
Putri Ming Zu berdecak kesal, ia memikirkan sesuatu untuk membuat Xiao Ziya tak betah tinggal di Istana Kerajaan Bintang Timur. Sang putri berjalan menuju kamar yang ditempati oleh Xiao Ziya, sebelum melakukan aksinya Putri Ming Zu melihat ke kanan dan kiri untuk memastikan situasi aman. Setelah dirasa tak ada prajurit ataupun pelayan yang akan datang, Putri Ming Zu menggedor pintu kamar yang ditempati oleh Xiao Ziya dengan sangat kencang.
"Bangunlah anak sialan, ini bukan istana pribadi mu dimana kau bisa tidur dengan sesuka hati!." triak Putri Ming Zu dengan cukup keras.
"Bagun lah kau hanya numpang di tempat ini!." triak Putri Ming Zu sembari menggedor pintu kamar Xiao Ziya.
Ziya yang saat itu baru saja tertidur merasa sangat terganggu dengan suara bersisik di luar kamarnya, Xiao Ziya menoleh ke samping dan tak menemukan Putri Beiling Zu di tempat tidur. Akhirnya Xiao Ziya beranjak dari kasur dan membuka pintu kamar, ia menatap Putri Ming Zu dengan tajam karna tindakannya yang sangat mengganggu. Xiao Ziya sangat membutuhkan waktu untuk beristirahat namun tiba tiba gadis gila itu datang untuk mengganggunya, memang kenapa jika Ziya hanya numpang tinggal di Istana Kerajaan Bintang Timur? bukankah Raka Yongling Zu sendiri yang mengundangnya datang kesini.
"Diamlah atau saya akan merobek mulut berisik mu itu." ucap Xiao Ziya dengan serius.
"Kau harus bekerja seperti pelayan lain, jangan memposisikan dirimu sebagai seorang putri di tempat ini." ucap Putri Ming Zu dengan tatapan meremehkan.
Xiao Ziya yang terlanjut kesal dengan tingkat sang putri langsung mencekik leher Putri Ming Zu hingga kesulitan bernafas. Setelah puas memberi pelajaran pada putri gila itu, Xiao Ziya langsung melemparkan Putri Ming Zu kebelakang.
"Jika anda meneriaki saya lagi, maka saya akan mengambil pita suara dari tenggorokan anda." ucap Xiao Ziya yang langsung menutup pintu kamar dan melanjutkan tidurnya yang tertunda.
Putri Ming Zu memegangi lehernya yang terasa sakit, ia tak menyangka gadis bernama Xiao Ziya itu akan seberani ini. Putri Ming Zu bangun dan pergi menuju ruangan tempat sang ibu berada, ia akan mengadukan tindakan kasar Xiao Ziya pada sang ibu.
Tok tok tok, suara pintu ruang khusus Selir Mue Zu yang diketuk oleh anak perempuannya. Sang selir mempersilahkan Putri Ming Zu masuk kedalam, setelah masuk sang putri langsung memeluk Selir Mue Zu dengan erat.
"Apa yang terjadi padamu? mengapa kau menangis seperti anak kecil?." tanya Selir Mue Zu dengan nada ketus, ia tak pernah mengajarkan putrinya untuk menjadi seorang gadis manja.
Tanpa menjawab pertanyaan dari sang selir, Putri Ming Zu menunjukkan bekas cengkraman Xiao Ziya yang tertinggal di lehernya. Selir Mue Zu menatap kearah leher anak perempuannya itu dengan ekspresi terkejut, siapa yang berani melukai putrinya di dalam Istana Kerajaan Bintang Timur.
"Siapa yang melakukan hal ini padamu? cepat katakan!!." bentak Selir Mue Zu dengan emosi yang meluap luap.
"Xiao Ziya." jawab Putri Ming Zu dengan suara pelan dan mata berkaca kaca.
Dengan segera Selir Mue Zu menarik tangan putrinya itu menuju ruang kerja Yang Mulia Raja Yongling Zu, ia akan memperlihatkan pada sang suami kejahatan yang telah dilakukan oleh anak haram itu. Selir Mue Zu mengetuk pintu ruang kerja Raja Yongling Zu dengan cukup kencang, Raja yang saat itu sedang berbincang bincang dengan Putra Mahkota merasa terkejut dan langsung membukakan pintu.
"Ada apa kau datang dengan wajah marah seperti itu?." tanya Raja Yongling Zu dengan nada datar dan ekspresi wajah tak peduli.
