu akan datang dan membawa Anda keluar dari tempat ini karna Yie Munha berhasil mengalahkannya serta membunuhnya." ucap Xiao Ziya dengan tatapan dingin, semua ini setimpal dengan apa yang telah mereka lakukan.


"Siapa yang akan percaya dengan kata kata palamu itu, suami saya pasti akan datang sebentar lagi." jawab Yie Weinje, bagaimana mungkin cucu perempuannya yang lemah itu bisa mengalahkan sang suami? pasti Xiao Ziya mengatakan semua itu untuk membuatnya frustasi kemudian mengakhiri hidup dengan tragis.


"Terserah Anda ingin percaya ataupun tidak, silahkan menunggu hingga suami Anda datang dan jika ia tak kunjung datang artinya apa yang saya katakan adalah sebuah kenyataannya." ucap Xiao Ziya. Gadis itu bejalan keluar dari sel penjara dan meminta sang prajurit untuk menutup kembali pintu sel penjara itu.


Xiao Ziya mengerti mengapa Yie Weinje sulit mempercayai perkataannya, Yie Munha yang wanita tua itu kenal adalah sosok gadis lemah yang tak bisa melakukan apapun dan hanya mengandalkan kecantikan yang ia miliki saja. Akan tetapi Yie Munha saat ini sangat berbeda dengan dirinya di masa lalu, gadis itu hanya satu tingkat di bawah Yie Gu saja sehingga saat Yie Munha memiliki jurus yang kuat ia akan menemukan banyak celah untuk membunuh Yie Gu dengan mudah. Xiao Ziya melanjutkan perjalanannya menuju sebuah sel penjara yang ada di bagian paling ujung, ia dapat merasakan aura kebencian yang dikeluarkan oleh para pangeran dan putri dari Kerajaan Yuan Liong.


"Ternyata kalian berakhir sangat menyedihkan seperti ini, bagaimana bisa kalian berenam percaya dengan rencana sampah milik kakek tua itu." ucap Xiao Ziya setelah ia sampai di depan sel penjara yang dituju, Xiao Ziya berusaha menahan tawanya yang ingin pecah karna tak sanggup membayangkan kebodohan yang telah dilakukan oleh para pangeran dan putri dari Kerajaan Yuan Liong.


"Apakah kau sedang mengejek kami sekarang ini? Putra Mahkota Yuan Konju akan segera datang untuk menyelamatkan kami semua, dan saat itu tiba kami akan menghajar mu hingga kematian datang menjemput." ucap Pangeran Yuan Wengi dengan ekspresi kesal yang tak bisa ia sembunyikan, sang pangeran sangat ingin memberi pelajaran pada Xiao Ziya agar gadis itu tak menunjukkan kesombongan nya seperti sekarang.


"Wah saya sudah tidak sabar menunggu apa yang akan dilakukan oleh Putra Mahkota." ucap Xiao Ziya dengan wajah polosnya seperti ia tak mengetahui apapun mengenai kehancuran Istana Kerajaan Yuan Liong dan berakhirnya kepemimpinan keturunan Klan Yuan atas wilayah itu.


"Lebih baik Anda melepaskan kami sekarang agar hukuman yang diberikan nanti bisa lebih ringan. Putra Mahkota Yuan Konju adalah seorang pemuda yang kejam, ia tidak membiarkan orang luar seperti Anda untuk menyakiti keluarganya." ucap Putri Yuan Almi yang sedang mencoba untuk menakut nakuti Xiao Ziya dengan omong kosongnya itu.


Tuan Muda Min Xome dan Tuan Muda Min Wungi berusaha keras untuk menahan amarah mereka, perkataan para pangeran dan putri sudah terlewat batas. Seharusnya mereka berenam mengerti situasi saat ini, dengan kata kata menyebalkan itu bisa saja Xiao Ziya membunuh mereka dengan sekali tebasan pedang hitam miliknya.


