RATU IBLIS

RATU IBLIS
Pertemuan Dengan Kepala Desa


Selesai mandi dan bersiap siap Xiao Ziya bergegas pergi menuju lantai bawah penginapan itu, ia bertemu dengan Putri Ruhi yang sudah menunggu sedari tadi. Dalam perancangan kali ini Xiao Ziya tidak akan melibatkan Putri Zo Ruhi di dalamnya karna sang putri masih terlalu kecil untuk memikirkan hal semacam ini. Putri Zo Ruhi tetap ikut untuk acara makan makan bersama serta mendengar keputusan akhir dalam pertemuan itu.


"Apa Anda sudah menunggu sedari tadi?." tanya Xiao Ziya sembari menatap ke arah sang putri.


"Saya batu saja turun ke bawah. Mari kita berangkat Ziya jiejie, saya melihat beberapa kepala desa telah pergi menuju restoran yang disewakan." jawab Putri Zo Ruhi. Ia tersenyum ke arah Xiao Ziya kemudian berjalan keluar dari penginapan.


Di sepanjang jalan Xiao Ziya hanya mengikuti Putri Zo Ruhi dari belakang, ia lega karna sang putri tidak membencinya setelah banyak insiden mengenaskan yang terjadi. Xiao Ziya berharap agar Putri Zo Ruhi tumbuh menjadi gadis yang baik dan kuat agar bisa melindungi dirinya sendiri.


"Kita sudah sampai Nona Ziya." ucap sang putri yang berhenti tepat di halaman depan restoran milik Nyonya Lin Muhi.


"Mari masuk ke dalam, yang lain sedang menunggu kedatangan kita." ucap Xiao Ziya. Gadis itu bergegas masuk ke dalam restoran dan di sana sudah berkumpul kurang lebih empat puluh orang.


Melihat nona muda mereka telah tiba semua kepada desa dan perwakilan penduduk desa berdiri kemudian membungkukkan badan mereka.


"Salam hormat kami pada Nona Muda Xiao Ziya dan Tuan Putri Zo Ruhi." ucap semua orang yang berada di dalam restoran itu.


"Terimakasih untuk sambungan hangatnya, silahkan kembali ke kursi masing masing." perintah Xiao Ziya dengan tegas. Tak butuh waktu lama bagi semua orang yang datang untuk duduk dengan rapi sesuai instruksi nona muda mereka.


Kini suasana di dalam restoran menjadi hening, untuk menghindari adanya pengunjung lain yang ingin makan di restoran itu beberapa pekerja segera menutup pintu restoran dan memasang tanda bahwa saat ini mereka sedang tutup. Xiao Ziya mengangkat tangannya kemudian beberapa pelayan datang menghampiri gadis itu.


"Apa ada yang perlu kami bantu Nona Ziya?." tanya salah seorang pelayan restoran dengan sangat ramah.


"Tolong siapkan satu cangkir sedang teh hijau kualitas terbaik untuk tamu tamu saya, masukkan biyaya itu ke dalam daftar pembayaran." ucap Xiao Ziya.


"Baik kami akan segera menyiapkan teh hijau terbaik untuk tamu Anda. Mohon ditunggu hingga pesanannya datang." ucap pelayan itu. Ia langsung pergi ke dapur untuk menyiapkan empat puluh dua cangkir teh hijau.


Setelah situasinya aman terkendali Xiao Ziya akan memulai membahas beberapa hal penting dalam pertemuan kali ini.


"Selamat sore semuanya, terimakasih untuk kalian yang berkenan meluangkan waktu dan menghadiri pertemuan yang saya buat hari ini. Pasti kalian semua bertanya tanya mengapa saya mengumpulkan kalian di sini. Sebelumnya saya ingin memberitahukan bahwa wilayah bagian selatan bukan lagi wilayah kekuasaan Kekaisaran Binzo karna saya secara resmi telah memintanya dari Kaisar Yuzang Yanglang. Untuk itulah kita berkumpul sore ini membahas langkah apa saja yang perlu dilakukan untuk mengembangkan wilayah ini dan mensejahterakan penduduknya." ucap Xiao Ziya dalam pembuka pertemuan sore hari itu. Semua orang yang hadir tampak menyimak apa yang dikatakan Xiao Ziya dengan sungguh sungguh, mereka langsung menunjukkan ekspresi bahagia sekaligus bingung saat mendengar bahwa wilayah yang mereka tempati sudah terlepas dari kekaisaran Binzo.


