RATU IBLIS

RATU IBLIS
Hiloz Dan Ayahnya


"Mengapa gadis itu memanggilku selarut ini apakah ia memerlukan bantuanku?." tanya Ziloz yang langsung bangun dari tempat tidurnya dan hendak pergi ke dunia bawah untuk menemui Xiao Ziya.


Namun saat ia membuka pintu kamarnya ada sang ayah yaitu Dewa Hiloz yang sedang menunggunya di luar kamar, dari raut wajah Dewa Hiloz bisa dipastikan ia tak senang karna gadis yang paling tak ia sukai di seluruh alam ini ingin menggoda putranya dimalam hari.


"Kemana kau akan pergi." tanya Dewa Hiloz pada putranya yang nampak kebingungan.


"Saya akan menemui orang yang memanggil saya tadi." ucap Ziloz dengan jujur karna ia tak mungkin membohongi sang ayah.


"Maksutmu gadis yang bernama Xiao Ziya itu?. Lebih baik kau urungkan niatmu karna ayah tak akan mengizinkanmu pergi." ucap Dewa Hiloz yang tak akan mengizinkan putranya untuk pergi.


"Jika ayah takut aku akan melakukan hal yang tak baik di sana sebaiknya ayah ikut saja denganku." ucap Ziloz yang memberikan sebuah saran pada sang ayah agar ikut bersama dengan dirinya.


Sedangkan saat ini Xiao Ziya sedang bertarung dengan sang dewi ular palsu, dewi ular palsu itu murka karna merasa telah dibohongi oleh Xiao Ziya. Ia sempat merasa sangat ketakutan jika ada dewa yang turun ke dunia bawah dan menangkapnya karna ia menggunakan identitas palsu sebagai dewi ular.


"Kata katamu hanyalah bualan saja, kau bilang akan ada anak dewa yang datang tapi mana buktinya." ucap sang dewi ular palsu yang tengah menertawakan Xiao Ziya. Xiao Muer juga merasa sangat puas karna kali ini ia melihat Xiao Ziya dipermalukan hingga seperti itu.


"Mereka akan datang." jawab Xiao Ziya dengan wajah yang tenang karna ia tau sebelum Ziloz datang ke dunia bahwa ia harus bertengkar terlebih dahulu dengan sang ayah karna Dewa Hiloz begitu tak menyukainya.


"Ahahaha kau kira aku akan percaya?." ucap wanita itu yang kini sedang mengeluarkan sebuah botol berisi racun dan hendak menyiramkanya ke wajah Xiao Ziya karna ia sangat benci dengan gadis yang memiliki kecantikan yang lebih darinya.


Untung saja Xiao Ziya segera menyadari hal itu dan langsung menghindar jika tidak wajahnya akan rusak parah, cairan racun pekat berwarna hitam itu berceceran di tanah dan seketika tanah yang terkena racun itu berubah menjadi hitam.


"Sialan mengapa kau malah menghindarinya." ucap sang dewi ular palsu yang marah pada Xiao Ziya karna gadis itu menghindar dari serangannya.


Entah kemana perginya otak sang dewi ular palsu itu apakah di seluruh lapisan dunia yang ada dimensi ini akan diam saja ketika diserang oleh orang lain? tentu saja tidak mereka akan mengindar agar tak terkena serangan itu.


"Apakah kau sudah menjual otakmu?." ucap Xiao Ziya yang menaikkan satu alisnya, ia tak habis fikir akan bertemu dengan wanita yang sangat bodoh seperti itu.


"Aku sangat membencimu aku membencimu." ucap sang dewi ular palsu yang merajuk pada Xiao Ziya seperti seorang anak kecil.


Xiao Ziya, dan piton merah yang menjadi wujud dari Xiao Muer merasa heran dengan tingkah wanita aneh itu.


"Sepertinya ia pasien rumah sakit jiwa." ucap Xiao Ziya yang ingat akan rumah sakit jiwa yang pernah ia kunjungi saat ia masih menjadi Zoya, disana banyak pasien yang bertingkah tak wajar seperti wanita yang ada di hadapannya itu.


Wilre melihat ke arah piton merah dan menatapnya dengan tajam sepertinya piton salju milik Xiao Ziya juga ingin bertarung. Xiao Ziya membuka kotak kayu yang mengurung piton merah dan membiarkan Wilre menyerangnya.


"Aaaaaa kau menyakiti pengikutku lagi." triak samg dewi ular palsu yang semakin menjadi jadi.


"Kau hanyalah dewi ular palsu jangan pernah membanggakan dirimu di hadapanku." ucap Xiao Ziya yang sengaja mengatakan hal itu karna ia merasakan kehadiran seorang dewa dan putrnya yang tengah mengawasi dari balik awan.


