
Kedua orang tua Zuhi datang untuk menjemput anak mereka yang masih menempel pada Xiao Ziya, Yuzeng merasa sangat bersyukur karna ia masih bisa hidup hingga hari ini padahal beberapa hari sebelumnya ia mencoba merampok Penginapan Yunha. Jika saat itu keberuntungan tak sedang berpihak padanya mungkin ia telah mati mengenaskan bersama kesembilan rekannya yang lain seperti anggota Keluarga Mouzi.
"Terimakasih telah membantu kami saat itu, Zuhi bisa merasa kenyang setiap kali makan semuanya berkat bantuan Nona Muda Xiao Ziya." ucap bibi Jinglia pada Xiao Ziya dengan senyuman tulus.
"Setelah pergi dari Desa Elnz ini saya berharap Nona Ziya dapat menjalani hidup yang lebih baik." ucap Yuzeng, tak ada yang tau jalan sesulit apa yang telah dilalui oleh gadis bernama Xiao Ziya itu hingga bisa sekuat sekarang ini.
"Walaupun hidup saya tak sebaik dan sebagainya gadis gadis biasa pada umumnya namun saya senang menjalani ini semua. Paman dan bibi tenang saja karna saya bisa menjaga diri dengan baik, saya harap kalian bisa merawat Zuhi dengan baik hingga ia tumbuh menjadi gadis yang cantik." ucap Xiao Ziya sembari melihat Zuhi yang saat ini berada dalam gendongan sang ibu.
"Kami akan menjaga putri kami dengan baik, dialah satu satunya harta berharga yang kami miliki." ucap Yuzeng pada Xiao Ziya dengan tatapan serius.
Xiao Ziya mengeluarkan sebuah kotak hadiah dengan ukuran yang cukup besar, ia memberikannya sebagai hadiah perpisahan untuk Zuhi. Di dalam kotak itu terdapat lima ribu koin emas, beberapa pakaian yang pas untuk Zuhi, dan beberapa perhiasan yang Xiao Ziya berikan pada Zuhi.
"Anda bisa membukanya setelah sampai di rumah, sampai jumpa Zuhi semoga kita bisa bertemu lagi." ucap Xiao Ziya kemudian ia mencium kedua pipi Zuhi dengan penuh kasih sayang.
"Sampai jumpa Ziya jiejie, Zuhi akan selalu merindukan jiejie." ucap Zuhi yang dibawa pergi oleh kedua orang tuanya. Saat jarak anak perempuan itu sudah cukup jauh dengan Penginapan Yunha, anak itu mulai menangis dengan kencang karna tak ingin berpisah dengan Xiao Ziya.
"Sepertinya Ziya jiejie sangat menyukai anak kecil." ucap Ying Junha yang tiba tiba berada di samping Xiao Ziya sembari menatap ke arah kakak perempuannya itu.
"Anak seusia Zuhi ibaratkan warna abu abu, ia bisa berubah menjadi warna putih ataupun hitam semua itu tergantung bagaimana ajaran kedua orang tuanya dan lingkungan sekitar. Untunglah Desa Elnz ini sangat tenang dan cukup damai daripada desa desa lain yang pernah saya kunjungi. Saya juga memiliki seorang adik angkat dan dua orang kakak laki laki, meskipun hubungan darah diantara kami tak seperti sodara kandung tapi kami saling menyayangi satu sama lain." ucap Xiao Ziya yang langsung teringat dengan Zoe, Xiao Xun, dan Xiao Yan.
"Apa kalian tak pernah bertengkar karena sesuatu? sepertinya Nona Ziya sangat menyayangi mereka." tanya Ying Junha dengan rasa penasaran tinggi.
