RATU IBLIS

RATU IBLIS
Memanfaatkan Yie Munha


Beberapa ketua Klan Yuang Yie keluar dari ruang kerja mereka masing masing setelah mendengar kabar bahwa pemimpin mereka yaitu Yie Gu, Yie Laingfu, dan kedua putra Yie Laingfu sudah kembali dari Kerajaan Bulan. Saat mendapati kabar itu saja para ketua Klan Yuang Yie sudah merasa ada yang aneh karna seharusnya Yie Munha ikut kembali bersama mereka berempat. Saat ini Yie Gu dan Yie Laingfu berada di ruang kesehatan untuk mendapat perawatan atas luka yang mereka alami, Yie Weinje terlihat begitu kesal melihat kondisi sang suami yang kehilangan tangan kananya.


"Lihat apa yang cucu kesayanganmu itu lakukan, sekarang kau kehilangan tangan kananmu dan lama kelamaan kau akan kehilangan kepalamu juga." ucap Yie Weinje yang sedang mengejek ke arah suaminya.


"Lee Brian yang sudah memotong tangan ayah." jawab Yie Laingfu dengan suara yang sangat pelan, tubuhnya masih terasa sakit akibat penghancuran titik dantian miliknya.


"Lee Brian? anakmu dengan wanita murahan itu?." tanya Yie Weinje dengan tatapan bingung, ia tak mengerti mengapa Lee Brian ikut campur dalam masalah Klan Yuang Yie. Bukankah puluhan tahun yang lalu pria itu sudah di usir dari Klan Yuang Yie dan mengatakan tak akan pernah kembali lagi?.


"Ya dia datang karna panggilan Xiao Ziya. Siapa yang mengira bahwa gadis itu sangat dekat dengan paman dan juga bibinya." ucap Yie Laingfu, seharusnya ia yang memanfaatkan Xiao Ziya untuk mendapatkan kekuasaan namun yang terjadi ia malah kehilangan kultivasi.


"Lalu dimana cucu perempuanku sekarang? dia pergi bersama kalian dan seharusnya sudah kembali sekarang." ucap Yie Weinje yang ingin melihat konsisi Yie Munha, ia yakin Xiao Ziya pasti sudah melukai cucu kesayangannya itu.


"Yie Munha ditahan di penjara karna mencoba membunuh Ziya, kami sudah berusaha untuk menyelamatkannya namun Lee Brian dan Min Xunzi menghalangi." ucap Yie Laingfu dengan tatapan sedih, ia berharap putrinya bisa bertahan hingga beberapa anggota Klan Yuang Yie datang untuk menyelamatkannya.


"Cih, menjaga seorang gadis saja kalian tak bisa. Andai saja aku bisa berjalan pasti Yie Munha akan baik baik saja hingga sekarang." ucap Yie Weinje.


"Sudahlah, kita akan membahas masalah ini lain waktu." ucap Yie Gu dengan tatapan tajam, untuk saat ini ia tak ingin mendengar apapun.


Beberapa saat setelahnya kedelapan ketua Klan Yuang Yie datang ke ruang kesehatan, mereka sangat terkejut melihat tangan kanan Yie Gu yang menghilang. Apa yang sudah dilakukan olah pria tua itu hingga menyebabkan hal semengerikan ini terjadi? tak mungkin jika Xiao Ziya tega memotong tangan kakeknya sendiri meski sang kakek sudah melakukan banyak kesalahan padanya, mungkinkah ada orang lain yang menggantikan Xiao Ziya melakukan hal itu.


"Siapa yang telah melakukan ini pada anda?." tanya Yie Fufu dengan rasa penasaran yang tinggi.


"Lee Brian datang membantu gadis itu." jawab Yie Gu dengan datar.


"Anda pasti melakukan sesuatu pada Ziya hingga pamannya datang dalam konsisi yang sangat marah." ucap Yie Fufu dengan senyum yang ia tahan, biarlah Yie Gu dan anaknya merasakan akibat dari perbuatan buruk mereka sendiri.