"Maaf sebelumnya apakah saya diperkenankan untuk bertanya?." tanya salah seorang Kepala Desa.


"Silahkan mengangkat tangan saat ada yang ingin ditanyakan, usahakan agar tidak memotong pembicaraan ketika saya sedang menjelaskan. Bertanyalah ketika saya susah selesai menjelaskan perbagian." ucap Xiao Ziya, ia memberitahukan bagaimana sistem tanya jawab dalam pertemuan saat ini.


"Baik kami mengerti." jawab semua orang yang ikut dalam pertemuan itu


Seorang kepala desa mengangkat tangannya dengan tinggi, sepertinya ia ingin menanyakan beberapa hal berdasarkan kata kata pembuka yang Xiao Ziya sampaikan tadi.


"Saat ini wilayah bagian selatan telah resmi menjadi milik Anda. Untuk kedepannya Anda ingin wilayah ini tetap menjadi desa biasa tanpa ada pusat pemerintahan ataukah Anda susah mempersiapkan sesuatu?." tanya sang kepala desa dengan wajah khawatir.


"Pertanyaan yang bagus dan izinkan saya memberi penjelasan mengenai rencana yang saya miliki sekaligus menjawab pertanyaan dari Anda." respon Xiao Ziya mengenai pertanyaan yang baru saja disampaikan.


"Karna wilayah ini telah menjadi milik saya secara resmi maka saya bertanggung jawab penuh atas apapun yang terjadi di sini karna itulah saya tidak akan membiarkan kalian kalah dengan mereka yang masih berada di wilayah Kekaisaran Binzo. Saya tidak ingin pengorbanan yang kalian lakukan untuk tetap berada si pihak saya sia-sia, karna itulah saya akan membangun wilayah kerajaan baru. Wilayah ini memiliki luas hampir setengah dari keseluruhan wilayah Kekaisaran Binzo secara utuh selain itu lembah yang berada di perbatasan bagian selatan juga milik saya, di sanalah saya akan membangun sebuah kerajaan sekaligus ibu kota pemerintahan." jelas Xiao Ziya mengenai poin poin penting rencananya untuk kedepan.


Seseorang mengangkat tangannya dengan tinggi, Xiao Ziya menganggukkan kepalanya sebagai tanda bahwa ia memberikan izin.


"Saya sangat setuju dengan rencana Nona Ziya, apakah Anda sudah memiliki nama untuk kerajaan baru itu?." ucap pria tersebut dengan ekspresi wajah yang sangat antusias mendengar nama yang diberikan oleh Xiao Ziya.


"Kerajaan Binglin, itulah nama dari kerajaan baru yang akan saya dirikan di wilayah ini." jawab Xiao Ziya.


Beberapa orang mengangkat tangan secara bersamaan, daripada pusing memilih Xiao Ziya mengizinkan mereka semua untuk bertanya kepadanya.


"Saya memiliki usulan, sebaiknya istana kerajaan yang ingin Anda buat berada tepat di tengah tengah antara lembah dengan kawasan pasat penduduk. Sedangkan wilayah yang masih tersisa biasa dimanfaatkan sebagai pasar dan pusat perdagangan Kerajaan Binglin." usul dari salah seorang kepala desa. Ia tak memaksa Xiao Ziya menerima usulannya itu namun apa salahnya untuk berpendapat.


"Itu saran yang bagus, untuk wilayah yang tersisa akan saya jadikan pusat perdagangan serta kebun buah apel dan persik. Para penduduk yang belum memiliki pekerjaan tetap bisa bekerja di ladang jika mereka tidak memiliki kemampuan menjadi seorang prajurit." jawab Xiao Ziya dengan penyempurnaan penggunaan wilayah.


