RATU IBLIS

RATU IBLIS
Ada Yang Aneh


Di sisi lain saat ini Xiao Yuna, Ruo Yogi, dan Xiao Feng sedang bertatap tatapan dengan tiga mafia bersaudara yang dibawa oleh Zier. Mereka bingung haru melakukan apa pada ketiga pemuda itu, Zier hanya mengatakan bahwa Xiao Ziya yang memintanya membawa ketiga pemuda itu kesana.


"Jadi hal apa lagi yang dikatakan oleh adik Ziya?." tanya Xiao Yuna, gadis itu bisa melihat beberapa luka di tubuh ketiga mafia bersaudara.


"Jika mereka terluka kalian harus mengobati mereka." jawab Zier dengan singkat, harimau itu hanya dekat dengan Xiao Ziya saja sehingga ia akan menjawab pertanyaan orang lain dengan singkat.


"Baiklah serahkan mereka pada kami, kami akan menyembuhkan luka luka itu." ucap Xiao Feng dengan percaya diri, diantara mereka bertiga yang memiliki sihir penyembuh hanyalah Xiao Yuna. Gadis itu mulai belajar sihir penyembuh satu tahun yang lalu.


Hanz, Kenzo, dan Zero turun dari punggung harimau yang mereka tunggangi. Ini bukan kali pertama mereka bertemu dengan Zier namun rasanya tetap luar biasa bisa menaiki seekor harimau milik Xiao Ziya. Setelah ketiga pemuda itu turun dari punggungnya dengan segera Zier berubah wujud menjadi kecil agar bisa masuk kedalam rumah, harimau itu tak ingin merusak barang barang milik nona mudanya.


"Zier selalu imut dalam wujud itu." ucap Xiao Yuna yang ingin menggendong Zier, akan tetapi harimau itu menolak. Zier berkata bahwa Xiao Yuna memerlukan izin dari nona mudanya, Xiao Yuna pun hanya bisa tertawa melihat tingkah sang harimau.


"Kalian masuklah kedalam." ucap Ruo Yogi yang mempersilahkan ketiga mafia bersaudara itu masuk kedalam rumah, di sana ada beberapa rekan mereka yang sedang menatap sebuah layar besar dengan gambar gambar aneh yang bergerak.


Hanz, Kenzo, dan Zero masuk kedalam rumah tanpa ragu ragu. Hal pertama yang mereka lihat cukup membuat ketiga pemuda itu terkejut, ada lima pemuda yang sedang menatap dengan tatapan kebingungan ke layar televisi.


"Permisi, apa yang sedang kalian lakukan?." tanya Zero yang sedang menahan tawanya.


"Kami sedang melihat gambar gambar aneh yang keluar dari benda ajaib itu." ucap Mue Along dengan polosnya, ini pertama kali mereka datang ke dunia semesta tingkat rendah jadi wajar jika belum mengetahui hal hal semacam itu.


"Ah itu bukan benda ajaib, kami biasa menyebutnya dengan televisi." ucap Zero yang memberi sedikit penjelasan pada kelima pemuda itu.


"Tevisi?." ucap Sin Bia, ia menggunakan kalimat yang salah dalam menyebut televisi. Zero tak sanggup menahan tawanya lagi, kini ia sedang tertawa pelan karna kelucuan Sin Bia.


"Maaf karna aku tak bisa menahannya, televisi bukan tevisi." ucap Zero, mungkin ia perlu mengajari mereka beberapa hal dasar. Jika hal seperti ini terus berlanjut besar kemungkinan saat mereka keluar rumah akan ditipu oleh beberapa orang.


"Jadi televisi bisa menggeluarkan gambar gambar aneh?." tanya Mue Along yang ingin tau lebih jelas tentang benda yang sedang ia lihat itu. Mue Along sedang berfikir apakah benda semacam itu juga bisa ia bawa ke dunia bawah? jika bisa, ia akan membawakan beberapa televisi untuk orang tua dan teman temannya.


