
Saat ini Yue Agze sedang berada di ruang kerjanya, kini ia yang harus memimpin Kediaman Keluarga Bangsawan Yue Funzi. Tumpukan berkas yang sangat banyak membuat pemuda itu tak memiliki banyak waktu selain belajar di Akademi Wunyeng.
Yue Yinha mengetuk pintu ruang kerja putranya, setelah mendapatkan izin untuk masuk wanita itu masuk kedalam dan menatap ke arah putranya yang sedang menandatangani beberapa dokumun.
"Apa yang sedang kau kerjakan?." ucap Yue Yinha pada putranya.
"Saya sedang mengerjakan tugas tugas yang ada di Kediaman Keluarga Bangsawan Yue Funzi." ucap Yue Agze yang matanya tetap mengara pada tumpukan tumpukan kertas yang ada di depannya.
"Sekarang ibu sudah kembali, kau bisa beristirahat biar ibu yang mengerjakannya." ucap Yue Yinha yang sepertinya ingin menguasai Kediaman Keluarga Bangsawan Yue Funzi seperti dahulu.
Yue Agze menatap ke arah sang ibu, ia seperti bertanya tanya mengapa ibunya mengatakan hal itu apakah ibunya ingin kembali menguasai Kediaman Keluarga Bangsawan Yue Funzi.
"Ibu istirahat saja biar saya yang mengerjakan semua ini." ucap Yue Agze yang tak ingin kedudukan yang ia dapatkan saat ini direbut oleh orang lain.
Yue Yinha mendekat ke arah putranya, wanita itu mendorong kursi yang di duduki oleh Yue Agze hingga pemuda itu jatuh terjungkal. Yue Agze terkejut mengapa ibunya memperlakukannya seperti itu padahal ia yang telah mengeluarkan ibu dan kedua kakak perempuannya dari penjara bawah tanah Istana Kerajaan Hitam. Setelah Yue Agze jatuh wanita itu mengambil kursi yang tadinya di duduki oleh putranya, setelah memposisikan kursi itu dengan benar Yue Yinha langsung duduk.
"Tempat dan posisi sebagai kepala keluarga hanya ibu saja yang pantas menepatinya." ucap Yue Yinha yang tersenyum ke arah Yue Agze.
Wanita itu masih kesal pada putranya walau putranya itu yang sudah membuatnya terbebas dari penjara namun karna putranya juga ia harus tersiksa di dalam penjara.
"Prajurit." ucap Yue Yinha yang memanggil beberapa prajurit yang menjaga Kediaman Bangsawan Yue Funzi. Beberapa prajurit masuk kedalam ruang kerja dan menghadap ke arah Yue Yinha.
"Ada apa nyonya?." ucap beberapa prajurit yang kebingungan mengapa mereka tiba tiba dipanggil.
"Bawa tuan muda Yue Agze ke halaman belakang, cambuk ia sebanyak seratus kali." ucap Yue Yinha yang ingin menghukum putranya.
"Mengapa ibu melakukan hal ini ada saya." ucap Yue Agze yang tak terima, mengapa ia diperlakukan seperti itu.
"Kau harus merasakan penderitaan yang ibu dan kedua kakakmu rasakan." ucap Yue Yinha yang meminta pada para prajurit agar membawa putranya itu pergi.
Beberapa prajurit yang datang kedalam ruang kerja langsung menyeret Yue Agze menuju halaman belakang, setelah membawa Yue Agze kehalaman belakang ada dua prajurit yang mengikat tangan Yue Agze kemudian mulai mencambuk pemuda itu.
"Ibu mengapa anda melakukan hal ini pada saya." ucap Yue Agze yang kesakitan tubuhnya sudah berlumuran darah setelah mendapat cambukan sebanyak lima puluh kali.
Hal pertama yang terbersit di dalam fikiran pemuda itu hanyalah perkataan Xiao Ziya sebelum gadis itu mengabulkan permintaanya untuk membebaskan ibu dan kedua kakak perempuannya dari penjara. Mungkin ini yang dimaksut oleh Xiao Ziya.