"Jika saja ayah mengatakan siapa nenek kandung dari gadis itu pasti kita semua kembali dengan selamat." ucap Yie Laingfu yang kini sedang menyalahkan sang ayah, jika saja Yie Laingfu tau siapa nenek kandung gadis itu ia pasti akan mengatakannya.


"Ziya menanyakan nenek kandungnya pada anda pemimpin?." ucap Yie Jungso dengan raut wajah bingung, darimana gadis itu mengetahui bahwa Yie Weinje bukanlah nenek kandungnya.


"Cepat atau lambat rahasia kalian akan diketahui oleh gadis itu, mungkin tak ada yang memberitahu hal ini pada gadis itu. Akan tetapi Xiao Ziya adalah gadis pintar yang bisa mengetahui benyak hal dari mengamati konsisi sekitar saja, gadis itu mulai berasumsi bahwa Yie Weinje bukan nenek kandungnya karna sikap Yie Weinje selama ini yang terlihat pilih kasih." ucap Yie Fufu, entah mengapa pria itu malah merasa senang jika Xiao Ziya mengetahui semuanya. Ia berharap Klan Yuang Yie mendapatkan masa kejayaannya kembali dengan penggusuran posisi pemimpin.


Perlu diketahui bahwa Yie Gu bukanlah keturunan dari Klan Yuang Yie, pria itu hanya beruntung karna menikah dengan nenek kandung Xiao Ziya yang mendapatkan posisi sebagai penerus posisi pemimpin klan. Hingga suatu hari tiba tiba nenek kandung Xiao Ziya menghilang tanpa jejak, banyak anggota Klan Yuang Yie yang berusaha untuk mencarinya namun tak menemukan hasil apapun sejak saat itu Yie Gu diangkat menjadi pemimpin Klan Yuang Yie dan menikah lagi dengan Yie Weinje yang merupakan orang luar juga. Ketua Klan Yuang Yie selama ini hanya diam karna banyak dokumen penting yang hilang, mereka tak bisa menuntut tanpa bukti yang kuat, sejak kedatangan Xiao Ziya ke Klan Yuang Yie para ketua klan mempercayakan banyak hal pada gadis itu.


"Apakah sulit membunuh gadis itu?." tanya Yie Laingfu yang mulai merencanakan sebuah ide yang sangat gila.


"Jika kalian berani membunuhnya maka kami yang akan membunuh kalian." ucap Yie Fufu dengan sedikit membentak, ia tak perlu lagi menyembunyikan kemarahan yang ia bendung selama ini.


"Beraninya kau!!." ucap Yie Gu.


"Ini bukan sebuah ancaman, kami akan benar benar melakukannya jika kalian bertindak terlalu jauh." ucap Yie Jungmin.


Para ketu Klan Yuang Yie memilih untuk meninggalkan ruang kesehatan, biarlah kesembuhan ketiga orang serakah itu menjadi tanggung jawab sang tabib. Setelah kepergian kedelapan Ketua Klan Yuang Yie, Yie Gu merasa sangat marah karna apa yang sudah ia lakukan selamat ini menjadi sia sia saja. Seandainya ia tak memberitahu keberadaan ibu kandung Ziya pada gadis itu, dan andai saja ia tak menanamkan bibit bunga mawar api dan mawar es didalam alam spiritual gadis itu maka semua hal ini tak akan pernah terjadi. Ia memang memiliki hubungan darah dengan Xiao Ziya, namun semua tindakan yang ia lakukan sejauh ini tak akan pernah dimaafkan oleh gadis itu.


"Argh sialan." umpat Ye Gu dengan sangat kesal.


Hari sudah mulai malam, pesta perayaan kemenangan Xiao Ziya sudah berakhir semua prajurit sekutu gadis itu menginap di Istana Kerajaan Bulan karna esok pagi mereka akan kembali ke tempat masing masing kecuali para penyihir yang dipimpin oleh Ratu Min Xunzi. Awalnya Ratu Min Xunzi meminta penyihir hitam yang lain untuk kembali terlebih dahulu ke wilayah mereka, namun para penyihir memilih untuk menunggu ratu mereka menyelesaikan urusannya di Dunia Manusia Abadi, untung saja Xiao Ziya tak merasa keberatan menampung mereka semua untuk sementara waktu. Saat ini Xiao Ziya sedang berbincang bincang dengan paman pemilik toko daging dan beberapa orang yang ia bawa.


