RATU IBLIS

RATU IBLIS
Dunia Semesta Tingkat Rendah 03


"Bukankah kalian berdua tidak percaya dengan kemampuan saya?." ucap Xiao Ziya dengan ekspresi datar khas miliknya.


"Kami benar benar minta maaf." ucap Hanz yang terus memohon pada Ziya agar disembuhkan juga.


"Apa yang akan saya dapatkan?." ucap Xiao Ziya secara spontan karna tak ada yang gratis di dunia ini.


"Anda bisa memilih senjata api manapun untuk dibawa pulang tanpa membayar." ucap Zero dengan semangat. Senjata api yang toko black daimon jual memiliki harga yang lebih mahal dari toko toko yang lain karna kualitas senjata yang mereka miliki adalah yang terbaik.


"Saya bisa membelinya." ucap Ziya yang menolak tawaran itu karna ia masih memiliki banyak uang untuk membeli senjata api.


Hanz dan Zero sempat berfikir beberapa saat, apa yang harus mereka berikan agar gadis yang ada di hadapan mereka mau membantu.


"Jadilah mata mata saya." ucap Xiao Ziya.


"Baiklah kami bersedia menjadi mata mata anda dan melindungi anda." ucap Hanz dengan tegas.


Xiao Ziya meminta kedua pemuda itu untuk duduk bersila, kali ini ia akan menggunakan cara yang tak terlalu membutuhkan energi qi. Ziya mengambil empat belas jarum emas, masing masing orang ditusukkan tuju jarum emas pada titik akupuntur mereka.


"Argh mengapa ini menyakitkan." ucap Zero yang sedang menahan rasa sakit luar biasa.


"Tahanlah." jawab Xiao Ziya dengan singkat.


Setelah selesai menusukkan empat belas jarum emas gadis itu membacakan sebuah mantra kuno yang cukup aneh dalam pelafalannya. Tiba tiba saja muncul asap hitam dari punggung kedua pemuda itu, asap hitam itu berkumpul menjadi satu dan membentuk dua sosok wanita tua tanpa kaki mereka.


"Kenapa kau mengganggu kami, ketiga anak laki laki ini adalah milik kami." ucap salah satu hantu wanita tua yang marah pada Xiao Ziya.


"Dunia ini bukan tempat kalian untuk tinggal, jika kalian memiliki dendam lebih baik pergilah untuk berreingkarnasi dan balaskan dendam kalian." ucap Xiao Ziya yang memberikan saran bagus pada kedua hantu wanita itu. Selain Ziya orang mana yang mau berbicara baik baik dengan hantu jahat seperti mereka.


"Untuk apa kami menunggu berreingkarnasi jika kami bisa membalasnya sekarang." ucap hantu wanita tua itu.


Xiao Ziya bertanya pada kedua hantu wanita tua apa alasan dibalik dendam mereka yang sangat kuat. Ternyata ketiga hantu wanita tua itu dulunya pembantu di rumah kakek dari para pemuda itu, awalnya mereka diperlakukan dengan layak. Namun suatu hari sang kakek menghukum ketiga wanita tua itu tanpa alasan yang jelas, dua wanita tua dipotong kakinya dan dibunuh dengan sadis dan yang satu di pukuli hingga wajahnya hancur dan mati ditempat.


Setelah meninggal mereka menolak untuk pergi ke alam berikutnya karna ingin membalas dendam pada kakek itu, namun sangat disayangkan sang kakek bunuh diri setelah membunuh mereka bertiga. Ketiga wanita tua itu mengalihkan dendam mereka pada keturunan keturunan berikutnya dari sang kakek.


"Jika begitu mengapa kalian tak membalas pada orang tua ketiga pemuda ini?." tanya Xiao Ziya yang penasaran kenapa harus ketiga pemuda ini yang menanggung dosa kakek mereka.


"Orang tua ketiga bocah ini memiliki berkat dari sang Dewi sehingga kami tak bisa menyentuh mereka, karna itulah anak anak ini yang harus menanggung semuanya." ucap salah satu hantu wanita tua diiringi dengan tawa jahatnya. Mereka ingin kembali masuk kedalam tubuh Hanz dan juga Zero.


"Maaf tapi kalian bertemu dengan saya artinya kalian gagal." ucap Xiao Ziya yang membakar kedua hantu wanita tua itu dengan api hitam miliknya.


Kedua hantu itu menjerit kesakitan, mereka memohon pengampunan dari Xiao Ziya namun tak di dengar. Ziya melepas semua jarum emas yang ia tancapkan seketika Hanz dan Zero pingsan karna kelelahan.