"Lihatlah apa yang telah dilakukan oleh gadis itu pada putriku, jika anda tak memberinya hukuman atas apa yang ia lakukan maka saya akan memberitahu semua orang mengenai anak haram ratu mu itu." ucap Selir Mue Zu, ia mengancam Raja Yongling Zu menggunakan kelemahan yang dimiliki oleh Ratu Junyi Zu.
Sebagai seorang ratu tentu Junyi Zu memiliki kesan baik dan berwibawa dihadapan seluruh penduduk Kerajaan Bintang Timur, sorang wanita dengan kedudukan tinggi tak boleh membeberkan aibnya di depan banyak orang jika tidak reputasinya akan rusak. Raja Yongling Zu merasa bingung, apa yang harus ia lakukan? ia tak mungkin sembarangan menghukum Xiao Ziya hanya karna tuduhan dari Selir Mue Zu.
"Kita akan menemui gadis itu untuk meminta penjelasan darinya." ucap Raja Yongling Zu dengan sorot mata tajam, sang raja sudah sangat lelah meladeni drama dari selir dan anak anaknya itu.
Akhirnya Raja Yongling Zu, Putra Mahkota Yunzo Zu, Selir Mue Zu, dan Putri Ming Zu pergi menuju istana putri untuk menemui Xiao Ziya. Beberapa pelayan yang ada di istana putri mengatakan bahwa saat ini Nona Xiao Ziya sedang beristirahat, dan menyampaikan agar tak ada yang mengganggunya karna semalam ia tak bisa tidur. Mendengar perkataan dari para pelayan itu tentu membuat Raja Yongling Zu semakin tak enak hati.
"Sebaiknya kita datang di lain waktu." ucap Raja Yongling itu.
"Saya ingin masalah ini diselesaikan sekarang juga." ucap Selir Mue Zu dengan keras kepala.
Sang selir mengetuk pintu Xiao Ziya dengan cukup keras dan menimbulkan suara berisik, selain itu Selir Mue Zu meneriaki Xiao Ziya agar keluar dari kamar untuk menyelesaikan masalah yang gadis itu buat.
Xiao Ziya bangun dari tempat tidurnya dengan aura berwarna hitam yang keluar dari tubuh gadis itu, sepertinya Xiao Ziya telah kehilangan kesabaran menghadapi Selir Mue Zu dan Putri Ming Zu yang terus mengusik waktu tidur berharganya. Saat Xiao Ziya membukakan pintu kamar terlihat dengan jelas ekspresi ketakutan dari Selir Mue Zu.
Plak, satu tamparan keras Xiao Ziya layangkan ke pipi Selir Mue Zu. Semua orang yang melihat hal itu membelalakkan mata mereka, para pelayan yang ada di sana sangat terkejut dengan tindakan Xiao Ziya. Selir Mue Zu memegangi pipinya yang terasa panas, ia ingin membalas tamparan itu namun tangannya dicekal oleh Xiao Ziya dan dihempaskan kebelakang.
"Saya tak peduli siapa anda dan identitas apa yang anda miliki, siapapun yang menggangu waktu istirahat saya akan menerima akibatnya." ucap Xiao Ziya dengan mata memerah, jika bukan karena ia berada di Istana Kerajaan Bintang Timur mungkin gadis itu sudah menghabisi nyawa Putri Ming Zu dan Selir Mue Zu.
"Beraninya anak rendahan sepertimu melukai wajah cantikku." ucap Selir Mue Zu dengan suara tinggi.
"Cantik?." ucap Xiao Ziya dengan suara tawa yang keras hingga terdengar sampai ke istana utama.
"Jika saya tak cantik maka Raja Yongling Zu tak akan menikahi saya lalu menjadikan saya sebagai selir." ucap Selir Mue Zu dengan wajah bangganya. Xiao Ziya semakin ingin tertawa mendengar perkataan wanita itu.
"Untuk menjadi selir anda tak perlu memiliki wajah yang cantik, anda hanya perlu menjadi wanita gatal." ucap Xiao Ziya dengan penuh penekanan di kalimat terakhir. Diam diam Putra Mahkota Yunzo Zu dan Raja Yongling Zu menahan tawa mereka, sepertinya sang selir akan menjatuhkan harga dirinya sendiri jika berdebat dengan Xiao Ziya.