"Televisi adalah sebuah benda yang menggeluarkan gambar serta suara yang berasal dari beberapa saluran yang tersambung dengan benda itu." ucap Zero, ia memberi penjelasan secara sederhana agar mudah dimengerti oleh pemuda pemuda itu.


"Hey kalian jangan membuat kami malu." ucap Xiao Yuna yang tak tau harus mengatakan apa lagi, beberapa orang yang ada dalam kelompoknya melakukan hal hal aneh yang membuat Xiao Yuna pusing.


"Kami hanya bertanya saja mengapa kau malu." ucap Sin Bia yang tak terima dengan ucapan Xiao Yuna.


"Bertanyalah sewajarnya saja bodoh." ucap Xiao Yuna yang ingin menghilang dari dunia, padahal mereka bisa menanyakan hal itu nanti saat Xiao Ziya sudah kembali. Ketiga pemuda yang ada di hadapan mereka adalah orang orang yang berasal dari dunia semesta tingkat rendah, jika mereka menanyakan hal semacam ini pada ketiga pemuda itu mungkin saja ketiga pemuda itu akan menganggap mereka bodoh dan tak layak mengajar di sini.


"Baiklah baiklah." ucap Mue Along yang tak ingin bertengkar dengan juniornya itu.


Suasana menjadi hening tak ada pembicaraan di antara mereka. Hanz, Kenzo, dan Zero juga bingung apa yang harus mereka lakukan untuk mencairkan suasana tegang ini. Tiba tiba saja terdengar suara pintu depan yang di buka oleh seseorang, semua orang yang ada di ruang keluarga menatap ke arah pintu depan.


"Mengapa kalian melihat saya seperti itu?." tanya Xiao Ziya dengan kebingungan, apa yang telah terjadi selama ia pergi dan mengapa suasana rumah sangat hening?.


"Adik Ziya." ucap Xiao Yuna dengan cukup kencang, gadis itu berlari ke arah Xiao Ziya dan memeluk Ziya dengan cukup erat. Ia sangat malu dengan tingkah rekan rekannya yang lain, bagaimana ia bisa menceritakan hal ini pada Xiao Ziya.


"Apa yang terjadi, mengapa Yuna jiejie seperti ini?." tanya Xiao Ziya yang semakin bingung, ia butuh penjelasan dari seseorang mengenai situasi saat ini.


Mereka semua diam tak ada yang ingin menjawab pertanyaan dari Xiao Ziya. Beberapa rekan Xiao Ziya yang ada di sana tak berani menceritakan hal itu karna malu, sedangkan ketiga mafia bersaudara tak ingin lancang menjawab dan membuat rekan rekan nona mereka merasa malu sungguh situasi yang rumit. Karna semuanya diam, akhirnya Xiao Ziya memaksa Hanz untuk bercerita.


"Saat kami masuk ke dalam rumah kami tak sengaja melihat lima rekan anda sedang menatap ke arah televisi dengan tatapan bingung, akhirnya adik Zero bertanya apa yang sedang mereka lakukan. Intinya adik saya menjelaskan apa itu televisi pada mereka, sepertinya gadis yang sedang memeluk anda saat ini merasa malu pada kelima rekannya yang lain karna menanyakan hal itu pada kami. Menurut saya mungkin gadis itu mengira bawah kami akan menganggap mereka bodoh dan tak layak mengajar di sini, sebenarnya itu hal yang wajar bagi orang orang yang baru berkunjung ke dunia kami." ucap Hanz yang memberikan penjelasan secara singkat dan mudah dipahami oleh Xiao Ziya dan rekan rekan gadis itu. Xiao Yuna yang tadinya memeluk Ziya melepaskan pelukannya dan melihat ke arah Hanz. Ia bingung bagaimana bisa pemuda itu tau apa yang sedang ia fikirkan, apakah pemuda itu memiliki sihir pembaca fikiran?.


