RATU IBLIS

RATU IBLIS
Menolong Ratu


Malampun telah tiba semua orang tengah sibuk dengan urusan mereka masing masing dan ada yang memilih untuk berdiam diri di dalam kamar mereka atau sekedar merebahkan diri sana. Malam ini udara seperti lebih dingin daripada biasanya. Xiao Ziya yang sedari tadi hanya berguling guling di atas tempat tidurnya akhirnya memilih untuk keluar dari paviliun untuk menikmati suasana malam.


Gadis itu memakan pakaian yang biasa tak seperti orang orang yang sedang berlalu lalang disekitarnya. Penduduk Kekaisaran Binzo akan menggunakan baju yang tebal atau mantel yang hangat sangat malam hari tiba, sepertinya suhu di Kekaisaran Binzo lebih rendah daripada suhu di Kekaisaran Qiyu.


Xiao Ziya mulai menyusuri setiap jalan dan melihat kios kios yang berjajar rapi di sepanjang jalan. Gadis itu berhenti di depan sebuah kios yang menjual roti isi daging.


"Bibi saya pesan dua roti isi ekstra daging." ucap Xiao Ziya yang sedang memesan makanan.


"Baiklah nona ingin memakannya di sini atau dibungkus?." tanya sang pemilik kios.


Xiao Ziya lebih memilih untuk membungkus makanannya karna ia masih ingin berjalan jalan di sekitar sana. Turnamen antar akademi yang ada di seluruh dunia bawah akan diadakan 2 hari lagi sehingga ia masih memiliki waktu yang cukup untuk beradaptasi dengan tempat barunya itu. Semua perwakilan akademi yang berada jauh dari Kekaisaran Binzo memang selalu datang lebih awal agar mereka bisa memilih tempat untuk menginap.


Setelah menunggu beberapa saat pesanan roti isi milik Xiao Ziya sudah siap kemudian gadis itu membayar dengan satu keping koin emas.


"Bibi jika saya boleh tau dimana letak tempat yang akan dijadikan arena turnamen kali ini." tanya Xiao Ziya pada pemilik kios roti isi daging itu.


"Nona tinggal lurus saja kedepan, lalu akan ada lapangan yang luas, disana turnamen biasanya dilangsungkan." jawab bibi itu dengan ramah.


Setelah mengetahui tempat dilangsungkannya turnamen dua hari lagi itu, Xiao Ziya berniat pergi ke sana untuk melihat. Gadis itu berjalan dengan santai tanpa meragukan tatapan beberapa orang yang sepertinya kagum atau kesal dengannya. Suasana seperti ini bukanlah hal yang baru bagi Xiao Ziya.


Saat Xiao Ziya sedang asyik menikmati malam sambil berjalan jalan dan menikmati roti isi daging miliknya tiba tiba ada sebuah kereta kuda yang hendak melintas dari arah yang berlawanan, namun kuda yang menarik keretanya terlihat seperti sedang menggila akan manabrak Xiao Ziya.


Untung saja gadis itu langsung loncat dan naik ke punggung kuda yang sedang tak terkendali itu.


"Hey tenanglah kawan apa yang terjadi denganmu." ucap Xiao Ziya sembari mengusap kepala sang kuda dengan lembut.


Sedangkan kusir kuda dan orang yang ada di dalam merasa terkejut, untung saja kuda kuda itu tak jadi menabrak seorang gadis. Namun apa yang dilakukan gadis itu? mengapa ia malah naik ke punggung salah satu kuda.


"Apakah ayah mengenali gadis itu?." tanya Zo Runjin merupakan pangeran pertama dari Kekaisaran Binzo.


"Tidak ayah juga baru melihatnya." ucap Kaisar Zo Linzu.


Sebenarnya orang orang yang ada di dalam kereta kuda itu adalah kaisar dari Kekaisaran Binzo dan juga kedua pangeran. Mereka hendak kembali ke istana kekaisaran setelah seleasai melihat arena yang akan dijadikan tempat turnamen nantinya. Namun dalam perjalanan pulang kuda kuda yang menarik kereta mereka tiba tiba saja meninggila dan tak bisa dikendalikan.


"Apa mungkin gadis sekecil itu adalah seorang pembunuh bayaran?." tanya Pangeran Zo Linhu yang merupakan pangeran kedua dari Kekaisaran Binzo.