"Terimakasih karna bersedia membantu saya selama peperangan berlangsung." ucap Xiao Ziya dengan menundukkan kepala sebagai tanda ketulusannya.


"Kami senang bisa membantu anda, memasak dalam porsi yang sangat banyak memberikan kami banyak pengalaman. Lagipula semua prajurit yang ada di sana menikmati setiap hidangan yang kami sajikan dengan baik." ucap pria pemilik toko daging itu.


Xiao Ziya mengeluarkan lima puluh peti kayu berukuran besar, ini semua berisikan lima puluh ribu koin emas di setiap petinya. Ziya membagikan peti tersebut pada lima puluh orang yang sudah menjadi juru masak selama peperangan berlangsung, mendapat upah sebanyak ini membuat kelima puluh orang itu sangat terharu.


"Hanya ini yang dapat saya berikan pada kalian." ucap Xiao Ziya.


"Ini sudah lebih daru cukup nona, sepertinya anda terlalu banyak memberikan koin emas pada kami." ucap istri pemilik toko daging.


"Semua itu layak untuk kalian dapatkan, terimakasih sudah bekerja keras selama ini. Kalian bisa beristirahat sekarang, esok pagi saya akan meminta beberapa prajurit untuk mengawal kepulangan kalian ke wilayah Klan Yuang Yie." ucap Xiao Ziya dengan senyuman hangat, gadis itu harus pergi karna ada hal lain yang perlu ia selesaikan.


Xiao Ziya pergi menuju penjara bawah tanah untuk melihat bagaimana kondisi Yie Munha, Ziya juga berencana menanyakan beberapa hal pada gadis itu. Saat sampai di penjara bawah tanah terlihat beberapa tahanan yang meringkuk kesakitan di pojok sel tahanan mereka, Xiao Ziya cukup bingung karna ada beberapa anak kecil dan pria tua yang dimasukkan kedalam penjara.


"Prajurit tolong kemari sebentar." ucap Xiao Ziya pada salah seorang prajurit yang sedang berjaga di pintu masuk penjara bawah tanah.


"Ada apa nona besar?." tanya prajurit itu dengan raut waja bingung.


"Kesalahan apa yang dilakukan oleh anak anak ini serta pria tua itu hingga dimasukkan kedalam penjara?." tanya Xiao Ziya dengan tatapan tajam.


"Bebaskan mereka." perintah Xiao Ziya pada sang prajurit.


"Masa tahanan mereka masih tiga bulan lagi nona." jawab prajurit itu dengan ragu.


"Saya bilang bebaskan mereka, apa kau tak mendengarnya. Memenjarakan anak kecil adalah tindakan kriminal, sebelum memenjarakan mereka seharusnya kalian mencari bukti yang lebih kuat lagi." ucap Xiao Ziya yang tak ingin dibantah oleh prajuritnya.


Akhirnya sang prajurit dengan terpaksa membukakan sel penjara tempat anak anak dan orang tua itu ditahan. Beberapa anak keluar dari penjara dengan ekspresi senang, setelah menunggu selama berbulan bulan mereka bisa bebas juga.


"Kembalilah pada keluarga kalian, ingatlah di lain hari jangan mengatakan hal yang dapat melukai perasan orang lain. Kalian mengertilah?." ucap Xiao Ziya yang sedang memberikan nasehat pada anak anak itu.


"Baik kami mengerti nona, terimakasih sudah membebaskan kami semua." ucap anak anak itu dengan senyuman lebar, mereka pamit untuk kembali ke keluarga masing masing.


Xiao Ziya menatap ke arah kakek tua yang hanya duduk melamun tanpa berniat keluar dari sel penjara yang sudah terbuka lebar itu, dengan hati hati Xiao Ziya menghampiri sang kakek untuk menanyakan apa yang terjadi.