"Tak ada hal semacam itu di sini Yuna jiejie, dia hanya menebak berdasarkan ekskresi dan tingkah jiejie saja." ucap Xiao Ziya yang bisa membaca fikiran dari Xiao Yuna.


"Ternyata begitu, maaf karna telah salah faham pada kalian, dan maaf sudah mengatakan hal buruk tadi." ucap Xiao Yuna sambil membungkukkan badannya sebagai tanpa permintaan maaf yang tulus.


"Sudahlah kami memahami kekhawatiran mu." ucap Mue Along yang tak mempermasalahkan hal tersebut, wajar saja bila Xiao Yuna berfikir sejauh itu.


"Kalian bisa bertanya pada mereka bertiga jika ada sesuatu yang ingin kalian ketahui, besok ada seorang pria yang datang secara khusus untuk mengajari beberapa hal pada kalian." ucap Xiao Ziya, gadis itu pergi menuju kamarnya yang ada di lantai dua. Hari ini ia ingin beristirahat sejenak sebelum melakukan banyak hal nantinya.


"Sepertinya kita melupakan sesuatu." ucap Ruo Yogi yang sedang mengingat ingat hal apa yang sudah mereka lewatkan, tanpa sengaja Ruo Yogi melihat bekas lupa di kaki Kenzo dan akhirnya ia ingat sesuatu.


"Kita lupa menyembuhkan luka mereka bertiga." ucap Ruo Yogi.


"Astaga, maaf karna melupakan hal itu." ucap Xiao Yuna dengan perasaan bersalah.


Dengan segera Xiao Yuna meminta ketiga mafia bersaudara itu untuk duduk di tempat yang telah di sediakan, Xiao Yuna juga meminta agar mereka menunjukkan bagian tubuh mana yang terluka agar bisa segera diobati. Setengah jam telah berlalu semua luka yang ada di tubuh Hanz, Kenzo, dan Zero sudah pulih bahkan tak ada bekas luka.


"Trimakasih telah mengobati kami bertiga." ucap Hanz dengan senyuman tampannya.


"Sama sama, sebaiknya kita saling mengenal satu sama lain." ucap Xiao Yuna yang ingin mengenal lebih jauh ketiga pemuda yang ada di hadapannya itu.


"Jangan bilang kau ingin mendekati salah satu diantara mereka?." ucap Xiao Feng secara terang terangan, perkataanya membuat Xiao Yuna kesal. Apa salahnya jika ia ingin dekat dengan mereka bertiga sebagai teman? bagaimana jika suatu hari ia membutuhkan bantuan mereka bertiga?.


"Aku hanya ingin berkenalan saja, lagipula kita akan tinggal di sini dalam jangka waktu yang lama. Tentu kita perlu mengenal beberapa orang asli dari dunia ini dengan baik, kita pasti membutuhkan bantuan mereka." ucap Xiao Yuna dengan jujur, meski ketiga pemuda itu sangatlah tampan namun ia masih trauma dengan kisah percintaannya dengan Muyen yang berakhir tragis.


"Sudahlah jangan menganggu adik Yuna lagi." ucap Xiao Xinzo yang berusaha untuk menghentikan pembicaraan diantara kedua sepupunya itu, ia tak ingin luka lama dari Xiao Yuna kembali terbuka.


"Saya Hanz, ini adik saya Kenzo dan Zero kami bertiga adalah saudara." ucap Hanz yang memperkenalkan dirinya serta kedua adik laki lakinya itu.


"Saya Xiao Yuna, mereka adalah saudara saya yang berasal dari Klan Xiao." ucap Xiao Yuna sambil menunjuk ke arah beberapa orang yang ada di ruangan itu.


"Xiao Xinzo." ucap Xiao Xinzo dengan tatapan datar.