"Sepertinya dia bukan gadis yang seperti itu putraku." ucap Kaisar Zo Linzu yang sapat merasakan aura pemimpin yang terpancar di sekitar tubuh Xiao Ziya.


Setelah beberapa saat kuda yang menggila itu akhirnya tenang juga, karna kondisi saat ini sudah baik baik saja Xiao Ziya memutuskan melompat dari punggung kuda dan segera pergi dari sana.


"Kemana perginya gadis itu, padahal saya ingin bertrimakasih." ucap Kaisar Linzu yang sedikit kecewa karna orang yang telah menyelamatkan nyawanya dan putranya tiba tiba menghilang begitu saja.


"Mungkin gadis itu sedang terburu buru ayah, kita pasti akan berjumpa dengannya lagi." ucap Pangeran Zo Runjin yang sedang menyemangati ayahnya.


Kaisar Zo Linzu merupakan salah satu kaisar yang sangat adil pada rakyatnya, ia juga sangat ramah dan penuh dengan perhatian. Namun kaisar itu tak ingin memiliki hutang budi dengan siapapun sehingga jika ada yang menolongnya ia akan memberikan hadiah sebagai imbalan.


"Baiklah kusir, segera pacu kuda itu dengan cepat agar kita segera sampai di istana." ucap Kaisar Zo Linzu yang ingin segera kembali ke istana kekaisarannya.


Sedangkan saat ini Xiao Ziya sedang berada di atas sebuah pohon yang lumayan tinggi, ia sedang mengarahkan pandangannya kesebuah lahan kosong yang sangat luas. Saat itu di sana banyak orang yang sedang mempersiapkan arena untuk turnamen.


"Seperti biasa selalu ada adu kekuatan di setiap turnamen." ucap Xiao Ziya yang tersenyum. Gadis itu akan berusaha dengan sangat keras agar ia mendapatkan juara pertama dalam turnamen kali ini. Ia dengar hadiah dari turnamen tahun ini sangatlah istimewa.


Sedangkan di lain tempat saat ini Pangeran Zo Binje sedang membantu beberapa orang untuk membuat sihir perlindungan di sekitar arena turnamen, saat ia mulai membentuk pola pola sihir ia merasakan kehadiran seseorang di sekitar arena itu. Saat mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru ia tak menemukan apapun. Namun saat melihat kesebuab pohon yang tinggi ia menemukan seorang gadis yang sedang duduk dengan santai sambil memakan sesuatu.


"Apa yang dilakukan gadis itu di sana, apakah ia tak takut bila terjatuh?." ucap Pangeran Zo Binje yang keheranan.


Xiao Ziya sadar bahwa kehadirannya di sana menarik beberapa orang yang sedang membuat sihir perlindungan, selain Pangeran Zo Binje ada beberapa orang yang melihat kearahnya.


"Hah aku hanya ingin bersantai di sini saja apakah itu sebuah masalah." ucap Xiao Ziya sembari menghela nafas panjang kemudian ia juga membuat sihir perlindungan di sekitar pohon tempatnya duduk.


"Pola yang dibuatnyapun terlihat sangat rumit, apakah gadis itu hendak mengacau?." tanya Ketua Mongi yang penasaran dengan niat dari Xiao Ziya.


Setelah mengamati beberapa saat mereka sadar bahwa gadis yang sedang bersantai di atas pohon tinggi itu hanya ingin melihat persiapan yang mereka lakukan untuk turnamen dua hari lagi. Dan kemungkinan besar gadis itu merupakan salah satu murid dari sebuan akademi yang akan ikut berpartisipasi.


Setelah merasa bosan dengan hanya melihat persiapan turnamen saja, Xiao Ziya memutuskan untuk pergi ke tempat lain. Ia menyusuri setiap wilayah terdekat dengan sangat hati hati.


"Aku merasakan aura membunuh di sekitar sini." ucap Xiao Ziya yang semakin waspada walau aura membunuh itu tak tertuju padanya namun ia juga harus berhati hati.


Xiao Ziya diam diam mengikuti seseorang yang sedang mengendap endap di kegelapan, dilihat dari gelagatnya sepertinya ia adalah seorang pembunuh bayaran yang ahli.


"Siapa targetnya, mengapa dia mengarah ke istana Kekaisaran Binzo." ucap Xiao Ziya yang semakin penasaran dan terus mengikuti orang itu.