Sedangkan Xiao Ziya saat ini sedang berada di halaman depan istana Kerajaan Hitam, gadis itu sedang memakan beberapa buah buahan segar yang ia taruh di atas nampan besar.
"Hah mengapa banyak orang bodoh yang tak ingin mendengarkan perkataanku." ucap Xiao Ziya yang duduk bersila beralaskan rumput, gadis itu mendongakkan kepalanya ketas sembari memandangi langit sore yang indah.
Melihat sang adik yang sedang bersantai Pangeran Zeeling dan Pangeran Anz datang menghampiri Xiao Ziya. Mereka duduk di samping Xiao Ziya dan mengambil buah anggur yang ada di nampan gadis itu.
"Apa yang sedang kau lakukan di sini sendirian?." tanya Pangeran Zeeling yang menatap ke arah Xiao Ziya.
Xiao Ziya menolehkan kepalanya ke arah Pangeran Zeeling kemudian gadis itu melihatkan senyuman yang cerah dan cantik.
"Saya hanya sedang menatap langit sore yang cantik." ucap Xiao Ziya yang kembali menatap ke arah langit. Kedua pangeran mengikuti adiknya menatap langit sore yang berwarna biru setengah jingga.
"Langit itu tak lebih indah dari adik kami yang cantik ini." ucap Pangeran Anz yang langsung memeluk Xiao Ziya yang ada di sampingnya. Xiao Ziya yang terkejut karna kakak laki lakinya memeluknya dengan tiba tiba membuat gadis itu terjungkal kebelakang dengan posisi masih dipeluk oleh Pangeran Anz.
Pangeran Zeeling yang melihat hal itu merasa iri, ia ikut merebahkan tubuhnya di atas rumput hijau dan memeluk Xiao Ziya dari arah yang lain. Xiao Ziya tersenyum dengan senang ia memiliki banyak kakak laki laki yang sayang padanya.
"Hey kalian berdua sangatlah berat." ucap Xiao Ziya dengan sebuah tawa lucu yang keluar dari bibirnya.
"Apakah kau malu?." ucap Pangeran Zeeling yang melihat ada semburat merah muda yang muncul di pipi Xiao Ziya.
"Tidak saya tak merasa malu, Zeeling gege jangan menggoda saya." ucap Xiao Ziya yang menutupi rasa malunya.
Xiao Ziya dan kedua pangeran memejamkan mata mereka dan menikmati suasana sore yang membuat mereka bertiga mengantuk dan perlahan lahan mulai tertidur dengan posisi yang sama yaitu kedua pangeran masih memeluk Xiao Ziya.
Ketika mereka bertiga sedang menikmati indahnya suasana sore Yue Agze malah tersiksa oleh hukuman yang diberikan oleh ibu dan kedua kakak perempuannya. Setelah mendapat hukuman seratus cambukan dari sang ibu Yue Agze dipukuli oleh kedua kakak perempuannya, mereka memukuli pemuda itu hingga pingsan.
"Mengapa mereka bertiga sangat kejam pada saya." ucap Yue Agze yang sedang berada di dalam kamarnya pemuda itu sedang mengobati tubuhnya yang penuh dengan luka cambuk dan lebam lebam.
Esok hari pemuda itu harus pergi ke Akademi Wunyeng bagaimana ia harus menjelaskan pada teman temannya ia yang telah menghianati kepercayaan yang diberikan oleh Xiao Ziya kemudian ia mendapatkan perilaku yang buruk dari ibu dan kedua kakak laki lakinya.
Hari sudah malam Xiao Ziya dan kedua kakak laki lakinya masih tertidur di halaman depan Istana Kerajaan Hitam. Raja Zeus saat ini sedang mencari keberadaan kedua pangeran namun ia tak kunjung menemukannya, setelah mencari kesana kemari ia menemukan kedua putranya itu sedang tertidur di halaman depan istana beralaskan rumput dengan posisi sedang memeluk putri angkat kesayangannya.