Di sisi lain Xiao Ziya sudah tak tahan dan akhirnya gadis itu tertawa dengan cukup keras, para pangeran dan putri menatap ke arah Xiao Ziya dengan tatapan bingung. Apa yang lucu? mengapa tiba tiba gadis itu tertawa?.


"Apa yang sedang kau tertawaan dasar gadis sialan." umpat Pangeran Yuan Dunzo, ia mengeluarkan sebuah belati yang disembunyikan si balik baju kemudian melemparkan belati itu ke arah Xiao Ziya.


Sebuah belati melesat dengan sangat cepat melewati celah celah sel penjara dan hendak mengenai Xiao Ziya, sebelum semua hal itu terjadi Xiao Ziya sudah terlebih dahulu menangkap belati tersebut kemudian melanjutkan tawanya yang sempat terhenti sejenak.


"Bagaimana jika saya membawakan Putra Mahkota untuk kalian? akan sangat lama jika menunggu pemuda itu datang dengan sendirinya." ucap Xiao Ziya yang menawarkan diri untuk membawa Putra Mahkota Yuan Konju ke Istana Kerajaan Bulan


"Lakukan saja jika Anda tidak memiliki rasa takut, datang ke Istana Kerajaan Yuan Liong sama dengan mengantarkan nyawa Anda sendiri pada kematian." ucap Putri Yuan Zizi dengan sorot mata jernih, seleranya gadis itu lebih baik daripada yang lain.


Mendengar perkataan dari Putri Yuan Zizi membuat Xiao Ziya tertawa semakin keras, mengantarkan nyawa ? jika hal itu benar benar nyata mengapa Raja Yuan Monzi sangat mudah untuk dibunuh tanpa ada perlawanan atau pembalasan dari anak anaknya saat Xiao Ziya masih ada di sana?. Lagipula saat ini nama Kerjaan Yuan Liong juga tak akan terdengar lagi di seluruh penjuru Dunia Manusia Abadi. Xiao Ziya mengeluh Putra Mahkota Yuan Konju, Permaisuri Yuan Bianze, dan kedua selir dari dalam cincin semesta miliknya, mereka berempat terlihat dalam kondisi yang cukup kacau karna diserang oleh beberapa binatang pengikut setia milik Xiao Ziya saat keempat orang itu ingin mengambil benda benda berharga yang ada di dalam cincin semesta.


"Mengapa kalian berempat tampak menyedihkan seperti itu? saya tidak memukul kalian hingga separah itu sebelum dimasukkan ke dalam cincin." ucap Xiao Ziya dengan tatapan heran, hanya satu kemungkinan yang terjadi mereka diserang oleh penghuni cincin semesta.


"Binatang binatang sialan itu menyerang kami tanpa alasan yang jelas. Untuk apa Anda memelihara binatang buas dan binatang iblis seperti mereka!." bentak Putra Mahkota Yuan Konju, ia merasa terhina karna dikalahkan oleh binatang.


"Mau bagaimana lagi, saya juga tidak menyangka bahwa Anda jauh lebih lemah dari seekor binatang. Satu hal yang saya yakini, mereka tak akan menyerang jika kalian tak melakukannya sesuatu." jawab Xiao Ziya dengan tatapan datar, meskipun sebagian binatang setianya itu berasal dari ras iblis namun mereka sangat baik dan tak akan menyerang siapapun tanpa alasan yang jelas.


"Ah saya mengerti, kalian pasti mencoba untuk mengambil benda dan barang pribadi milik saya. Ini hukuman yang pantas untuk seseorang yang ingin mengambil apapun yang saya miliki." tambah Xiao Ziya tanpa rasa iba pada keempat orang yang ada di hadapannya itu.


Ketiga pangeran dan ketiga putri menatap ke arah ibu mereka masing masing, jadi Xiao Ziya benar benar membawa sebagian dari anggota Keluarga Kerajaan Yuan Liong ke Istana Kerajaan Bulan? apakah gadis itu benar benar gila hingga melakukan tindakan diluar batas.