Benar saja orang dengn pakaian serba hitam itu tengah menyusup kedalam istana Kekaisaran Binzo, sebenarnya Xiao Ziya tak ingin ikut campur dengan urusan ini namun ia ingin melihat konflik apa yang sebenarnya ada di dalam Kekaisaran Binzo.


Jika tak salah hingga saat ini kaisar belum menentukan siapa yang akan menjadi putra mahkota, walaupun menurut peraturan yang berlaku Pangeran Zo Runjin lah yang berhak atas gelar itu namun kaisar masih ragu dengan kemampuan pangeran pertama.


Xiao Ziya naik ke salah satu atab sebuah bangunan dan menyaksikannya dari atas. Pembunuh bayaran itu hendak masuk kesebuah bangunan melalui jendela namun tiba tiba ada dua orang pengawal bayangan yang manangkap basahnya.


"Apa yang kau lakukan di depan kediaman ratu." ucap kedua pengawal bayangan itu.


"Cih mengapa kalian menanyakan hal konyol seperti itu. Hari ini kalian tak akan bisa menghalangiku." ucap pembunuh bayaran itu yang mulai menyerang kedua pengawal bayangan dengan berutal.


Serangan demi serangan yang dilakukan oleh pembunuh bayaran sangatlah tajam dan berhasil melukai pengawal bayangan sang ratu hingga mereka terluka sangat parah.


"Uhuk uhuk bagaimana nasib sang ratu, kita gagal menjaganya." ucap kedua pengawal bayangan itu yang tampaknya sangat sedih.


Xiao Ziya yang tadinya tak ingin ikut campur akhirnya turun dari atas atap dan menatap kedua pengawal bayangan itu.


"Jika kalian seperti ini sang ratu akan mati, apa yang kalian lakukan dengan berbaring di atas tanah." ucap Xiao Ziya sembari menatap prihatin pada kedua pengawal bayangan itu.


Yunro Zue dan Yinro Zinxu hanya bisa terdiam saat seorang gadis mengatai mereka berdua karna apa yang dikatakan oleh gadis itu memang benar adanya.


"Kalian berdua bertahanlah di sini biar saya yang menyelamatlan ratu." ucap Xiao Ziya yang melesat pergi masuk kedalam bangunan itu.


Saat pertama kali masuk kedalam yang ia lihat adalah ratu yang sedang meringkuk ketakutan ketika seorang pembunuh bayaran menodongkan belati padanya. Dengan segera Xiao Ziya memukul mundur pembunuh bayaran itu.


"Ratu baik baik saja?." tanya Xiao Ziya dengan lembut, Ratu Zo Binji mengangkat kepalanya dan melihat seorang gadis yang seumuran dengan putrinya sedang berdiri di depannya untuk melindungi.


"Saya baik baik saja, trimakasih nona sudah menyelamatkan saya." ucap Ratu Zo Binji yang kemudian berdiri.


Pembunuh bayaran itu merasa kesal karna rencananya kali ini digagalkan oleh gadis kecil yang entah datang dari mana. Keberanian apa yang dimiliki oleh gadis itu hingga berani menghalangi seorang pembunuh bayaran.


"Sialan aku akan menghabisimu terlebih dahulu." ucap pembunuh bayaran itu yang menyeran Xiao Ziya, merasa serangan biasa tak dapat melukai gadis itu pembunuh bayaran mulai melakukan beberapa jurus tingkat menangah.


Namun sayangnya gadis yang ia hadapi begitu tangguh.


"Merambat dan ikatlah dia." ucap Xiao Ziya yang mengeluarkan sulur sulurnya yang langsung menjerat pembunuh bayaran itu dengan sangat kuat hingga ia tak bisa bergerak sama sekali.


"Jika boleh tau nona ini siapa? dan mengapa membantu saya?." tanya Ratu Zo Binji.


"Ratu akan tau siapa saya namun tidak sekarang, dan mengapa saya membantu ratu? tak ada alasan untuk saya tidak membantu ketika ada orang lain yang kesulitan. Saya permisi dulu." ucap Xiao Ziya yang langsung melesat pergi. Sang ratu ingin menahannya namun gagal. Ia berharap akan bertemu gadis itu lagi.


**Hai hai semua pembaca setiaku gimana kabar kalian semoga sehat selalu, gimana udah pada update aplikasi kalian versi baru kan. Jangan lupa kasih tiket Vote kalian ke aku ya.


Jangan lupa juga follow author, like, komen, kasih hadiah ke author, rate ,share**.