"Kami sering bertengkar entah itu masalah kecil ataupun masalah besar, kami pernah memutuskan tali persaudaraan satu sama lain kemudian kembali lagi menjadi keluarga. Terkadang hubungan yang dekat juga bisa hancur karna kehadiran orang baru, namun sejauh apapun seseorang pergi tempat mereka untuk kembali tetaplah keluarga mereka sendiri." jawab Xiao Ziya dengan senyuman lebar, ia bisa bernafas lega saat ini karna Ratu Jinha Zee adalah ibu kandungnya meski ia tak tau bagaimana kondisi jiwa ibunya itu.
Ying Junha menatap ke arah Xiao Ziya dengan tatapan bingung, meski gadis itu dua tahun lebih tua darinya namun dari perkataan yang baru saja ia dengar Ying Junha merasa Xiao Ziya seperti sudah pernah merasakan kepahitan yang ada di dunia ini.
"Saya sangat iri dengan jiejie ataupun saudara saudara jiejie. Saat datang ke lapisan dunia misterius nanti jiejie harus tinggal dalam waktu yang cukup lama." ucap Ying Junha yang sedang merengek pada kakak sepupunya.
"Ahahaha baiklah saya akan tinggal di sana cukup lama dan menemani Tuan Muda Ying Junha." ucap Xiao Ziya dengan nada mengejek.
"Urusan saya di sini telah selesai, saya dan kesepuluh bawahan saya akan kembali malam ini juga. Ibu telah mengirim telepati dan mengatakan ia sangat merindukan saya, karna itu saya pamit pada Ziya jiejie." ucap Ying Junha yang langsung berpamitan pada Xiao Ziya.
"Baiklah, kalian harus berhati-hati saat perjalanan pulang. Sampaikan pada Bibi Yie Jinyi bahwa saya akan berkunjung nanti." ucap Xiao Ziya.
"Kami permisi Nona Muda Xiao Ziya." ucap kesepuluh bawahan Ying Junha, mereka membungkukkan badan di hadapan Xiao Ziya.
Sebelum Ying Junha pergi dari Penginapan Yunha, Xiao Ziya berlari mengejar pemuda itu kemudian memeluknya dengan erat ini pertama kalinya Xiao Ziya bertemu dengan anak dari saudara kembar sang ibu. Setelah selesai memeluk, Xiao Ziya mencium pipi Ying Junha hingga pemuda itu merasa terkejut.
"Sampai jumpa Nona Ziya." ucap bawahan Ying Junha yang langsung memegangi Tuan Muda mereka agar tak pingsan di tempat. Setelah itu mereka melesat ke atas langit dengan kecepatan tinggi dan menghilang begitu saja.
Setelah Ying Junha pergi, Ziya berjalan kembali ke Penginapan Yunha ada beberapa hadiah yang ingin ia berikan pada kepala desa dan pemilik Penginapan Yunha karna mereka orang pertama yang menyambut baik kedatangan gadis itu.
"Saya harus pergi sekarang." ucap Xiao Ziya di depan keluarga Kepala Desa. Semua orang menatap ke arah gadis itu dengan tatapan bingung, bukankah Nona Ziya ingin pulang esok pagi tapi kenapa ia ingin pergi malam ini.
"Mengapa Nona tak bermalam di sini? bukanlah Nona Ziya masih sangat lelah setelah semua hal yang terjadi?." tanya Yunha pada Xiao Ziya. Ia tak ingin melarang ataupun menahan Xiao Ziya agar tak pergi dari Desa Elnz ini namun gadis itu perlu beristirahat setelah semua hal melelahkan yang terjadi.
"Saya memiliki firasat yang kurang baik pada keluarga saya yang saat ini berada di Istana Kerajaan Bulan. Saya harus segera kembali untuk memastikan bahwa mereka baik baik saja." jawab Xiao Ziya dengan senyuman tipis, ia khawatir Yie Gu melakukan sesuatu yang berbahaya pada semua orang yang ada di Istana Kerajaan Bulan.
"Segeralah kembali Nona Ziya, mungkin keluarga Anda sedang membutuhkan bantuan dari Anda saat ini." ucap Tuan Elzi yang ikut khawatir dengan kondisi di Istana Kerajaan Bulan.