"Apa yang terjadi pada kedua saudaraku?." tanya Kenzo yang khawatir.


"Mereka hanya pingsan jadi tenanglah, saya akan membeli beberapa senjata." ucap Ziya yang langsung pergi ke bagian belakang toko itu karna disana ada banyak senjata api yang disembunyikan oleh mereka.


Xiao Ziya sedang melihat lihat pistol mana yang ingin ia gunakan, banyak sekali jenis pistol yang mereka jual dengan berbagai daya tampung peluru. Xiao Ziya membuka sebuah kotak berwarna silver, di sana ada dua pistol dengan nama dobel revolver.


"Saya ingin membeli dua pistol kembar ini dan semua peluru yang kalian miliki." ucap Xiao Ziya yang membuat Kenzo hampir pingsan menyusul kedua saudaranya yang lain.


"Barang yang anda pilih sangatlah mahal nona, pistolnya saja senilai satu miliar rupiah dan untuk semua stok peluru kami mungkin mencapai harga satu koma lima miliar rupiah." jawab Kenzo dengan jujur, bukannya ia meremehkan gadis itu namun untuk seorang anak remaja uang miliaran rupiah adalah hal yang tabu.


"Saya akan membayar." ucap Xiao Ziya yang mengeluarkan koper uangnya dari dalam cincin semesta. Ia memberikan dua koma lima miliar rupiah pada Kenzo.


Dengan segera Kenzo menyiapkan barang yang dibeli oleh gadis itu, semua peluru untuk pistol dobel revolver ia masukkan kedalam kardus yang sangat besar. Kenzo sempat berfikir apakah ia perlu mengirim barang ini menggunakan jasa pengiriman?.


Kenzo seketika terdiam ketika kotak besar berisi peluru itu menghilang saat Xiao Ziya menghempaskan tangannya pelan. Ternyata gadis itu memiliki barang langka yang sangat berguna sebagai tempat penyimpanan.


"Anda memiliki cincin penyimpanan?." tanya Kenzo dengan binar mata yang sangat cerah.


"Ini adalah hal yang biasa untuk para kultivator." jawab Ziya tanpa dosa, padahal gadis itu tau di dunia semesta tingkat rendah ini tak ada kultivator sama sekali.


Setelah selesai membeli senjata Xiao Ziya bergegas untuk kembali ke apartemennya karna mungkin saat ini bawahan sang pemimpin sedang mencarinya kemana mana. Benar saja saat sedang di perjalanan pulang ia bertemu dengan beberapa orang yang berpakaian rapi dengan Jaz biru yang menyilaukan mata.


"Kalian sedang mencari saya?." tanya Xiao Ziya dengan santai tanpa beban.


"Anda nona Ziya yang mendapat undangan langsung dari Tuan Fenzu Zee?." tanya salah seorang pemuda yang seumuran dengan Xiao Yan.


"Mungkin saya iya." jawab Xiao Ziya secara ambigu, entah Fenzu Zee masih mengenalinya atau tidak dengan penampilan yang sekarang.


"Mari ikut dengan kami." ucap orang orang itu dengan ramah pada Xiao Ziya meskipun begitu Xiao Ziya masih sangat waspada pada mereka.


Xiao Ziya diajak masuk kesebuah gedung perkantoran yang paling tinggi di ibu kota, gadis itu mengamati interior bangunan itu dengan sangat kagum. Banyak orang yang bekerja di sana sama seperti saat ia masih di zaman moderen, ada komputer, dan mesin kopi otomatis yang menarik perhatian gadis itu.


"Mereka semua pekerja di sini?." tanya Xiao Ziya dengan rasa penasaran yang tinggi.


"Mereka semua adalah orang orang pemerintahan." jawab dari salah satu orang berjaz itu.


"Selamat datang nona Ziya." ucap seseorang dari belakang gadis itu.


"Terimakasih atas sambutannya Tuan Fenzu Zee." ucap Xiao Ziya tanpa menoleh kebelakang untuk melihat pria itu.


"Apakah anda terkesan dengan perkembangan tekhnologi yang kami miliki? banyak sekali penelitian yang kami lakukan saat ini." ucap Fenzu Zee dengan senyuman jahat yang ia sembunyikan.


Jika dilihat dari dekat Xiao Ziya memang memancarkan aura yang sangat luar biasa kuat, ini akan sangat cocok untuk percobaan baru mereka yaitu sebuah robot cerdas yang dapat bertarung dan menggunakan ilmu pedang. Fenzu Zee sengaja membuat projek yang sangat besar pada penelitiannya kali ini karna ia ingin membalas dendam pada takdir yang tak adil padanya dan penduduk dunia semesta tingkat rendah. Fenzu Zee selalu berfikir mengapa hanya mereka yang tak memiliki kemampuan untuk menggunakan energi qi, menggunakan sihir, ataupun ilmu beladiri yang lainnya.