"Mengapa anda tak pergi? saya sudah membebaskan anda dari tempat ini." ucap Xiao Ziya dengan tatapan bingung.


Kakek tua itu melihat ke arah Xiao Ziya dengan sorot mata sedih, sepertinya sang kakek sedang memikirkan sesuatu atau menanggung sebuah beban yang cukup berat hingga ia tak bisa keluar dari penjara meski sudah dibebaskan.


"Saya tak bisa pulang ke rumah dengan konsisi seperti ini karna saya berasal dari wilayah lain. Saya datang ke wilayah Kerajaan Bulan untuk mencari pekerjaan, beberapa bulan yang lalu terjadi kemarau panjang yang membuat wilayah yang saya tinggali mengalami kelaparan, karna itu saya memilih datang kesini berharap menemukan pekerjaan akan tetapi saya malah ditangkap tanpa alasan yang jelas." ucap pria tua itu yang sedang menceritakan apa yang telah ia alami.


Xiao Ziya mengerti pria tua itu tak bisa kembali tanpa membawa apapun, sang istri pasti sudah menunggu di rumah dengan harapan suaminya pulang dengan membawa sejumlah uang yang bisa mereka gunakan untuk musim kemarau selanjutnya. Karna merasa kasihan akhirnya Xiao Ziya memberikan sekantung koin emas denhan jumlah lima ribu koin di dalamnya, awalnya sang pria tua enggan menerima pemberian dari gadis asing itu.


"Ambillah, istri anda sudah menunggu di rumah dengan rasa khawatir. Percayalah istri anda lebih senang anda pulang dengan selamat." ucap Xiao Ziya dengan senyuman ramah, akhirnya pria tua itu menerima pemberian dari Xiao Ziya dan mengucapkan terimakasih sebanyak yang ia bisa.


"Bagaimana saya harus membalas kebaikan nona?." tanya pria tua itu, ia siap bekerja dengan gadis itu hingga sisa umurnya habis.


"Anda hanya perlu pulang dan membawakan beberapa potong daging untuk istri anda." jawab Xiao Ziya yang tak menginginkan imbalan apapun. Pria tua itu pamit dan langsung pergi dari penjara Kerajaan Bulan.


Setelah itu Xiao Ziya melanjutkan perjalanan menuju sel tahanan Yie Munha, saat sampai di sana ia melihat Yie Munha meringkuk kesakitan karna mendapatkan beberapa luka yang cukup parah. Hukuman dua ratus cambukan sangatlah berat bagi gadis manja itu, ia juga sangat kesal karna ayah dan kakeknya tak membantu sama sekali. Mata Yie Munha melebar saat melihat Xiao Ziya ada di depan sel nya, gadis itu ingin memukul Ziya hingga pingsan karna perbuatan gadis itu membuatnya menderita.


"Untuk apa kau datang kesini? bukankah kau sudah sangat senang melihatku menderita?." ucap Yie Munha dengan nada bicara yang ketus.


"Saya ingin menawarkan sesuatu pada mu." ucap Xiao Ziya dengan senyuman licik, mungkin Yie Munha bisa ia manfaatkan untuk mendapat informasi mengenai nenek kandungnya.


"Kau kira aku sudi bekerja sama denganmu?." ucap Yie Munha dengan sorot mata tajam, gadis yang sudah merusak kehidupannya hanya akan membuatnya lebih menderita di masa depan.


"Jika kau bisa melakukan hal ini dengan baik saya akan menyembuhkan nenek kesayanganmu itu." ucap Xiao Ziya dengan senyuman miring, Yie Munha adalah seorang cucu yang sangat menyayangi neneknya ia pasti menerima tawaran ini.


"Cepat katakan apa yang kau inginkan dariku." ucap Yie Munha dengan tatapan penuh semangat, jika neneknya sembuh ia bisa meminta sang nenek untuk membantunya merebut tahta Kerajaan Bulan dari Xiao Ziya.