Mungkin banyak orang yang mengira tinggal di istana yang besar akan menjamin kehidupan yang nyaman, istana bukanlah tempat yang tenang seperti sebuah desa di dalam istana terdapat banyak orang yang berkemungkinan besar akan menjadi musuh dari sang penguasa di istana itu.
"Ini sedikit hadiah yang telah saya siapkan untuk Tuan Elzi dan anak anak Anda. Saya sudah menuliskan siapa pemilik barang yang ada di dalam kotak ini, saya harap kalian tak perlu saling iri satu sama lain." ucap Xiao Ziya dengan nada datar.
"Terimakasih untuk hadiahnya, saya akan membagi semua ini sesuai dengan amanah Nona Ziya." ucap Tuan Elzi sembari menerima sebuah kotak kayu berukuran sangat besar.
Xiao Ziya melihat ke arah Zunlin yang saat itu duduk cukup jauh dari keluarganya, pemuda itu sedikit gemetaran saat melihat Xiao Ziya berjalan mendekat. Isi otak Zunlin dipenuhi dengan hal hal mengerikan, ia takut tiba tiba gadis itu memukulnya karna mendengar percakapannya dengan Tuan Elf saat di pesta tadi. Saat sudah berada di samping Zunlin, Xiao Ziya menepuk bahu pemuda itu perlahan.
"A... Ada apa Nona Xiao Ziya?." tanya Zunlin dengan sedikit gelagapan, raut wajah pemuda itu menunjukan bahwa ia sedang takut saat ini.
"Saya dengar dari Lunx bahwa kau juga menginginkan sebuah pedang seperti milik Gunzo, apakah itu benar?." tanya Xiao Ziya pada Zunlin secara terang-terangan, gadis itu tak ingin berbasa-basi lagi.
Zunhi terdiam beberapa saat, pemuda itu merasa bingung sekaligus takut. Haruskah Zunhi berkata jujur pada Xiao Ziya bahwa iri dengan kakak sepupunya itu? mungkin Xiao Ziya akan memukulnya dengan kencang setelah mendengar hal itu secara langsung dari mulutnya. Akan tetapi jika ia membuat sebuah alasan dan mengatakan bahwa Lunx berbohong maka kemungkinan hukuman yang akan ia dapat lebih besar dari sebuah pukulan saja. Seorang gadis seperti Xiao Ziya akan selalu mempercayai dan menjaga orang orangnya.
"Ya benar, saya sempat merasa sangat iri dengan Tuan Muda Gunzo karna mendapatkan sebuah pedang yang terlihat kuat dari Anda. Saya mengerti bahwa Gunzo selalu memperlakukan Anda dengan baik dan ia melakukan hal itu dengan hati tulus, sedangkan saya tak melakukan apapun untuk Anda selama ini. Saya meminta maaf karna telah lancang menginginkan sesuatu dari Anda." jawab Zunlin secara terang terangan, ia menatap ke arah Xiao Ziya dengan sorot mata tajam dan suara tegas.
"Ambil pedang ini, meski tak sekuat milik Gunzo setidaknya pedang ini bisa membunuh seseorang di tingkat Kaisar Langit. Berlatihlah dengan giat jika Anda selalu merasa berada di belakang Tuan Muda Gunzo, kalian boleh saling bersaing dalam hal apapun namun jangan menjadikan persaingan itu sebagai alasan pecahnya hubungan persaudaraan diantara kalian berdua." ucap Xiao Ziya sembari menyerahkan pedang berwarna putih salju itu pada Zunlin.
"Terimakasih banyak Nona Ziya, saya akan mengingat pesan Anda dengan baik." jawab Zunlin dengan senyuman lebar karna ia merasa sangat senang mendapat sebuah pedang dari Xiao Ziya.