"Xiao Bin." ucap seorang pemuda yang baru saja keluar dari sebuah kamar.


"Senang bisa mengenal kalian semua." ucap Zero dengan ekspresi bahagia karna memiliki banyak teman baru.


Setelah itu ketiga mafia naik ke lantai dua untuk memilih kamar yang akan mereka tempati, sementara waktu mereka akan tinggal di rumah yang telah di sewa oleh Xiao Ziya itu. Di sisi lain saat ini Yanzuro Zee serta keluarganya masih berada di dalam gudang tua, tak ada anggota pemerintahan yang berani menolong mereka karna takut pada Xiao Ziya.


"Sialan, gadis itu sungguh membuatku menderita." ucap Yanzuro Zee yang tengah mengucapkan sumpah serapah untuk Xiao Ziya.


"Ayah kami sudah gak tahan lagi." ucap Gerry Zee, putra pertama dari pria itu. Terlihat tubuh Gerry Zee mulai membiru artinya racun yang diberikan oleh Xiao Ziya mulai menyebar ke beberapa organ dalam pemuda itu.


"Bertahanlah sayang sebentar lagi ambulans akan datang." ucap Yasmin Zee, ia tak bisa melihat putranya menderita seperti itu.


"Ibu, ini sungguh menyakitkan." ucap Sintia Zee, satu satunya anak perempuan dari pasangan Yanzuro Zee dan Yasmin Zee.


Tatapan Yasmin Zee yang tadinya sendu berubah menjadi tajam saat Sintia mulai mengeluh. Di dunia semesta tingkat rendah hal seperti ini sangat sering terjadi, para orang tua hanya akan menyayangi anak laki laki mereka dan membiarkan anak perempuannya menderita.


"Diamlah jangan membuat ibu semakin pusing." ucap Yasmin Zee dengan tatapan tajam yang ia arahkan pada putrinya.


"Maaf." jawab Sintia dengan nada pelan. Ia merasakan rasa sakit yang sama dengan mereka semua namun mengapa hanya kedua kakak laki lakinya saya yang mendapat perhatian dari ayah dan ibu.


Perlahan lahan mereka semua mulai sulit untuk bernafas, muncul ruam di kulit mereka hingga menimbulkan rasa gatal yang tak tertahankan.


"Racun apa yang diberikan oleh gadis itu." ucap Yasmin Zee yang tak bisa menahan diri untuk tak menggaruk bagian tubuhnya. Setelah menggaruk beberapa bagian tubuh yang terasa gatal, tiba tiba muncul bekas luka dan bekas luka itu bernanah.


"Argh sialan." teriak Yasmin Zee.


Saat keluarga Yanzuro Zee sedang mati matian bertahan hidup, Xiao Ziya masih menikmati waktu istirahatnya yang sangat berharga. Saat Xiao Ziya sedang tidur ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya dengan pelan, gadis itu tak menggubris suara ketukan pintu tersebut. Setelah mendiamkan beberapa saat suara itu menghilang, namun dalam lima menit suara ketukan itu muncul lagi.


"Siapa lagi yang menggangu waktu tidur saya." ucap Xiao Ziya yang membuka matanya perlahan, gadis itu turun dari tempat tidurnya dan berjalan untuk membuka pintu kamar.


Saat pintu kamar sudah terbuka dengan lebar tak ada siapapun di sana, Xiao Ziya sempat terdiam sejenak. Tak mungkin jika rekan rekannya yang melakukan hal ini karna mereka semua tau bahwa ia tak suka diganggu saat tidur.


"Siapa yang sedang mengerjai saya?." ucap Xiao Ziya dengan suara pelan kemudian menutup pintu kamarnya lagi.


Baru saja melangkah beberapa meter dari pintu itu, tiba tiba suara ketukan yang sama terdengar lagi. Karna merasa geram akhirnya Xiao Ziya melesat dan membuka pintu dengan sangat cepat, seperti sebelumnya gadis itu tak menemukan siapapun di sana.


