
Xiao Ziya, Raja Artur, dan Ratu Rexuca berjalan menuju Kerajaan Bulan, mereka bertiga akan mengumumkan kekalahan Raja Anling Zee pada semua orang. Saat tiba di wilayah perbatasan Kerajaan Bulan, beberapa penjaga perbatasan menghalangi mereka untuk masuk kedalam. Para penjaga perbatasan tak ingin mendengar alasan adapun dari Xiao Ziya, meski Raja Anling Zee telah gugur dalam peperangan masih ada Ratu Jinha Zee yang masih hidup dan kini berada di rumah orang tuanya, lagipula Pangeran Yozan Zee dan Putri Jifana masih dalam kondisi baik baik saja mereka berdua akan memimpin Kerajaan Bulan sementara waktu.
Karna para penjaga perbatasan sangat keras kepala, akhirnya Xiao Ziya membunuh mereka semua agar tak ada yang menghalangi jalannya lagi. Kini ketiga orang itu telah masuk kedalam wilayah Kerajaan Bulan, banyak penduduk yang menatap mereka dengan tatapan tajam. Sepertinya penduduk Kerajaan Bulan tak akan menerima kehadiran Xiao Ziya dengan mudah, mereka takut penindasan akan terjadi jika pemimpin baru naik tahta.
"Pergilah dari sini, meski Raja Anling Zee telah kalah kami tak akan mengakui kemenangan kalian." triak beberapa penduduk dengan suara lantang, Xiao Ziya tersenyum ke arah mereka dengan mengeluarkan aura membunuh yang cukup pekat.
"Saya tidak membutuhkan pengakuan kalian." jawab Xiao Ziya dengan nada datar.
"Orang orang tak tau diri ini sungguh berisik, bukankah lebih baik jika mereka saya rubah menjadi patung." ucap Ratu Rexuca dengan tatapan tajam, penduduk Kerajaan Bulan harus menerima kegagalan dari raja mereka dan memperlakukan pemimpin barunya dengan baik.
"Bagaimana kami bisa menerima kehadiran orang asing seperti kalian, kondisi kami saat ini sudah sangat buruk dan jangan menambah beban kami." ucap salah seorang wanita paruh baya dengan raut wajah lelah yang terlihat jelas.
"Saya dan sekutu saya telah memenangkan peperangan ini. Terima ataupun tidak kami akan tetap mengambil alih Kerajaan Bulan." ucap Xiao Ziya, gadis itu memberikan isyarat agar Raja Artur dan Ratu Rexuca terus berjalan menuju Istana Kerajaan Bulan tanpa mempedulikan tatapan penuh kebencian oleh penduduk setempat.
Setelah perjalanan yang cukup panjang akhirnya mereka bertiga sampai di depan gerbang masuk Kerajaan Bulan. Para prajurit penjaga gerbang langsung berkumpul dan menahan mereka bertiga agar tak masuk kedalam istana.
"Kalian dilarang masuk kedalam, kami sedang menunggu Yang Mulia Raja Anling Zee kembali." ucap para penjaga gerbang masuk Istana Kerajaan Bulan.
Xiao Ziya hanya tersenyum miring, gadis itu mengeluarkan mayat Raja Anling Zee dari dalam cincin semesta miliknya. Melihat tubuh tak bernyawa milik raja mereka membuat prajurit penjaga gerbang terkejut, bagaimana mungkin Raja Anling Zee kalah melawan seorang gadis yang baru berusia belasan tahun. Apakah informasi mengenai pihak musuh yang mereka terima selama ini salah? sehingga Raja Anling Zee tak dapat memaksimalkan rencananya.
"Kau telah membunuh raja kami, kami tak akan membiarkan kalian masuk kedalam istana." ucap beberapa prajurit dengan sorot mata tajam, mereka sangat marah karna kehilangan Raja Anling Zee.
"Dalam peperangan hal semacam ini sangat wajar, jika tak ingin mati di medan perang jangan pernah menyatakan perang pada pihak lain." jawab Raja Artur dengan tatapan tak suka. Semua orang yang tinggal di wilayah Kerajaan Bulan memiliki sifat yang hampir sama, mereka semua sangat menyebalkan dan keras kepala.
