
Pagi harinya Hermione dan Dimas pergi ketaman karena kuliah libur. Mereka sedang duduk melihat anak kecil yang sedang bermain disana ada juga remaja yang sedang jonging dan orang tua yang menjaga anaknya.
"Bonekanya kamu simpen?" tanya Dimas.
"Simpenlah" jawab Hermione.
"Jangan jatuh cinta sama bonekanya" ucap Dimas.
"Gila kali kalau aku cinta sama boneka" ucap Hermione.
"Takut aja kamu malah cinta sama bonekanya kan ribet urusannya" ucap Dimas mengacak-acak rambut Hermione.
"Suka banget acak-acak rambut orang eh lupa aku bukan orang" ucap Hermione membenarkan rambutnya.
"Hehe bisa aja kamu" ucap Dimas merangkul pundak Hermione.
"Dimas kamu disini" ucap Desi menghampiri mereka.
"Ni orang gue jadiin sop enak kayaknya, ganggu aja" batin Hermione.
"Eh Desi iya aku disini" ucap Dimas melirik sekilas Hermione yang sedang memainkan kukunya.
"Ihh kenapa ada Dara juga sih disini ganggu aja" batin Desi, Hermione yang mendengar itu langsung membuat Dimas bisa mendengarkan batin Desi.
"Katanya temen kok rangkulan gitu" batin Desi tak suka.
"Eh kok aku bisa dengar batin Desi?" batin Dimas heran sambil melirik Hermione, Hermione tak menjawab.
"Liat ada gue bakal singkirin lo Dara" batin Desi.
"Coba aja kalau bisa" batin Hermione yang tak didengar siapa-siapa.
"Eh kok, wah kagak bener nih, hadapi gue dulu kalau mau sentuh Dara" batin Dimas. Dia mempererat rangkulan pundaknya.
"Boleh gabung?" tanya Desi.
"Hmm boleh" jawab Hermione.
"Makasih" Desi duduk dikursi hadapan Hermione dan Dimas.
"Eh yang bener aja dia kan mau nyingkirin kamu" batin Dimas.
"Suttt diem, bersikap aja kayak biasa tapi jangan sampai berlebihan" batin Hermione.
"Seneng banget akhirnya ada yang cemburu kalau aku deket sama cewek lain" batin Dimas.
"Kalian udah lama temenan?" tanya Desi.
"Gak juga sih, kurang lebih 1 tahun" jawab Dimas.
"Ini sebenarnya temen apa temen?" tanya Desi mencoba mencari tau.
"Hehe kayaknya lebih dari temen deh" jawab Dimas melihat Hermione lalu melihat Desi lagi, Hermione menaikkan bahunya. Desi tersenyum paksa.
"Hmm kayaknya aku harus pergi deh, aku lupa masih ada urusan" ucap Desi.
"Ohh iya" jawab Dimas, Desi langsung pergi dari sana.
Hermione dan Dimas saling pandang lalu mereka mengangkat bahunya bersamaan tanda bingung.
"Dia kenapa?" tanya Dimas.
"Gak tau" jawab Hermione.
..............
1 minggu kemudian, Desi tidak pernah muncul kembali ntah apa yang sedang dia rencanakan hanya dia lah yang tau.
Pulang kuliah Hermione dan Dimas pergi kerestoran untuk mengerjakan tugas bersama. Mereka duduk saling berhadapan.
"Eh yang ini maksudnya gimana ya?" tanya Dimas menunjuk tugas yang dia tidak pahami, Hermione berdiri lalu menundukkan kepalanya melihat yang ditunjuk Dimas.
"Ohh gampang, sini biar aku kerjain" ucap Hermione mengambil buku Dimas lalu duduk.
"Eh aku nanya bukan minta kerjain" ucap Dimas merebut bukunya.
"Udah diem, biar aku kerjain" ucap Hermione merebut bukunya lagi.
"Ih kita kesini buat kerjain tugas sama-sama" ucap Dimas.
"Nurut aja" ucap Hermione fokus mengerjakan tugas.
"Huh" Dimas melihat sekeliling restoran.
"Masih sama ya restorannya" ucap Dimas.
"Yaiyalah inikan restoran punya kamu hanya kamu yang boleh ganti desain restorannya yang lain mana berani" ucap Hermione.
"Ohh iya ini restoran aku astaga kenapa bisa lupa coba" Dimas menepuk jidatnya.
"Jangan bilang kamu lupa sama kos-kosan dan kontrakan kamu" ucap Hermione.
"Astaga aku gak pernah cek lagi" ucap Dimas menepuk jidatnya lagi.
"Ck ck ck" Hermione menggelengkan kepalanya pelan lalu melanjutkan mengerjakan tugasnya.
"Dimas" ucap seseorang.
"Aaa suara ini lagi suara ini lagi, lo kayaknya beneran mau dijadiin sop deh" batin Hermione, dia memilih fokus mengerjakan tugas. Dimas menoleh melihat orang yang memanggilnya.
"Desi" ucap Dimas, Desi tersenyum dia lalu duduk disamping kursi Dimas.
"Kamu lagi ngapain disini?" tanya Desi.
"Belajar" jawab Dimas.