"Sebuah kerajaan pasti memiliki seorang raja ataupun ratu, kami tau Nona Xiao Ziya masih memiliki banyak tanggung jawab dan kemungkinan besar akan bepergian lagi dalam wakti yang lama. Siapa yang akan Anda tunjuk untuk memimpin kerajaan baru ini?." tanya salah seorang perwakilan penduduk. Jangan sampai kerajaan baru mengalami kekosongan pemimpin yang akan menimbulkan perpecahan lagi seperti sebelumnya.


"Saya akan menunjuk kakak laki laki pertama saya untuk menjadi raja di Kerajaan Binglin. Dulu ia sempat menjadi kaisar Kekaisaran Qiyu namun karna tergoda oleh wanita sialan itu ia jadi salah langkah. Kalian semua tak perlu cemas karna saat ini Xiao Yan telah berubah. Dulu ia memimpin dengan sangat baik kekurangannya yaitu gampang tergoda oleh karena wanita, jadi para prajurit nanti juga bertugas untuk memantau pergerakan para gadis yang mencoba untuk mendekati raja mereka." ucap Xiao Ziya, sorot mata gadis itu terlihat begitu dingin. Ia tak ingin kakak pertamanya mengulang kesalahan yang sama..


"Baik kami akan memastikan Tuan Xiao Yan tidak akan didekati oleh wanita ataupun gadis sembarangan selama Nona Ziya tidak berada di sini." jawab mereka semua secara serempak.


"Untuk kedepannya Nona Ziya dapat mempercayakan pada kami." ucap para kepala desa secara bersamaan.


Xiao Ziya tersenyum hangat menatap semua orang yang hadir dalam pertemuan itu, gadis itu juga menjelaskan bagaimana sistem pembangunan wilayah baru yang akan ia jalankan. Di awal para perwakilan penduduk desa bingung dengan cara yang digunakan oleh nona muda mereka, namun mereka percaya secara penuh pada gadis itu. Setelah beberapa jam berlalu akhirnya pembahas telah selesai.


"Silahkan tuan tuan untuk duduk di beberapa meja restoran yang telah disiapkan. Saya akan menjamu kalian semua." ucap Xiao Ziya.


"Mengapa Nona repot report seperti ini, teh hijau kualitas tertinggi yang para pelayan sediakan tadi pasti sangat mahal. Kami tidak ingin merepotkan Nona Muda Xiao Ziya." jawab salah seorang kepala desa dengan perasaan kurang nyaman.


"Tolong jangan menolak jamuan makan malam yang saya persiapkan untuk kalian semua. Pelayan hidangkan makanannya." ucap Xiao Ziya, ia memanggil para pelayan yang sudah menunggu sedari tadi.


Puluhan pelayan bersama pekerja di restoran itu keluar dari dapur sembari membawa ratusan jenis makanan mewah yang mereka miliki. Semua orang yang datang dalam pertemuan itu membelalakkan mata mereka dengan lebar, para kepala desa sedang berfikir keras berapa biyaya yang dikeluarkan oleh Nona Xiao Ziya hanya untuk penduduk biasa seperti mereka.


"Ini terlalu mewah untuk penduduk biasa seperti kami Nona Ziya." ucap salah seorang pria tua dengan mata berkaca-kaca. Ini kali pertama baginya melihat makanan semewah itu disajikan di depan mata.


"Kalian semua layak untuk mendapatkan makanan terbaik yang ada di restoran ini. Silahkan dinikmati semua makan yang telah kami semua persiapan untuk kalian." ucap Xiao Ziya dengan senyuman lebar.


"Terimakasih untuk makanannya Nona Muda Xiao Ziya." ucap semua yang hadir dalam pertemuan.


Semua orang tampak senang mereka memanggil beberapa makanan mewah yang telah disajikan. Xiao Ziya mengambil beberapa potong daging sapi bakar pedas manis, satu mangkuk sup cumi cumi, satu mangkuk mie peras, satu piring pangsi goreng, dan beberapa kue.


"Saya baru mengetahui bahwa Nona Ziya makan sebanyak itu." ucap salah seorang kepala desa dengan menggelengkan kepalanya.


"Ahahaha ini baik untuk saya yang masih dalam masa pertumbuhan." jawab Xiao Ziya dengan sedikit gurauan.