Putra Mahkota Yuan Konju membalikkan badannya, ia menatap ke arah keenam adik tirinya yang sedang berada di dalam sel penjara. Jika bukan karna ulah mereka yang tiba tiba bergabung dengan Yie Gu untuk menyerang wilayah perbatasan Kerajaan Bulan maka sang Putra Mahkota tak perlu kehilangan ibu dan kedua saudara laki lakinya. Hal yang membuat Putra Mahkota Yuan Konju semakin kesal adalah ucapan dari Permaisuri Yuan Bianze dan kedua selir yang lebih memilih ia dibawa pergi oleh Xiao Ziya demi keselamatan anak anak mereka. Xiao Ziya melihat dengan jelas tatapan penuh rasa dendam yang terpancar dari mata Putra Mahkota Yuan Konju, gadis itu tersenyum miring seperti sedang merencanakan sesuatu.


"Bukankah susah saya katakan sebelumnya, sia sia saja Anda peduli dengan manusia manusia hina seperti mereka. Di saat Anda terluka seperti sekarang ini yang mereka pedulikan hanyalah keselamatan masing masing." ucap Xiao Ziya sembari menatap ke arah Putra Mahkota Yuan Konju.


"Saya sangat menyesal, benar benar menyesal karna tak menerima pilihan yang telah Anda berikan." jawab Putra Mahkota Yuan Konju yang membuat keenam adik tirinya merasa bingung.


"Jangan dengar perkataan gadis itu kak, dia hanya ingin kau membenci kami semua." triak Putri Yuan Almi dengan suara yang cukup kencang.


"Kalian memang pantas untuk dibenci, karna kalian saya kehilangan segalanya. Siapa yang memberikan izin pada kalian berenam untuk bergabung dengan Tuan Yie Gu dan menggunakan sekelompok prajurit untuk kepentingan pribadi? apakah saya memberikan izin untuk hal itu!!." bentak Putra Mahkota Yuan Konju dengan emosi yang meluap luap, ia sangat ingin mencekik leher keenam saudara tirinya itu agar mereka merasakan kesakitan yang sama.


"Kami adalah Pangeran dan Putri dari Kerajaan Yuan Liong, memiliki otoritas yang kami milik tak setinggi seorang Putra Mahkota namun kami masih memiliki hak untuk menggunakan sekelompok prajurit untuk kepentingan kami sendiri." jawab Pangeran Yuan Dunzo, ia melakukan semua itu semata mata untuk membalaskan kematian ayahnya ditangan Xiao Ziya.


"Kalau begitu mengapa saya harus peduli dengan apa yang terjadi pada kalian? bukankah kalian sudah cukup dewasa untuk memikirkan ini semua!!." bentak Putra Mahkota Yuan Konju lagi, ia benar benar muak dengan tingkah anggota Keluarga Kerajaan Yuan Liong yang lain.


Plak.....


Sebuah tamparan mendarat dengan tepat di pipi sebelah kanan Putra Mahkota Yuan Konju, kali ini Permaisuri Yuan Bianze yang melakukan hal itu karna tak bisa menahan kekesalannya. Putra Mahkota Yuan Konju menatap tajam ke arah permaisuri kemudian menatap ke arah Xiao Ziya seperti sedang meminta izin untuk melakukan sesuatu.


"Lakukanlah apa yang ingin Anda lakukan, setidaknya dendam Anda sudah terbayarkan sebelum kematian menghampiri Anda Putra Mahkota Yuan Konju." ucap Xiao Ziya dengan senyuman lebar. Xiao Ziya mengambil sebilah pedang berwarna perak dan ia memberikan pedang itu pada Putra Mahkota Yuan Konju.