"Aku adalah dewi ular yang agung, di alam dewa tak ada yang lebih cantik dariku. Aku juga akan menikah dengan salah satu dewa sedangkan kau hanyalah gadis ingusan yang tak tau apa apa." ucap sang dewi ular palsu yang terkena jebakan Xiao Ziya.


Dewa Hiloz akhirnya mengerti mengapa Xiao Ziya memanggil putranya untuk datang, gadis itu ingin melaporkan tentang keberadaan dewi palsu yang akan mencemari nama baik dari alam dewa.


"Ayah masih mengira bahwa temanku itu memanggilku untuk mengoda? anakmu ini sudah puluhan kali ditolak olehnya." ucap Ziloz yang mulai kesal pada sang ayah. Entah mengapa fikiran ayahnya begitu sempit, seorang gadis yang sudah menolak berkali kali tak mungkin memanggilnya hanya untuk menggoda.


"Maaf karna ayah telah berburuk sangka, mari kita temui temanmu itu dan segera menangkap si dewi palsu." ucap Dewa Hiloz yang mengjak putranya untuk menemui Xiao Ziya.


Kedatangan Dewa Hiloz dan juga putranya tentu saja membuat tekanan yang ada di halaman depan paviliun Xiao Ziya meningkat. Dewi ular palsu menatap ke arah ayah dan putranya itu, dari aura yang mereka keluarkan jelas mereka berdua bukanlah orang sembarangan.


"Siapa kalian dan ada keperluan apa datang kesini?." ucap sang dewi ular palsu yang menanyai maksut kedatangan Dewa Hiloz dan Ziloz ke sana.


Namun Dewa Hiloz dan putrnya mengabaikan pertanyaan dari sang dewi ular palsu, mereka malah berjalan ke arah Xiao Ziya dan menghampiri gadis itu.


"Salam Dewa Hiloz." ucap Xiao Ziya yang memberikan salam pada Dewa Hiloz dengan sedikit membungkukkan badannya.


"Saya terima salammu." ucap Dewa Hiloz dengan wajah datarnya karna ia sedang menutupi rasa bersalah yang menyeruak di hati. Sebagai seorang dewa tentu saja ia memiliki naluri batin tentang kebaikan namun ia enggan mengakuinya pada Xiao Ziya.


"Tidak masalah, ah iya apakah di alam dewa memang ada yang menempati posisi dewi ular karna wanita yang ada di samping kalian itu mengaku sebagai dewi ular." ucap Xiao Ziya yang menunjuk ke arah dewi ular palsu.


"Di alam dewa kami tak ada gelar ataupun posisi dewi ular. Karna wanita ini telah mencemarkan alam dewa maka saya akan membawanya pergi dan memberi hukuman padanya." ucap Dewa Hiloz yang hendak menangkap sang dewi ular palsu itu.


Wanita itu merasa sangat ketakutan bagaimana bisa gadis itu memiliki teman yang merupakan anak dari seorang dewa api tingkat satu, jika ia mengetahui hal itu sedari awal maka ia akan kabur atau tak akan pernah datang ke sana.


"Sialan rupanya kata kata gadis itu bukanlah bualan." ucap sang dewi ular palsu yang ingin kabur namun secepatnya Dewa Hiloz mengurungnya dalam penjara api dan mengirim wanita itu ke alam para dewa untuk mendapatkan hukuman.


"Bukankah kita sudah berjumpa setelah sekian lama temanku? mengapa kau tak mempiri ke paviliunku bersama dengan ayahmu, saya akan menjamu kalian dengan baik." ucap Xiao Ziya yang menawarkan pada ayah dan anak itu untuk mampir ke paviliunnya sebelum kembali ke alam dewa. Setidaknya dengan kehadiran mereka berdua Xiao Ziya tak perlu membunuh dewi ular palsu itu dengan tantannya sendiri.


"Wilre saya akan masuk ke dalam paviliun persama Dewa Hiloz dan Ziloz apakah kau belum selesai bermain?." tanya Xiao Ziya pada piton salju kesayangannya itu. Wilre mangatakan bahwa ia masih ingin bermain main dengan piton merah jelek itu. Bermain main yang Xiao Ziya maksut adalah menyiksa piton merah itu.


"Hey tolong bawa peliharaanmu ini." ucap Xiao Muer dalam wujud ular piton merah, sepertinya ia sudah terluka cukup paran namun piton salju milik Xiao Ziya belum puas menyiksanya.


"Baiklah bermain mainlah terlebih dahulu jika kau lelah masuklah ke dalam." ucap Xiao Ziya yang tersenyum kemudian mengajak Dewa Hiloz dan Ziloz untuk masuk kedalam paviliunnya yang ada di Klan Xiao.