"Hah lihatlah mereka bertiga tidur di luar seperti ini tak baik untuk kesehatan." ucap Raja Zeus yang mendekat ke arah Xiao Ziya dan kedua pangeran yang masih terlelap.
"Bangunlah saat ini sudah malam, jika kalian ingin tidur maka tidurlah di kamar kalian masing masing." ucap Raja Zeus yang sedang berusaha membangunkan putri dan kedua putranya.
Pangeran Zeeling dan Pangeran Anz merasa terganggu, mereka berdua membuka mata mereka dan langsung duduk sedangkan Xiao Ziya masih tertidur dengan lelap tanpa merasa terusik sedikitpun.
"Apakah kita tadi tertidur di sini?." ucap Pangeran Anz yang sepertinya tak sadar bahwa mereka bertiga terlalu asik menikmati suasana sore hingga tertidur lelap.
"Kalian tidur seperti orang mati saja." ucap Raja Zeus yang meledek kedua putranya itu.
"Sepertinya adik Ziya merasa kelelahan sebaiknya saya membopongnya ke kamar." ucap Pangeran Zeeling yang dengan sigap menggendong Xiao Ziya dan membawanya masuk kedalam Istana Kerajaan Hitam sedangkan Raja Zeus dan Pangeran Anz kembali ke kamar mereka masing masing.
Ditempat lain tepatnya Klan Xiao yang ada di dunia bawah. Xiao Cunyu sedang ada di paviliunnya ia sedang bermain dengan Zoe yang kini sudah berusia empat tahun.
"Putraku kemarilah." ucap Xiao Cunyu yang meminta ada Zoe untuk mendekat ke arahnya. Dengan cepat Zoe berlari ke arah Xiao Cunyu.
"Ada apa ayah? apakah Ziya jiejie akan segera pulang?." tanya Zoe yang sepertinya merindukan Xiao Ziya. Anak manis itu memang jarang bertemu dengan Xiao Ziya walau Xiao Ziya masih berada di dunia bawah dan kini mereka berdua harus berpisah jauh.
"Jie jiemu masih sibuk sekarang, semoga saja ia cepat kembali karna ayah juga merindukannya." ucap Xiao Cunyu yang sedang merindukan putrinya yang cantik itu. Setiap malam Xiao Cunyu selalu memikirkan bagaimana kabar Xiao Ziya apakah gadis itu baik baik saja di sana ataukah saat ini ia sedang menghadapi masalah besar.
"Lalu mengapa ayah memanggilku?." ucap Zoe yang menatap ke arah Xiao Cunyu dengan tatapan polos.
"Besok kita akan pergi ke kerajaan untuk menemui kakak laki lakimu." ucap Xiao Cunyu yang ingin mengajak Zoe pergi ke Istana Kekaisaran Qiyu untuk bertemu dengan Xiao Yan sepertinya ada hal penting yang ingin mereka bahas.
"Baiklah ayah." ucap Zoe yang tersenyum dengan lucu kemudian ia kembali bermain dengan beberapa prajurit dan pelayan yang tinggal di paviliun milik Xiao Cunyu.
Haripun sudah berganti matahari mulai menampakkan cahyanya dengan samar samar, Xiao Ziya mengerjap kerjapkan matanya perlahan gadis itu sedikit kebingungan karna saat bangun ia sudah berada di dalam kamar.
"Mengapa saya bisa berada di dalam kamar?." tanya Xiao Ziya yang kebingungan pasalnya kemarin ia berada di halaman depan istana bersama kedua pangeran.
Karna tak ingin terlalu memikirkan hal yang tak penting Xiao Ziyapun bangun dari tempat tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi, setelah selesai dan menggunakan sebuah gaun berwarna merah muda gadis itu berjalan keluar dari kamarnya.