"Emang mau sama siapa lagi, gak boleh kalau berdua?" tanya Dimas.
"Ya boleh dong" ucap Desi.
"Nih Mas udah selesai" ucap Hermione memberikan buku Dimas.
"Makasih, tapikan tadi aku gak minta kerjain cuman nanya doang" ucap Dimas mengambil bukunya.
"Udah terlanjur" ucap Hermione santai sambil mengambil sebungkus rokok dari saku celananya.
"Iya terlanjur maksa supaya kamu kerjain" ucap Dimas cemberut.
"Nah itu" ucap Hermione mengambil sebatang rokok lalu menghidupkan korek untuk membakar ujung rokoknya setelah ini dia menghisap rokok tersebut dan menghembuskan asapnya, dia menatap Sesi yang terus memperhatikannya sedari tadi.
"Ngapa liatin?" tanya Hermione datar.
"Emm nggak, aneh aja cewek merokok" ucap Desi.
"Emang salah kalau gue merokok?" tanya Hermione.
"Nggak sih, itu terserah lo mau merokok atai nggak" ucap Desi. Dimas melirik sekilas Desi lalu mengambil sebungkus rokok dan korek milik Hermione yang ada diatas meja. Dia melakukan yang sana seperti Hermione mengambil sebatang rokok, menghidupkannya, menghisapnya lalu menghembuskan asapnya.
"Sejak kapan kamu merokok?" tanya Desi.
"Udah lama kali" jawab Dimas.
"Ohhh" jawab Desi.
"Em oh iya boleh gak aku minta nomor telpon kamu?" tanya Desi, Dimas melirik Hermione.
"Kasih" batin Hermione yang didengar oleh Dimas.
"Boleh kok, mana hp kamu" jawab Dimas. Desi memberikan ponselnya, Dimas mengambil lalu mengetik nomor dirinya.
"Nih" Dimas memberikan ponsel Desi setelah selesai mengetik nomornya.
"Aaa makasih" Desi mengambilnya.
"Kamu gak pesen?" tanya Dimas.
"Oh iya aku lupa belum pesan" ucap Desi, Dimas mengode kepada pelayan menyuruhnya datang kesana.
"Iya tuan" ucap pelayan.
"Kamu mau pesan apa bilang aja" ucap Dimas.
"Milkshake coklat" ucap Desi.
"Baik mohon tunggu mbak, tuan dan nona mau pesan lagi?" tanya pelayan.
"Nggak ini aja masih ada" jawab Hermione tersenyum.
"Nanti kalau mau pesan kita bilang" ucap Dimas.
"Baik saya permisi" ucap pelayan yang dapat anggukan dari Hermione dan Dimas, pelayan itu pergi dari sana.
"Manggil gue mbak manggil Dara nona, emang ni restoran punya siapa sih kok Dimas dipanggil tuan dan Dara dipanggil nona" batin Desi. Tak lama pesanan Desi sampai, dia langsung meminum milkshakenya.
Tiba-tiba ponsel Dimas berbunyi.
"Eh aku angkat telponnya dulu ya" ucap Dimas melihat ponselnya.
"Iya" jawab Desi, Dimas menjauh dari mereka berdua untuk mengangkat telpon.
"Eh mending lo jauhin Dimas" ucap Desi kepada Hermione, Hermione menatap Desi datar.
"Ngapa lo hmm gak suka?" tanya Hermione.
"Iya gue gak suka lo deket-deket sama dia, jangan sok cakep deh lo!" ucap Desi.
"Gue kagak sok cakep tapi tolong lo ngaca sana lo udah cakep hah" ucap Hermione.
"Jelas gue cakep gak kayak lo kampungan, dengerin ya Dimas hanya akan jadi milik gue" ucap Desi.
"Silahkan aja ambil kalau bisa" ucap Hermione.
"Gue pasti bisa rebut Dimas dari lo karena gue sahabat kecilnya tau semua hal tentang dia" ucap Desi.
"Kalau tau semua kenapa tadi masalah Dimas merokok lo gak tau, nomor telponnya aja lo minta katanya tau semua" ucap Hermione.
"Jangan banyak omong deh lo, yang jelas gue gak akan biarin kalian deket. Dimas akan jadi milik Desi" ucap Desi.
"Blablabla" ejek Hermione.
"Lo" Desi tak melanjutkan perkataannya karena melihat Dimas berjalan kearah mereka.
"Sayang kayaknya kita harus pulang sekarang karena aku ada kerjaan yang harus diurus" ucap Dimas.
"Hmm yaudah, eh aku pulang sendiri aja naik taxi supaya kamu bisa langsung ngurusin pekerjaan kamu" ucap Hermione berdiri setelah mengambil tasnya.
"Nggak bisa gitu dong, kamu harus pulang sama aku" ucap Dimas.
"Hmm serah deh" ucap Hermione.
"Eh kita pulang duluan ya, minumannya udah gue bayar" ucap Dimas.
"Ayo sayang" Dimas menggandeng Hermione pergi. Hermione menoleh kebelakang lalu mengejek Desi setelah itu dia melihat kedepan lagi.
"Awas aja lo Dara gue bakal habisin lo" ucap Desi.
Bersambung...