"Para penduduk Kerajaan Bintang Timur akan membenci ibumu jika mereka tau Ratu Junyi Zu yang selama ini dianggap sebagai wanita baik baik memiliki seorang putri dengan pria lain." ucap Selir Mue Zu yang mengancam Xiao Ziya.
Xiao Ziya tersenyum miring kemudian berjalan mendekat ke arah Selir Mue Zu, gadis itu menepuk pipi kiri sang selir beberapa kali kemudian mencengkeram wajahnya dengan erat. Mata Xiao Ziya bertemu dengan mata Selir Mue Zu dalam jarak yang cukup dekat, sang selir ingin memejamkan matanya namun ia tak bisa melakukan itu.
"Kau mengancam ku." ucap Selir Mue Zu yang berlagak berani di hadapan Xiao Ziya.
"Ingat kata kata saya dengan baik, saya selalu menepati apa yang sudah keluar dari mulut saya." ucap Xiao Ziya, gadis itu melepas cengkeramannya dari wajah Selir Mue Zu.
"Tentang luka yang ada di leher putri anda itu, dia sama berisiknya dengan anda. Sudah sangat bagus karna saya tak menebas lehernya." jelas Xiao Ziya mengenai bekas cekikan yang ada di leher Putri Ming Zu.
"Maaf karna saya dan yang lain telah mengganggu waktu istirahat anda, beberapa pelayan telah memberitahu kami agar tak menggangu namun istri kedua saya tetap keras kepala." ucap Raja Yongling Zu, pria itu meminta maaf atas nama sang selir dan juga putrinya.
"Ya saya tau perkataan seorang pelayan tak akan di dengar dengan baik, karna itu saya akan meminta bantuan Zier untuk berjaga di pintu depan selama saya tidur." ucap Xiao Ziya yang langsung mengeluarkan harimau kesayangannya itu dari dalam cincin semesta.
"Ada yang bisa saya bantu Nona Ziya?." tanya Zier dengan ekspresi senang, akhirnya ia bisa melakukan sesuatu untuk nonanya.
"Bisakah Zier membantu saya untuk berjaga di depan pintu selama saya beristirahat, saya tak bisa tidur sejak malam tadi karna mengantuk. Jika Putri Beiling Zu ingin masuk berilah dia jalan karna ini kamarnya, akan tetapi jika ada orang lain yang mencoba masuk teguran mereka dan jika mereka keras kepala maka makan saja." ucap Xiao Ziya dengan bersungguh-sungguh memberikan perintah seperti itu pada Zier.
Raja Yongling Zu dan Putra Mahkota Yunzo Zu berusaha untuk menelan ludah mereka, bagaimana mungkin gadis itu memiliki hewan setia keturunan murni dari alam dewa dan alam neraka seperti itu?. Sedangkan di sisi lain Selir Mue Zu dan Putri Xilian Zu semakin kesal dengan Xiao Ziya.
"Baiklah saya mengerti Nona Ziya, selamat beristirahat." ucap Zier yang akan mematuhi setiap perintah dari nonanya meski hal itu terasa cukup aneh.
"Baiklah kami permisi adik Ziya, maaf telah mengganggu." ucap Putra Mahkota Yunzo Zu yang mengajak ayahnya untuk pergi dari tempat itu di susul Selir Mue Zu dan Putri Ming Zu.
Setelah situasi kembali tenang seperti semula Xiao Ziya langsung masuk kedalam kamar dan menutup pintu, gadis itu merebahkan tubuhnya diatas kasur dan mulai masuk dalam mimpi indahnya. Zier memposisikan dirinya tidur di depan pintu kamar Xiao Ziya agar tak ada orang yang sembarangan masuk kedalam.
Di tempat lain kedua pembunuh bayaran yang semalam sempat dikejar kejar oleh prajurit Kerajaan Bulan berhasil melarikan diri dan memasuki wilayah Klan Yuang Yie. Kedua pembunuh bayaran itu pergi menuju Kastil Klan Yuang Yie mereka akan melapor bahwa Yie Munha berhasil sampai ke wilayah Kerajaan Bulan.
"Kalian berhasil menangkapnya?" tanya Yie Gu dengan sorot mata tajam.
"Gadis itu berhasil sampai di wilayah Kerajaan Bulan, kami sempat dikejar oleh beberapa prajurit untunglah kami bisa melarikan diri." ucap seorang pembunuh bayaran dengan raut wajah lelah.