"Jadi untuk apa anda mengundang saya datang kesini?." tanya Xiao Ziya yang tak ingin berbasa basi lagi.


"Kami ingin menunjukkan sesuatu pada anda." ucap Fenzu Zee yang berjalan mendahului Xiao Ziya kemudian memencet sebuah tombol berwarna biru.


Tiba tiba beberapa ubin lantai ruangan itu bergeser dan menunjukkan ruangan lainnya, dari kejauhan Xiao Ziya dapat melihat ratusan orang dengan seragam putih sedang berlalu lalang. Fenzu Zee masuk kedalam ruangan itu diikuti oleh Xiao Ziya, semua orang menghentikan aktivitas mereka dan membungkukkan badan saat Fenzu Zee masuk kedalam.


"Selamat siang tuan." ucap mereka secara serempak.


"Tunjukkan penelitian terbaru kita pada tamu yang terhormat ini." ucap Fenzu Zee.


Beberapa pekerja membuka sebuah lemari es raksasa di sana terdapat tubuh robot yang sedang dibekukan. Entanh mengapa saat melihat tubuh robot itu Xiao Ziya mendengar suara suara jeritan manusia, mungkinkah untuk membuatnya mereka telah mengorbankan banyak jiwa?.


"Ini adalah robot cerdas yang akan sangat luar biasa saat pengerjaanya sudah selesai." ucap Fenzu Zee dengan ekspresi senangnya karna tak lama lagi apa yang ia mimpi mimpikan menjadi kenyataan.


"Kalian menggunakan jiwa manusia untuk membuat rongsokan ini?." tanya Xiao Ziya dengan wajah datarnya, robot cerdas yang ada di hadapannya itu terlihat biasa saja dan tak ada keunggulan apapun.


Fenzu Zee sangat terkejut mendengar perkataan dari gadis yang ada di sampingnya itu, bagaimana ia bisa tau jika pembuatan robot itu memerlukan seratus jiwa gadis muda untuk membangkitkan sebuah energi spiritual secara paksa. Sebelum pembuatan robot cerdas ini dimulai Fenzu Zee meminta bawahannya untuk menculik para gadis muda dari lapisan dunia lain karna ia tak ingin mengorbankan penduduknya sendiri. Mungkin bagi penduduk dunia semesta tingkat rendah, apa yang dilakukan oleh Fenzu Zee adalah hal yang baik namun bagi lapisan dunia yang lain pria itu adalah penjahat besar yang wajib untuk dibunuh.


"Bagaimana anda bisa tau hanya dengan melihatnya saja?." tanya Fenzu Zee dengan tubuh yang gemetaran.


"Anda kira saya ini apa? melihat hal seperti ini perkara yang mudah. Jadi bagaimana jika lapisan dunia lain mulai menyerang? apa yang bisa anda lakukan?." ucap Xiao Ziya dengan senyum sinisnya, Ziya tau hal apa yang terjadi jika tubuhnya dimasukkan kedalam robot itu.


Fenzu Zee meminta pada anak buahnya yang lain untuk menangkap Xiao Ziya, gadis itu sengaja diam saja saat ditangkap oleh mereka karna akhir dari para penjahat tak akan pernah bahagia. Para peneliti membuka bagian khusus dari robot itu kemudian memasukkan Ziya kedalamnya, setelah selesai mereka mengikat tangan dan kaki Xiao Ziya dengan sebuah alat yang sangat kuat. Bagian robot yang terbuka tadi kembali di tutup, Fenzu Zee tersenyum penuh dengan kemenangan karna mimpinya akan segera menjadi kenyataan.


"Nyalakan mesin itu." ucap Fenzu Zee yang memberikan perintah pada para peneliti yang ada di ruangan, mereka mulai menekan beberapa tombol untuk mengaktifkan robot tersebut.


Robot dengan ukuran yang cukup besar itu berdiri dengan tegak dengan mata merah menyala khas milik Xiao Ziya. Tak ada yang perlu dikhawatirkan dari gadis itu karna dia baik baik saja, bukannya robot itu yang mengendalikan fikiran Xiao Ziya namun Ziyalah yang memegang kendali penuh pada sang robot.


"Bukankah sudah ku bilang bahwa robot ini hanya rongsokan saja." ucap Xiao Ziya dengan suara pelan.


"Wahai robot ciptaanku, denganmu kita bisa menguasai dunia." ucap Fenzu Zee dengan suara tawa yang menggelegar di seluruh ruangan.