"Aaaaaaaaa." teriak seseorang dari lantai bawah, karna terkejut Xiao Ziya langsung berlari menuju sumber suara.


Saat sampai di dapur, Xiao Ziya melihat Zero yang sedang terduduk di lantai dengan wajah pucat. Xiao Ziya tak mengerti apa yang sudah terjadi hingga pemuda itu syok berat.


"Apa yang kau lihat?." tanya Xiao Ziya pada Zero namun pemuda itu masih diam dengan wajahnya yang semakin pucat.


Karna penasaran akhirnya Xiao Ziya berjalan mendekat dan memastikan tak ada hal membahayakan yang terjadi, gadis itu hanya melihat sebuah pisau yang menancap pada seekor binatang liar. Xiao Ziya menaikkan sebelah alisnya, ia merasa bingung bagaimana binatang itu bisa masuk ke dalam rumah? dan siapa orang yang telah memotong beberapa bagian tubuh binatang itu.


"Kau yang melakukannya?." tanya Xiao Ziya pada Zero karna hanya mereka berdua yang ada di dapur saat ini.


"Saat aku datang, semua sudah seperti ini." ucap Zero dengan wajah ketakutan.


"Masuklah ke kamarmu, bukankah kau seorang mafia? bagaimana kau bisa takut dengan hal semacam ini." ucap Xiao Ziya sembari memutar bola matanya malas. Dengan segera Zero berlari ke lantai dua dan masuk ke dalam kamarnya sedangkan Xiao Ziya masih mengamati bagian bagian tubuh binatang itu.


"Saudara Hanz dan saudara Xiao Xinzo kemarilah." teriak Xiao Ziya dari dapur, ia ingin meminta bantuan pada kedua pemuda itu. Setelah beberapa saat akhirnya Hanz dan Xiao Xinzo datang menemui Ziya.


"Ada apa nona memanggil saya?." tanya Hanz yang terlihat khawatir.


"Apa terjadi hal buruk adik?." tanya Xiao Xinzo yang langsung memusatkan perhatiannya pada potongan tubuh binatang yang ada di hadapan Xiao Ziya.


"Lihatlah bagian bagian tubuh binatang ini." ucap Xiao Ziya yang memberi perintah pada mereka berdua.


"Ini adalah anjing liar." ucap Hanz yang langsung tau binatang apakah itu, mengapa Xiao Ziya kesulitan menebak jenis binatang tersebut? karna tak ada bagian kepala sang binatang dari beberapa potongan tubuh yang ada di dapur.


"Ah ternyata seekor anjing liar, bagaimana bisa masuk kedalam rumah? dan siapa yang melakukan hal ini." ucap Xiao Xinzo yang sangat bingung, tak mungkin Xiao Ziya melakukan hal seperti ini.


"Saya juga sedang mencari tau hal itu." ucap Xiao Ziya yang melihat ke sekitar, entah mengapa aura di dapur sangatlah berbeda dengan ruangan lain. Suhu di sana juga jauh lebih rendah dari ruangan ruangan lainnya.


"Apa kalian merasakannya juga?." tanya Xiao Ziya yang sudah waspada pada keadaan sekitar.


"Saya tak merasakan apapun." jawab Xiao Xinzo dengan jujur.


"Saya mulai merinding." ucap Hanz yang bisa merasakan sesuatu.


Xiao Ziya meminta kedua pemuda itu untuk kembali ke kamar mereka masing masing, untuk saat ini biarlah masalah itu berlalu dengan sendirinya. Xiao Ziya melesat ke luar rumah karna ada beberapa hal yang harus ia pastikan terlebih dahulu, gadis itu ingin menyewa sebuah tempat yang bisa dijadikan sebagai tempat latihan seni bela diri.


Hai hai semua author update lagi gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun makasih banget, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya guys. Love you all.