"Sebaiknya saya pergi ke Akademi Wunyeng untuk melihat kondisi putra kepala akademi." ucap Xiao Ziya yang bergegas pergi dari Istana Kerajaan Hitam, gadis itu ingin melihat kondisi Yunho apakah ia sudah sepenuhnya sembuh atau masih ada racun yang tersisa di dalam tubuh pemuda itu.
Setelah sampai di Akademi Wunyeng Xiao Ziya langsung pergi menuju ruang kerja Kepala Akademi Wunyeng. Gadis itu melihat Welinzo sedang berbincang bincang dengan beberapa guru di depan ruang kerjanya, melihat kehadirah Xiao Ziya mereka semua langsung membungkukkan badan dan mengucapkan salam pada gadis itu.
"Salam saya pada kepala akademi dan guru yang lain." ucap Xiao Ziya yang membalas salam mereka berdua.
"Kebetulan sekali nona Ziya datang kesini ada beberapa hal yang ingin kami bahas bersama nona." ucap Kepala Akademi yang sepertinya ingin menyampaikan hal penting pada Xiao Ziya. Kepala akademi dan para guru Akademi Wunyeng mengajak Xiao Ziya untuk masuk ke ruang rapat.
Setelah masuk ke ruang rapat mereka menempati tempat duduk masing masing begitupun dengan Xiao Ziya, gadis itu tak mengerti mengapa ia harus hadir dalam rapat tersebut padahal ia bukanlah anggota Akademi Wunyeng.
"Kami sengaja mengundang nona dalam rapat ini, karna kami ingin menyampaikan hal yang sangat penting." ucap Minzo salah satu guru murid dalam.
"Sebelumnya kami semua sudah berunding tentang kekosongan posisi Pemimpin Akademi Wunyeng dan kami semua sepakat menjadikan nona Xiao Ziya sebagai pemimpin akademi karna nona memiliki kemampuan yang mumpuni, selain itu nona memiliki banyak cara baru untuk membuat para murid inti semangat dalam berlatih. Jika nona menjadi pemimpin akademi ini maka bisa dipastikan Akademi Wunyeng akan sangat maju." ucap Kepala Akademi yang menyampaikan bahwa semua pihak Akademi Wunyeng ingin Xiao Ziya mengisi posisi pemimpin akademi yang kosong.
Xiao Ziya sempat terdiam sejenak gadis itu berfikir menjadi pemimpin akademi di sebuah akademi yang beasar memanglah posisi yang lumayan, namun ia juga tak suka berdiam diri di suatu tempat dalam jangka waktu yang lama gadis itu ingin merasakan bagaimana rasanya tinggal di setiap lapisan dunia.
"Maaf sebelumnya saya tak bisa menerima posisi sebagai pemimpin akademi kalian." ucap Xiao Ziya yang membuat semua orang merasa kecewa.
"Mengapa nona menolak permohonan kami? bukankah posisi ini cukup tinggi?." ucap Ayunzo yang tak mengerti dengan cara berfikir Xiao Ziya.
"Saya sudah memiliki posisi yang cukup tinggi di Kerajaan Hitam, selain itu suatu hari saya akan kembali ke dunia bawah untuk berkumpul dengan keluarga saya dan teman teman saya. Saya juga telah menjadi seorang master di salah satu akademi yang ada di sana, saya juga harus menjaga kesetabilan setiap wilayah kerajaan yang ada di bawah pengawasan saya. Banyak hal yang ingin saya lakukan sehingga saya tak bisa menerima posisi sebagai Pemimpin Akademi Wunyeng." ucap Xiao Ziya yang memberitaukan sebagian alasan mengapa ia tak bisa menerima penawaran yang sangat bagus itu. Semua mengerti bahwa Xiao Ziya sudah menanggung banyak beban dan memiliki posisi yang tinggi di tempat asalnya mereka tak akan memaksa gadis itu untuk menerima posisi sebagai pemimpin akademi.
"Baiklah jika memang itu keputusan nona, kami tak bisa memksakan kehendak kami." ucap Kepala Akademi Wunyeng yang terlihat sedih, mungkin pria itu mengira Xiao Ziya kan tinggal di dunia atas dalam jangka waktu yang lama.