"Sialan semuanya menjadi kacau, mengapa gadis itu malah berdiri di pihak Xiao Ziya." ucap Yie Gu dengan sangat kesal. Meskipun saat ini Xiao Ziya sedang tak berada di istana namun ada Min Xunzi yang sedang menjaga istana bulan, akan sulit bagi Yie Gu ataupun anggota Klan Yuang Yie yang lain untuk menyusup kesana.
"Gadis itu juga tak membawa apapun bersamanya." ucap pembunuh bayaran itu, mereka melihat dengan jelas tak ada barang mencurigakan yang Yie Munha bawa.
"Benarkah? lalu mengapa gadis itu melarikan diri?." tanya Yie Gu dengan kebingungan. Ia perlu melihat para ketua Klan Yuang Yie apakah salah satu dari mereka ada yang terkenal kutukan ataukah tidak.
"Baiklah kalian berdua bisa pergi sekarang, sisanya biar saya yang urus." ucap Yie Gu yang meminta kedua pembunuh bayaran untuk kembali ke markas mereka.
Yie Gu berjalan keluar dari ruang kerjanya, pria itu pergi ke aula utama dan meminta para prajurit untuk memanggil semua ketua Klan Yuang Yie untuk berkumpul di aula. Pria tua itu menunggu sekitar sepuluh menit barulah semua ketua Klan Yuang Yie berkumpul termasuk Yie Fufu. Bagaimana pria itu bisa selamat dari kutukan yang telah ditanamkan padanya? itu semua karna Yie Fufu merupakan kaki tangan Lee Brian.
Malam itu saat Yie Fufu dengan mengerang kesakitan di dalam ruang kerjanya tiba tiba Lee Brian datang dengan memberikan obat penawar dari racun yang tengah menjalar di seluruh tubuh Yie Fufu. Lee Brian sudah mengetahui cepat atau lambat hal ini akan terjadi, untunglah Yie Fufu masih bisa diselamatkan.
"Saya memanggil kalian semua kesini untuk memastikan sesuatu." ucap Yie Gu dengan tatapan tajam, ia melihat ke arah para ketua Klan Yuang Yie satu persatu untuk memastikan wajah mereka tak pucat.
"Katakan saja pemimpin." ucap Yie Jungmin yang tak memiliki banyak waktu untuk meladeni pria tua itu.
"Semalam Yie Munha kabur dari Klan Yuang Yie menuju Kerajaan Bulan, apakah diantara kalian ada yang tau penyebab gadis itu kabur?." tanya Yie Gu dengan penuh penekanan, ia tak ingin ada penghianat diantara Ketua
Klan Yuang Yie.
"Sepertinya Nona Yie Munha bukan kabur melainkan ingin mencari cara untuk mengambil pil darah dari tangan Xiao Ziya." jawab Yie Fufu dengan tegas, ia mengatakan itu seolah olah tak mengetahui apapun mengenai kejadian malam tadi.
"Cucu anda sangat menyenangkan neneknya, jadi ia akan melakukan apapun untuk mendapatkan pil itu." jawab Yie Jungso dengan santai.
"Anda memanggil kami untuk masalah yang tidak penting ini?." tanya Yie Mingha dengan tatapan datar, bukankah sudah sangat wajar jika Yie Munha berkeliaran di sekitar hutan perbatasan Klan Yuang Yie dengan wilayah Kerajaan Bulan. Hal yang dilakukan oleh Yie Gu membuat beberapa ketua menjadi curiga, mungkinkah ada pergerakan lain yang dilakukan oleh Yie Munha?.
"Baiklah jika itu pendapat kalian mengenai kaburnya Yie Munha, saya hanya khawatir gadis itu tengah berselisih paham dengan salah satu anggota klan." ucap Yie Gu dengan alasan yang cukup sempurna untuk menutupi kekhawatirannya.
Akhirnya para ketua Klan Yuang Yie pergi dari aula utama dengan wajah kesal begitupun dengan Yie Fufu, ia sangat ingin menusuk Yie Gu dari belakang kemudian mengubur pria tua itu. Yie Fufu sangat berharap Yie Munha saat ini dalam keadaan baik baik saja, setidaknya gadis itu harus berhasil menyampaikan surat terakhir dari nenek Xiao Ziya untuk anak serta cucu cucunya.
Hai hai semua author balik lagi nih, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya. JANGAN LUPA MAMPIR DI NOVEL BARU AUTHOR YANG JUDULNYA LING HUO.