"Iya itu benar Nona Ziya dan Putri Zo Ruhi harus makan banyak karena masih dalam masa pertumbuhan." jawab beberapa perwakilan penduduk desa.


Kini semua orang sedang sibuk menikmati makanan yang mereka ambil, Xiao Ziya meminta para pelayan dan pekerja di restoran itu untuk makan bersama dengan mereka. Jumlah makanan yang disajikan terlalu banyak, Xiao Ziya sudah memperhitungkan bahwa ini tak akan habis.


Di sisi lain anggota keluarga pemilik restoran sedang berada di lantai tiga, mereka menunggu acara pertemuan itu selesai kemudian pergi menemui Nona Xiao Ziya. Anak laki laki terakhir dari Nyonya Lin Muhi terus merengek karna tak sabar bertemu dengan sosok Dewi Agung yang sudah menyembuhkan kedua kakinya itu.


" Bersabarlah putraku, jangan mengganggu merek yang masih menikmati makanan." ucap Nyonya Lin Muhi dengan senyuman tipis.


"Apakah Dewi Agung itu sangat cantik ibu? apa aku bisa menikah dengan sosok sepertinya setelah dewasa nanti?." tanya Lin Guzo.Ia tak sabar melihat bagaimana wajah dari sang Dewi Agung.


"Maaf jika ini sedikit menyakitkan bagimu putraku. Menikah dengan seorang gadis seperti Nona Xiao Ziya adalah hal yang sangat tidak mungkin untuk keluarga kecil seperti kita ini. Dia memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan kita tidak akan bisa mengejarnya." jawab Nyonya Lin Muhi dengan jujur pada putra bungsunya itu. Ia tak ingin memberikan terlalu banyak harapan pada putranya.


"Ah ternyata begitu, baiklah aku mengerti ibu." jawab Lin Guzo. Ia tak mempermasalahkan jika tak bisa menikah dengan sosok seperti Nona Muda Xiao Ziya.


Malam semakin larut, kini semua orang susah selesai makan namun banyak sekali makanan yang tersisa. Para kepala desa dan perwakilan penduduk saling bertatapan satu sama lain, entah apa yang sedang mereka semua pikirkan.


"Ah ini masih banyak, sayang jika harus dibuang begit saja. Apakah diantara kalian tidak ada yang berminat untuk membungkusnya dan di bawa pulang?." tanya Xiao Ziya, ia terlihat sangat sedih jika harus membuang makanan sebanyak itu.


"Apa kami diizinkan untuk melakukannya?." tanya salah seorang penduduk desa untuk memastikan ucapan dari Xiao Ziya barusan.


"Tentu saja kalian boleh membawa pulang makanan makanan itu. Pelayan tolong bantu mereka yang ingin membawa pulang makanan utuh yang tersisa." ucap Xiao Ziya.


"Baik Nona Ziya, kami juga ingin mengucapkan terimakasih atas undangan untuk bergabung dalam jamuan makan malam yang Anda langsungkan." ucap pelayan itu, ia mewakili rekan rekannya yang lain.


Di saat semua orang sibuk memilih makanan yang akan mereka bawa pulang, Xiao Ziya berjalan ke arah Putri Zo Ruhi. Sang putri sedang duduk di bangku kosong dengan jarak yang lumayan jauh dengan tempat duduk Xiao Ziya tadi.


"Kembalilah ke penginapan terlebih dahulu Tuan Putri, ini sudah sangat larut untuk anak seusia Anda." ucap Xiao Ziya.


"Umm baiklah saya akan kembali sekarang. Ziya Jiejie harus segera kembali agar memiliki jam tidur yang lebih lama dari biasanya." jawab Putri Zo Ruhi dengan patuh.


"Saya akan segera kembali setelah semuanya beres. Sampai jumpa dan selamat beristirahat." ucap Xiao Ziya. Putri Zo Ruhi berjalan menuju pintu keluar restoran itu, salah seorang pekerja membukakan pintu kemudian mempersilahkan sang putri yang hendak pergi.


Hai hai semua author balik lagi nih, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun makasih banget, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.