"Tetap saja kami tak bisa menerima kekalahan ini!!." triak para prajurit penjaga gerbang itu, beberapa dari mereka masuk kedalam istana untuk memberitahukan pada yang lain.
"Jika kalian tak terima, saya tinggal membunuh kalian semua." ucap Xiao Ziya. Respon dari gadis itu membuat prajurit dari Kerjaan Bulan sangat terkejut, apakah gadis muda itu tak bisa mengalah dan kembali saja ke tempat asalnya.
"Kami tak menginginkan pertumpahan darah terjadi di sini, bisakah anda mundur dan membiarkan kami hidup dengan tenang?." ucap salah seorang jenderal yang masih berada di Istana Kerajaan Bulan saat yang lain turun ke medan perang.
"Wilayah Kerajaan Bulan adalah hadiah karna pihak kami telah memenangkan perang. Seorang Jenderal Besar seperti anda tak mengetahui hal hal mendasar seperti ini? anda perlu membaca banyak buku terlebih dahulu." jawab Xiao Ziya dengan tatapan dingin.
"Anda ingin menantang saya!." triak jenderal itu dengan cukup keras.
"Mari bertarung, jika anda kalah saya dan kedua rekan saya akan masuk kedalam istana." ucap Xiao Ziya dengan senyuman miring, jika cara halus tak dapat mereka terima maka Xiao Ziya akan melakukan cara kasar untuk mendapat pengakuan.
Jenderal itu mengambil semua senjatanya yang ada di dalam istana, Xiao Ziya sudah siap dengan pedang hitam yang ia genggam. Tak lama kemudian sang jenderal keluar dengan memakai amor perang serta membawa beberapa senjata bersamanya seperti pedang, tombak, dan kapak besi. Xiao Ziya sedang berusaha sekuat mungkin untuk menahan tawanya yang ingin pecah, mengapa jenderal itu melakukan persiapan perang saat ia akan bertarung melawan satu orang saja.
"Anda terlihat konyol sekali." ucap Xiao Ziya yang tak bisa menahan tawanya. Kini gadis itu sedang tertawa dengan sangat kencang bersama dengan Raja Artur dan Ratu Rexuca.
"Kau ingin pergi kemana Tuan Jenderal, peperangan sudah berakhir." ucap Ratu Rexuca yang masih menertawakan jenderal itu.
"Untuk melawan seorang gadis saja dia harus memakai amor, ahahaha seperti inikah latihan kalian." ucap Raja Artur dengan kata kata ejekan yang cukup menusuk hati para jenderal dan prajurit yang ada di luar gerbang masuk Istana Kerajaan Bulan.
"Apa yang sedang kalian tertawakan, persiapan seperti ini sangat penting jika ingin bertarung dengan seseorang." ucap jenderal itu, ia sedang membela diri dari semua hinaan itu.
"Namun yang anda lawan seorang gadis belasan tahun." ucap Ratu Rexuca yang tak bisa berhenti untuk tertawa, ia akan langsung menghilang dari dunia jika berada di posisi jenderal itu.
"Sudahlah mari kita mulai pertarungannya. Tolong bunuh saja mereka yang ingin menganggu jalannya pertarungan." ucap Xiao Ziya yang berpesan pada Raja Artur dan Ratu Rexuca. Kedua orang itu mengacungkan jempol mereka sebagai tanda setuju dengan permintaan gadis itu.
Xiao Ziya menatap ke arah Jenderal Besar Kerajaan Bulan yang ada di hadapannya itu, Xiao Ziya tersenyum kemudian melesat ke arah sang jender dan menebas amor yang jenderal itu gunakan dengan pedang hitamnya. Satu tebasan dari Xiao Ziya dapat memotong amor besi milik jenderal itu, perbedaan kekuatan yang sangat jauh antara mereka akhirnya terlihat. Sang jenderal tak ingin diam saja, ia berusaha melakukan serangan balasan pada Xiao Ziya. Jenderal itu melemparkan kapak besi miliknya ke arah Xiao Ziya namun dengan cepat gadis itu menangkap kapak tersebut.