Tadinya Dewa Hiloz mengira bahwa bagian dalam dari paviliun milik Xiao Ziya akan nampak biasa biasa saja sehingga ia enggan untuk masuk kedalam, namun ketika Xiao Ziya membuka pintu dan mempersilahkan mereka untuk masuk kedalam Dewa Hiloz merasa sedikit terkejut karna paviliun milik gadis itu memiliki desain yang sangat indah serta barang barang kualitas unggul yang ada di sana. Beberapa senjata tingkat langit yang dijadikan hiasan dinding, sebuah batu spirit hewan jenis badak api yang dijadikan hiasan juga sungguh sebuah tempat yang luar biasa.


"Kalian tunggulah di sini saya akan menyiapkan beberapa cemilan." ucap Xiao Ziya yang pergi ke dapur.


Dewa Hiloz masih merasa nyaman dengan melihat lihat kesekeliling ruangan, sedangkan Ziloz sedang berusaha menahan tawanya ketika ayahnya bertingkah aneh seperti itu.


"Apa yang sedang ayah lihat?." tanya Ziloz dengan raut wajah serius yang dibuat buat.


"Temanmu ternyata sangat kaya." ucap Dewa Ziloz tanpa sadar ia memuji Xiao Ziya.


"Jadi bolehlah aku berteman dengannya?." tanya Ziloz yang berharap kali ini ayahnya akan luluh.


"Nanti kita akan bahas itu di rumah." ucap Dewa Hiloz yang kembali sadar karna Xiao Ziya sudah datang dengan membawa sebuah nampan besar.


Di dalam nampan itu ada potongan buah persik berumur seribu tahun, buah apel awet muda, beberapa irisan daging binatang tingkat tinggi yang sudah diasap dan diberi bumbu, semangkok kue kecil dengan krim berwarna merah serta beberapa gelas kecil anggur merah ribuan tahun.


"Silahkan di nikmati dan maaf hanya ini saja yang tersedia di paviliun saya karna saya sering bepergian kesana kemari." ucap Xiao Ziya dengan tulus karna ia merasa apa yang ia sajikan pada Dewa Hiloz dan Ziloz sangatlah kurang.


Sedangkan ekspresi dari Dewa Hiloz sangat tak terduga, akhirnya setelah sekian lama ia biasa melihat persik berumur seribu tahun serta makanan makanan dengan kualitas tinggi.


"Ini sudah sangat cukup nona Ziya, trimakasih atas jamuannya." ucap Dewa Hiloz yang sudah tak sabar untuk mencicipi semua hidangan.


"Silahkan dinikmati." ucap Xiao Ziya.


Dewa Hiloz nampak makan dengan sangat lahap sedangkan Ziloz fokus dengan daging asap dan kue kecil yang sangat lucu. Rasa yang dominan manis dan gurih tentu membuat anak dewa itu ketagihan.


"Di alam dewa tak ada yang bisa membuat kue dan daging asap seenak ini." ucap Ziloz yang memuji makanan yang disajikan oleh Xiao Ziya.


"Saya akan memberikan bingkisan kue dan juga daging asap itu jika kau menyukainya." ucap Xiao Ziya dengan santai sembari melihat Dewa Hiloz yang sedang menegak anggur merahnya.


"Benarkah? jika begitu aku akan membagikannya pada yang lain saat pagi hari." ucap Ziloz yang meras sangat senang ternyata pilihannya untuk menjadi teman Xiao Ziya adalah hal yang tepat. Kini mereka sudah lumayan dekat dan Ziloz juga ingin jika suatu saat Xiao Ziya menganggapnya sebagai kakak laki laki.


Xiao Ziya dan Ziloz sibuk menceritakan apa yang mereka lakukan selama tak bertemu sedangkan Dewa Hiloz melihat kedekatan putranya dengan gadis yang tak ia sukai. Entah mengapa melihat kedekatan mereka membuat Dewa Ziloz seperti memiliki seorang putri.


"Ya akan sangat bagus jika gadis itu menjadi putri angkatku." ucap Dewa Hiloz yang tanpa sadar luluh dengan sendirinya. Setelah mengengal Xiao Ziya lebih jauh Dewa Hiloz sadar bahwa gadis itu tak seburuk yang ia bayangkan.


Hai hai semua maaf up sore tapi aku udah ngasih tau yang ada di gc, plis ya kalau kalian mau masuk gcku paling enggak ada jejak komenan di novel ini. Hari ini aku sibuk aja bantuin emak wkwkwk jadi upnya sore. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga ya, gift hadiah apapun, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share. Jangan lupa mampir ke novel baruku Putri Amerilya.