Xiao Ziya dan Lunx berjalan ke depan Penginapan Yunha, seluruh keluarga Kepala Desa mengantar kepergian gadis itu. Xiao Ziya meminta Mokuzo sang naga hitam untuk keluar dari cincin semesta milik Xiao Ziya, setelah itu Xiao Ziya dan Lunx naik ke atas punggung naga hitam itu.
"Mokuzo tolong antar kami ke Kerajaan Bulan secepat yang kau bisa, berhentilah di depan perbatasan nanti setelah hampir tiba di sana." ucap Xiao Ziya yang meminta Mokuzo untuk mengantarnya ke Kerajaan Bulan.
"Baik saya akan terbang dengan kecepatan penuh agar Nona Ziya dan Tuan Lunx segera sampai di Wilayah Kerajaan Bulan." jawab Mokuzo dengan senang hati, biasanya Zier yang diminta untuk mengantar nona muda kembali setelah perjalanan jauh namun kali ini nona muda mempercayakan kepulangannya pada Mokuzo.
"Sampai jumpa semuanya, jaga diri kalian dengan baik ya. Sampai jumpa di lain waktu waktu." ucap Xiao Ziya sembari melambaikan tangannya.
"Kami akan menunggu Nona Xiao Ziya kembali ke tempat ini, jangan lupa berkunjung ya." triak Yunha dengan suara yang cukup kencang.
"Jaga diri Anda dengan baik Nona Ziya." triak Ming Angli sembari melambaikan tangannya.
"Semoga setelah sampai di tempat tujuan, keluarga Anda baik baik saja Nona Ziya." ucap Tuan Elzi dengan senyuman hangat, pria tua itu melihat bahwa Xiao Ziya jauh lebih kuat daripada neneknya. Tuan Elzi yakin bahwa Xiao Ziya bisa membalaskan dendam neneknya itu.
"Kami berdua akan merindukan Nona Ziya, sampai jumpa Nona cantik." triak Gunzo dan Zunlin secara bersamaan, kedua pemuda itu membuat lambang hati menggunakan telapak tangan mereka.
Setelah itu Mokuzo terbang tinggi di atas langit dan mempercepat laju terbangnya hingga dalam hitungan detik mereka sudah keluar dari wilayah Desa Elnz, keempat kesatria sihir pelindung Desa Elnz saat itu sedang berjaga di wilayah perbatasan. Samar samar mereka melihat sesuatu yang terbang dengan cepat di atas langit, keempat pemuda itu memang jarang kembali ke Desa Elnz karna tugas mereka untuk memberitahukan jika ada orang asing yang ingin datang berkunjung.
"Sepertinya besok kita harus kembali ke desa." ucap Zien dengan nada dingin.
"Mengapa kita harus kembali? laporan apa yang ingin kita berikan pada kepala desa?." tanya Trinzes dengan tatapan bingung.
"Aku ingin melihat apa saja yang dilakukan oleh gadis itu selama tinggal di Desa Elnz, sepertinya ia sudah pergi menunggangi seekor binatang terbang." ucap Zien.
"Baiklah kita akan kembali besok." jawab Elmo yang tak mempermasalahkan hal itu.
Di sisi lain saat ini suasana di dalam Istana Kerajaan Bulan cukup sepi, beberapa pelayan sudah kembali ke kamar mereka masing masing untuk beristirahat. Yie Weinje berjalan menuju sebuah kamar pelayan yang ada di bagian ujung, saat ia membuka pintu kamar tersebut terlihat seorang pelayan yang sedang memejamkan matanya.
"Ck, ternyata kamar ini sudah ditempati oleh seseorang." ucap Yie Weinje sembari berdecak kesal.
Yie Weinje segera keluar dari kamar itu dan menutup pintunya kembali, Andai saja Yie Weinje tau bahwa orang yang menempati kamar itu adalah jasad dari Ratu Jinha Zee. Ratu Jinha Zee telah mati beberapa hari yang lalu setelah ia pingsan di tempat, jantung koroner wanita itu tiba tiba mengalami kontraksi yang membuatnya tak dapat bernafas dengan baik untuk waktu yang cukup lama hingga akhirnya tewas.