"Berhenti bermain main Tuan Jenderal." ucap Xiao Ziya dengan tatapan serius, gadis itu tak mau membuang waktunya untuk hal hal tak berguna seperti ini. Karna merasa kesal, tanpa sadar Ziya membengkokkan kapak besi itu menggunakan kedua tangan mungilnya.
"Gadis itu monster, mana mungkin seorang gadis biasa bisa melakukan hal semacam itu." ucap salah seorang Prajurit Kerajaan Bulan, ia yakin sang jenderal tak akan menang melawan seorang monster.
"Saya belum menyerah!." triak jenderal itu kemudian kembali mencoba untuk menyerang Xiao Ziya menggunakan pedang yang ia bawa. Xiao Ziya menangkis setiap serangan menggunakannya pedang hitamnya, dan akhirnya pedang milik sang jenderal patah menjadi beberapa bagian.
"Sialan, ilmu hitam apa yang telah kau pelajari hingga bisa sekuat ini." ucap Jenderal Besar Kerajaan Bulan itu, kini pria itu mencoba untuk memojokkan Xiao Ziya menggunakan kata kata.
"Anda yang lemah mengapa saya yang salah?." ucap Xiao Ziya dengan senyuman meledek, gadis itu tau niatan buruk dari sang jenderal yang ingin menghancurkan mentalnya.
"Tanpa ilmu hitam kau tak akan tumbuh sebanyak ini dalam usia muda." ucap jenderal itu dengan senyuman jahat yang terlihat menjijikkan.
"Kau terlalu banyak bicara seperti seorang wanita, mari kita lanjutkan pertarungan ini untuk menentukan siapa pemenangnya." jawab Xiao Ziya dengan santai, gadis itu mengangkat pedang hitamnya hingga mengarah ke atas langit. Terlihat langit di atas kepala Xiao Ziya berubah menjadi hitam, sang jenderal sangat panik karna gadis itu akan mengeluarkan serangan yang kuat.
"Kilat neraka." ucap Xiao Ziya degan sorot mata berwarna merah. Sebuah petir hitam pekat menyambar tubuh Jenderal Besar Kerajaan Bulan hingga hangus menjadi debu, semua prajurit Kerajaan Bulan yang menyaksikan hal itu tak bisa menerimanya.
"Kau curang!!." triak seorang prajurit namun dalam hitungan detik tubuhnya tersambar petir dan mati ditempat.
"Diamlah jika kalian ingin hidup lebih lama. Saya bukan orang yang ingin menyiksa kalian seperti ini, namun saya juga membenci orang orang yang keras kepala." ucap Xiao Ziya dengan nada dingin yang membuat semua prajurit Kerajaan Bulan merinding.
Akhirnya para prajurit penjaga gerbang membukakan gerbang agar Xiao Ziya dan kedua rekannya bisa masuk kedalam Istana Kerajaan Bulan, mereka tak bisa melakukan apapun untuk mempertahankan tahta kerajaan hingga Ratu Jinha Zee kembali. Para prajurit Kerajaan Bulan hanya berharap gadis bernama Xiao Ziya itu tak akan menyesengsarakan penduduk Kerajaan Bulan. Xiao Ziya, Raja Artur, dan Ratu Rexuca tiba di aula utama Kerajaan Bulan, di ruangan itu terdapat sebuah singgasana tempat pemimpin kerajaan duduk.
"Silahkan naik ke tempatmu nona Ziya." ucap Ratu Rexuca dan Raja Artur secara bersamaan. Mereka bangga melihat keberhasilan gadis muda itu dalam memimpin jalannya peperangan, kali ini Ratu Rexuca belajar banyak hal dari Xiao Ziya.
Sebelum naik ke atas singgasana Kerajaan Bulan, Xiao Ziya melihat ke arah para pelayan dan prajurit yang sudah berkumpul di sana. Gadis itu melihat ekspresi ketakutan, khawatir, dan cemas yang mereka semua tunjukkan. Memang sangat sulit menerima pemimpin baru, apalagi Xiao Ziya bukan berasal dari Dunia Manusia Abadi mereka cemas jika gadis itu tak dapat menjaga Kerajaan Bulan dengan baik.
"Sebelum duduk di atas singgasana itu saya akan memberitahukan beberapa hal pada kalian, saya tak akan menghancurkan atau merusak wilayah Kerajaan Bulan, saya tak akan menindas penduduk Kerajaan Bulan jika mereka tak melakukan kesalahan, jika Ratu Jinha Zee kembali dan memenuhi persyaratan yang saya inginkan saya akan memberkkan tahta kerajaan ini pada beliau, itu saja yang ingin saya sampaikan pada kalian semua." ucap Xiao Ziya kemudian gadis itu duduk di atas tahta Kerajaan Bulan dengan sangat anggun dan berwibawa.
Dengan jatuhnya Kerajaan Bulan ke tangan Xiao Ziya, wilayah itu akan memiliki masa depan yang lebih cerah. Xiao Ziya bukanlah gadis yang tamak akan kekuasaan, ia hanyalah seorang gadis yang akan menjaga martabat dan harga dirinya sebaik mungkin. Selama orang itu tak membuat masalah terlebih dahulu, maka Xiao Ziya tak akan melakulan hal hal menyeramkan padanya. Saat Xiao Ziya sudah duduk di atas singgasana ada beberapa prajurit dan pelayan Kerajaan Bulan yang bersorak untuknya, perlahan lahan dinding diantara mereka akan menghilang dan mereka akan percaya bahwa Xiao Ziya memang pantas menempati singgasana itu.
"Saya mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan Raja Artur, Ratu Rexuca, serta rekan yang lain. Tanpa bantuan kalian saya tak akan bisa memenangkan peperangan ini." ucap Xiao Ziya dengan senyuman manis yang membuat banyak orang jatuh hati padanya.
"Jangan merendah seperti itu, kau bahkan bisa mengatasi ratusan ribu prajurit dengan kemampuan mu sendiri." ucap Ratu Rexuca dengan tawa pelan. Gadis itu sangat baik dalam segala hal, siapapun yang akan menjadi pendampingnya di masa depan adalah pria paling beruntung di semesta ini.
"Kami akan kembali ke markas terlebih dahulu, jika pestanya sudah siap kau bisa menghubungiku gadis nakal." ucap Raja Artur dengan senyuman meledek yang ia tunjukkan pada Xiao Ziya.
"Baiklah, kakek tua seperti anda memang harus banyak beristirahat." ucap Xiao Ziya yang mrmbalikkan ledekan dari Raja Artur.
"Sudahlah jangan bertengkar, kami pamit dulu Nona Ziya." ucap Ratu Rexuca yang segera menarik tangan Raja Artur untuk pergi dari Istana Kerajaan Bulan.
Kini tinggal Xiao Ziya, para prajurit, dan pelayan Kerjaan Bulan yang masih berada di dalam aula utama.
"Baiklah, bagaimana jika kalian menyiapkan pesta kemenangan untuk kami." ucap Xiao Ziya pada para prajurit dan pelayan yang ada di aula utama.
Para pelayan dan prajurit itu saling memandang satu sama lain, meskipun Kerajaan Bulan salah satu kerajaan besar yang ada di Dunia Manusia Abadi, ada satu hal yang tak pernah dilakukan oleh Raja Anling Zee. Sang raja tak pernah membuat pesta besar besaran untuk merayakan atau menyambut hal yang membahagiakan, Raja Anling Zee selalu mengatakan bahwa mereka semua perlu menghemat kas istana untum masa depan Kerajaan Bulan.
"Kami tak mengetahui dimana harta istana disembunyikan." ucap salah seorang prajurit dengan ekspreso takut, ia hanya sedang berfikir bagaimana jika pemimpin baru mereka akan marah setelah mengetahui hal itu.
"Jadi siapa yang bertanggung jawab mengurus kas istana?." tanya Xiao Ziya dengan raut wajah bingung. Biasanya ada beberapa prajurit yang dipilih secara khusus untuk menjaga gudang harta kerajaan.
"Raja Anling Zee sendiri yang mengambil alih atas perhitungan dan keamanan kas kerajaan. Para mentri dilarang untuk ikut campur dalam urusan keuangan Kerajaan Bulan. Raja Anling Zee selalu mengatakan bahwa ia tak pernah percaya dengan orang lain, karna harta bisa membutakan siapapun." jelas salah seorang prajurit dengan rinci mengenai keuangan Kerajaan Bulan.