Robot itu menggerakkan tangannya, ia menampar Fenzu Zee dengan sangat keras hingga pria itu terpental dan menabrak tembok. Semua peneliti yang ada di ruangan sangat panik karna robot ciptaan mereka mengalami kerusakan.


"Bagaimana ini sang robot tak bisa dimatikan." ucap salah satu peneliti dengan wajah pucatnya.


"Seharusnya tak ada kultivator yang bisa tahan dengan serangan batin itu." ucap peneliti lain yang menambahkan efek hipnotis di dalam mesin sang robot.


Xiao Ziya sudah bosan berada di dalam tubuh rongsokan, ia melapisi seluruh tubuhnya menggunakan api hitam hingga perlahan lahan tubuh robot yang terbuat dari baja dan besi dengan berat lebih dari satu ton itu meleleh.


"Sialan apa yang kau lakukan dengan robotku." teriak Fenzu Zee yang tak terima jika usahanya selama ini hancur begitu saja karna Xiao Ziya.


Semua orang bekerja keras mengambil air untuk memadamkan api, semakin banyak air yang disiramkan semakin besar juga nyala api hitam itu. Akhirnya mereka hanya bisa pasrah melihat usaha selama bertahun tahun hancur dalam satu hari. Xiao Ziya keluar dari tubuh robot itu, ia menatap tajam ke arah para peneliti bajingan yang ada di hadapannya. Dengan cepat Xiao Ziya mengambil sebuah pedang yang ada di dalam cincin semesta kemudian menebas kepala para peneliti hingga mereka tewas.


Fenzu Zee menyaksikan semuanya, ternyata gadis itu bukanlah orang yang bisa ia singgung ataupun remehkan. Dari yang ia lihat kekuatan yang dimiliki oleh Xiao Ziya lebih besar dari sekelompok dewa.


"Jangan mendekat, saya adalah pemimpin di tempat ini." ucap Fenzu Zee yang terus mundur kebelakang, mungkin pria itu lupa bahwa saat ini ia sudah berbenturan dengan tembok.


"Dimana tawa angkuhmu tadi." ucap Xiao Ziya dengan sangat marah, mengorbankan banyak orang untuk sebuah penelitian yang tak berguna adalah hal yang sangat dibenci oleh Xiao Ziya.


"Menjauhlah, aku tak tau apa apa pergilah." ucap Fenzu Zee yang terkencing dicelana saking takutnya pada Xiao Ziya.


"Bagaimana caramu menebus semua ini? apakah aku harus memusnahkan seluruh keluargamu?. Atau penduduk yang sangat kau cintai ini?." ucap Ziya yang sudah mulai lepas kendali, samar samar ia masih mendengar jeritan pilu dari para gadis yang telah dikorbankan.


Xiao Ziya membacakan sebuah mantra sihir ia mengikat otak, mata, telinga, dan hati Fenzu Zee dengan siksaan yang ada di neraka. Saat ini Fenzu Zee dapat melihat dengan jelas arwah para gadis yang sedang menatap penuh dendam kearahnya, suara jeritan mereka yang sangat menakutkan, dan aura gelap yang membuat pria itu kesulitan untuk bernafas.


"Tidak kalian semua tak bisa mengalahkan ku saja." teriak Fenzu Zee seperti orang yang tak waras.


"Jangan mendekat ke arahku pergilah kalian." triak pria itu lagi dengan suara yang lebih histeris daripada sebelumnya.


"Nikmatilah hari harimu yang menyenangkan ini, bukankah ini lebih baik daripada saya langsung menebas kepalamu." ucap Xiao Ziya yang melangkah pergi dari tempat itu, ia berencana untuk kembali ke apartemen dan menyusun rencana lain. Sepertinya ada banyak orang yang terlibat dalam kasus ini, dan mereka semua harus mendapat hukuman yang setimpal.


Setelah Xiao Ziya pergi beberapa pekerja yang ada di gedung itu lari menuju ruang penelitian, mereka sangat khawatir dengan kondisi sang pemimpin saat ini. Benar saja setelah sampai di ruang penelitian mereka melihat Fenzu Zee yang sedang membentur benturkan kepalanya ke dinding hingga berdarah.


"Hubungi nyonya sekarang, bawalah tuan besar ke ruang kesehatan." ucap salah satu tangan kiri dari Fenzu Zee, ia tak mengira bahwa dampak dari memaksakan Xiao Ziya untuk menjadi bagian dari penelitian mereka akan separah ini.


Hai hai semua author balik lagi nih gimana kabar kalian semoga sehat terus ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote ya guys karna wajib, gift hadiah apapun, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.