"Kau hanya perlu pencari tau siapa nenek kandung saya, jika kau berhasil melakukannya mungkin kau akan menjadi kandidat Ratu Kerajaan Bulan." ucap Xiao Ziya lagi, gadis itu memberikan tawaran yang sangat luar biasa.


"Mengapa aku harus percaya dengan perkataan mu?." ucap Yie Munha dengan ragu, ia tau Xiao Ziya mendapatkan semua ini atas kerja kerasnya sendiri lalu mengapa gadis itu bersedia memberikan Kerajaan Bulan padanya.


"Saya tak akan tinggal selamanya di Dunia Manusia Abadi ini, saya lebih senang tinggal di dunia bawah bersama dengan keluarga saya. Setelah saya pergi tentu Kerajaan Bulan membutuhkan seorang pemimpin, kau hanya perlu bersaing dengan Ratu Jinha Zee untuk mendapatkan tahta." ucap Xiao Ziya yang berusaha meyakinkan Yie Munha agar mau membantunya.


Yie Munha sedang mempertimbangkan perkataan gadis itu, semua yang dikatakan Xiao Ziya sangat masuk akal. Xiao Ziya pasti akan pulang ke tempat keluarganya berada, lagipula gadis itu datang ke Dunia Manusia Abadi hanya untuk bertemu dengan ibu kandungnya saja tanpa ada niatan lain, peperangan antara Sekutu Xiao Ziya dengan Raja Anling Zee diakibatkan oleh pihak Raja Anling Zee sendiri. Setelah pertimbangan yang cukup matang, Yie Munha memilih untuk membantu Xiao Ziya mencari tau siapa nenek kandung gadis itu, Yie Munha juga yakin bukan masalah yang besar jika ia harus berhadapan dengan Ratu Jinha Zee.


"Aku akan membantumu asal kau bersedia menyembuhkan nenek." ucap Yie Munha.


"Aku akan menyembuhkan nenekmu setelah kau mendapat informasinya." ucap Xiao Ziya.


"Baiklah bebaskan aku dari penjara bau ini, aku akan kembali ke Klan Yuang Yie untuk mencari kebenarannya." ucap Yie Munha dengan senyuman miring, gadis itu sangat senang karna Xiao Ziya memberikan semua yang ia miliki padanya.


Xiao Ziya meminta prajurit untuk membukakan sel tahanan Yie Munha, sebelum gadis itu kembali ke Klan Yuang Yie, Xiao Ziya menyembuhkan semua luka luarnya terlebih dahulu. Setelah selesai Yie Munha bergegas pergi dari Istana Kerajaan Bulan melalui gerbang belakang, akan sangat berbahaya jika Yie Munha bertemu dengan sekutu Xiao Ziya yang masih tinggal di sana.


"Mengapa anda menjanjikan hal seperti itu pada nona Yie Munha? Kerajaan Bulan akan hancur jika memiliki ratu sepertinya." ucap sang prajurit penjaga penjara bawah tanah.


Xiao Ziya tersenyum dan menepuk pundak prajurit itu.


"Biarlah orang jahat saling menghancurkan satu sama lain, jika Ratu Jinha Zee memiliki kepribadian yang baik ia akan menjadi pemenang dalam perlombaan ini. Namun jika Ratu Jinha Zee adalah orang yang tamak, maka mereka berdua akan saling menghancurkan demi mendapatkan tahta Kerajaan Bulan. Dan saat itu tiba saya pasti sudah menemukan calon Raja ataupun Ratu yang baik untuk Kerajaan Bulan ini." ucap Xiao Ziya pada prajurit penjaga penjara bawah tanah kemudian gadis itu menghilang. Sang prajurit tak mengerti dengan rencana Nona Besarnya, namun rencana itu terdengar sangat luar biasa.


Hai hai semuanya author balik lagi nih, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya guys. Ga nyangka author bisa nulis novel ini sampai 500 chapter, aku kira bakal nyerah di tengah jalan. Trimakasih guys atas dukungan kalian semua. Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun, dan paket komplit yang lain.