"Ah iya saya kesini untuk menemui Yunho, dimana ia sekarang?." tanya Xiao Ziya pada kepala akademi, seketika wajah sedih kepala akademi berubah menjadi senang. Dengan cepat pria itu menarik tangan Xiao Ziya keluar dari ruang rapat dan pergi menuju kediamannya.
Saat sampai di kediaman kepala akademi, Xiao Ziya melihat Yunho yang sedang duduk bersandar di salah satu pohon mangga. Terlihat pemuda itu sangat murung entah apa yang tengah ia fikirkan. Kepala akademi melepaskan genggaman tangannya dan membiarkan Xiao Ziya berjalan mendekat ke arah putranya.
"Mengapa kau sendirian di sini? bukankah kau bisa berlatih bersama para murid akademi yang lain?." ucap Xiao Ziya yang mengambil posisi duduk di depan Yunzo.
Pemuda itu terlihat terkejut ketika Xiao Ziya berada di hadapannya, wajah murungnya juga berubah menjadi bahagia. Sepertinya Yunho memang menunggu kedatangan Xiao Ziya, apakah pemuda itu telah jatuh pada pesona kecantikan yang dimiliki oleh Xiao Ziya?.
"Ah ternyata nona Ziya, mengapa anda datang kesini?." tanya Yunho pada Xiao Ziya dengan senyum lebar yang menghiasi bibirnya.
"Saya datang untuk melihat bagaimana kondisimu sekarang, sepertinya kau baik baik saja." ucap Xiao Ziya yang tak melihat adanya efek samping dari pil yang ia berikan pada pemuda itu.
"Berkat nona sekarang saya sudah baik baik saja." jawab Yunho dengan malu malu.
Melihat tingkah Yunho yang sedikit aneh membuat Xiao Ziya keheranan, ada apa dengan pemuda yang ada di hadapannya itu? apakah kepalanya sudah terbentur sesuatu sehingga sifatnya menjadi sangat aneh ataukah ia salah makan.
"Saya ingin mengatakan sesuatu pada nona, saya harap nona menerimanya." ucap Yunho yang ingin memastikan Xiao Ziya akan menerima hal yang ingin ia sampaikan.
"Saya tak bisa berjanji tentang hal itu." ucap Xiao Ziya yang tak ingin menjanjikan apapun pada pemuda itu.
"Saya ingin nona menjadi kekasih saya, apakah nona akan menerimanya?." ucap Yunho yang mengungkapkan isi hatinya pada Xiao Ziya. Kepala akademi yang sedang mengawasi mereka berdua sangat berharap Xiao Ziya menerima pernyataan cinta dari putranya itu.
"Maaf saya tak bisa menerima itu, saya tak ingin menjalin hubungan dengan pemuda manapun. Masih terlalu muda bagi saya jika harus memikirkan soal percintaan." ucap Xiao Ziya yang telah menolak ungkapan perasaan dari seorang pemuda untuk kesekian kalinya.
"Saya benar benar tulus menyayangi nona." ucap Yunho yang tetap berusaha agar pernyataan cintanya diterima oleh Xiao Ziya.
"Tapi saya tak memiliki perasaan yang sama dengan anda, saya harap anda memberikan rasa sayang anda pada gadis yang tepat." ucap Xiao Ziya yang tetap menolak Yunho. Akhirnya pemuda itu hanya biasa pasrah saja Yunho langsung pergi masuk kedalam kediaman kepala akademi.
Kepala akademi yang melihat putranya begitu sedih langsung menyusul Yunho masuk kedalam kediamannya sedangkan Xiao Ziya memilih pergi dari sana. Gadis itu ingin pergi ke Kelas murid inti dan melihat bagaimana perkembangan latihan para mantan muridnya itu.
Hai hai semuanya author balik lagi nih, jangan lupa jaga kesehatan kalian ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote ya guys itu wajib, gift hadiah apapun, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga.