RATU IBLIS

RATU IBLIS
Ingin Merebut


Saat ini Xiao Ziya sedang menyusuri seluruh bagian dari Istana Kerajaan Bulan, gadis itu ingin menemukan tempat penyimpanan harta kerajaan yang sengaja disembunyikan oleh mendiang Raja Anling Zee. Entah seberapa banyak harta kerajaan yang disembunyikan sebagai harta pribadi oleh raja itu, dan mengapa penduduk Kerajaan Bulan begitu mencintai raja yang serakah sepertinya. Xiao Ziya masuk kesebuah kamar dengan ukuran paling luas diantara kamar kamar yang lain, Xiao Ziya yakin kamar itu milik mendiang Raja Anling Zee.


"Tidak ada apapun di sini, dimana dia menyembunyikan semuanya." ucap Xiao Ziya yang tak akan menyerah begitu saja, ia yakin Raja Anling Zee tak akan menyembunyikan koin emas sebanyak itu diluar istana.


Saat Xiao Ziya sedang menyusuri sekitar kamar, ia menemukan sebuah lukisan wajah Raja Anling Zee yang sedang tersenyum dengan sangat lebar. Melihat lukisan itu membuat suasana hati Xiao Ziya menjadi buruk, wajah Raja Anling Zee sangat menyebalkan hingga Xiao Ziya memukul lukisan itu hingga hancur. Saat Xiao Ziya sedang melampiaskan amarahnya ia tak sengaja membuat lubang yang cukup besar di dinding tersebut, anehnya Xiao Ziya melihat cahaya keemasan yang menyilaukan dari lubang itu.


"Bukankah di balik sini tak ada ruangan lain?." ucap Xiao Ziya dengan tatapan bingung, bagaimana bisa ada ruangan dibalik dinding? bukankah seharusnya sebuah taman.


Karna rasa penasarannya yang sangat tinggi, Xiao Ziya masuk melalui lubang itu. Untunglah tubuh gadis itu muat saat akan melalui dinding, setelah berhasil masuk ke sana Xiao Ziya langsung berjalan ke arah cahaya keemasan itu. Gadis itu terdiam beberapa saat kemudian menggenggam kepalan tangan dengan sangat erat, pantas saja para pekerja di Istana Kerajaan Bulan mendapat upah yang sangat sedikit, ternyata raja mereka melalukan manipulasi terhadap keuangan kerajaan.


"Sialan, jika saya mengetahui hal ini sebelumnya maka saya akan membunuh pria itu dengan lebih kejam. Lihat saja nanti, akan ku bakar jiwa raja tak tau diri itu." ucap Xiao Ziya yang masih menyimpan setitik dendam dan amarah untuk Raja Anling Zee. Hal yang membuat Xiao Ziya tak bisa memaafkan raja itu adalah kesengsaraan penduduknya.


Raja Anling Zee diperlakukan dengan baik oleh penduduk Kerajaan Bulan, mereka sangat percaya pada setiap perkataan pria busuk itu. Dan balasan yang diberikan oleh Raja Anling Zee sebuah penghianatan yang sangat kejam, penduduk Kerajaan Bulan harus mengetahui bagaimana wajah asli dari mendiang raja mereka.


Hal yang dilihat oleh Xiao Ziya saat berada di ruangan itu adalah tiga buah gunungan emas dengan ukuran kecil, berapa tahun yang dihabiskan Raja Anling Zee untuk mengumpulkan semua harta kerajaan ini.


"Prajurit cepat kemari!!." triak Xiao Ziya dengan sangat kencang hingga menggema di penjuru Istana Kerajaan Bulan.


Para prajurit yang sedang berada di sekitar kamar utama bergegas masuk kedalam setelah mendengar teriakan dari pemimpin baru mereka, para prajurit khawatir terjadi sesuatu pada gadis itu. Saat masuk kedalam kamar utama mereka tak menemukan siapapun di sana, namun ada sebuah lubang yang cukup besar di dinding kamar.


"Dimana anda berada nona besar?." tanya salah seorang prajurit.


"Kalian masuklah kedalam lubang yang ada di dinding, cepatlah." ucap Xiao Ziya lagi.


Akhirnya para prajurit masuk kedalam lubang tersebut dengan sedikit usaha karta tubuh mereka cukup besar dan lubang di dinding terlalu sempit. Setelah berhasil masuk para prajurit itu langsung mencari keberadaan Xiao Ziya, mereka berhenti ketika melihat tumpukan emas yang sangat melimpah dihadapan mereka.


"Apa ini?." tanya salah seorang prajurit dengan tubuh gemetaran. Sepertinya ia terkejut karna ada ruang rahasia di dalam kamar Raja Anling Zee.


"Ini uang kerajaan yang disimpan secara pribadi oleh mendiang Raja Anling Zee, sepertinya raja itu sudah kehilangan akalnya." jawab Xiao Ziya dengan suara datar.


"Bukankah di sebelah kamar mendiang Raja Anling Zee adalah sebuah taman?." tanya prajurit lain dengan rasa penasaran yang sangat tinggi.


"Dia menambahkan sihir dimensi ruang di sekitar sini, panggil yang lainnya karna kita harus memindahkan semua ini ke gudang istana. Gunakan harta kerajaan dengan bijak, setidaknya ini bisa membantu saat musim kemarau datang nanti." ucap Xiao Ziya pada para prajurit yang ada di sana.


"Baik, kami akan memanggil yang lain untuk membantu. Namun bagaimana cara kami melewati lubang kecil itu?." ucap salah seorang prajurit yang merasa mereka tak akan bisa melewati lubang didinding dengan membawa peti peti kayu berisi koin emas tersebut.


Tanpa menjawab apapun Xiao Ziya langsung berjalan mendekat ke arah dinding, gadis itu memukulnya sekali lagi hingga menciptakan lubang yang sangat besar. Para prajurit yang ada di sana hanya terdiam karna tak mengerti dengan jalan fikiran pemimpin baru mereka.


"Apakah ini sudah cukup?." tanya Xiao Ziya pada para prajurit yang ada di sana.


"Sudah nona besar, akan memerlukan waktu lama untuk menambal dinding itu." ucap seorang prajurit dengan raut wajah sedih, ia tak tau berapa dana kerajaan yang harus dikeluarkan untuk menambal dinding.


"Itu urusan saya, lakukan saja apa yang saya perintahkan tadi." ucap Xiao Ziya dengan tatapan serius, akhirnya para prajurit bergegas keluar dari kamar untuk memanggil teman mereka yang lain.


Diperlukan ratusan prajurit untuk memindahkan koin emas sebanyak itu, Xiao Ziya bisa saja menyimpannya di dalam cincin semesta kemudian menaruhnya di gudang istana. Gadis itu hanya berfikir akan sangat buruk jika koin emas yang ia miliki bercampur dengan koin emas milik orang lain, dan kemungkinan besar beberapa koin emas akan tertinggal di dalam cincin semesta gadis itu.


Setelah menunggu cukup lama datanglah seribu prajurit Kerajaan Bulan, mereka bergantian masuk kedalam kamar utama dan membawa satu peti penuh berisi koin emas. Setelah itu mereka akan membawa semua peti tersebut kedalam gudang penyimpanan Istana Kerajaan Bulan, para prajurit yang awalnya tak percaya Raja Anling Zee setega itu pada mereka akhirnya bungkam. Semua yang diucapkan oleh pemimpin baru mereka perlahan lahan menjadi sebuah kenyataan, para prajurit merasa senang pemimpin baru mereka bukanlah gadis yang tamak akan harta.


"Saat musim kemarau datang nanti kita tak perlu khawatir." ucap seorang prajurit yang sedang membawa sebuah peti pada teman di sebelahnya.


"Pemimpin baru kita lebih baik daripada raja jahat itu." jawab prajurit lain.


"Kita tak perlu meragukan nona besar lagi, ia terlihat sangat marah saat mengetahui harga kerajaan disimpan secara pribadi oleh mendiang Raja Anling Zee." jawab prajurit yang datang lebih awal daripada rekannya yang lain.


"Peperangan kali ini memberikan kita semua hadiah yang sangat berharga." ucap prajurit yang berada di barisan paling belakang.


"Kita harus merayakannya dengan sangat meriah, jangan mengecewakan pemimpin baru kita." ucap semua prajurit secara bersamaan.


Xiao Ziya masih berada di dalam kamar utama, gadis itu memantau dengan sangat ketat setiap prajurit yang membawa peti berisi koin emas itu. Uang adalah hal paling menakutkan di dunia ini, hanya karna uang ataupun kekayaan seseorang bisa mengorbankan banyak hal berharga yang ada di dalam hidupnya. Setelah beberapa jam berlalu dengan sangat cepat, proses pemindahan harta kerajaan akhirnya selesai dan semua prajurit sudah kembali ke tempat mereka masing masing.


"Tak ada yang bisa dibanggakan dari raja sepertinya." ucap Xiao Ziya yang sedang menginjak serpihan lukisan wajah Raja Anling Zee.


Setelah itu Xiao Ziya menyalakan api putih miliknya untuk menambal lubang yang ada di dinding kamar, dalam hitungan detik lubang itu menghilang dan dinding kembali seperti semula. Xiao Ziya menghancurkan sihir dimensi ruang yang dibuat oleh Raja Anling Zee, setelahnya gadis itu keluar dari kamar utama untuk menghirup udara seger di halaman depan istana kerajaan.


"Melegakan bisa membantu sedikit di sini." ucap Xiao Ziya, sepertinya gadis itu sedang merindukan keluarganya yang berada di dunia bawah.


Saat gadis itu sedang melihat ke arah langit, ia tersenyum tipis dan memejamkan matanya sebentar. Saat gadis itu sedang merasa sangat tenang ada seorang prajurit yang datang dan memberitahu salah seorang dari Klan Yuang Yie mencari Xiao Ziya.


"Trimakasih untuk informasinya, saya akan segera menemui orang itu." ucap Xiao Ziya dengan senyuman hangat kemudian ia pergi ke gerbang masuk Istana Kerajaan Bulan.


Saat tiba di luar istana, ekspresi Xiao Ziya berubah menjadi datar karna yang datang untuk mencarinya adalah Yie Munha. Untuk apa gadis menyebalkan itu datang, adakah hal jahat yang sedang ia rencanakan sekarang ini.


"Ada apa kau datang mencari saya?." tanya Xiao Ziya dengan tatapan tak suka.


"Saya merasa senang karna saudara perempuan berhasil memenangkan peperangan ini, bisakah saya masuk kedalam untuk membicarakan beberapa hal dengan mu." ucap Yie Munha dengan senyuman lebar dan kata kata manis yang membuat Xiao Ziya ingin memukul gadis itu.


"Maaf sebelumnya, dari awal anda tak pernah menganggap saya sebagai saudara perempuan. Jangan mencari muka di hadapan saya, karna saya tak akan tertipu dengan wajah buruk anda." jawab Xiao Ziya dengan tegas, ia tau Yie Munha datang karna menginginkan sesuatu dari Xiao Ziya. Mungkinkah gadis itu sedang mengincar posisi sebagai penerus Kerajaan Bulan?.


"Mengapa adik mengatakan hal seperti itu, saya sangat menghargai Anda sebagai adik sepupu saya." ucap Yie Munha dengan air mata yang menetes, gadis itu ingin menjatuhkan martabat Xiao Ziya di hadapan para penjaga gerbang Istana Kerajaan Bulan.


"Kalian semua ingatlah, gadis seperti dia adalah musuh yang paling berbahaya." ucap Xiao Ziya pada seluruh prajurit yang menjaga gerbang utama.


"Pulanglah ke klan, jangan membuat dirimu malu dihadapan semua orang. Kerajaan Bulan tak memerlukan pemimpin yang lemah, seorang gadis yang hanya mengandalkan air matanya saja tak akan pernah berada di puncak." ucap Xiao Ziya kemudian gadis itu masuk kedalam istana, ia tak ingin berlama lama menatap wajah Yie Munha yang mengenalkan itu.


"Tunggu saja kau, aku akan merebut semua hal yang kau miliki saat ini!!!." triak Yie Munha dari luar istana dengan sangat keras, penduduk yang berada di sekitar sana hanya menertawakan perilaku gadis itu.


"Lakukan saja jika kau masih hidup setelah mencari masalah dengan saya." balas Xiao Ziya yang sudah berada di dalam istana, suara gadis itu dapat di dengar oleh Yie Munha dan beberapa orang lainnya.


"Sebaiknya nona jangan membuat masalah dengan pemimpin baru kami. Nona hanya bisa menangis saja sedangkan gadis itu dapat memenangkan peperangan dengan kekuatannya." ucap salah seorang wanita yang melintas di belakang Yie Munha.


Yie Munha merasa sangat kesal dan memilih untuk kembali ke Klan Yuang Yie, ia akan membuat rencana untuk merebut takhta Kerajaan Bulan dari Xiao Ziya bagaimanapun caranya. Sangat tak adil jika gadis rendahan yang berasal dari dunia bawah mendapatkan semua yang ia impikan.


Saat ini Xiao Ziya sedang melihat bagaimana para pelayan menyiapkan pesta perayaan kemenangan untuk sekutu gadis itu yang masih berada di markas utama, Xiao Ziya tak ingin memikirkan hal lain untuk saat ini. Gadis itu memerlukan waktu untuk beristirahat beberapa saat sebelum pesta esok pagi, karna hari sudah sangat siang Xiao Ziya memutuskan untuk tidur di salah satu kamar tanu yang ada di Istana Kerajaan Bulan.


"Kemana anda akan pergi nona besar?." tanya seorang pelayan wanita.


"Saya ingin beristirahat untuk beberapa saat." jawab Xiao Ziya dengan senyuman ramah.


"Biarkan kami menyiapkan kamar untuk anda." ucap pelayan itu, sepertinya sang pelayan ingin memanggil temannya yang lain.


"Untuk sementara waktu saya akan beristirahat di kamar tamu, kalian fokus saja pada persiapan pesta perayaan esok pagi." ucap Xiao Ziya yang langsung masuk kesebuah kamar, gadis itu menutup pintu kemudian merebahkan tubuhnya yang terasa lelah.


Para pelayan hanya bisa pasrah, mereka ingin melayani pemimpin baru sebaik mungkin. Namun sepertinya pemimpin baru mereka gadis yang mandiri, sangat bertolak belakang dengan Putra Mahkota dan Putri Jifana. Para pelayan itu kembali ke dapur untuk mempersiapkan berbagai hidangan untuk esok pagi, akan ada banyak orang yang datang ke Istana Kerajaan Bulan dan ini pertama kalinya mereka membuat pesta perayaan yang sangat meriah.


Di sisi lain saat ini Yie Munha baru saja tiba di Klan Yuang Yie, wajah masam gadis itu membuat para penjaga gerbang masuk klan berusaha menahan tawa mereka. Beberapa penjaga gerbang sedang menebak bahwa gadis itu baru saja di usir dari Istana Kerajaan Bulan, itu semua salah Yie Munha sendiri karna memiliki sikap yang sangat buruk.


Yie Munha pergi ke ruang kesehatan untuk mengadu pada neneknya, namun gadis itu melihat sang kakek dan ayahnya ada di sana. Jika Yie Munha mengatakan apa yang baru saja terjadi, mungkin kakeknya akan sangat marah begitupun dengan ayahnya yang langsung memberikan hukuman. Yie Munha akan menunggu kedua orang itu keluar dari ruang kesehatan, setelahnya ia akan meminta saran pada sang nenek mengenai hal hal yang harus dilakukan.


"Bagaimana kondisi ibu sekarang?." tanya Yie Laingfu pada tabib wanita yang sedang memeriksa kaki Yie Weinje.


"Nyonya besar sangat membutuhkan pil darah itu, jika kalian tak memilikinya kalian harus membeli pil darah naga yang memiliki khasiat sama." ucap sang tabib wanita, tabib itu khawatir lama kelamaan kaki dari Yie Weinje akan membusuk karna tak mendapat penanganan yang tepat.


"Apakah tak ada cara lain?." tanya Yie Laingfu dengan sedih.


"Temukan seseorang yang sudah mempelajari seratus titik akupuntur dengan kultivasi yang sudah mencapai alam dewa, hanya orang itu yang mampu menyembuhkan Nyonya Weinje tanpa bantuan obat." ucap sang tabib wanita, sangat sulit menemukan seseorang yang sudah mencapai kultivasi alam dewa dan memiliki ilmu akupuntur yang tinggi.


Yie Gu terdiam untuk beberapa saat, semua obat yang diperlukan untuk menyembuhkan istrinya ada pada Xiao Ziya. Sekuat apapun Yie Gu membujuk Xiao Ziya, gadis itu tak akan memberikan obatnya hanya untuk menyembuhkan Yie Weinje yang pernah mengincar nyawa Ziya. Yie Gu juga ingat bahwa cucu kesayangannya itu memiliki tingkat kultivasi alam dewa dengan kemampuan akupuntur yang tinggi, entah mengapa semua menjadi sangat rumit seperti ini.


"Saya tak yakin gadis itu mau melakukannya." ucap Yie Gu dengan nada pasrah.


"Siapa yang anda maksud? nona Ziya?." tanya sang tabib wanita dengan tatapan bingung.


"Gadis itu memiliki semua hal yang diperlukan untuk menyembuhkan istri saya." ucap Yie Gu dengan senyuman pahit.


"Anda harus bisa membujuknya tuan, pasti ada cara agar gadis itu mau membantu Nyonya Weinje. Lakukan apapun yang Nona Ziya minta, itu satu satunya cara yang bisa anda lakukan saat ini." ucap tabib wanita itu dengan serius, anda saja Nyonya Weinje menerima gadis itu dengan baik maka hal buruk seperti ini tak akan pernah terjadi padanya.


"Sangat sulit untuk mengaminkannya, kami telah gagal melakukan hal itu." ucap Yie Laingfu, ia ingin ibunya bisa segera sembuh dan beraktifitas seperti biasa.


"Saya akan menemui nona Ziya, mungkin saya bisa membujuknya." ucap sang tabib wanita, ia akan mengusahakan apapun untuk kesembuhan pasien.


"Saat ini ia pasti sangat sibuk, saya dengar gadis itu memenangkan peperangan." ucap Yie Gu dengan senyuman bangga, Xiao Ziya adalah cucunya yang sangat berharga.


"Ya dia gadis yang kuat." ucap Yie Laingfu dengan nada datar saat ia mengingat Min Xunzi ada di dalam pasukan sekutu gadis itu.


"Baiklah, kami permisi terlebih dahulu. Tolong rawat istri saya dengan baik." ucap Yie Gu, ia mengajak putranya untuk keluar dari ruang kesehatan. Yie Gu menyadari perubahan ekspresi dari Yie Laingfu tadi, sepertinya ada hal yang disembunyikan oleh putranya.


"Saya akan menjaga Nyonya Weinje dengan baik, Tuan Gu tenang saja." ucap tabib wanita itu dengan senyuman hangat, ia tau cara menjaga semua pasiennya dengan baik.


Setelah Yie Gu dan Yie Laingfu keluar dari ruang kesehatan, kini saat yang tepat bagi Yie Munha masuk kedalam. Ia meminta pada sang tabib wanita untuk keluar sebentar karna ada hal yang ingin Yie Munha sampaikan pada neneknya. Tanpa membantah, tabib wanita itu keluar dari ruang kesehatan ia hanya berharap gadis itu tak akan melakukan hal aneh pada pasiennya.


"Bangunlah nenek, mereka semua sudah pergi." ucap Yie Munha dengan suara pelan.


Yie Weinje langsung membuka matanya dan melihat kondisi sekitar, sepertinya wanita itu pura pura tertidur untuk beberapa saat.


"Ada apa cucuku yang cantik?." tanya Yie Weinje dengan senyuman cerah saat melihat wajah cucu kesayangannya.


"Gadis itu telah memenangkan perang, aku berencana merebut tahta Kerajaan Bulan darinya." ucap Yie Weinje penuh dengan semangat, ia akan melakukan apapun untuk melampaui Xiao Ziya.


"Kemungkinan besar Klan Yuang Yie akan diundang dalam pesta perayaan kemenangan gadis itu, saat waktunya tiba kau punya dua pilihan. Kau bisa meracuninya dengan menyuap seorang pelayan, ataupun menusuk gadis itu dari belakang saat ia sedang sendirian. Pastikan kau membunuhnya dalam sekali tusukan karna gadis itu bukanlah gadis yang lemah." ucap Yie Weinje pada cucunya. Ia memberikan saran pada Yie Munha mengenai hal hal yang perlu dilakukan.


"Bagaimana jika gadis itu tak menggundang anggota Klan Yuang Yie?." tanya Yie Munha dengan raut wajah khawatir.


"Gadis itu sangat menyayangi kakeknya, percayalah kalian akan diundang kesana." ucap Yie Weinje dengan rasa percaya diri yang sangat tinggi.


"Baiklah aku akan mempersiapkan semuanya, nenek istirahat saja dengan benar. Setelah menguasai tahta Kerajaan Bulan, aku akan merampas obat itu dari tangan Xiao Ziya." ucap Yie Munha dengan tatapan penuh ambisi, gadis itu mulai gila karna ingin membuat masalah dengan Xiao Ziya.


"Nenek akan menunggu kemenangan mu sayang." ucap Yie Weinje dengan tatapan bangga.


Yie Munha pamit untuk kembali ke kamar dan mempersiapkan segala hal untuk datang ke pesta perayaan kemenangan Xiao Ziya nanti, ia sudah tak sabar menghabisi nyawa gadis itu dengan tangannya sendiri. Akan sangat menyenangkan saat mengirim jasad Xiao Ziya kembali ke Dunia Bawah dengan kondisi tak bernyawa. Setelah Yie Munha pergi dari ruang kesehatan, sang tabib kembali masuk kedalam dengan raut wajah yang aneh, mungkinkah tabib wanita itu mendengar semua pembicaraan antara Yie Weinje dengan Yie Munha?.


Hai hai semuanya gimana kabar kalian, maaf ga up udah beberapa hari. Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya guys. Baca juga novelku Putri Amerilya.