"Dimana kamar pelayan itu." ucap Yie Weinje dengan raut wajah bingung, ia tak tau letak kamar pelayan yang telah ia bunuh dengan suaminya.
Yie Weinje tak menyadari bahwa di belakangnya ada seseorang yang sedang melangkah dengan sangat pelan agar suara langkahnya tak terdengar oleh wanita tua itu. Beberapa saat setelahnya sebuah pukulan yang sangat kencang mengenai pungging Yie Weinje hingga wanita tua itu pingsan. Min Xome menghela nafas lega karna aksinya tak dilihat oleh siapapun, dengan segera ia membawa Yie Weinje pergi dari tempat itu.
"Apa kau berhasil melakukannya?." tanya Min Wungi yang sudah menunggu kedatangan Min Xome cukup lama. Saat ini mereka berada di depan kamar Yie Munha.
"Saya sudah membawa nenek bau tanah ini, lalu apa yang akan kau lakukan dengannya?." tanya Min Xome pada Yie Munha, gadis itulah yang meminta kepada kedua tuan muda untuk menangkap Yie Weinje dan membawa wanita tua itu kedalam kamar yang ditempati oleh Yie Munha.
"Mungkin saat ini kakek sedang mencari informasi dimana kamar tidur yang biasa aku gunakan, setelah mendapatkan informasi itu ia akan datang ke kamar saat suasana di istana sedang sepi seperti sekarang ini. Cepat masukkan nenek tua itu ke dalam dan ikat tangan serta kakinya, jangan lupa sumpal mulutnya juga dan letakkan dalam kondisi berbaring." ucap Yie Munha yang sudah menyiapkan sebuah rencana untuk menjebak sang kakek.
Min Xome dan Min Wungi segera melakukan semuanya sesuai dengan instruksi Yie Munha, setelah selesai mereka bertiga pergi ke sebuah ruangan kosong dan beristirahat di sana. Min Xome dan Min Wungi akan tetap berada di dalam ruangan itu untuk menjaga Yie Munha, banyak kemungkinan yang akan terjadi jika gadis itu ditinggal sendirian.
Benar saja perkiraan dari Yie Munha, saat ini Yie Gu sedang berada di markas para prajurit ia sedang menanyakan beberapa hal pada salah seorang prajurit yang bertugas untuk menjaga bagian dalam istana.
"Berapa banyak kamar tamu yang ada di dalam istana ini, saya lihat tak ada kamar tamu yang pernah terbuka." ucap Yie Gu sembari menundukkan kepalanya, ia khawatir sang prajurit mengenai hal wajahnya itu.
"Ada puluhan kamar tamu dan saat ini hanya satu kamar saja yang sedang digunakan oleh Nona Yie Munha. Kamar Nona berada di dekat kamar kedua Tuan Muda." jawab prajurit itu dengan santai tanpa adanya rasa curiga sedikitpun. Prajurit yang biasa berjaga di bagian luar istana memang tak mengetahui banyak hal yang ada di dalam Istana Kerajaan Bulan.
"Para pelayan pasti sangat lelah membersihkannya setiap hari." ucap Yie Gu dengan nada sedih.
"Mau bagaimana lagi itu sudah menjadi tugas mereka, lagipula kita mendapatkan upah yang sesuai dengan pekerjaan masing masing." ucap prajurit itu dengan senyuman lebar. Setelah kedatangan Xiao Ziya kehidupan para pekerja di Istana Kerajaan Bulan sangat terjamin.
"Baiklah saya pergi terlebih dahulu untuk mengambil minum." ucap Yie Gu yang langsung pergi meninggalkan markas para prajurit.
Hai hai semua author balik lagi nih, gimana kabar kalian semoga sehat selalu, jangan lupa jaga kesehatan kalian di cuaca yang ga menentu kayak gini. Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun makasih banget, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.