Xiao Ziya mengepalkan tangannya dengan kuat, akhirnya gadis itu mengerti mengapa pakaian yang digunakan oleh Raja Anling Zee dan kedua anaknya terbuat dari bahan bahan terbaik namun setiap musim kemarau penduduk Kerajaan Bulan selalu mengalami kelaparan. Ternyata selama ini Raja Anling Zee mengginakan harta Kerajaan Bulan untuk kepentingannya sendiri, untunglah raja itu telah mati dan mungkin sekarang jiwanya sudah dikirim ke neraka.
"Baiklah untuk semua keperluan pesta akan menggunakan uang pribadi milik saya." ucap Xiao Ziya dengan senyuman hangat.
"Biyaya yang akan dikeluarkan sangat banyak Yang Mulia Ratu." ucap salah seorang pelayan yang memanggil Xiao Ziya dengan sebutan ratu. Gadis itu sedikit risih dengan hal itu, untuk saat ini ia hanya ingin menjadi peminpin tanpa panggilan yang merepotkan itu.
"Tolong panggil saja Nona Besar saja, saya sudah berjanji untuk menyerahkan tahta kerajaan jika Ratu Jinha Zee benar benar memenuhi syarat." ucap Xiao Ziya pada para pelayan dan prajurit yang ada di sana.
"Baik Nona Besar, trimakasih karna memberi kesempatan pada ratu kami." ucap para pelayan dan prajurit secara bersamaan. Mereka tak menyangka gadis itu akan memegang kata katanya, biasanya orang dengan kemampuan tinggi hanya akan membual dan mengucapkan omonh kosong saja.
Xiao Ziya mengibaskan tangannya, keluar satu gunung kecil dari jutaan koin emas. Para pelayan dan prajurit ingin pingsan ditempat saat melihat koin emas sebanyak itu, darimana pemimpin baru mereka mendapatkan semua itu?. Mungkinkah Xiao Ziya seorang bangsawan kaya raya yang tinggal di Dunia Bawah.
"Belilah semua keperluan untuk pesta nanti, saya harus mencari dimana pria itu menyembunyikan harta Kerajaan. Saya tak menyangka gaji pelayan dan prajurit yang ada di sini lebih rendah dari pelayan dan prajurit yang bekerja untuk Kekaisaran Qiyu." ucap Xiao Ziya dengan tatapan kesal, ia yakin banyak harta Kerajaan Bulan yang ditumbun disuatu tenpat oleh Raja Anling Zee.
"Kami mendapat seratus hingga tiga ratus koin emas setiap bulannya. Jika saya boleh tau berapa gaji prajurit di kekaisaran yang anda sebutkan tadi?." tanya salah seorang prajurit dengan rasa penasaran yang tinggi.
"Setidaknya mereka mendapat upah berkisar lima ratus hingga seribu koin emas setiap bulan, dan saat musim kemarau akan mendapatkan tunjangan dari Kekaisaran." jawab Xiao Ziya dengan senyuman bangga, Kaisar Zue dapat menangani semua masalah dengan sangat baik.
"Apakah anda akan melakukan perubahan terhadap gaji bulanan kami?." tanya salah seorang pelayan dengan binar mata yang sangat cerah.
"Kalian akan mendapat gaji yang sama seperti kekaisaran tempat saya tinggal, karna itu bekerjalah dengan baik." ucap Xiao Ziya yang langsung pamit untuk mengusir setiap sudut Kerajaan Bulan.
Setelah Xiao Ziya pergi dari aula utama, semua prajurit dan pelayan bersorak senang. Setelah bekerja selama bertahun tahun untuk Kerajaan Bulan, akhirnya mereka mendapat kenaikan gaji dalam jumlah yang sangat banyak. Mereka mulai menaruh harapan pada Xiao Ziya sebagai pemimpin baru dari Kerajaan Bulan, semoga saja gadis itu bisa mengatasi kemarau panjang yang akan segera tiba.
Hai guys akhirnya author bisa update lagi, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Tadinya author ga bisa update karna ga ada kuota, tapi minta hostpot temen sebentar wkwkwk. Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.