Kini Permaisuri Yuan Bianze dan kedua selir dalam keadaan terpojok, sang Putra Mahkota tersenyum ke arah mereka bertiga dengan senyuman yang sangat menyeramkan. Putra Mahkota Yuan Konju mendekat ke arah Permaisuri Yuan Bianze dan hendak menghunuskan pedang itu pada jantung sang permaisuri, dalam beberapa serangan ia gagal karna Permaisuri Yuan Bianze berhasil menghindar.


"Hentikan!!! apakah Anda sudah kehilangan akal sehat Putra Mahkota? mengapa Anda ingin membunuh permaisuri hanya karna provokasi dari gadis sialan ini." triak Pangeran Yuan Wengi, ia tak ingin sesuatu terjadi pada sang ibu.


"Diam!! karna ulah kalian saya kehilangan ibu dan kedua adik laki laki saya. Setidaknya kalian harus merasakan bagaimana rasanya kehilangan orang tersayang." jawab Putra Mahkota Yuan Konju, ia kembali menyerang sang permaisuri namun kali ini Permaisuri Yuan Bianze melakukan serangan balasan menggunakan beberapa jurus yang ia kuasai.


Xiao Ziya tersenyum tipis saat mereka saling membunuh satu sama lain, ini terlihat seperti pertunjukan yang sangat menyenangkan. Tuan Muda Min Xome dan Tuan Muda Min Wungi melihat ke arah adik sepupu mereka yang sedang menikmati pertumpahan darah antara anggota Kerajaan Yuan Liong itu. Sepertinya adik sepupu mereka memiliki banyak kepribadian, di satu sisi Xiao Ziya akan sangat baik pada orang orang yang setia padanya dan di sisi lain ia akan sangat kejam pada orang orang yang mencari masalah dengannya.


"Tolong hentikan mereka Nona Muda Xiao Ziya, saya mohon jangan biarkan Putra Mahkota Yuan Monzi membunuh ibu kami. Apakah ini terlihat menyenangkan bagi Anda!." ucap Putri Yuan Almi, sang putri berusaha memohon belas kasihan pada Xiao Ziya. Sungguh tindakan yang sia sia, seharusnya mereka berenam mempertimbangkan lebih jauh lagi mengenai kemungkinan yang akan terjadi jika pihak mereka kalah.


"Ya, semua ini memang terlihat sangat menyenangkan bagi saya." jawab Xiao Ziya dengan sorot mata berwarna merah darah serta seringai yang menyeramkan.


Para pangeran dan putri sangat frustasi melihat Putra Mahkota Yuan Konju menyerang ibu mereka masing masing dengan sangat kejam, Permaisuri Yuan Bianze meminta bantuan pada kedua selir untuk mengalahkan sang putra mahkota namun perbedaan kekuatan diantara mereka sangatlah mencolok.


"Kalian semua harus mati!!." triak Putra Mahkota Yuan Konju, tiba tiba saja energi qi yang ada di dalam tubuhnya meluap hingga memenuhi setengah bagian penjara bawah tanah Istana Kerajaan Bulan. Permaisuri dan kedua selir gemetaran karna mereka tak dapat menggunakan energi qi ataupun sihir lagi.


Jeleb...


Pedang perak yang ada di tangan Putra Mahkota Yuan Konju menembus jantung Permaisuri Yuan Bianze hingga sang permaisuri mengeluarkan darah yang sangat banyak dari mulutnya. Kedua anak permaisuri yaitu Pangeran Yuan Wengi dan Putri Yuan Almi menjerit histeris saat melihat ibu mereka mati dengan cara yang mengenaskan. Bukan sampai di situ saja, Putra Mahkota Yuan Konju mencabut pedangnya kemudian memotong tubuh Permaisuri Yuan Bianze menjadi dua bagian.


"Sekarang giliran kalian berdua." ucap Putra Mahkota Yuan Konju sembari menatap ke arah dua selir yang sedang menatap dengan tatapan ketakutan.


Hai hai semua author balik lagi nih, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.